Takdir Cinta Palsu

Hari-hari berlalu dengan lambat, seolah-olah waktu sendiri enggan bergerak. Adelina merasa dirinya tenggelam dalam rutinitas yang semakin monoton dan menyakitkan. Setiap pagi, dia bangun dengan harapan kosong, mencoba untuk tidak mengingatkan dirinya akan kenyataan yang pahit-bahwa dia adalah bagian dari rencana keluarga, bukan pasangan yang dihargai. Rurik tetap dengan sikap dinginnya, tak pernah melontarkan satu kata yang bisa menenangkan hatinya. Mereka hanya berbagi ruang, bukan hidup.

Namun, hari itu sesuatu yang tak terduga terjadi. Di tengah kesunyian yang begitu pekat, sebuah kejadian mengejutkan terjadi-Rurik datang ke kamar mereka, wajahnya lebih serius dari biasanya, mata hitamnya yang tajam seperti memancarkan ketegangan.

"Adelina," suaranya yang rendah dan berat membuat jantungnya berdegup cepat. "Kita perlu bicara."

Adelina menatapnya, merasa ada sesuatu yang tidak biasa dengan sikapnya. "Tentang apa?" tanya Adelina dengan suara pelan, meskipun hatinya penuh dengan pertanyaan. Rurik tidak pernah datang begitu saja untuk berbicara. Biasanya dia akan tetap terdiam, atau paling tidak, mereka akan berbicara hanya ketika diperlukan.

"Ada sesuatu yang perlu kamu tahu," lanjut Rurik dengan nada yang lebih tegas. "Sebenarnya, kamu... bukan satu-satunya alasan aku terikat dalam pernikahan ini."

Adelina terdiam, rasa penasaran dan kekhawatiran mulai menyusup. "Maksudmu?" tanyanya, meskipun hatinya sudah mulai merasakan kegelisahan yang tak terungkapkan.

Rurik menghela napas, wajahnya mengeras. "Semuanya tentang pengkhianatan yang terjadi sebelumnya. Selene... dia bukan hanya seorang wanita yang mengecewakan aku. Ada sesuatu yang lebih besar yang tersembunyi di balik semua ini."

Adelina merasa dunia di sekitarnya berputar. "Apa maksudmu? Apa yang kamu katakan?" suara Adelina hampir bergetar. Tidak ada satu kata pun yang bisa dia tangkap dengan pasti, namun ada perasaan yang mulai tumbuh di dalam dirinya-perasaan bahwa ada lebih banyak yang tersembunyi dari apa yang dia ketahui.

Rurik menatapnya dengan tatapan yang seolah sedang mempertimbangkan apakah dia harus melanjutkan atau tidak. Setelah beberapa detik yang terasa begitu lama, dia akhirnya berbicara, suaranya kini penuh dengan amarah yang terpendam. "Aku tidak hanya menikahi Selene karena perasaan, Adelina. Itu semua tentang kekuasaan dan balas dendam. Keluarga kami telah terjerat dalam permainan politik yang jauh lebih dalam daripada yang kamu bayangkan."

Jantung Adelina berdebar kencang, dan meskipun dia berusaha untuk tetap tenang, rasa kaget itu tak bisa ditahan. "Balas dendam? Apa yang kamu maksud?"

Rurik berdiri, menghadap jendela besar di kamar mereka, matanya kosong namun dipenuhi beban yang tidak bisa dijelaskan. "Ada seseorang yang telah mengkhianati keluarga kami, dan aku ingin menghancurkan mereka. Selene adalah bagian dari rencana itu, dan sekarang, kamu... kamu adalah bagian dari takdir ini."

Adelina merasa seperti dunia runtuh di hadapannya. Setiap kata yang keluar dari mulut Rurik seolah semakin mengubur harapan-harapan yang sempat ia simpan dalam hatinya. Apakah dia benar-benar hanya alat dalam permainan keluarga ini? Dan apakah dia hanya terjebak dalam konspirasi yang lebih besar dari yang bisa dia bayangkan?

"Aku... aku tidak tahu apa yang sedang kamu katakan, Rurik. Aku tidak ingin menjadi bagian dari balas dendammu," kata Adelina, suaranya hampir terpecah oleh kebingungannya.

Rurik berbalik, dan untuk pertama kalinya, Adelina melihat kilatan emosi di mata pria itu-bukan kebencian, bukan kemarahan, tetapi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sulit untuk didefinisikan.

"Kamu tidak punya pilihan," kata Rurik dengan dingin, "Seperti aku tidak punya pilihan ketika aku dipaksa untuk menikahi Selene. Kita semua terjebak dalam jaringan yang lebih besar, dan tidak ada jalan keluar."

Adelina menatapnya, merasa hatinya dihantam oleh kenyataan pahit yang dia dengar. Dia ingin melawan, ingin berteriak, ingin menuntut penjelasan lebih lanjut. Tetapi dia juga tahu, semakin dalam dia masuk ke dalam permainan ini, semakin sulit untuk keluar. Mereka semua hanyalah pion dalam sebuah permainan yang jauh lebih besar daripada yang bisa dia pahami.

"Jadi, ini semua hanya... sebuah permainan?" tanya Adelina, suaranya semakin berat. "Kita tidak lebih dari alat untuk saling menghancurkan?"

Rurik mengangguk perlahan, wajahnya kosong, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang mengungkapkan kebingungannya sendiri-sebuah ketegangan batin yang tidak dia inginkan.

"Ya, mungkin kita hanya bagian dari permainan ini, Adelina. Tapi, mungkin ada cara kita mengubahnya."

Perkataan itu menghantam Adelina lebih keras dari apa pun yang telah dia dengar sebelumnya. Apakah mungkin ada cara untuk mengubah takdir ini? Ataukah mereka akan terus terjebak dalam kebohongan dan kebencian yang sama, terperangkap dalam permainan yang tak pernah mereka pilih?

Namun, dalam sekejap itu, satu hal yang pasti-Adelina tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.