Why not!

Lima tahun berlalu, perjuangan seorang Amara tak akan mudah. Rumah kontrakan petak itu menjadi saksi kehidupannya bersama Bari, si putra sematawayangnya.

Perjuangan seorang wanita untuk menghidupi diri dan seorang anak tidaklah mudah. Cobaan datang dari berbagai macam pihak, tapi tak membuat Amara lemah, ia tak peduli dan terus berjalan sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan.

"Bun, sebentar lagi taksi onlinenya sampai, Bunda udah siap?" Bari bertanya sambil merapihkan seragam sekolahnya. Amara mengangguk, ia juga sudah tampak rapi dengan seragam kerjanya.

Amara masih bekerja sebagai tenaga pemasaran di perusahaan properti itu. Tapi kini, level dirinya sudah setara seorang supervisor, pendapatan setiap bulan juga cukup untuk kebutuhan hidupnya. Amara mampu belajar cepat, ia juga menjadi sales dengan penjualan rumah yang melebihi target. Jangan bayangkan mudahnya Amara mencapai target penjualan, ia harus menawarkan dari mulut ke mulut, mencari kontak rekan sekolah dan kuliahnya dulu. Di tolak, diabaikan, dicemooh, bahkan diusir karena calon konsumen tak senang dengan Amara yang seolah memaksa untuk menawarkan produk. Padahal, ia menerapkan cara pendekatan natural, atau cara memasarkan produk dengan mencari tahu keadaan sehari-hari calon pembeli.

Wajar, ada yang senang, ada juga yang tidak. Amara goyah? Tidak. Justru di kepalanya penuh dengan ide-ide pendekatan lainnya.

"Bun ... serius, Bunda bawa dagangan juga?" lirik Bari sambil berdiri di dekat pagar. Amara mengangguk seraya mengunci pintu. "Ini udah pesanan orang kantor, Bar, keripik pisang ini banyak peminatnya," jawab Amara santai. Bari menatap lekat ke dagangan Amara itu.

"Bun, ada sample nggak? Bari tawarin ke guru-guru di sekolah," sambung Bari sambil melirik lagi ke dalam kantong plastik merah besar itu.

"Yakin? Nggak malu?" tanya Amara. Bari manggut-manggut.

"Ngapain malu sih, Bun .... " jawab Bari begitu cuek. Amara terkekeh, ia mengambil keripik pisang yang dibungkus dengan plastik ukuran satu kilo dan memberikan ke Bari.

"Jangan lupa dicatat kalau ada yang pesan, ya, Bar," Amara membantu Bari menutup kaitan tas sekolah putranya itu. Bari mengangguk.

Taksi online tiba, mereka segera masuk ke dalam mobil, tujuan pertama ke sekolah Bari - SMP negeri favorit - yang searah dengan kantor properti tempat Amara bekerja. Wanita itu menatap kabin mobil yang mereka berdua tumpangi, ia melirik ke Bari yang duduk tenang. Pikiran Amara mengarah ke niatan lain sembari memandangi jalanan Ibu kota yang selalu ramai. Ia mulai menganalisa dan mengkalkulasi apa yang menjadi tujuannya jangka pendeknya.

"Bar," panggil Amara. Putranya menoleh. "Kamu malu nggak, kalau Bunda jualan baju di bazar atau kita ikut pameran di kantor-kantor? Setiap weekend aja?"

"Kenapa harus malu. Nanti Bari temenin, Bun, Bari bantuin," respon Bari membuat Amara mengangguk mantap. Ia mengusap kepala putranya yang akan beranjak remaja. Tak bisa Amara pungkiri, ia ingin memiliki pemasukan tambahan, ia ingin lebih menjamin kehidupan ia dan Bari dengan hal yang lebih baik. Berdagang pakaian salah satunya.

***

Suara mesin cetak terdengar nyaring. Amara sibuk merapikan brosur dan beberapa data calon pembeli rumah sebelum ia serahkan ke bagian analisa kredit dan diproses ke bank.

Diva berjalan dengan wajah kusut. Ia duduk bersandar di sudut meja kerja Amara. "Kenapa, Mbak?" tanya Amara yang hanya menatap sekilas sebelum kembali merapikan berkas-berkas.

"Aku dipanggil ke sekolah, nih, Ra, anak aku yang kedua ribut sama Kakak kelasnya," cerita Diva. Amara menatap.

"Yaudah, Mbak, sana ke sekolah, jam berapa janjiannya?" Lirik Amara sejenak.

"Masalahnya, anak aku ini mau di keluarin, ini bukan kasus pertama. Aku pusing, Abinya udah maksa masukin ke pesantren."

"Kenapa harus pesantren?" tatap Amara.

"Karena, menurut suamiku, pesantren punya sistem mendidik yang disiplin, dan-"

"Jadi tempat sekolah anak-anak bandel, biar jera?" Amara beranjak. "Mbak, pesantren bukan tempat untuk hal itu, lagian, masih banyak pilihan, Mbak, coba obrolin ke suami Mbak Diva, kalau tujuannya masukin ke pesantren karena hal itu, kasihan pesantrennya, dong, anggapannya jelek. Lha wong, tempat menuntut ilmu yang bagus, malah terkesan bukan."

"Itulah, aku harus pindahin ke mana anak itu? Abangnya udah SMA, malah ikutan ribut terus di rumah sama adiknya itu. Anak aku yang kedua ini super aktif dan keras kepala, makanya aku bingung banget."

"Mbak, coba ajak ngobrol, takutnya ada yang dipendam atau dirasa nggak nyaman, tapi takut menyampaikan. Anak remaja, kalau nggak kita jadikan sahabat, malah bisa jadi musuh bebuyutan. Bukannya, anak Mbak itu, suka main musik, ya?" Amara mencoba mengingat cerita Diva tentang putra keduanya. Diva mengangguk.

"Ajak ke kafe atau nonton konser, pakai pendeketan itu, Mbak, kasih tahu suami juga, komunikasikan," ucap Amara seraya bersiap untuk meeting dengan tim pemasarannya.

Diva diam, berfikir sejenak tentang saran Amara.

"Iya juga ya, Ra. Ih, kamu nih, bisa-bisanya kasih nasehat se-modern ini, aku nggak kepikiran sama sekali," tawa Diva terdengar penuh kelegaan.

"Kayak gini masih jomblo. Amara, aku kenalin sama temen sekolahku dulu mau, ya?" Pertanyaan Diva mampu membuat Amara diam, lalu menggeleng cepat.

"Terima kasih sekali, Mbak, aku masih betah melajang, dadah .... " Amara berjalan dengan membawa satu rim brosur perumahan dan tas kerjanya. Timnya sudah menunggu di ruang meeting sebelum mereka menuju ke lokasi pameran perumahan.

"Ra, mau sampai kapan kamu menjanda, udah lima tahun, anak itu." Diva menggelengkan kepalanya. Lalu kembali ke meja kerja miliknya.

Ruang meeting.

"Target kita itu pasangan muda yang belum punya rumah, kita tawarkan DP yang sesuai dengan kantung mereka. Program DP ringan khusus untuk pasangan yang baru menikah selama enam bulan, saya rasa bisa menarik bagi mereka."

"Syaratnya, minta fotocopy buku nikah, untuk syarat pengajuan pembiayaannya. Tawarkan juga kalau kita kerja sama dengan tiga bank konvensional dan, dua bank syariah. Ingat, ini berlaku enam bulan."

Ke lima anak buah Amara mengangguk paham. Lalu Amara menjelaskan lagi. Ia menulis di papan tulis putih dengan spidol.

"Buat promosi lewat sosial media, terutama aplikasi-aplikasi yang lagi booming, toktok misalnya. Kalian bikin video dengan objek rumah contoh, side plan dan keterangan singkat namun penting. Kayak, total unit akan di bangun berapa, progres pembangunan berapa tahun, itu aja dulu. Nanti, saya akan bikin konsep kontennya."

"Kalian mau bonus dari setiap rumah yang kalian jual, kan? Jadi, ide kreatif memasarkan barang juga perlu. Sementara ini, kayaknya ini aja dulu, sasaran pasar kalian pasangan muda."

Amara menyudahi penjelasan kepada timnya. Semua tampak mengerti dan paham. Pola pikir Amara yang mengikuti tren juga zaman, begitu sangat membantu pekerjaannya itu.

"Kalau Bu Amara, target pasarnya siapa, Bu?" tanya seorang anak buahnya.

"Banyak. Cuma saya nggak akan incar punya kalian, saya nggak mau rakus. Kita tim, harus saling berbagi, jangan mau memperkaya diri sendiri. Oke, selamat berjuang rekan-rekan, saya mau ke pameran juga, semangat ya! Besok meeting lagi jam sembilan, kasih tau laporannya, atau bisa chat saya kalau kalian bingung."

Amara tersenyum, anak buahnya mulai beranjak dan meninggalkan ruang meeting. Ia menjadi yang terakhir keluar. Baginya tak masalah seorang pemimpin mendahulukan anak buahnya. Ia ingin timnya juga belajar bersama dirinya, ia tak akan pelit ilmu.

Lokasi pameran disalah satu kantor besar di Jakarta begitu ramai. Lobi besar itu sudah di sulap menjadi area pameran properti, baik rumah atau apartemen. Amara yang begitu cantik dan ramah, memberikan brosur sambil memperkenalkan diri. Banyak yang menyambut ramah, ada juga yang langsung menolak. Tak mengapa, ia tetap tersenyum melanjutkan keperjaannya.

"Siang Mbak, saya mau tanya beberapa hal, bisa?" seorang pria dengan pakaian kantoran menghampirinya. Amara mengangguk. Ia mengajak pria itu duduk di tempat yang sudah disiapkan. Tak sendiri, pria itu bersama rekannya yang beberapa kali melirik sambil menahan senyum.

"Apa yang mau ditanyakan? Saya Amara, anda?" Amara mengulurkan tangannya, pria itu menyambutnya dengan cepat.

"Saya Noah," jawab pria itu.

"Kalau saya Andra," sambung rekan satunya. Amara mengangguk. Lalu Noah menyikut lengan Andra yang terkekeh.

"Saya mau tanya, untuk lokasi perumahannya, berapa jauh jaraknya dari kantor ini?"

Amara mengangguk. "Lokasi pembangunan cukup jauh memang, Pak, tapi aksesnya mudah. Bisa lewat tol outer ring road, itu hanya melewati dua pintu tol otomatis."

Noah menganggukan kepala. Lalu sesi tanya jawab pun berlanjut, pria itu beberapa kali menganggukan kepala saat Amara menjelaskan dengan rinci.

"Terima kasih penjelasannya, Amara, nanti saya hubungi jika memang berminat, dan, um ... apa kita bisa ketemu di tempat lain di luar jam kerja?"

Amara diam. Ia jengah dengan hal semacam itu. Noah tersenyum begitu tampan, keduanya beranjak dengan tetap menatap Amara, Noah terutama. Amara tersenyum seraya mengulurkan tangan kembali untuk berjabat tangan karena sudah mau bertanya tentang properti itu. Noah menyambutnya.

"Terima kasih sudah menanyakan dengan rinci konsep perumahan yang kami tawarkan, dan saya menolak ajakan anda, permisi, Pak Noah, saya harus kembali membagikan brosur." Amara berjalan meninggalkan Noah dan Andra yang diam, pertahanan Amara begitu kuat dan keras, bak beton yang begitu susah retak.

"Gue penasaran sama dia, Ndra," lirih Noah.

"Pepet lah ... gitu aja repot. Jinak-jinak merpati gue rasa." Andra menepuk bahu Noah, sedangkan pria itu tersenyum penuh harap.

Diva melihat hal itu, ia menghampiri Amara yang sedang membagikan brosur ke pengunjung pameran.

"Ra, kenapa muka kamu begitu? Kesel sama mereka?" tanya Diva. Amara tersenyum kecut.

"Lagu lama. Basi, Mbak. Pura-pura tanya properti, ujung-ujungnya ngajak jalan. Resek banget kalau ada calon pembeli yang prospek ujung-ujungnya malah..., hah..." Kedua bahu Amara merosot. Ia menatap ke Diva lagi.

"Mendingan aku jaga kandang dari pada ikut ke pameran, Mbak. Bikin emosi doang." Ketusnya. Diva cekikikan, ia menepuk-nepuk bahu Amara.

"Berarti udah tanda-tanda, Ra, waktunya kamu cari pasangan, Bari udah besar juga, kan?"

"Bari nggak butuh sosok Ayah. Cukup Bundanya," timpal Amara dengan sedikit emosi.

"Jangan egois. Itu aja pesanku." Diva mengusap bahu Amara sebelum berjalan kembali ke stand mereka. Amara diam, ia menghelana napas lalu kembali berjalan memutari area pameran sembari memberika brosur.

Bersambung,

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.