Pagi itu, Adelina terbangun di kamar besar yang terlalu sunyi, dengan sinar matahari yang menyelinap melalui tirai berat, seolah mengingatkannya pada dunia luar yang penuh harapan, yang sudah sangat jauh dari jangkauannya. Ia bangkit dari tempat tidur dengan perlahan, melihat sekeliling, dan merasakan kesepian yang semakin menyesakkan. Di luar sana, kehidupan berjalan dengan penuh warna, sementara di dalam rumah ini, ia hanya seorang penghuni yang tak diinginkan.
Rurik sudah tidak ada di kamarnya. Seperti biasanya, pria itu lebih sering menghabiskan waktu di ruang kerjanya atau ruang lain yang jauh dari jangkauan Adelina. Entah itu disengaja atau memang sudah menjadi kebiasaan, tapi setiap kali dia berusaha mendekat, Rurik selalu menjaga jarak.
Ketika pelayan datang untuk memberikan sarapan, Adelina hanya tersenyum lemah, menerima makanan yang disajikan tanpa berkata apa-apa. Ia sudah terbiasa dengan ketidakpedulian yang ditunjukkan oleh keluarga Antonov. Bahkan para pelayan yang mengelilingi rumah itu tidak pernah meliriknya lebih dari sekadar tugas yang mereka jalankan. Setiap orang di sini hanya mengenalnya sebagai pengganti-bukan sebagai seorang istri.
Pagi berlalu begitu cepat, dan saat makan siang tiba, Adelina memutuskan untuk mencari Rurik. Namun, keberaniannya untuk mendekati suaminya hanya berakhir dengan kekecewaan. Rurik duduk di ruang makan dengan ekspresi yang dingin, matanya terfokus pada kertas-kertas yang tersebar di atas meja. Adelina duduk di seberangnya, berusaha menahan amarah yang mulai menyusup ke dalam hatinya.
"Apakah kamu tidak ingin berbicara?" Adelina bertanya, mencoba memecah keheningan yang tegang di antara mereka.
Rurik mengangkat wajahnya, menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. "Untuk apa? Kamu sudah tahu, bukan, bahwa kita ini bukan pasangan sejati? Kita hanya dua orang yang terikat oleh perjanjian."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti pisau yang melukai hati Adelina. "Aku hanya ingin mencoba berbicara, Rurik. Tidak ada salahnya, bukan?"
Dia menatapnya sejenak, seolah merenung, lalu kembali menundukkan kepala, kembali fokus pada pekerjaannya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kamu sudah tahu tempatmu."
Adelina merasa dunia di sekitarnya mendadak semakin sempit. Ada begitu banyak hal yang ingin dia katakan, tetapi kata-kata itu terasa sia-sia. Rurik sudah memutuskan tempatnya, memutuskan peran yang harus ia mainkan dalam kehidupan ini. Dan itu bukan sebagai seorang istri yang dicintai.
Namun, seiring berjalannya waktu, Adelina mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Entah itu karena kehadirannya di rumah ini atau karena sesuatu yang lebih dalam dalam dirinya, tapi dia mulai melihat sisi lain dari Rurik. Meskipun hatinya dipenuhi dengan kebencian dan ketidakpercayaan, Adelina bisa merasakan ada kekuatan tersembunyi dalam diri pria itu. Sebuah kekuatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, yang membuatnya merasa terjebak, seperti terikat dalam jaring yang tak bisa lepas.
Di malam hari, ketika keduanya terbaring dalam keheningan yang tak nyaman, Adelina merasa seolah-olah ada sebuah jurang besar yang memisahkan mereka. Setiap detik berlalu terasa seperti beban yang semakin berat. Keinginan untuk memecahkan kebekuan itu ada dalam dirinya, tapi dia tahu bahwa hanya ada satu jalan yang harus dia pilih: bertahan atau pergi.
Tiba-tiba, Rurik memecah keheningan. "Kenapa kamu tidak pergi saja?" tanyanya dengan nada yang lebih rendah dari biasanya. "Kamu tidak perlu bertahan dalam pernikahan ini. Tidak ada yang memaksamu."
Pertanyaan itu terasa seperti sebuah jebakan. Adelina tahu bahwa meskipun dia diberi pilihan, itu bukanlah pilihan yang nyata. Dia tidak bisa pergi begitu saja-terlalu banyak yang dipertaruhkan. Namun, perasaan yang bergelora di dalam dirinya mulai tumbuh. Apakah benar dia hanya bisa bertahan dengan kebencian ini, ataukah ada cara lain untuk mengubah takdir yang sudah ditentukan?
"Kenapa kamu terus bertanya jika kamu sudah tahu jawabannya?" balas Adelina dengan suara yang tak kalah dingin.
Rurik menatapnya dengan tatapan tajam. "Karena aku ingin tahu sejauh mana kamu bisa bertahan."
Adelina merasa darahnya mendidih, namun ia menahan diri. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mengetahui bahwa orang yang seharusnya menjadi suaminya tidak pernah melihat dirinya lebih dari sekadar alat untuk melanjutkan pernikahan yang telah direncanakan. Namun, di balik semua kebencian ini, Adelina tahu ada satu hal yang harus dia temukan: kekuatannya sendiri.
Dan saat itu juga, Adelina memutuskan satu hal yang pasti. Meskipun takdirnya tampak gelap, meskipun jalan yang dihadapinya penuh dengan kebohongan dan kejamnya kenyataan, dia tidak akan menyerah begitu saja.
Namun, ia tak tahu apakah kebahagiaan akan datang ataukah ia akan tetap terperangkap dalam kehidupan ini, terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan ketegangan dan kebohongan yang terus menerus menyelubungi mereka.





