Rama melihat gerbang yang terpampang jelas di depannya. Di sana tertulis "Universitas Madina" dengan huruf kapital berwarna biru tua. Pintu gerbang itu menyimpan sejuta kenangan di dalamnya, kemudian Rama mengalihkan pandangannya kembali menikmati mie ayam yang sudah dipesan.
Saat ini, Rama sedang berada di warung depan kampus. Warung yang berjejer di sepanjang jalan kampus itu menyuguhkan berbagai menu. Rama memilih mie ayam sebagai makan siangnya hari ini.
Tiba-tiba ingatan laki-laki itu berkelana beberapa bulan yang lalu saat ia sering mengantar adiknya ke kampus. Apalagi dulu, Rama dan Nadya selalu makan bersama di warung itu. Rama mengembuskan napas berat. Mie ayam yang menjadi makanan favoritnya tak berasa sama sekali-tak nafsu makan. Beberapa saat kemudian, Rama meninggalkan makanan yang isinya masih setengah mangkuk itu dan berlalu menuju perpustakaan tempat bekerja untuk sementara.
Mata sipit itu melebar saat melihat perempuan di depannya. Ia terpaku sejenak, saat kembali tersadar, ia berbalik, dan pergi mencari jalan lain supaya tidak bertemu dengan perempuan itu.
"Sial! Baru hari pertama udah malang nasibku!" Rama terus menggerutu.
Laki-laki berbadan kekar itu mengalami nasib buruk pagi tadi saat akan masuk ke perpustakaan. Ia menabrak seorang mahasiswi dan buku yang dibawanya berserakan di lantai. Anehnya, gadis itu tidak marah kepada Rama, tetapi dia melihat pria itu seperti idolanya.
Setelah berada di meja admistrasi, Rama segera mengambil posisi. Ia mulai menghidupkan komputer, duduk menghadap rak buku yang berderet-deret, sedangkan para mahasiswa sibuk dengan bukunya. Tugasn Rama adalah mendata mahasiswa yang meminjam buku dan meminta uang denda jika ada mahasiswa yang terlambat mengembalikan buku. Pekerjaan yang membosankan bagi Rama, tetapi ini semua demi penyelidikan.
Rama kembali mendelik saat melihat sosok perempuan mendekatinya. Gadis cantik dengan busana mewah itu berdiri tepat di depan Rama. Setelah itu, dia membungkukkan badannya dan mata beriris cokelat itu melihat lekat ke wajah sang pria.
"Tadi ngapain menghindar?"
Rama menjauhkan diri dari sang gadis. "Hah! Maksudnya?"
"Nggak usah ngelak, Mas. Siapa namanya?" Gadis itu menarik name tag di dada sebelah kiri Rama dan membaca namanya.
"Dandy Prasetyo. Oke mas Dandy, kenalin, aku Joana Rachel. Mahasiswi Fakultas Hukum. Aku tiap hari ke perpus buat pinjam buku karena ada dosen killer yang menuntut harus ada buku referensi setiap kuliah. Jadi, tiap hari nanti kita bakalan ketemu terus." Kemudian Joana mengedipkan sebelah matanya.
Rama terkejut. Berurusan dengan perempuan seperti Joana tidak terpikirkan sama sekali dalam misinya. Apalagi gadis itu banyak bicara. Rama semakin pening dibuatnya.
"Oke, Mas Dandy. Aku mau cari buku dulu, ya." Kemudian Joana pergi meninggalkan Rama yang masih bengong.
"Maafin teman saya, ya, Mas. Dia emang gitu." Gadis berkacamata dan berambut keriting tiba-tiba berada di depan Rama dan tentu saja membuat pria itu terkejut untuk kedua kalinya.
"Aku Shela, Mas. Temannya Joana." Gadis itu tersenyum manis, kemudian pergi meninggalkan meja admistrasi menuju rak buku, tempat Joana berada.
Rama mengembuskan napas lega. "Mending aku ketemu Yakuza dari pada ketemu dua mahluk tadi." Rama mengelus dadanya berkali-kali.
Malam ini Rama menyempatkan untuk mampir ke kantor. Ada banyak keluhan yang akan dibicarakan dengan komandannya. Pria jangkung itu menunggu sang atasan di kantornya sambil memainkan ponsel.
Rama mengerutkan keningnya saat melihat ada nomor baru di room chat-nya. Segera dia membuka pesan tersebut.
Pesan dari 081354168666:
Mas Dandy lagi apa?
Laki-laki itu menjauhkan ponsel dari wajahnya dan seketika bulu kuduknya meremang.
"Dari mana dia tau nomorku?"
Pintu ruangan terbuka dan membuat Rama kaget.
"Nggak salam dulu, Bos?"
Pak Chandra tersenyum mengejek. "Nggak tau ada kamu di dalam."
"Kan, saya udah bilang sama orang depan." Rama memasang wajah kesal, kemudian ia memasukkan ponsel ke kantong celananya.
"Ada apa? Sudah ada info?" Chandra duduk di kursi kebesarannya.
Rama berdecak. "Baru hari pertama sudah sulit, Bos."
"Maksudnya?" Chandra terkejut dengan jawaban anak buahnya karena ia sudah memastikan jika semua baik-baik saja.
"Baru mau kerja, sudah ada penghalang." Rama memasang wajah memelas.
"Apa? Siapa?" Chandra bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Rama.
Rama meremas rambut ikalnya. "Itu, Bos, kan, tau kalau saya nggak suka ada perempuan pengganggu. Di sana ada makhluk jenis itu."
Chandra terbelalak, tetapi kemudian dia terbahak-bahak karena cerita Rama.
"Sama Triad berani, tapi sama perempuan melempem." Chandra menyindir sambil tertawa.
Rama merasa malu. Ia tidak menyangka jika akan diledek oleh komandannya seperti itu.
"Ram, fokus saja! Waktu kita tidak banyak. Jika satu minggu ini kita tidak dapat petunjuk apa pun, maka pekerjaan yang menjadi taruhan. Masih mau naik jabatan, kan?"
Rama mengangguk. Kalimat sang komandan membuatnya semakin bersemangat. Ia hanya perlu menyelidiki kasus ini selama seminggu kemudian akan pergi dari sana untuk selamanya.
**
Esok pagi sebelum bekerja di perpustakaan, Rama pergi ke gedung 'E' tempat korban ditemukan tewas tak berbusana.
Pria itu mengamati aula Fakultas Tehnik yang sedang diperbaiki. Garis polisi sudah tidak ada lagi di sana. Aneh memang, seharusnya garis polisi masih ada di sini, tetapi ini baru dua hari dan kasus pembunuhan itu lenyap begitu saja. Padahal polisi belum menyimpulkan apa pun.
Detik berikutnya Rama masuk ke tempat itu. Ruangan kosong dengan atap setengah berlubang karena gedung yang sudah tua, juga tembok yang sudah retak sana-sini. Seharusnya gedung ini diperbaiki dua hari yang lalu, tetapi setelah para pekerja menemukan mayat di ruangan ini, pembangunan ditunda.
Rama berdiri di posisi mahasiswi itu ditemukan. Mata sipit Rama mengamati pintu keluar yang ada di samping kanan gedung.
"Pasti mayat itu diseret melalui gedung itu." Rama berjalan menuju pintu keluar.
Dari depan pintu, Rama mengamati keadaan sekitar. "Pintu ini berseberangan langsung sama parkiran perpus. Depannya lagi gedung perpus." Rama berjalan menyusuri tempat parkir yang masih sepi.
"Tempat yang paling dekat dengan aula Fakultas Tehnik cuma gedung perpus. Kalau mahasiswi itu diperkosa di situ enggak mungkin. Anak tehnik suka lembur sampai malam." Rama terus menganalisis dalam hati.
Kemudian pria itu berjalan perlahan sambil mengamati sekitar. "Kalau kejadian nahas itu terjadi di Fakultas Ekonomi, enggak mungkin juga. Karena kalau dari sana pasti lewat bengkel anak tehnik."
Rama kembali mundur menuju tempat parkir perpustakaan. "Nggak salah lagi, pemerkosaan itu terjadi di dalam perpustakaan, setelah itu korban diseret ke aula ini untuk dibunuh."
Saat Rama sedang berpikir, tiba-tiba ada suara manja memanggilnya. "Mas Dandy, ngapain di sini?"
Rama memejamkan mata, perlahan menoleh ke belakang. Saat melihat wajah ceria Joana, Rama berdecak, kemudian melangkah cepat menuju perpustakaan.
"Eh, kok, kabur. Tunggu aku, Mas!" Joana mengejar Rama dengan langkah terseok. Apalagi sekarang ia menggunakan sepatu hak tinggi.
"Mas, lihat aku kok kayak lihat setan. Aku jadi tersinggung loh, Mas." Joana berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Rama.
Rama sama sekali tidak melihat Joana. Ia terus saja berjalan.
"Mas jahat, ya! Aku lagi ngomong, kenapa nggak ditanggapi!" Joana manyun.
Joana tetap mengejar Dandy yang semakin melebarkan langkahnya. "Mas bisu? Kok, nggak jawab pertanyaanku?"
Rama menghentikan langkahnya. "Mau kamu apa!"
Joana berhenti melangkah. Bukannya takut dengan bentakan Rama, gadis itu justru tersenyum lebar. "Aku suka Mas Dandy kalau nanggepin omonganku. Berati aku ada yang perhatiin."
Rama heran dengan perempuan di depannya. "Emang nggak waras." Rama bicara lirih kemudian ia pergi meninggalkan Joana yang masih mengejarnya.
Saat akan masuk ke perpustakaan, kepala perpustakaan dan rektor baru saja keluar dari ruangan dua lantai itu. Mereka terlihat berbincang dengan serius.Rama menunduk untuk menghormati keduanya, tetapi berbeda dengan Joana, gadis itu tak acuh dengan dua orang penting itu dan berlalu begitu saja.
"Gadis aneh. Tadi ceria, sekarang mukanya berubah drastis!" batin Rama sambil berjalan menuju meja kerjanya.
Dari jauh, Rama melihat Joana sedang berdiri di depan rak buku. Semakin lama, gadis itu semakin menunjukkan keanehannya. Ia bukan mencari buku, tetapi hanya melamun saja di depan rak besar itu. Karena penasaran, Rama berjalan mendekati sang gadis dan memastikan keadaannya.
"Kenapa?"
"Bisa diam nggak! Nggak usah ikut campur urusanku! Kamu pergi!"
Rama menautkan alisnya. "Emang perempuan aneh!"





