Tertawan Pesona Mantan Papa Tiri

Miley tidak tahu apa yang terjadi setelah keluar dari lift perusahaan tadi. Yang jelas, ketika membuka matanya … ia sudah berada di tempat yang ia curigai adalah Paris, berkat sebuah banner produk kecantikan.

"Paris?" ulang Aland. Pria itu kemudian terkekeh dan mengacak-acak rambut Miley yang belum sepenuhnya sadar. “Kamu masih belum sadar rupanya. Sudah, ayo, kita ke kamar.”

Miley yang masih bengong menurut saja mengikuti langkah Aland sampai ke kamar hotel mewah. Ia seperti kerbau dicucuk hidung, karena tanpa perlawanan mengikuti Aland.

Kendati demikian, sepanjang jalan menuju kamar hotel, otak cerdasnya berpikir … Mantan Papa tirinya itu seperti telah melakukan sesuatu padanya yang membuatnya tidak ingat apa-apa.

‘Tapi … apa yang dia lakukan?’

"Sekarang bersihkan dirimu," kata Aland menunjuk handuk yang terlipat rapi di atas nakas. Kemudian ia memberikan paper bag yang telah disiapkannya di sisi ranjang. "Ini pakaianmu."

Miley yang masih bingung itu menepis paper bag yang disodorkan Aland.

"Jawab saja pertanyaanku! Kapan kita ada di Paris? Kenapa aku tidak ingat apa pun?" geramnya dengan sarkas.

"Untuk apa aku membawamu ke Paris, Sayang?" jawab Aland menarik tangan Miley hingga keduanya terjatuh ke atas ranjang.

Miley menahan tangannya menahan tubuhnya yang saat ini berada di atas tubuh Aland.

"Aku bisa melihat di banner parkiran itu tadi." Miley merasa tidak salah membaca tulisan 'Paris'.

"Hahaa. Kamu ketiduran sejak tadi, Miley Sayang. Sampai kita tiba di sini saja kamu tidak sadar."

Mendengar penuturan Aland, kecurigaan Miley kembali meningkat. Dia menatap dalam pada pria itu, mencoba meminta penjelasan, karena hal terakhir yang dia ingat adalah … dia baru saja turun dari lift hendak menuju mobil pria itu. Namun, ketika bangun … dia sudah berada di mobil yang berbeda, dengan kepala yang pening, seperti telah terjadi sesuatu.

"Tidak sadar? Apa maksudnya ini?”

Melihat Aland senyum-senyum kecil, ia semakin yakin dengan firasatnya. Pria itu cukup puas membuatnya kebingungan.

Apa, tertidur? Tentu itu akal-akalannya saja.

Perjalanan panjang bisa tiba di sana, tapi ia tidak mengingat apapun? Miley yakin ada yang dirahasiakan Aland.

"Apa yang sudah kau lakukan padaku?"

Matanya menyipit menunggu Aland mengakui semuanya.

Tapi tidak mendengar apapun selain melihatnya cengengesan.

"Jangan pikir dengan cara murahan seperti itu, bisa mengubah rasa benciku? Tentu tidak!" pancing Miley mengetes kejujuran Aland.

"Cara apa, Sayang?" ejek Aland dengan mempermainkan alisnya turun naik. Pria yang lebih pantas disebut buaya ketimbang pimpinan itu, mengedipkan sebelah matanya menggoda Miley.

'Sial, dia tidak lebih dari buaya kelaparan!" batinnya dengan rasa benci yang menggunung.

Sambil mendengus kesal, ia terus mencari cara untuk membongkar kejujuran Aland. Otaknya berputar-putar namun tak juga menemukannya.

Sampai mendengar Aland bersuara. "Ini, sayang." Mengeluarkan botol kecil dari kantong, sambil menggoyang-goyangkannya di depan wajah Miley yang mendadak mengeras setelah melihatnya.

Miley menegaskan pandangannya ke benda di tangan Aland. Dahinya mengerut mengetahui tulisan di sisi botol adalah jenis obat tidur tetes.

"Apa kau memberikan ini padaku?" gusar Miley merampasnya kemudian mencengkeram dalam genggamannya.

"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya lagi, Sayang?" jawab Aland meninggalkan Miley mematung. Dia bergeser ke sofa, dan menghempaskan tubuhnya santai.

Miley tertawa getir, otaknya mulai berpikir, Aland melakukan ini karena ingin membalas dendam kepada Jenny. "Apa dengan melakukan semua ini, kau telah membalas dendammu kepada Mamaku?" tanya Miley mencampakkan botol di tangannya ke tong sampah di sampingnya. "Kami saja tidak pernah bertemu setelah hari itu!"

Miley mendekatinya. Beberapa detik hanya mengamati wajahnya. Dalam hati ... pria itu sangat tampan walau dengan mata terpejam sekalipun. Tapi baginya saat ini Aland tidak lebih dari buaya kelaparan.

"Benar dugaanku! Kau kecewa padanya, kan?"

"Dendam? Kecewa? Untuk apa, Sayang? Bukankah dengan seperti ini, aku jadi bisa menikmati dirimu yang jauh lebih segar ini!" ucap Aland membuka matanya, memancing darah Miley mendidih. "Aku yakin, Jenny tidak membutuhkan pria muda sepertiku lagi menjadi suami kontraknya. Benarkan, Sayang?"

'Kurang ajar sekali dia,' geramnya membatin tidak bisa menahan diri.

"Bangsat!! Jaga bicaramu! Jangan berpikir bisa melakukan apa yang kau rencanakan itu!"

"Cukup, Miley! Ingat, aku bisa melakukan apapun yang aku mau!" gertak Aland tersulut emosi. Tangannya hendak mencengkram leher Miley yang juga sedang menahan amarahnya dari mencarut Aland tadi. "Jaga bicaramu!" kecamnya berusaha meraih Miley yang mengelak gesit.

"Sudah kuduga, kau itu pria mesum! Selama ini kau menjerat para wanita dengan membuat tawaran gaji besar di perusahaanmu! Menjebak mereka dengan kontrak gilamu itu! Kemudian memberikan mereka obat tidur, lalu, kau pun dengan leluasa bisa mempermainkan mereka. Bodohnya ... aku mau terjebak dengan pria mesum sepertimu!" tuduh Miley tidak lagi menghormati Aland pimpinannya.

Miley tetap mengangkat dagunya angkuh, meski Aland berhasil mencengkeram lehernya. Napasnya mulai tersengal akibat tekanan kuat dari jari-jari tangan Aland di lehernya, tapi tetap berusaha tenang.

"Kau berani meneriaki ku, hahk! Jangan buat kegilaanku ini sampai menghilangkan nyawamu!"

"Yahh! Kau pikir aku takut, hakh! Mati jauh lebih baik ketimbang bersama pria mesum sepertimu!"

Aland kehabisan cara berdebat dengannya. Dia pun kaget tahu Miley sangat keras kepala. Namun, untuk mempertahankan egonya, Aland tidak mau mengalah.

Perlahan melepaskan tangannya. "Baik. Sekarang pergilah. Anggap saja kau sudah membatalkan kontrakmu!" kata Aland tersenyum kecil.

Rasanya ingin melompat tinggi-tinggi mendengarnya. Ia pun tidak perlu lagi berurusan dengan pria gila itu. Tapi Miley menahan rasa gembiranya itu ketika melihat Aland hanya senyum-senyum sendiri.

Otaknya cerdasnya seolah turut bekerja keras menyelidiki hal apa yang membuat Aland sesantai itu. Padahal beberapa menit yang lalu, pria itu ngotot membahas kontrak seumur hidup.

Miley terkaget dengan tas miliknya yang sejak tiba di sana tidak melihatnya. "Mana tasku?"

Mustahil ia bisa pulang tanpa tas itu.

"Kau menuduhku mencuri tasmu?"

"Lalu, kalau bukan kau, siapa lagi?" tantang Miley mengedikkan kedua bahunya. Dengan sengaja menaikkan salah satu alisnya.

"Hahaha! Aku pimpinan perusahaan ternama, Miley. Tas yang tidak ada apa-apanya itu, untuk apaku?"

Miley tidak mau percaya begitu saja. Ia tahu Aland-lah yang menyembunyikannya dengan alasan apapun itu.

"Aku mau pulang! Jadi, berikan tasku?"

"Silakan saja, Sayang. Pintunya terbuka, kok."

"Tasku?" Miley menaikkan nada suaranya melihat Aland tidak berhenti mempermainkannya. "Aku butuh uang dan ponselku bisa pulang!"

"Aku bilang tidak tahu."

"Kau! Jangan ---"

"Stop!" teriak Aland menarik tangan Miley. Gadis itupun terjatuh di dada bidangnya yang juga terduduk menahan hentakan tubuh Miley.

Beberapa detik lamanya mereka saling menatap, sampai suara keras Aland siap memecah gendang telinganya.

"Aku sudah memperingatkan menjaga ucapanmu! Suka tidak suka, aku ini pimpinanmu! Jadi, bersikap sopan!"

"Sekarang berikan kunci mobilmu, aku mau mengambil tasku." Miley tidak terusik dengan ancaman Aland. Namun, ia menurunkan nada suaranya melihat dirinya masih dalam rangkulan Aland.

***

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.