“Ah, apa kamu membaca dengan jelas kontrak itu?” tanya Aland masih dengan wajahnya yang angkuh. Melihat Miley yang bergeming, dengusan keluar dari bibir pria itu. “Dasar ceroboh. Kamu telah menyetujui kontrak kerja seumur hidupmu.”
"K-kontrak seumur hidup?” Miley kehilangan kata-kata. Ia tidak pernah menemukan satu pun perusahaan yang pernah menawarkan kontrak seumur hidup. “Jangan mengada-ada, ya!”
Namun, dalam hati, gadis itu juga mengutuk dirinya sendiri yang tidak cermat membaca kontrak meski tadi HR telah memintanya mengecek berkas itu lagi. Tidak hanya itu, ia bahkan tidak mengingat kolom apa aja yang telah ia bubuhkan tanda tangannya. Sial.
"Sekarang ambil map diatas meja itu dan ikut aku!" titah Aland mengubah nada suaranya, setengah mendorong tubuh Miley ke arah mejanya.
"I - ikut ke mana?"
Aland memutar badan cepat, menghampirinya dan mencengkeram pinggang Miley. Alih-alih mengajak sang sekretaris menghadiri kerja, gestur pria itu lebih mirip buaya yang sedang ingin menerkam mangsanya.
"Bukankah seharusnya kita merayakan pertemuan istimewa ini, Sayang?"
Aland mendaratkan bibirnya ke bibir Miley, melumatnya sedikit lama bibir merah merona Miley.
“Apa yang kamu lakukan ini? Menyingkir lah!” Miley yang sempat membeku karena mendengar kata ‘Sayang’ keluar dari bibir Aland lantas kembali membuat jarak dengan mendorong tubuh pria itu. Ia bergidik, tidak percaya jika mantan Papa tiri yang sangat ia benci itu begitu lancang melumat bibirnya.
“Bibirmu manis, aku suka.” Gilanya, pria itu malah menyeringai seraya membersihkan jejak-jejak perona yang mungkin terkena bibirnya. Setelahnya, Aland langsung berjalan menuju pintu ruangan, dan meminta Miley mengikutinya. “Ayo, ikut aku.”
Gadis itu masih terpaku. Seluruh perlakuan Aland yang tiba-tiba dan berani itu terasa membuat tubuhnya terguncang. Di satu sisi ia merasa marah, tetapi di satu sisi yang lain ia juga sempat terlena.
Namun, sadar hal yang baru saja ia pikirkan itu salah, Miley buru-buru mengenyahkan pikiran itu. “Tidak. Aku tidak mau ikut denganmu.” Aland yang telah berdiri di pintu ruangan bersiap keluar, kembali menghampirinya. Takut-takut, gadis itu kembali berujar, “Sudah kubilang, aku ingin membatalkan kontrak kerjaku.”
Aland mengangkat kedua alisnya dan menatap lekat wajah cantik Miley. "Apa kamu sadar dengan permintaanmu barusan, Miley?"
"Yah sadar, dan yakin. Aku mau membatalkan kontrak kerjaku di perusahaan Aland Corp ini.”
Dari awal, ia sudah tahu aku tidak menyukainya. Andai tahu perusahaan ini miliknya, aku tidak akan melamar kerja di sini.
Miley kian bergidik manakala dengan lancang Aland kembali menyentuh kedua bahunya. Ia menyempatkan diri mengelak dengan langkah mundur, tapi Aland sudah mengunci posisi mereka dengan lengan kekarnya.
"Jangan munafik, Miley. Kamu membutuhkan uang, kan?" sindirnya mengetahui Miley telah empat bulan ini kerja tidak menetap. "Bagaimanapun, kamu tidak bisa membatalkan kontrak kerjamu sebelum aku sendiri yang menyuruhmu berhenti!" Setelahnya Aland melepas tangannya dan mendahului Miley ke pintu. "Rapikan rambut dan pakaianmu itu!"
‘Sial, andai aku tidak krisis keuangan, aku tidak akan mau bekerja sebagai sekretaris pria mesum itu!’
Kedua alis Miley naik, saat menyadari kalimat Aland tadi. ‘Tapi, dari mana dia tahu aku butuh uang? Dia pasti memata-mataiku!’
Tidak punya banyak waktu untuk berpikir, Miley lantas menyambar tumpukan map di atas meja Aland. Setelahnya, ia merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit acak-acakan, sebelum kemudian mengikuti Aland keluar.
Namun lagi-lagi, Miley mendapatkan sial. Akibat pandangannya yang terus tertuju pada lantai, ketimbang jalan di depannya, gadis itu menabrak dada bidang Aland. Entah kapan pria itu berbalik dan menghentikan langkahnya. Karena tabrakan itu, map yang tadi ia bawa pun berserakan.
"Maaf," ucapnya membungkuk ke depan untuk mengambil map yang berjatuhan di sekeliling sepatunya.
Tapi puncak kepalanya tidak sengaja membentur keras aset pribadi Aland, ketika ia mengangkat badan berdiri.
"Ap ... apa yang kamu lakukan ini, Miley?" tanyanya menggeram menahan ngilu yang merambat begitu saja menyentuh ubun-ubunnya.
"M-maaf, a-aku tidak sengaja."
Kemudian, ia dengan tergesa-gesa keluar mendahului Aland, sebelum pria itu kembali berbuat hal di luar nalar. Ia tahu, di luar ruangan Aland tidak mungkin berani macam-macam padanya.
Meskipun masih mendengar rintihan sakit Aland dari balik pintu ruangan, tapi Miley tidak berniat membantunya. Ia memilih untuk menunggu di balik pintu yang sudah kembali menutup, menunggu sang atasan keluar usai meredakan rasa ngilu di pangkal pahanya.
Tidak lama berselang, seorang pria berseragam memberitahunya jika mobil yang akan Aland dan dirinya gunakan telah siap di mobil. Miley mengangguk, sementara ia tetap memilih menunggu sang atasan keluar ruangan.
Tidak lama, pintu ruangan terbuka. Tampak Aland berjalan tertatih sambil mengulurkan tangannya kepada pengawal yang berdiri di depan pintu.
"Tuntun aku ke mobil!" titahnya menjatuhkan tubuhnya kepada pengawal.
Miley lagi-lagi mengerutkan keningnya, melihat Aland berjalan membungkuk dan berjingkat-jingkat.
"Lebay sekali dia, baru juga tersundul pelan."
"Cepat! Kenapa masih berdiri di sana, Miley?" panggil Aland membuyarkan lamunan Miley yang masih senyum-senyum sendiri.
"Tuan, waktu Anda sudah mepet," katanya menyelipkan sesuatu ke tangan Aland.
Miley yang baru saja bergabung di dalam lift mendengar jelas ucapan pengawal, tapi tidak tahu apa yang diberikan pengawal barusan.
"Apa semua sudah beres? Aku tidak mau rencanaku berantakan."
"Seperti yang Anda perintahkan, Tuan. Mobil juga sudah menunggu di depan pintu masuk perusahaan."
Tiba-tiba, Miley mengerutkan dahi, menaruh curiga jika Aland mungkin tidak berniat mengajaknya menemui klien sesuai pekerjaannya.
Detik ketika pintu lift terbuka, hal yang diingat Miley terakhir kalinya adalah tubuhnya yang tiba-tiba tidak berdaya ….
‘Mau ke mana lagi dia akan membawaku?’
***
"Turun," titah Aland menarik tangannya turun dari mobil.
Miley tersentak dan memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Kemudian memicingkan matanya mengitari sekitaran. Tapi ia tidak tahu di mana mereka sekarang. Semua terasa asing di matanya.
"Kamu mau membawaku ke mana?" tanyanya melihat cuma ia dan Aland saja yang ada di mobil.
Ditambah, sopir yang tengah duduk di kursi kemudi bukanlah orang yang sama yang mengantar mereka tadi—seperti yang Miley ingat terakhir kali.
"Kita check-in hotel dulu," jawab Aland merangkul Miley. Pria itu juga merapikan mantel tebalnya.
"Lepaskan!" bentak Miley menepis tangan Aland yang lancang merangkul pinggangnya.
Miley mengedarkan pandangannya ke sekeliling yang merupakan parkiran basemen sebuah bangunan megah. Kemudian matanya terhenti pada banner produk kecantikan yang terpampang di dinding pembatas basemen.
"Paris?!" desisnya menyipitkan matanya. “Apa kamu gi—”
"Kenapa?" Aland refleks menutup mulut gadis itu dengan tangannya, kaget mendengar teriakan Miley.
"Kenapa sekarang kita ada di Paris?" tanyanya dengan kedua mata melotot dan mulut terbuka. Kali ini, ia mencoba menetralkan suaranya.
***





