Zina adalah Hutang!!! Kisah kasih Dzikra

Seorang ibu yang meninggal dunia karena melahirkan pun mendapatkan syahid. Ini dijelaskan dalam hadis ketika Rasulullah SAW menjelaskan ten tang makna kesyahidan. "…Nabi SAW bersabda, 'kesyahidan itu ada tujuh, selain gugur dalam perang, orang yang mati karena keracunan, tenggelam da lam air, terserang virus, terkena lepra, terbakar api, tertimbun bangunan dan perempuan yang meninggal karena melahirkan." (HR Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Hibban).

******************************************************

"Dzikra ijin pulang dulu sekalian ambil uang mbok. " Ucap Dzikra sambil mencium tangan simbok.

"Hati-hati ya nduk, gak usah buru-buru istirahat dulu di rumah. Titip Dzikra ya kang. " Pesan simbok pada Dzikra dan Paklek Giyono.

Dzikra dan Paklek Giyono menurunkan tangga lantai bawah sedangkan kamar Ratih di lantai 2.

Sampai di lobi Dzikra menanyakan pada perawat biaya administrasi kamar bungenfill kelas 3, untuk biaya Caesar dan rawat tertera nominal hampir 10jt. Di dalam rumah sakit sudah ada beberapa ATM bank berjajar rapi. Dzikra masuk ke dalam ATM beberapa menit dan menyelesaikan administrasi.

'Ya Allah ya latif mudahkan urusanku, uangku tinggal 5jt di ATM. Semoga Ratih cepat siuman. 'Batin Dzikra berdoa

Dzikra di hantar pulang Paklek Giyono jam 8 pagi. Ia menyerahkan beberapa lembar uang merah pada Paklek Giyono.

"Gak usah Dzikra, balas nya pakai doa saja, simpan uangmu buat yang lain ya. Cuma ini yah Paklek bisa bantu. " Tolak paklek Giyono

"Maturnuwun ya paklek, semoga Allah ganti berlipat. " Sambil mencium tangan paklek Giyono

"Nanti kalau ke Rumah sakit lagi biar paklek yang hantar ya!! " Kata paklek sambil menyalakan mesin becak nya.

"Siap paklek.. " Jawab Dzikra sambil memberikan hormat

Dzikra membuka kunci pintu rumah dan hawa kantuk pun meraja seperti tahu kalau empunya tubuh sudah sampai gubuk istananya. Dzikra tak mau kalah, ia ambil wudhu dan menunaikan sholat dhuha 8 rokaat. Dzikra ingat betul manfaat sholat Dhuha bagus untuk kesehatan dan“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Wahai Anak Adam, jangan sekali-kali kamu malas mengerjakan empat rakaat pada awal siang (sholat dhuha), nanti akan Aku cukupi kebutuhanmu pada akhirnya (sore hari).” (HR Daud, Ahmad, Tirmidz). Dzikra tak mampu menahan kantuknya hingga terlelap di sajadah sambil berdzikir dengan tasbih nya.

Tok tok tok.. Suara pintu memecah kesunyian. Dzikra terjaga dari tidurnya, jam menunjukkan 10 hanya satu jam Dzikra terlelap sudah membuat tubuhnya sehat kembali. Dzikra sudah biasa tidur kurang dari 8 jam. Segera ia melepas mukena dan membuka pintu depan.

"Eh Tito dan Tutik sini masuk, mbak Dzikra ada oleh-oleh lo. " Ajak Dzikra pada ponakanya, anak dari paklek Giyono. Anak paklek ada 3 Rudi sepantaran Ratih, Tito kelas 6 SD dan Tutik kelas 3 SD. Dzikra membuka kopernya, di dalamnya penuh makanan coklat, minuman dan baju. Dzikra mengisi penuh maksimal bagasi nya 10 kg. Tito dan Tutik dengan rriangnya menenteng sekresek oleh-oleh, tak lupa Dzikra memberikan lembaran merah untuk mereka.

"Buanyak banget mbak, terimakasih ya.. " Kata Tito dengan mulut penuh makanan

"Gak sopan sih kamu mas Tito, eh pamit dulu mbak Dzikra dan dapat oleh-oleh ini.. " Timpal Tutik

"Wush pada gak sopan, sudah dapat pulang. Tapi gak pa-pa mbak juga buru-buru soalnya mau masak terus ke rumah sakit. " Kata Dzikra merapikan koper yang di acak-acak krucil.

"Siapa yang sakit mbak.?? " Tanya Tutik penasaran

"Mbak Ratih mau lahiran dek. " Ucap Dzikra sambil berdiri

"Kalau gitu biar mas Rudi saja yang hantar kan baru libur kuliahnya. " Ajak Tito

"Gak usah nanti ngrepotin ah." Tolak Dzikra

"Pokoknya kudu mau ya mbak, nanti habis dhuhur mas Rudi kesini. " Paksa Tito gak mau kalah

"Kalau gitu pulang dulu mbak" Pamit Tutik sambi mencium pipi Dzikra

Dzikra mengegas memasak dengan bahan yang ada di dapur tempe bacem, nasi dan juga Oseng-oseng rebung di campur telur puyuh. Dzikra pun mengemas beberapa baju ganti simbok dan tikar untuk istirahat. Adzan dhuhur pun berkumandang, Dzikra mengambil wudhu dan menunaikan sholat dhuhur di rumah.

Tiiin.. Tiiin.. Tiinn suara klakson motor terdengar di luar, benar saja Rudi sudah bersedia dengan motor hitamnya.

"Ayo mb naik, gak usah pake lama" Perintah Rudi sambil menyisir rambutnya dengan tangan.

"Di bantu kenapa Rud, kamu bawa tas ransel ya.. Biar mb bawa karpetnya. " Sambil mengulurkan tas berukuran besar karena ada pakaian dan makanan.

"Ini mau pindahan apa, bawaannya kayak mau camping aja. " Keluh Rudi

"Wushh ngawur, kalau menolong itu harus ikhlas ya jangan ngeluh nanti pahalanya diskon juga. " Dzikra dah siap di atas motor

"Ikhlas kok mbak, tapi nanti dapat ringgit ya. Pengin lihat aja uang Malaysia kaya apa. Lagi pula mbak Dzikra makin cantik deh. " Rayu Rudi bak anak kecil

Dzikra membuka dompet dan mengeluarkan pecahan 100ringgit ke Rudi, bak kucing dapat ikan Rudi buru-buru menyambar dan menyembunyikan nya. Takut kalau bapaknya melihat pasti sangat dipotong uang saku Kuliahnya.

Motor Rudi melaju dengan ringannya, Dzikra terpaksa berpegangan tas yang di pakai Rudi. Darah muda memang selalu cepat mendidih. Tak sampai 30 menit sudah mendarat di lobi rumah sakit.

"Saya langsung pamit ya mbak ada janji soalnya" Kata Rudi sambil membetulkan rambutnya

"Iyalah tuh, pasti sama cewek? Tuh wanginya sampai kemana-mana. " Ledek Dzikra menginterogasi

"Tahu aja mbak" Rudi tersipu malu

"Ingat tugas utamanya belajar bukan pacaran ya, ya dah mbak masuk dulu. " Sambil meraih tas pinggangnya dan menjijing karpet.

Sampai di kamar bungenfill sudah ada tangisan bayi, hawa panas menyeruak karena kelas 3 sudah penuh dengan pasien. Dzikra melihat simbok terlelap di samping ranjang Ratih yang masih terlelap tak bergerak. Dengan Hati-hati Dzikra meraih tangan Ratih dan air mata pun menetes begitu saja. Dzikra mencium tangan Ratih berkali-kali, "Ratih ayo bangun dek, mbak kangen banget"

Simbok menggeliat, ia mulai merasakan kehadiran Dzikra di sampingnya.

"Kapan datang nduk? Kok gak dibangunkan.? " Tanya simbok

"Baru saja mbok, kata dokter bagaimana mbok? "

"Ratih akan dioperasi jam 3 nanti sore dokter tidak mau ambil resiko jika pecah ketuban terlalu lama. " Jawab simbok sambil mengelap penuh di keningnya.

"Ini tadi Dzikra masak lho mbok, pasti simbok lapar kan. " Ucap Dzikra sambil mengeluarkan makanan dari tas.

"Kamu gak tidur nduk kok sempet masak? Nanti sakit l

"Ini buktinya masih sehat, Rudi tadi yang hantar. "

Tiada percakapan saat simbok dan Dzikra saat makan karena memang kebiasaan Dzikra sedari kecil. Selesai makan Dzikra merapikan tempat makan, simbok pamit sholat di masjid karena kamar mandi sedari tadi terbuka dan lekas menutup lagi pertanda penuh.

Dzikra membuka mushaf nya, belum juga membaca satu lembar matanya sudah terkantuk. Dzikra menutupnya dan beralih pandangan ke Ratih. Ia terkejut melihat jemari Ratih bergerak. Sontak saja Dzikra menyambar tangan Ratih.

"Ratih mbak di sini dek, mbak kangen. "

Ratih mulai menerka sekitar, dilihatnya kakaknya dengan penuh tak percaya tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja.

"Maafkan Ratih mbak, Ratih cuma bisa jadi benalu, Ratih cuma bisa nyusahin mbak, Ratih bikin malu keluarga mbak. " Tangis Ratih tak terbendung.

"Gak dek semua ujian kita harus sabar dek mbak yakin pasti ada hikmah dari semua ini, Ratih harus kuat demi mbak, demi simbok dan demi anak ini. " Sambil mengelus perut Ratih

"Ratih gak berguna mbak, lebih baik Ratih mati mbak. Ratih menyesal.. Hiks.. Hiks.. Hiks.. "

"Ingat dek semua takdir, Allah pasti mengampuni. Jangan bicara seperti itu dek.. " Bujuk Dzikra

Simbok masuk menyibak tirai, senyumnya tersungging mendengar suara Ratih.

"Alhamdulillah ya Allah, kamu sadar Ratih." Simbok mencium kening Ratih

"Apa Allah menerima taubatku Mbak? Aku kotor mbak. Aduh sakit... " Ratih mengelus perutnya

Ratih pecah ketuban sedari jam 3 pagi itupun pembukaan masih satu sampai siang ini.

"Pasti nduk, Allah Maha Pengampundek, mbak akan bimbing dan rawat anak ini. " Dzikra menenangkan Ratih

"Mbak ajarin aku sholat, sudah lama banget gak sholat" Pinta Ratih

Simbok heran baru kali ini Ratih bicara dengan benar biasanya ia hanya diam dan termenung jika di ajak bicara. Apa karena ada Dzikra atau mungkin ini permintaan terakhir Ratih. Simbok menepis firasat nya jauh-jauh.

Dzikra dan simbok menganti pakaian Ratih dan terus mengeluarkan air ketuban dan memakaikannya mukena. Ratih di ajarkan Dzikra cara ber tayamum karena tak sanggup berdiri dan sholat berbaring.

Air ketuban yang pecah memang bukan termasuk ke dalam nifas. Maka hukumnya tidak sama dengan hukum nifas, melainkan hukum yang lain, yaitu darah istihadhah.

Perlu diketahui bahwa hanya ada 3 jenis darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita, yaitu darah haidh, darah nifas dan darah istihadhah.

Darah nifas dan darah haidh mengharamkan shalat dan puasa. Sedangkan darah istihadhah tidak mengharamkan keduanya. Maka sebelum bayi dilahirkan, belum ada darah nifas. Kalau pun ada darah yang keluar lantaran air ketuban pecah duluan, maka hukumnya bukan darah nifas tapi darah istihadhah.

Dan darah istihadhah tidak mengharamkan shalat dan puasa. Maka masih ada kewajiban bagi ibu-ibu untuk melakukan shalat dan puasa, bila telah pecah air ketubannya, sementara proses persalinan belum terjadi.

Sedangkan alasan bahwa menjelang proses persalinan terlalu sulit untuk bisa melaksanakan shalat, memang hal itu bisa dipahami. Tapi kita tidak boleh menggeneralisir keadaan tiap orang. Ada wanita tertentu yang masih kuat dan tidak ada masalah bila shalat menjelang saat-saat persalinannya. Tetapi ada juga yang badannya terlalu lemah, seperti orang yang sakit.

Maka apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini?

Jawabnya adalah bahwa pada dasarnya shalat masih wajib dikerjakan, tapi kalau karena kondisi yang terlalu payah, maka pasti di dalam syariah ada keringanan. Sebagaimana shalatnya orang yang sedang sakit, maka begitulah cara shalat wanita yang sedang dalam proses persalinan.

Kalau tidak bisa berdiri, boleh duduk. Kalau tidak bisa duduk, boleh sambil berbaring. Kalau tidak bisa berbaring, boleh dengan isyarat saja. Pendek kata, selama kewajiban shalat masih ada, upayakanlah sebisa mungkin untuk shalat, walau bagaimana pun keadaannya.

Ratih mengucap salam dan menangis sejatinya. Simbok dan dzikra terkejut karena perawat masuk dan memeriksa kondisi Ratih. Ratih pun bersiap untuk operasi Caesar.

Mereka mendorong ranjang Ratih menuju ruangan operasi, simbok dan Dzikra mengekor di belakang.

"Tunggu di luar ya. " Begitulah pesan perawat.

Sudah 40 menit berlalu tapi belum juga ada tanda pintu terbuka, hingga terdengar tangisan bayi memecah untaian doa simbok. Air mata nya meleleh, ucapan syukur terus mengalun. Tiba-tiba dokter keluar dan meminta pendonor darah. Ya simbok telah mengajukan diri, Dzikra dan Ratih berbeda golongan darah. Simbok keluar dari dalam ruangan dengan tertatih-tatih. Dzikra menuntun simbok duduk dan memberikan air minum. Sementara bayi laki-laki mungil di dorong keluar, dokter pun keluar.

"Mohon maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkendala lain. Kondisi pasien drop dan pendarahan hebat. "

Simbok yang mendengar bagai kilatan petir jatuh pingsan.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.