Ruang kerja itu terasa sepi, hanya terdengar suara jari yang sedang beradu dengan keyboard komputer. Sesekali suara decakan seorang pria memecah keheningan sore itu. Tiba-tiba, suara pintu berdecit membuat pria itu mengalihkan pandangan dari komputer kerjanya.
"Kasus baru lagi, motif sama." Pria paruh baya dengan wajah teruk duduk di kursi kayu sambil mengembuskan asap rokoknya.
"Yang kampus, apa Bengawan Solo?" Pria berambut ikal itu meninggalkan pekerjaan dan lebih fokus pada atasannya.
"Kampus. Motif sama dengan yang di Tawangmangu, abis diperkosa, dibunuh." Komandan itu menjelaskan sambil meletakkan map di meja.
Rama Aditya. Seorang intel kepolisian terbaik itu mengambil map yang diletakkan di mejanya. Kemudian ia membaca rincian kasus yang sedang dihadapi saat ini.
"Diperkosa hingga rusak genital, kemudian dibunuh. Sama. Anehnya, kasusnya selalu ditutupi oleh pihak kampus, nggak ada jejak. Wartawan lokal juga nggak ada yang bahas setelah kasus selesai, apalagi masuk headline news nasional. Menurutmu gimana, Ram?" Abimanyu Chandra, komandan dari sebuah kepolisian mencoba mengurai kasus yang sudah enam bulan diselidiki dan tanpa hasil memuaskan itu.
Semua sudah dilakukan dengan hati-hati dan teliti, tetapi pelaku sangatlah licin dan rapi sehingga kepolisian dibuat kebingungan akan kasus ini.
"Apa semua korban dari universitas yang sama, Pak?" Rama mencoba menganalisis.
"Yes! Semua mahasiswi di tempat yang sama. Kampus Madina!" Abimanyu Chandra menjawab dengan tegas.
Rama menerawang ke langit-langit kantornya. Tiba-tiba saja, badannya bergetar, telapak tangannya mengepal dan mengeluarkan keringat dingin, seketika amarah menguasai dirinya.
Pria berkulit putih itu terkenang dengan adik perempuan satu-satunya. Tiga bulan yang lalu, adik Rama menjadi korban pemerkosaan dan tubuhnya ditemukan di hutan lereng Gunung Lawu.
Nadya, gadis cantik berambut panjang. Kata teman-teman kuliahnya, ia mirip dengan artis Korea. Gadis itu meminta izin pada saudaranya untuk pergi ke Tawangmangu. Di sana, Nadya akan melakukan kegiatan kemahasiswaan yang diadakan oleh himpunan prodinya.
Hari pertama semua berjalan lancar. Nadya masih sering menghubungi Rama dan memberikan kabar tentang kegiatan yang dilakukannya. Namun, setelah tiga hari di sana, Nadya hilang kontak.
Dengan perasaan khawatir, Rama menghubungi semua teman-teman Nadya. Namun, betapa terkejutnya Rama ketika mengetahui jika kegiatan itu dipercepat dan hari ke dua semua mahasiswa telah kembali ke kota.
Pria berpostur tinggi itu mencari ke vila tepat Nadya menginap, tetapi vila itu telah kosong dan Rama kehilangan jejak Nadya. Dia juga sempat mengabarkan pada rekan sesama polisi, sehingga semua mencari keberadaan adik Rama itu.
Tiga hari Nadya menghilang dan tidak ada kabar ataupun petunjuk dari gadis cantik itu. Pihak kepolisian juga sudah mencari sesuai prosedur, tetapi semua sia-sia. Nadya bagai hilang ditelan bumi.
Sore, hari ketiga Nadya hilang, dua orang penduduk desa mendatangi rumah Rama. Saat itu dia baru saja kembali dari pekerjaannya. Mereka memberitahu jika seorang gadis tengah sekarat di Puskesmas desa.
Rama segera menghampiri Puskesmas di daerah pelosok Tawangmangu dan menemukan adiknya di sana dengan luka babak belur di sekujur tubuhnya. Parahnya, Nadya dalam keadaan setengah sadar. Setelah itu, Rama segera memindahkan adiknya ke rumah sakit di kota Solo-tempatnya tinggal- dan dia juga memerintahkan rekannya untuk tidak memviralkan kasus sang adik. Semua dilakukan demi privasi keluarganya. Apalagi profesi Rama yang seorang intelejen. Semua menyelidiki kasus ini secara diam-diam.
Dua hari Nadya berada di ICU. Ia mengalami kekerasan seksual yang berakibat rusaknya genital. Obat bius yang disuntikkan secara berlebihan di tubuh gadis itu juga mempengaruhi syarafnya. Selama itu, Nadya sama sekali belum pernah siuman dan Rama selalu menunggu di samping Nadya. Pria itu ingin mengetahui siapa manusia kejam yang memperlakukan adiknya secara tak manusiawi. Padahal Nadya adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan berprestasi. Ia masih kecil untuk menerima semua ini, apalagi almarhum ayah dan ibu Rama menitipkan adiknya untuk dijaga. Rama merasa sangat bersalah dengan semua yang dialami sang adik.
Takdir Tuhan berkata lain. Manusia berusaha. Namun, Tuhan juga yang menentukan nasib manusia tersebut. Saat itu Rama sedang bertugas di luar kota dan suster di rumah sakit memberitahunya jika Nadya telah sadar. Gadis berkulit sama dengan kakaknya itu terus memanggil nama Rama. Namun, Rama sama sekali tidak hadir di samping sang adik.
Satu jam berlalu dan Rama baru selesai dari tugasnya di luar kota. Pria itu segera menuju rumah sakit dan setibanya di kamar sang adik, dia sangat terkejut, Nadya telah meninggal.
Hari itu adalah detik di mana Rama mengalami depresi terberat dalam hidupnya. Dia merasa menjadi manusia tergagal di dunia karena sang adik terluka oleh keteledorannya, yaitu memberikan izin sembarangan.
"Woe, Ram! Ngapain ngelamun?" Pak Chandra melambaikan tangan di depan wajah Rama.
Agen rahasia itu hanya diam menanggapi komandannya. Kemudian mengusap wajahnya berkali-kali. Berharap semua yang dijalaninya hanya mimpi, tetapi pak Chandra ada di hadapannya dan semua yang terjadi tiga bulan lalu adalah nyata. Ia harus bangkit kembali demi adiknya.
Rama mengambil map yang diletakkan di mejanya. "Tugas saya apa?"
"Kamu selidiki dari dalam!" Pak Chandra bicara sedikit berbisik.
"Bagaimana bisa?" Rama terkejut dengan keputusan Pak Chandra.
"Ada lowongan jadi administrasi perpustakaan di kampus itu. Aku udah daftarkan kamu di sana." Pak Chandra memajukan kursinya supaya lebih dekat dengan Rama. Ia melihat kanan dan kiri seakan di sekitarnya ada musuh yang mengintai.
"Kemudian?" Rama mengerutkan keningnya.
"Selidiki! Cari sebanyak-banyaknya! Bisa jadi kasus ini berhubungan dengan adikmu!"
Rama mengusap wajahnya. Mata sipitnya menatap tajam atasannya. "Tapi saya tidak bisa!"
"Bisa! Nggak ada yang secerdik kamu saat menyamar. Kamu juga jeli!" Pak Chandra berapi-api. Ia harus bisa meyakinkan Rama karena hanya laki-laki itu yang bisa diandalkan saat ini.
Rama semakin bimbang. Jika ia menyelidiki kasus ini, pasti kenangan adiknya yang sudah dianggap berlalu akan muncul kembali.
"Dalam enam bulan sudah ada tujuh korban, termasuk adikmu. Motifnya, semua adalah mahasiswi di kampus yang sama." Pak Abimanyu Chandra memperjelas kasus yang sedang dihadapi saat ini.
"Semua mulus, Ram. Nggak ada sidik jari, nggak ada petunjuk apa pun. Rapi!" Pak Chandra terlihat sangat geram.
Rama melihat atasannya itu, kemudian dengan mantap ia mengangguk. "Baiklah, saya terima tugas ini."
"Oke, mulai besok, nama kamu adalah Dandy."
**
Pagi yang cerah di langit kota Solo, tetapi tidak secerah wajah Rama yang selalu suram akhir-akhir ini.
Pria dengan setelan kemeja dan celana bahan itu bergegas ke ruang perpustakaan setelah memarkirkan motor sport-nya. Kemudian ia bertanya pada satpam kampus dan diperintahkan untuk langsung menuju ruang pemimpin perpustakaan.
Pria itu melihat ke kanan dan kiri ruangan, tetapi tiba-tiba tubuhnya bersentuhan dengan seorang dan terdengar suara benda jatuh dengan sangat keras.
"Mata kamu di mana!" Suara teriakan perempuan membuat Rama melotot.





