Why not!

Hari pertama bekerja sebagai tenaga pemasaran perumahan, begitu terasa berbeda untuk Amara. Selain karena ini pekerjaan pertamanya dibagian itu, ia juga harus membawa serta Bari. Wanita yang itu masih berusia 26 tahun, menggandeng tangan putranya masuk ke mal yang baru mulai beroperasi pada jam 10 pagi. Mereka berjalan ke stand dengan nama perumahan tersebut.

"Bar, nanti jangan ke mana-mana, ya?" ucap Amara sambil berjalan ke satu wanita berhijab yang sudah berdiri di lokasi stand, sedang memasang banner dan merapikan meja.

"Selamat siang, dengan Mbak Diva?" tanya Amara ramah dan sopan. Wanita itu menoleh.

"Iya, dengan Amara, ya?" ia balik bertanya. Amara mengangguk. Diva mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri sebagai senior marketing pameran.

"Saya Amara, Mbak, dan mohon maaf, saya harus membawa putra saya bekerja. Maaf kalau kurang nyaman  untuk Mbak Diva dan tim."

Diva tersenyum. "Nggak apa-apa, saya paham kok, yang penting, Bari nggak pecicilan, ya?" Diva mengusap kepala Bari. Bari mengangguk pelan. Ia mengeratkan gandengan tangannya ke Amara. Sontak ia menoleh, menatap Bari sambil tersenyum yang membuat Bari tenang.

Wajar jika Bari khawatir, selama ini ia tak pernah berinteraksi dengan orang lain, karena Amara begitu mengingatkan untuk tidak percaya kepada orang lain.

Delapan jam waktu umumnya bekerja, Amara nanti akan ditugaskan berdiri di depan pintu masuk, menyebarkan brosur dan menjelaskan beberapa hal kepada calon pembeli. Ia meminta Bari duduk di tempat yang sudah disiapkan Diva, yaitu di belakang papan besar iklan perumahan yang berdiri tegak. Dari sana, Bari juga masih bisa melihat bundanya.

Ada enam orang yang di tempatkan di mall itu, empat pria dan dua wanita. Ke empat pria masih baru lulus kuliah, hanya ia dan Diva yang ibu rumah tangga.

"Bunda di sana ya, Bar, kamu kalau ngantuk, tidur aja, ketutupan papan ini kok, kalau mau lihat Bunda, intip sedikit aja. Bunda di sana, oke?" Amara mencium kening putranya itu. Bari mengangguk dan tersenyum.

"Bun ... Bun!" panggil Bari, Amara menoleh sejenak.

"Toiletnya arah itu 'kan, Bun?" Bari menunjuk ke arah sudut. Amara mengangguk.

"Hati-hati kalau mau ke toilet, inget, nggak boleh jawab kalau ditanya orang yang nggak kamu kenal. Bukannya mau sombong. Berjaga-jaga, karena nggak semua orang--"

"Punya niat baik sama kita. Bari harus hati-hati," jawab Bari melanjutkan ucapan Amara itu. Amara mengangguk.

Ia berjalan ke arah pintu masuk, membawa setumpuk brosur di tangan kirinya. Dengan memakai pakaian formal berupa kemeja dan celana panjang, membuat pelayaknya wanita pekerja kantoran yang modis. Bari tersenyum, ia lalu memilih membaca buku dan komik yang sudah ia siapkan di dalam tas ranselnya. Beruntung sekolah libur kenaikan kelas, jadi Bari bisa menemani Amara bekerja.

***

Mall tampak ramai, Bari tertidur pulas, karena jam menunjukan pukul dua siang, jam tidur siang Bari. Amara diberi waktu istirahat setengah jam. Ia duduk, lumayan pegal kakinya karena berdiri empat jam. Ia makan siang dengan bekal yang dibawa. Hanya nasi dan telur dadar, bukan perkara berat atau menyedihkan. Ia memang begitu keras mengajarkan Bari dalam hal menu makanan.

Tak jarang, kedua orang tuanya lah yang merasa tak tega. Melihat anak dan cucunya makan seadanya. Amara, jelas ia menolak reaksi tak tega itu dan bisa-bisa terjadi adu argumen panjang hanya membahas soal makanan.

"Nasi sama telur juga udah ada vitaminnya, Ibu, walau aku belum bisa kasih menu lengkap, seenggaknya Bari nggak kelaparan. Juga, aku siapin vitamin untuk Bari walau bukan merek terkenal."

Akan seperti itu jawaban Amara jika ibunya bertanya.

Kedua mata Bari terbuka perlahan, ia segera duduk. Amara tersenyum. "Udah makan?" tanyanya. Bari mengangguk.

"Bunda, kalau Bari di rumah Kakek sama Nenek boleh nggak?"

"Kenapa? Bari capek atau bosan temenin Bunda di sini?" Amara balik bertanya. Bari menggeleng cepat.

"Bari takut, Bun, banyak orang. Bari nggak bisa bedain mana yang baik sama jahat," ucapan putranya membuat Amara terkekeh.

"Nggak usah dilihat, kamu baca buku atau gambar aja, Bunda nanti berdiri di sana lagi, kamu bisa lihat ke sana," kata Amara sambil lanjut makan siang. Bari mengangguk.

"Bun,"

"Iya," toleh Amara.

"Sekolah Bari, maksudnya, Bari pindah sekolah tahun ini, temen-temen Bari gimana ya, Bun, baik apa nggak?" Bari bersandar di bahu Amara. Anaknya begitu terkejut saat diberitahu jika harus pindah ke sekolah lokal. Bukan sekolah swasta seperti sebelumnya.

"Pasti. Bunda yakin kamu nanti dapat teman yang baik, sama kayak di sekolah lama. Anak kelas dua SD harus kuat ya, jangan cengeng apalagi manja. Dan, kamu anak laki-laki, Bar."

Bari mengangguk. Satu minggu lagi ia akan masuk sekolah, letak sekolahnya juga dekat dengan rumah kedua orang tuanya. Saat hari sekolah, Bari akan dijemput kedua orang tua Amara dan dititipkan di sana sampai Amara pulang bekerja.

Jarak dari rumah orang tua ke rumah yang disewa Amara juga tak begitu jauh, hanya lima belas menit.

Bari menatap orang-orang yang lalu lalang dengan wajah yang tampak bahagia. Bocah itu kembali menatap Amara yang masih makan.

"Bunda sama Ayah, pisah ya?"

DEG.

Amara diam, ia cukup terkejut dengan pertanyaan Bari. Hanya senyuman yang bisa Amara berikan sebagai jawaban.

"Apa karena Ayah di rumah terus? Bunda yang kerja di toko motor?"

Maksud Bari itu dealer motor. Amara memang sempat bekerja selama setahun di sana. Sebagai customer service. Setidaknya ia tak berpangku tangan hanya mengandalkan uang sisa pesangon mantan suaminya yang juga terus merongrong warisan tanah keluarganya yang belum laku terjual. Amara malu dengan kondisi itu. Dengan bantuan teman kuliahnya, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan itu. Amara sadar, jika koneksi orang dalam itu berpengaruh cepat dalam mencari pekerjaan di masa sulit.

Sempat ia menawarkan kepada mantan suaminya itu, pekerjaan sebagai collecting staff di salah satu perusahaan pembiayaan kendaraan. Tapi di tolak mentah-mentah, dengan alasan, ia tak mau mulai dari awal. Setidaknya, pekerjaan lain yang ia dapatkan harus setara posisinya dengan apa yang sebelumnya ia lakukan.

Tapi, lain di bibir lain dikenyataan. Amara hanya melihat kemalasan. Mantan suaminya itu hanya banyak berkata tanpa fakta.

***

Malam menjelang. Pukul tujuh tepat Amara pamit pulang, begitu pun Diva. Tersisa rekannya yang pria saja, mereka ditugaskan tetap di mall sampai tutup dan merapihkan stand pameran. Bari menggandeng tangan Amara. Ia merekatkan jaket yang dikenakannya. Angin dingin menerpa, mereka berdiri di depan halte yang ada di dekat mall.

"Makasih udah nurut ya, Bar, pegal-pegal nggak badan kamu?" lirik Amara. Bari hanya tersenyum. Ia mengajak putranya duduk.

"Tenang, nanti Bunda urut ya, pakai minyak kayu putih." Amara duduk dan merangkul bahu putranya itu. Mereka sedang menunggu angkutan umum yang akan membawa mereka pulang.

Amara tak tega sebenarnya, tapi Bari juga ingin ikut dengannya. Dillema seorang ibu yang bekerja namun tak percaya dengan orang lain. Ia bisa saja menitipkan Bari di rumah kedua orang tuanya, tapi hati kecilnya justru merasa tak enak. Amara tak ingin kedua orang tuanya mendapat gunjingan tetangga, karena terlihat mengasuh Bari, di saat ia bekerja mencari nafkah dan juga seorang janda. Lebih baik, sementara Bari ia bawa bekerja. Lain halnya jika nanti sudah sekolah, waktu mengawasi Bari juga hanya sebentar, jadi tak terlalu membebani orang tuanya itu.

"Bar, ayo, jangan tidur dulu. Angkotnya udah dateng. Ayo kita pulang!" Amara beranjak. Tampak Bari sudah mengantuk, namun berusaha untuk menghilangkan rasa itu.

Di dalam angkot, Bari tertidur, Amara memeluknya, merekatkan jaket yang di kenakan putranya itu sambil mengusap pelan kepala Bari. Tak pernah ia membayangkan akan menjalani hal itu dengan Bari. Bayangan pernikahan yang bahagia dengan merintis bersama pasangan, menguap bak uap air panas yang perlahan menghilang ke udara.

Ia sedih, tak tega melihat Bari. Namun ia tutupi dengan rasa optimisnya untuk bangkit dan menjadi sukses. Memberikan fasilitas yang nyaman untuk Bari kelak.

Sesampainya di jalan besar yang akan menuju ke kontrakannya, Amara harus menggendong Bari yang begitu mengantuk, ia meminta putranya itu naik ke punggungnya, perlahan ia berjalan, melewati rumah warga lain dan menyapa. Jalanan itu hanya muat untuk satu mobil dan juga satu arah, jadi lalu lalang kendaraan tak banyak.

"Baru pulang, Bunda Bari?" tanya ibu-ibu yang sedang menutup warungnya.

"Iya, Bu, permisi..." sapa Amara sopan. Ia terus berjalan sambil mengingat-ngingat apa ia masih punya stok susu dan roti untuk Bari atau tidak. Ia juga lupa, tadi membeli makan malam untuk Bari.

"Bun..." suara Bari terdengar.

"Hm? Kamu kebangun karena laper, ya?" tanya Amara.

"Iya. Perut Bari sakit." Mendengar itu Amara bergegas berjalan cepat untuk sampai di kontrakan. Bari meminta turun dari punggung Amara ketika tiba di depan pagar. Dengan cepat Amara membuka pagar dan pintu masuk. Ia masuk lebih dulu, membuka kulkas kecil untuk melihat apa ada stok makanan.

Wajahnya menunjukkan kelegaan saat melihat masih ada stok susu dan telur, walau roti tak ada. Bari membuka jaketnya, ia lipat lalu meletakkan di dekat tempat tidur. Sementara Amara mengunci pagar juga menutup pintu.

"Bunda bikin mie rebus pakai telor ya, Bar, mau?" Amara mencuci tangannya.

"Mau Bun," jawab Bari. Bocah itu mengambil handuk, lalu berjalan ke dalam kamar mandi, ia membersihkan mandi tanpa di suruh-suruh Amara.

Wanita itu membuat dua porsi mie rebus dengan telur, satu untuknya dan satu untuk Bari. Ia membawa dua mangkok ke depan TV, Bari sudah duduk menunggu Amara.

"Ayo makan, Bar, biar hangat perutnya." Amara memberikan sendok dan garpu, tak lupa ia memyalakan kipas angis kecil supaya udara tak pengap.

"Bun, Bari lupa, kemarin Kakek mau kasih kita AC, katanya yang di kamar bekas Bunda dulu, bisa dipindah ke sini. Bunda mau?" Kedua mata Bari menatap Amara. Ia diam, karena tadinya mau membeli dengan mencicil setelah ia menerima gaji pertamanya, namun kondisinya memang kontrakan itu panas walau sudah memakai kipas angin. Kulkas dan tempat tidur, ia beli dari uang tambungannya, TV ia pinjam dari kakaknya, kompor gas juga ia pinjam dari ibunya yang masih menyimpan kompor lama.

Ia malu sebenarnya, namun Bari butuh hal itu. "Boleh, nanti Bunda telpon Kakek ya, biar dipindah ke sini ACnya," jawab Amara. Bari tampak senang, keduanya menikmati makan malamnya lagi. Sambil bercerita pengalaman Bari ikut Amara kerja, lelah, namun keduanya tampak senang.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.