Young mom

Yuki membawa Rania masuk ke dalam apartementnya. Rania tak henti-hentinya menatap kagum interior mewah di dalam apartement idolanya itu

Yuki tersenyum melihat tingkah Rania yang lugu. Dengan sangat antusias gadis itu menyebutkan semua lagu Yuki dan menyanyikannya

Yuki memberikan tepuk tangannya pada Rania, ia tahu ada banyak gadis-gadis yang tergila-gila ngefans kepadanya tapi yuki merasakan sesuatu yang lain pada gadis ini , yang seharusnya pantas menjadi anaknya jika ia sudah menikah. Namun diusianya yang melewati ke 38 ia masih belum menikah dengan wanita manapun .

"Siapa namamu ?"

"Rania.... Om...mmmmhhh pak ehh maksudku Yuki. Bagaimana aku harus memanggilmu? Rasanya tidak sopan jika hanya panggil nama saja?"

Yuki tertawa "om yuki juga bagus kedengerannya ko"

"Ehh beneran aku boleh panggil om yuki?"

Yuki mengangguk tersenyum .

Rania girang bukan main, ternyata idolanya baik sekali pikir gadis itu

"Mau minum apa Rania?"

"Apa aja om" jawab Rania tersipu malu.

Yuki membuka pintu kulkasnya, didalam sana ada banyak stok minuman dan cemilan yang berbahan cokelat

"Wah ga nyangka , om yuki suka makanan dan minuman cokelat"

"Ambillah yang kamu suka Rania"

Rania mengangguk girang, ia mengambil sekotak susu rasa cokelat dan muffin cokelat dari sana

Yuki mengajak Rania duduk sambil mengobrol di balkon apartement. Dan lagi-lagi Rania menatap takjub sekelilingnya

"Wuahhhh.... Indah banget pemandangannya dari sini" nanar kedua matanya melihat pemandangan lampu-lampu yang terang benderang dari kursi tempat duduknya sekarang

"Kamu suka Rania?"

Rania mengangguk mengiyakan. Ini berbeda jauh dengan kamar tempat tidurnya di panti asuhan

"Mau menginap disini? Tapi kamu harus punya alasan yang tepat saat ditanya kedua orangtuamu nanti "

"Orangtuaku mungkin tahu aku disini tapi mereka tak bisa lagi melarangku sekarang" ucap Rania

Gadis ini pasti gadis nakal yang suka membantah kedua orangtuanya, tebak Yuki . Dan laki-laki itu akan memanfaatkannya atas dasar suka sama suka

"Kau yakin?" Tanya Yuki lagi memastikan

"Ya.... "

❤️❤️❤️❤️

Yuki menuntun Rania ke atas ranjangnya dan melucuti pakaian gadis itu. Ia melakukannya perlahan , Rania menerima pasrah setiap cumbuan dan sentuhan dari Yuki.

Ketika airmata Rania merembas keluar dari pelupuk matanya karena menahan sakit, Yuki baru sadar ternyata gadis ini masih perawan

Di dalam hati pria itu ia merutuki tingkahnya yang gegabah ia ingin menghentikan gerakan tubuhnya namun nafsunya sudah tak bisa ia bendung. Di satu sisi , ia merasa senang ia belum pernah mendapatkan seorang perawan yang polos seperti Rania

Malampun berganti dengan pagi

Tubuh Rania yang polos masih tertutupi selimut putih, ia turun dari ranjang mencari sosok Yuki

"Ambil ini, pergi dari sini dan jangan mencariku lagi" Yuki tiba-tiba muncul mengagetkan Rania, dan selembar kertas cek bertuliskan nominal dua ratus juta lebih mengagetkan Rania lagi

"Apa ini om?"

"Ini untukmu,pulanglah ke rumahmu. Kedua orangtuamu pasti menunggumu . Aku minta maaf atas kekhilafanku semalam"

"Aku tidak butuh itu, aku menyukai om Yuki dengan sepenuh hatiku " ucap Rania berusaha menahan tangisnya , ia menepis cek itu

"Aku minta maaf, ambil ini dan pergi dari sini . Jangan menemuiku kembali " Yuki membuang pandangannya

"Tapi om kenapa aku tidak boleh menemuimu lagi ?"

"Itu bukan urusanmu. Dengar urusan kita berdua sudah selesai "

"Apa wanita yang menamparmu semalam dia istrimu? Pacarmu?"

"Itu bukan urusanmu Rania" ucap Yuki sambil keluar dari kamar apartementnya

Sementara gadis itu disana jatuh terduduk lunglai, ia menangis berderai airmata . Idolanya tak sebaik yang ia pikirkan sebelumnya. Yuki sama saja seperti kebanyakan artis lain yang hanya memanfaatkan kencan semalam dengan para fansnya

Yuki bermaksud mengantarkan Rania kerumahnya dengan mobilnya. Di dalam perjalanan tak ada satupun dari mereka berdua yang bicara .Sesekali Yuki melihat wajah Rania yang sembab dari kaca mobilnya . Rania hanya tertunduk sambil menahan tangisnya

"Apa rumahmu masih jauh?" Tanya Yuki membuka percakapan

"Turunkan saja aku disini, tempat tinggalku tidak jauh dari sini "

"Kau serius?"

"Ya"

Rania turun dari mobil tanpa melihat lagi ke arah idolanya itu. Ia berjalan tertatih menahan rasa sakit dibagian pangkal pahanya. Ia sangat menyesali perbuatannya semalam. Kesuciannya terenggut sia-sia. Ia hanya mendapatkan cinta dari laki-laki yang dipujanya hanya semalam saja saat langit masih gelap . Ketika langit berganti hangat di pagi harinya, Yuki membuangnya begitu saja dan yang menyakitkan ia dilarang menemuinya lagi

"Sialan.... Kenapa aku malah merasa kasihan, aku kan sudah memberinya uang pengganti " umpat Yuki, ia akhirnya memutuskan mengikuti langkah gadis itu beberapa meter di belakangnya

Rania tidak berbohong kepada pria itu, tempat tinggal Rania hanya tinggal berbelok kiri, Rania membuka pintu pagar besi berwarna hitam sambil menangis membuat Yuki terkejut bukan main, karena disamping pagar besi itu ada sebuah papan kayu bertuliskan Panti Asuhan Bunda

"Kenapa gadis itu tak mengatakannya padaku" desah Yuki tak percaya

Rania berjalan masuk kedalam panti asuhan tanpa menoleh lagi ke belakang, ia pun tidak tahu yuki mengikutinya dan melihatnya dari balik pagar

Yuki berteriak penuh sesal

"Apa yang sudah kulakukan" ia mengingat kembali perkataan Rania semalam tentang orangtuanya yang bisa melihat anaknya namun tak bisa melarangnya

"Aku begitu bodoh Rania,maafkan aku " ucap Yuki

❤️❤️❤️❤️

Dua hari berlalu sejak hari itu. Tubuh Rania masih mengalami demam, Bu nur selaku pemimpin panti sudah memberinya paracetamol namun tubuh Rania masih terbaring lemah diatas tempat tidurnya

"Kita berobat ya Rania, nanti biar bik Sari yang nemenin ke klinik" ucap bu Nur menyentuh kening Rania yang masih tinggi , ia mengecek suhu tubuh Rania.

"Dari kemarin masih 38 derajat , kita berobat ke dokter ya, ayo ganti bajunya" pinta lembut Bu Nur

Rania menggeleng, ada airmata disudut pelupuk matanya, ia merubah posisinya memunggungi Bu Nur

Bu nur , wanita penuh kasih sayang yang mengambil Rania 8 tahun yang lalu usai kebakaran yang menewaskan keduaorangtua Rania dan membawanya tinggal di panti asuhan yang dikelolanya menduga ada sesuatu yang disembunyikan Rania. Sendu mata Rania sekarang sama seperti saat saat pertama kalia Rania tiba di sini , depresi dan trauma.

Namun bu Nur memutuskan menanyakannya nanti saja , ia menghubungi seorang dokter kenalannya memintanya untuk memeriksa kesehatan Rania

"Lihat tuh Rania anak kesayangan mah dipanggilin dokter kesini , coba kalau kita mah disuruh ngantri ke puskesmas " dengus Safira , salah satu anak panti asuhan Bunda

Maya nyeletuk "Biarinlah sirik kamu ya "

"Iya aku sirik, kenapa selama ini perlakuan Bu Nur terhadap Rania berbeda dengan anak-anak lain , kenapa?"

"Karena Rania tinggal di panti asuhan ini enggak gratis, Rania hidup disini dari harta warisan keduaorangtuanya. Enggak kayak kamu atau aku yang enggak jelas siapa orangtuanya" timpal Maya

Plakk..... Sebuah tamparan dilayangkan Safira ke pipi Maya.

Maya tak tinggal diam ia balas menjambak rambut Safira sekuat tenaganya

"Awwww...... Sakit, lepasin" teriak Safira , ia juga berusaha menjambak rambut Maya

Anak-anak lain yang melihatnya bersorak sorai melihat perkelahian Maya dan Safira seolah itu pertunjukan sirkus . Bik Sari yang sedang memasak mendengar kebisingan yang terjadi meninggalkannya masakannya lalu melerai Maya dan Safira dengan kedua tangannya .

Tubuh Bik Sari yang besar dan tinggi memudahkannya untuk memisahkan kedua anak perempuan tersebut.

"Kalian ini apa-apaan, bukannya belajar atau bantuin bik Sari nyiapin makanan malah berkelahi, nanti bik Sari laporin ke bu Nur mau ?"

"Ayo minta maaf" perintah Bik Sari

Namun Safira dan Maya saling membuang wajahnya masing-masing

"Dia yang nampar aku duluan bik, lihat nih pipiku masih sakit" timpal Maya

"Benar itu Safira?' tanya Bik Sari

"Karena dia bilang orangtuaku enggak jelas, memangnya kenapa kalau orangtuaku enggak jelas. Siapa juga yang mau lahir jadi anak ga jelas . Kalau aku bisa milih takdir juga aku akan minta pada Tuhan jadi anak orang kaya dan terhormat" jawab Safira tersedu-sedu .

Bik Sari mengusap airmata Safira dengan lembut,

"Kamu benar sayang tapi tindakanmu menampar Maya itu perbuatan jelek, kita semua disini adalah saudara ,masih ingat ucapan Bu Nur kan"

Safira mengangguk

"Ayo semuanya berkumpul di ruang makan, makan malam hampir matang" perintah bik Sari membubarkan semua anak-anak yang berkerumun disana

"Dan kamu Maya ikut bibik bantuin siapin makanan" ucap bik Sari menyeret lengan Maya masuk ke dalam dapur

Anak-anak manapun di dunia tidak ada yang bisa memilih akan dilahirkan dari rahim dan benih siapa, anak-anak itu hanya mengikuti kehendak takdir yang sudah digariskannya.

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.