Traitors Wife

Bab 2 Menikah sahabat mantan kekasih

Setidaknya hari ini aku harus bisa membujuk Evan agar membatalkan pernikahan ini, dengan sedikit rasa canggung aku pun menemui papi yang tengah berbincang dengan Evan.

"Pergilah nak Evan, Clara sepertinya sudah tidak sabar menunggu," ucap papi yang membuat aku seakan kesal bagaimana bisa papi bilang seperti itu, bukannya papi tahu jika aku tidak menyukainya.

Aku pandang wajah Evan dengan perasaan tidak senang, sehingga dia pun menyalami punggung tangan papi, begitu juga aku,mulai berjalan mengarah ke mobilnya.

"Batalkan perjodohan ini, kamu tahukan aku tidak menyukaimu, dan kamu sahabat Radit orang yang sangat aku cintai," dia hanya terdiam mendengar apa yang kau ucapkan, seakan jengkel aku menoleh ke arahnya yang tengah mengemudi itu.

"Balas Evan batalkan pernikahan ini,"masih lirihku yang menatap dia sangat serius mengemudi mobil.

"Evan apa kamu tidak mendengarku atau pura-pura tidak mendengar" ucapku dengan nada yang lebih meninggi.

"Jika kamu ingin membatalkannya sampaikan kepada papimu sendiri,"ucapnya yang hanya mengarah ke arah depan.

"Radit akan sangat sakit hati jika tahu hal ini, jadi tolong batalkan pernikahan ini"

"Jika aku bisa pasti akan aku lakukan,"

"Tapi aku tidak mencintaimu,"

"Apa kamu pikir aku mencintaimu?"

"Setidaknya cobalah batalkan,"lirihku memohon kepadanya dengan mata yang berbinar, dan tangan yang seolah sedang memohon.

"Ini tidak boleh terjadi, Radit akan sangat kecewa dan marah padamu bukankah kalian bersahabat, bukannya kamu menganggapnya sebagai saudaramu? mengapa kamu tega menyakiti nya,"

"Apa maksudmu berkata seperti itu? Jika kamu bisa batalkan sendiri! Toh aku masih punya kekasih lain selain kamu,!"

"Ahhh, setidaknya izinkan aku menemuinya, aku ingin bicara padanya,"

"Percuma dia sudah pergi ke luar negeri, dia tidak akan kembali selama 2 tahun ini, apa kamu pikir aku tidak sedih melihat keadaannya, dia terpukul sekali hingga memilih pergi, aku tidak bisa berbuat apa-apa,"

"Setidaknya kita menikah pura-pura"

"Apa maksud perkataanmu, apa kamu pikir pernikahan itu hanya main-mainan,"

"Kamu boleh bermain dengan wanita manapun, tapi ijinkan aku menjaga cintaku untuknya, dihadapan papi kita pura-pura menjadi pasangan suami istri, aku akan tidur di kamar yang terpisah denganmu, dan setelah 2 tahun ceraikan aku lagi,"

"Ah, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, aku malah memikir sebaliknya, tidak ada pernikahan dua kali dalam hidupku, dan kamu harus mematuhi apa yang aku bilang,"

"Evan,"ucapku memandangnya dengan rasa marah, bisa-bisanya dia tidak menyetujui apa yang aku katakan, dia kan tahu kalau aku sangat mencintai sahabatnya itu.

"Clara!" jawab evan lagi dengan nada yang lebih tinggi

"Aku serius Evan kamu kan tahu aku dengan dia sudah menjalin cinta cukup lama,"

"Iya aku tahu, Radit sangat mencintaimu hingga dia menjagamu, bahkan aku tahu jika dia tidak pernah menyentuhmu,"

"Iya! dan Radit berkata denganku, bagimu wanita hanyalah mainan, apakah kamu melakukan hal yang sama denganku, tolong izinkan aku dengar Radit, aku benar-benar mencintainya,"

Tidak ada jawaban dia hanya tetap diam, hingga akhirnya kami sampai ke tempat tujuan, seakan malas berjalan dan turun, terasa pedih di hati, aku dan radit pernah merencanakan pernikahan ini, kenapa aku harus menikahi sahabatnya sendiri," gumamku masih dalam hati yang melihat iya turun dan membukakan pintu untukku,"turun lah," sahutnya. Dengan langkah kaki seakan tertatih mulai masuk ke dalam, sehingga pelayan toko menyambut kami dengan ramah.

"Apa ini dengan ibu Clara dan pak Evan,"ucapnya membukakan pintu untuk kami

"Iya,"jawab Evan terhadap pelayan toko

Seakan mata berbinar aku menatap gaun pengantin yang dirancang seindah mungkin, harusnya Radit melihatku memakaikan ini, kenapa aku tidak bersanding dengannya.

"Silakan dicoba dulu,"ucapnya dengan ramah yang aku tatap dengan rasa ketidak senangan.

"Tidak perlu bungkus saja langsung," ujarku sehingga aku memilih keluar.

"Setidaknya lihatlah dulu," pinta Evan mencoba membujuk.

Aku pun kembali berjalan ke dalam, membuka dan melihat modelnya.

"Bagus,"ucapku dengan rasa ketidak tarikan, harusnya ini jangan terjadi, tolong aku Radit bawa aku bersamamu," batinku dalam hati, masih dengan mata berbinar, hingga Evan datang mengajakku pulang.

"Berikan aku nomor HP Radit, aku ingin bicara dengannya,"aku menatap ke arahnya yang mulai melajukan kendaraannya di jalan lintas itu,"Evan berikan aku nomor hp-nya,"ucapku dengan nada yang lebih meninggi

"Aku tidak akan membiarkanmu menemuinya, bahkan aku ingin kamu mulai melupakannya, besok kita akan menikah, jangan pernah menaikkan volume suaramu denganku, karena aku suamimu," sahut Evan dengan menegaskan perkataannya.

**

"Saya terima nikah dan mas kawinnya …."

"Sah," ucap sang penghulu.

"Sah," jawab para saksi.

Serasa ini bagaikan mimpi, bagaimana bisa aku menikah dengan sahabat pacarku sendiri, apa yang akan terjadi jika dia tahu akan hal ini.

"Clara, salam suamimu,"sahut papi yang melihatku masih meneteskan air mata, hingga akhirnya aku pun menyambut uluran tangan Evan menyalami punggung tangannya.

"Sekarang kalian resmi menjadi suami istri, papi mau kamu harus menyayangi dan patuh terhadap suamimu hargai dia sebagai suamimu, dan kamu nak Evan Papi titipkan Clara sayangi dan cintai dia. Jaga dia selalu bersamamu" ucap papiku yang dijawab anggukan kepala oleh Evan.

Para tamu dan undangan yang hadir satu persatu mulai mengucapkan selamat kepada kami, aku menatap ke arah Papi seakan bahagia terpancar di matanya yang tengah berbincang dengan sahabatnya paman Thomas papi dari Evan.

"Selamat Evan,"ucap Tony yang merupakan sahabat akrab Radit, aku menatap ke arah Toni, lalu meneteskan air mata.

"Tolong rahasiakan ini, jangan sampai Radit tahu akan hal ini," ucap ku masih dengan tetesan air mata menatapnya.

"Baik Clara,"

"Kamu jangan menampakan kesedihan, itu akan hanya membuat papiku dan papamu malu, aku tidak akan menyakitimu, akan mencoba menjadi suami yang baik untukmu, kamu tidak perlu memikirkan tentang Radit, suatu saat dia akan mengerti sendiri," ucap Evan sedikit menekan tiap katanya, aku pun mencoba menutupi kesedihanku, walau rasanya ini begitu pedih, ini tidak seharusnya terjadi, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan, aku harap kamu jangan pernah membenciku Radit, aku hanya mencintaimu dan akan selalu mencintaimu," batinku dalam hati menatap para tamu undangan, hingga akhirnya pernikahan pun usai, para tamu undangan yang hadir satu persatu mulai pergi.

Aku memilih masuk ke dalam kamar melepas semua kesedihanku, hingga akhirnya Evan pun masuk, seakan risih dan rasa marah kenapa ini bisa terjadi, aku menatap ke arahnya dengan tatapan benci, tidak semestinya dia di sini, apakah dia lupa siapa aku, pacar sahabatnya sendiri, bukankah dia tahu aku dan Radit menjalin cinta semenjak kami dari SMU.

"Pergilah dan jangan menatapku," gumamku seakan kesal menatap ke arahnya.

"Untuk malam ini aku akan tidur di sini, besok pagi kamu harus ikut bersamaku," ucapnya membuat aku lebih meneteskan air mata.

"Bisakah ini jangan terjadi, aku tidak bisa menjadikanmu suami karena aku tidak menyukaimu,"

"Aku tidak peduli sekalipun kamu tidak menyukaiku, yang aku tahu sekarang kamu sudah menjadi istriku, dan bersifatlah sebagaimana layaknya seorang istri ke suami,"

"Ahhhh …." ujarku seakan tidak percaya dengan kenyataan ini.

"Aku letih, aku ingin istirahat," dia pun mulai memiringkan badannya diatas ranjangku

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.