Malam Pertama
Seakan mata ini sulit untuk ditutup, melihat dia sahabat sang kekasih kini telah menjadi suamiku, dia seakan terlelap, sehingga membuat aku menatap ke arahnya, apa kamu juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi di antara kita, terbayang saat Radit membawaku bersamanya, Radit selalu bercerita tentang Evan yang dianggap layaknya saudaranya sendiri, bagaimana bisa sekarang sosok saudaranya itu menjadi suamiku, maafkan aku Radit tidak seharusnya ini terjadi, kamu pasti akan membenciku jika tahu tentang hal ini.
Diam-diam aku berjalan ke arah Evan meletakkan handphonenya, lalu mencoba mencari kontak nama Radit, aku begitu merindukanmu Radit, seperti mimpi yang terjadi diantara kita ini tidak boleh terjadi.
Satu persatu aku melihat daftar nama nama-nama ada di kontak handphone Evan yang tengah tertidur pulas itu.
Hingga akhirnya aku pun menghubungi Radit menggunakan handphone ku sendiri.
"Halo,"sahutku setelah pemilik telepon menjawab panggilanku
"Jangan matikan Radit, aku ingin bicara" ucapku namun sepertinya pemilik telepon sangat membenciku, Saat ia tahu jika aku yang melakukan panggilan terhadapnya.
Lalu aku mencoba mengirimkan pesan singkat padanya
"Radit maafkan aku, aku sangat mencintaimu, jangan pernah benci dan marah padaku, ini bukan mauku, andai aku bisa memilih aku akan berlari padamu,tapi kenapa kamu meninggalkanku Radit,aku akan selalu sayang dengan mu Radit.
**
"Kamu baru bangun," ucap Evan yang sudah rapi hendak turun ke bawah. "Berkemaslah kita akan pergi pagi ini," ujarnya seraya pergi.
Apa dia akan membawaku dari sini, sungguh ini tidak boleh terjadi namun aku bisa berbuat apa, pasrah menerima kenyataan, ku basuh diriku hingga akhirnya aku pun menemui papi yang tengah duduk di meja makan.
"Nanti jika bersama anak Evan kamu tidak boleh begini, kamu harus lebih awal bangun siapkan sarapan untuk suamimu," ucap papi yang melihat aku datang dan menemui mereka, tanpa kata-kata aku pun duduk di sebelah Evan.
"Apa kamu sudah mengemasi semua perlengkapanmu, mulai pagi ini kamu harus tinggal bersama Evan" ujar papi menatapku dengan tajam.
Aku hanya diam menatap keduanya, dan mulai mengisi piringku dengan beberapa makanan yang sudah dihidangkan.
"Kamu harus sedikit sabar nak Evan, menghadapi Clara,"
"Baik Pi,"Evan melempar senyumnya ke arah Papi
Hingga akhirnya aku pun mengikuti Evan masuk ke dalam mobilnya.
"Apa kamu akan tetap membisu,"ucap Evan yang melihatku masih bersedih.
"Tidak ada gairah untuk menjawab pertanyaannya, hanya terdiam dengan tetesan air mata yang tidak mau kering dari pipi
"Sampai kapan kamu akan begini terus," ujarnya yang masih menatapku mengarah ke arah jendela. Menatap gedung-gedung yang kulalui, ingin rasanya aku berlari darinya, tapi itu tidak mungkin.
"Jika kamu masih tetap membisu aku bisa saja berbuat kasar padamu karena, kamu harus mematuhi aku sebagai suamimu. Bukan hanya sebagai sahabatmu, jika masalah Radit aku bisa berbicara dengannya! Toh ini bukan kemauan kita. Pernikahan tidak bisa dielakkan,"
"Kamu akan membawaku kemana?" tanyaku melihat Radit tidak membawaku ke arah rumahnya.
"Papi memberikan kita tiket bulan madu, dan dia telah memesankan semuanya," ujarnya yang membuatku semakin menangis, aku tidak menginginkan ini! Dan jangan pernah berbuat sesuatu untukku. Aku tidak peduli walaupun kamu suamiku," jawabku menantang padanya.
DIa hanya melempar senyum ke arahku, yang membuatku semakin tidak mengerti akan nya.
"Turunlah," titahnya
Dia membawaku ke sebuah hotel berbintang lima, aku menatap gedung besar yang ada dihadapanku kini. Seakan enggan melangkahkan kaki ke dalam. Tali dia menarik tanganku menuju ke arah kamar yang sudah mereka siapkan.
"Kenapa kita kesini, bukannya kamu bilang akan membawaku ke suatu tempat,"
"Aku tidak bergairah mengajakmu ke mana-mana, papi juga tidak akan tahu jika aku tidak jadi membawamu. Selama 3 hari kita menginap di sini agar papi tidak kecewa,"
"Tidak aku tidak mau!" bantahku protes akan nya, bagaimana bisa aku harus tidur sekamar dengan sahabat kekasihku. Membayangkannya saja aku merasa bersalah terhadap Radit.
"Apa kamu ingin! ku bawa ke suatu tempat?" tanya lagi mencoba merayuku.
"Tidak bawa aku ke tempat Radit," jawabku yang membuatnya seakan marah.
" Turun lah," perintahnya hingga aku mengikutinya masuk ke dalam hotel itu.
Malam pun datang menyapa, seakan rasa takut terjadi sesuatu untukku, aku mencoba menghindarinya dengan berpura-pura tidur lebih awal, sepertinya dia tahu rencanaku, dia tidak peduli dan mencoba menarik selimutku.
"Apa yang akan kamu lakukan, jangan pernah berencana menyentuhku,"
seakan takut menatap arahnya kucoba berlari menjauh darinya, namun dia berusaha menarik hingga semua terjadi. Aku tidak bisa berlari lagi, seakan tuan telah menemukan mangsanya untuk pertama kalinya kurasakan. Hal yang seharusnya kuberikan pada Radit telah diambil oleh sahabatnya sendiri.
Aku menjerit-jerit kesakitan dia tidak peduli, hingga akhirnya aku pasrah tanpa perlawanan, kubiarkan dia menari menikmati semua yang ada diri ini. Hanya tetesan air mata yang bisa menenangkanku. hingga akhirnya dia mencapai kepuasannya.
Aku menoleh ke bawah kain putih yang menutupi ranjang, dia telah penuh dengan noda, cairan merah pekat hitam berbau amis setelah mengotori selimut itu.
Aku menatap menangis kearahnya, tanpa rasa bersalah dia turun dari diriku, dia menatapku dengan makanan yang sangat nikmat.
"Kamu jahat, tidak seharusnya kamu begini, maafkan aku Radit" masih ucapku yang membuat dia menatapku kembali. Yang mendekatkan badannya ke arahku, kamu mau apa lagi, apa kamu belum puas?" tanyaku yang penuh emosi dan benci.
"Apa salahku! Bukannya kamu istriku? dan itu adalah suatu kewajiban mu, apa kamu mau lagi, sekali lagi aku mendengar kamu mengucapkan nama Radit! Maka aku akan mengulanginya lagi," ujarnya penuh dengan penekanan, membuat aku takut menatap dia yang tidak mengenakan sehelai benang pun di badannya. Menunjukkan otot-otot perut yang kekar, badan dan wajah yang tampan. Melihat ke arah bawah tidak percaya rasanya benda sebesar itu bisa menerobos masuk kedalam. Dan dia memainkannya dengan nikmat penuh dengan penekanan, membuat keringat di sekujur tubuhnya bercucuran. Dia merasakan kepuasan dan kenikmatan itu tanpa memperdulikan rintihan kesakitanku, sungguh dia jauh berbeda dari Radit orang yang selalu menghargai dan menjagaku dengan baik.
"Aku benci kamu, kamu sahabat Radit, seseorang yang sangat aku cintai," ujarku menangis seakan marah benci menatap ke arahnya, hingga dia kembali mendekatkan badannya padaku. Jangan! jangan lakukan lagi" ucapku membuat dia menutup bibir ini menggunakan bibirnya manis.
Kucoba meronta melawan kepadanya, mendorong badannya lebih keras, namun dia terlalu kuat hingga aku hanya pasrah dan menangis.
"Sekali lagi jika kamu membandingkan aku dengannya, menyesalinya lagi maka kamu akan aku buat lebih sakit lagi!" ancamnya mulai berjalan ke arah kamar mandi.
Sungguh aku tidak percaya akan hal ini, bagaimana bisa dia menjadi suamiku, aku memang mengenalinya sama seperti aku mengenali Radit.
Evan dan Radit adalah temanku sekelas waktu sekolah dulu, kami sering bergurau bertiga, karena Radit selalu membawaku bersama sahabatnya itu.
"Aku rindu denganmu Radit, kenapa bukan kamu yang jadi suamiku, jangan pernah membenciku," masih batinku dalam hati hingga akhirnya Evan pun keluar dari kamar mandi, masih menggunakan handuk melingkari pinggangnya.
"Mandilah, jangan buat aku tergoda dengan tubuhmu lagi," ucapnya yang membuat aku berdiri dengan melilitkan selimut yang terletak di ranjang, Evan tersenyum ke arahku seakan ketakutan menatapnya.
"Dasar bodoh," ujarnya melihatku berlari ke arah kamar mandi.
"Ternyata Radit sangat menyayangimu hingga iya tidak pernah melakukan itu, menyentuhmu sekalipun," ucapnya dengan melempar senyum di pipinya yang terlihat sangat manis.
Dering ….
bunyi suara handphone milik Evan berdering.
"Halo Radit," jawab Evan menerima panggilan dari Radit.
Aku mendengar jika Evan tengah berbincang dengan Radit, mendengar itu seakan jantungku berdetak, tidakk ingin rasanya Evan menceritakan ini semua kepada Radit. Hingga aku memilih menguping pembicaraan mereka.
"Dia baik-baik saja, kamu tidak perlu merisaukannya," ujar Evan yang melihat aku menatap iya yang tengah mengangkat telepon dari Radit.
"Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Radit yang melihatku, hingga aku memilih masuk ke dalam kamar mandi lagi.
Menatap seakan tidak percaya, akankah dia menceritakan semua kepada Radit. Aku harap Radit tidak tahu akan hal ini. Aku tidak ingin Radit membenciku, aku masih berharap bisa bersanding dengan Radit. Aku pun membiarkan tubuhku berdiri di bawah pancuran shower itu.
"Cepatlah aku sudah lapar," pekik Evan dengan nada lebih tinggi.
Hingga aku keluar dengan rasa malu untuk pertama kalinya nya tubuhku ditatap oleh pria walau dia suamiku sendiri.
"Sudah cepatlah, aku sudah lapar" tambahnya seraya memainkan kan aplikasi dalam ponselnya itu.





