Zina adalah Hutang!!! Kisah kasih Dzikra

Masa Lalu Simbok

"Aaaahhhh... Sakit.... " Teriak Ratih dari bilik kamarnya. Dengan sigap Dzikra berlari menyibak kain penutup. Dilihatnya air merembes dari selakangan Ratih. Biasanya itu Air ketuban memiliki warna bening atau kekuningan, sering meninggalkan bercak bintik-bintik putih di pakaian dalam, tetapi tidak berbau. Air ketuban yang merembes juga bisa disertai lendir atau sedikit darah berbeda dengan air urine.

"Astagfirullah.. Ya Allah.. " Simbok terus memanjatkan doa sambil memangku Ratih.

"Nduk kamu ke rumah paklekmu ya sekarang, minta tolong anterin ke puskesmas. Kayaknya Ratih mau lahiran.!! " Kata simbok

"Nggeh mbok, Dzikra pergi dulu. " Sambil mencium tangan simbok tergesa-gesa berlari keluar rumah.Jalan berbatu yang harus Dzikra lalui menuruni jalan setapak sambil berlari terenggah-enggah Dzikra mengetuk pintu paklek Giyono. Simbok lebih akrab dengan paklek karena teman sekolah dulu sedangkan bulek Giyanti saudara kandung  bapak.

"Assalamu'alaikum paklek.. " Ketuk Dzikra perlahan

"Assalamu'alaikum paklek, ini Dzikra paklek... " Ulangi Dzikra lebih kencang

"Wa'alaikumussalam warohmatulohi wabarakatuh. " Jawab pakde sambil membuka pintu.

"Eh Dzikra kapan pulangnya? Kok gak ada kabar, ada apa nduk kok masih pagi buta dah ke sini?? " Tanya paklek beruntun.

"Ngapunten paklek menganggu, Dzikra boleh minta tolong paklek?? Ini.. Anu.. Gimana ya.. " Kata Dzikra sambil mengatur nafas.

"Ada apa to Dzikra?? Bilang saja mungkin paklek bisa bantu? " Tanya paklek penasaran.

"Tolong Ratih mau lahiran pakde. Ayo paklek merembes.!! " Ajak Dzikra tak sabar

Paklek Giyono pun masuk ke dalam meminta ijin istrinya. Dzikra menunggu di luar pintu, ia tahu betul kalau bulek Giyanti tidak suka dengan Dzikra dan ibunya.

"Siapa pak pagi buta begini bertamu? Tidak tahu waktu saja. " Seru bulek Giyanti sayup terdengar dari luar menahan amarahnya.

"Dzikra bu, ia minta tolong antar Ratih mau lahiran. " Jawab paklek Giyono

"Ya Allah, baru pulang sudah nyusahin aj to pak. Nanti keluarga kita kena azabnya lho pak dari anak haram itu. " Kata bulek Giyanti melengking

"Sssttt.. Jangan keras-keras to bu, Dzikra ada di luar to.. " Kata pakde sambil membekap mulut istrinya.

"Bapak ini gimana to, masku lho mati karena nikah sama ibunya Dzikra. Ingat lho pak Dzikra itu bukan keponakanku. " Kata bulek Giyanti mulai ngegas nadanya.

"Terserah ibu, tapi ingat hidup mati itu gusti Allah yang berkehendak. Ya dah bapak cuma mau bilang itu aj, ibu ngijinin atau enggak bapak tetap nganterin Ratih." Jawab paklek Giyono sambil menutup pintu kamar.

"Jangan deket-deket janda itu pak, awas ya..!! "Teriak bulek  menahan cemburunya.

"Astaghfirullah bu.. Istigfar.. " Kata paklek Giyono lirih sambil mencari kunci becaknya.

Sementara paklek Giyono memanaskan becak motornya, Dzikra tenggelam dengan pikirannya sendiri. Ia baru tahu kenapa bulek sangat tidak suka padanya. Perasaannya kini bercampur baur, Dzikra terus berdoa dan menepis rasa penasaran. Sesampainya di rumah, simbok sudah siap dengan ransel kecil dan segelas teh yang sudah menjadi dingin.

"Minum dulu kang. " Ajak simbok menahan gemetar nya tangan.

"Gak usah, ayo bergegas kasihan Ratih. " Kata paklek sambil membopong tubuh Ratih tanpa kesusahan. Ratih sudah tidak sadarkan diri,  -+ 30 menit becak paklek Giyono membelah dinginnya pagi dini hari, tepat di depan puskesmas hanya ada beberapa petugas jaga. Administrasi  di puskesmas ternyata tak semudah slogannya, melayani sepenuh hati. Ratih terpaksa di lempar ke rumah sakit karena Ratih tidak pernah pernah kontrol di buku KIA di tambah kondisi Ratih yang tidak sadarkan diri membuat puskesmas tidak mau ambil resiko. Paklek mulai mengegas becaknya lebih laju lagi, simbok menyelimuti Dzikra dan memeluknya erat. Di mulutnya tak pernah berhenti berdoa, sedangkan kantuk  tak tertahan dengan hawa dinginnya apalagi di bus Dzikra hanya tidur ayam.

"Bangun Dzikra ayo masuk. " Simbok membangunkan Dzikra yang terlelap, sedangkan pakleknya sudah membopong Ratih ke dalam UGD.

"Nggeh mbok, ngapunten nggeh. " Jawab Dzikra sambil menutup mulutnya karena menguap.

"Gak pa-pa nduk, simbok juga kasihan ke kamu, baru pulang belum istirahat pasti capek banget ya. " Kata simbok

Simbok menemani Ratih di UGD, Dzikra menyelesaikan administrasi di lobi. Alhamdulillah di RSUD pelayanan nya cepat meski administrasi belum selesai tapi Dzikra dapat melihat Ratih sudah di pasang infus. Simbok dengan telaten meladeni setiap pertanyaan suster, sementara paklek menepi dan mulai menghisap rokok.

Bugenfill 4, kamar Ratih dilantai 2 suster dengan cekatan mendorong ranjang Ratih dan memarkirkannya bersama 3 orang ibu yang telah selesai melahirkan. Kamar ekonomi 6 orang tersisa 2 ranjang kosong. Dzikra membujuk ibunya untuk istirahat di ranjang pasien.

Sebelum naik Dzikra berwudhu dan  mengelar mukena berdoa di sela ranjang dan dinding tembok. Dzikra mencoba menjaga sholat malamnya jika tidak masuk malam saat di Malaysia. Adzan subuh pun memecah pagi, Dzikra menyambung sholat subuh dan berdzikir Allah Latif 121x itu sudah kebiasaan nya. Ia mulai menitikan air mata, simbok yang menyaksikan tak kuasa menahan tangis.

"Sabar ya Dzikra, Allah selalu menguji hamba-Nya sesuai kemampuan. " Kata simbok menenangkan sambil mengelus punggung Dzikra.

"Mbok tolong jawab jujur, apa Dzikra anak haram? " Tanya Dzikra tak sanggup menahan penasaran.

"Maaf nduk, itu semua salah simbok kamu gak berdosa" Jawab simbok lirih

"Kata bulek Giyanti Dzikra bukan anak bapak, terus siapa ayah Dzikra bu? " Tangis Dzikra pecah

"Simbok tidak bisa menjelaskan nduk, biarlah Allah yang menuntunmu, simbok pasrah. " Jawab simbok sambil mengulurkan kalung emas putih berliotin batu merah berbentuk hati bertuliskan inisial A. Ini rahasia yang simbok sembunyikan 22 tahun lamanya terbongkar.

Simbok dan Dzikra terkejut dengan datangnya dokter dan dua perawat di belakangnya menjelaskan kondisi Ratih. Dokter menyimpulkan kalau kondisi janin dan Ratih dalam bahaya jika tidak segera di operasi karena Ratih tak kunjung siuman juga sore nanti akan di lakukan operasi Caesar segera karena ketuban juga sudah pecah. Simbok pun menurut saja dengan pilihan yang dokter ajukan dan menandatangani nya.

"Nanti tolong ke lobi untuk menyelesaikan administrasi yang belum lengkap ya bu. " Pinta perawat sambil berlalu.

Setelah dokter dan perawat keluar, paklek Giyono masuk.

"Gimana Dzikra keadaan Ratih? " Tanya paklek Giyono sambil memberikan 2 bungkus makanan

"Kata dokter bayinya masih sehat tapi keadaan Ratih yang lemah, nanti Dzikra tolong antar pulang pakde. Maturnuwun lo, pakde tahu aj kalau laper. " Kata Dzikra tanpa segan membuka bungkusan nasi.

"Makannya pelan-pelan nduk, maturnuwun ya kang saya banyak banget utang budinya. "

"Kayak sama siapa aja." Kata paklek Giyono

FLASHBACK ON

Pak Giyono dan simbok memang berteman dari kecil karena tetangga. Bahkan Pak Giyono diam-diam suka pada simbok Atun, itulah nama asli simbok. Mereka berpisah karena tak memiliki uang untuk sekolah sehingga terpaksa menjadi ART di Bekasi. Apalagi  Atun yatim piatu dan ikut neneknya. 5 tahun di Bekasi  bukannya mudah, Atun tumbuh menjadi perempuan tangguh dan anggun. Atun sangat terampil di semua pekerjaannya baik masak, mencuci,  dan membersihkan rumah. Di rumah yang megah itu ada 2 Art termasuk Atun karena sudah tua maka akan sangat repot jika seorang diri. Pak Aaron dan istrinya sudah menikah 7 tahun tapi belum juga tanda-tanda hamil. Pak Aaron seorang CEO muda ternama di perusahaan otomotif sedangkan istrinya seorang model. Kesibukan mereka berdua sehingga jarang di rumah. Kedua orang tuanya sudah menuntut cucu membuat gerah telinga yang mendengar. Singkat cerita pak Aaron pulang dalam keadaan mabok dan saat itu hanya Atun yang di rumah karena bibi ijah pulang kampung sedangkan istrinya ada acara keluar kota.

Tiiiiiitttttt terdengar klakson menyala dengan nyaring nya, jam menunjukkan pukul 11 malam. Atun segera berlari membuka gerbang pintu. Mobil menepi dengan aman padahal empunya mabok berat, ia keluar dengan gontai dan menyambar pintu.

"Biar saya bantu pak" Tawaran Atun kepada pak Aaron. Benar saja Atun yang berbadan kecil tak sepadan dengan Aaron 30 tahun yang kekar, dengan sepenuh tenaga sampai juga di bedcover kin size yang empuk. Atun melepas sepatu dan jas Aaron,  ia menyalakan AC dan menyelimuti tuannya. Tiba-tiba tangan kekar itu menarik Atun terpental di kasur, tubuh Atun yang sudah kehabisan tenaga menopang pak Aaron tak kuasa dengan perlakuan tuannya. Terjadilah petaka itu, pak Aaron berjanji akan bertanggungjawab atas perbuatan nya. 2 bulan semenjak kejadian itu banyak pertengkaran antara pak Aaron dan istrinya karena pengakuan pak Aaron. Atun tak bisa menyembunyikan kehamilannya karena morning sickness nya sangat parah. Ia tak bisa makan apapun sehingga pekerjaan nya pun berantakan. Istrinya tahu itu dan mempunyai ide gila. Ia berniat hamil bohongan untuk memenuhi tuntutan keluarga nya dan mengadopsi anak Atun nantinya. Pak Aaron hanya mengiyakan saja karena ia sudah tertutupi cinta butanya, tapi masih malang Atun lagi-lagi. Niat bohongan justru menjadi benar adanya, istri pak Aaron hamil 2 minggu menurut dokter. Atun pun di usir diam-diam oleh istrinya, ia menutup segala akses tentang Atun bahkan di agennya agar tutup mulut. Istrinya takut jika pak Aaron berpaling inilah persaingan ibu hamil. Atun wong cilik bisa apa, ia kembali ke kampung dengan oleh-oleh rahasia yang besar. Neneknya tahu kehamilan Atun jatuh sakit dan meninggal.

Giyono sudah menikah dengan Giyanti karena perjodohan orang tuanya, ia mulai curiga dengan Atun yang sering termenung. Patah hati ya.. Ternyata Atun juga menyukai Giyono tapi nasi sudah menjadi bubur, Atun tahu diri apalagi sekarang ia hamil di luar nikah. Giyono tahu ada yang di sembunyikan Atun, ia mendesak Atun bercerita dan Atun meluapkan isi hatinya. Giyono iba tapi tak mungkin beristri dua, bisa habis sama Giyanti apalagi mereka pengantin baru 3 bulan, sementara kandungan Atun akan semakin membesar. Akhirnya Giyono menjodohkan Atun dengan Nandar kakak pertama Giyanti yang sudah berumur 45 tahun belum juga menikah. Nandar menerima Atun apa adanya, bahkan kehamilannya juga. Pernikahan cepat pun diadakan, jangan tanya tetangga pasti omongannya lebih pedas dari cabe di sawah. Pernikahan Nandar dan Atun banyak gunjingan, hamil di luar nikah lah, perempuan gak bener lah sampai di cap perempuan pembawa sial karena Nandar mulai sakit-sakitan.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.