WETON (Santet Tiga Generasi)

Bab 2

Tanpa berpikir panjang, kusebutkan tanggal lahir lengkap dengan tahunnya.

Bi Zaenab manggut-manggut seraya jemarinya sibuk mengusap layar ponsel ke slide kanan. Terus menerus hingga sampai di tahun kelahiranku. Sepasang matanya begitu awas mencermati nama bulan, berikutnya hari lahirku.

“Wah Yuk, bejo kowe, Yuk!!” (Wah Yuk, selamat ya!!) Bi Zaenab sedikit menjerit. “Sliramu pancen kelahiran Setu Kliwon.” (Kamu memang kelahiran Sabtu Kliwon)

Wanita paruh baya ini memamerkan apa yang tertera di ponselnya.

Sekilas kubaca pada catatan kaki di fitur weton, di situ tertulis bahwa orang-orang dengan weton Sabtu Kliwon memiliki watak yang kuat. Saat belum menemukan apa yang tepat dalam hidupnya, pemilik weton ini kerap bertingkah mengacau dan merusak. Namun akan sukses besar kala berada di posisi yang tepat.

“Saiki sliramu mulih disik, Yuk. Matur biyungmu lan tata-tata sandanganmu. Awan iki ugo awak dewe mangkat menyang Jakarta, ketemu calon majikannu.” (Sebaiknya kamu pulang dulu, Yuk. Beri tahu Ibumu dan siapkan juga pakaianmu. Siang ini juga kita langsung ke Jakarta bertemu calon majikan kamu)

Bi Zaenab tersenyum hangat padaku.

Tak menyiakan waktu. Aku lantas pulang, membawa kabar gembira pada Ibu yang sedang menyiang rumput di tengah sawah.

“Sak ngertine Ibu, kadhang-kadhang weton tertamtu dianggep nekak-ake rejeki. Menawa wong sugih menika golek asisten kelahiran Setu Kliwon supoyo rejeki mili deres nang omahe." (Setahu Ibu, terkadang weton tertentu dianggap mendatangkan rejeki. Mungkin orang kaya itu mencari asisten kelahiran Sabtu Kliwon agar rejeki mengalir deras ke rumahnya)

Ibu menjelaskan tanpa berhenti mencabut rumput liar di antara rimbunan padi yang tumbuh subur. Aku pun manggut-manggut tanda mengerti.

Selanjutnya, aku dan Ibu kembali ke rumah. Mempersiapkan tetek bengek keperluan sebelum Bi Zaenab menjemput.

Sekitar jam 1 siang, Bu Zaenab datang dengan mobil Ertiga miliknya. Ia duduk tepat di belakang supir.

“Ayi, Yuk. Mengko telat loh,’’ (Hayuk, Yuk. Nanti telat loh) ajak Bu Zaenab tanpa turun dari mobilnya.

Supirnya bergegas membukakan pintu untukku dan aku duduk di samping Bi Zaenab.

Ada sedih yang menjalar saat terakhir kali melihat wajah Ibu. Wanitaku itu masih berdiri di ambang pintu sampai mobil melaju pergi.

***

Sudah larut malam saat kami tiba di rumah calon majikanku. Rumahnya sangat besar, terdiri dari empat lantai dan berada di suatu kompleks perumahan mewah.

Satu yang membuat perasaanku tak enak, walau rumahnya dicat serba putih dan terkesan glamour. Namun aku merasakan adanya hawa mistis yang kuat.

Rumah ini dijagai makhluk astral di tiap sisinya. Aku tahu, tapi tak mampu melihat seperti apa wujud mereka.

Bi Zaenab mengetuk pintu sementara aku berdiri kelu di balik punggungnya. Dalam hati bergelitik, pantas saja gaji asistennya besar. Bekerja di rumah semegah ini tentu akan sangat melelahkan. Nyaliku serasa ciut seketika.

Beberapa saat berselang, pintu dibukakan. Nampak sepasang suami istri berdiri menjulang di tengah pintu.

Tanpa sepeser kata. Sebaliknya hanya lewat kode-kode mimik yang mereka tunjukkan pada Bi Zaenab, kami dipersilakan masuk dan dituntun ke sebuah ruangan.

Ruangan yang berada di lantai tiga rumah ini.

Lampu di ruang itu didesain remang. Semua perabot berwarna hitam polos, termasuk gorden yang menutupi seantero jendela berkaca lebar. Suasana terkesan seperti berada dalam film Harry Potter.

Selanjutnya kami dipersilakan duduk. Duduk mengitari meja bundar, berbahan marmer hitam.

“Dalem astakake malih tiyang enggal, Ndoro Kakung, Ndoro Ibu. Asmanipun Yayuk. Mugi-mugi dinten menika kasil (Saya bawakan lagi orang baru, Pak, Bu. Namanya Yayuk. Semoga kali ini berhasil),” ucap Bi Zaenab pada pasutri di hadapan kami.

Pria itu beralih menatapku lekat. Kumisnya bergerak-gerak, bibirnya seakan mengucap sesuatu pada sosok tak kasat mata di dekatnya.

“Sliramu lahir dina Setu Kliwon atawa Rebo Pahing?” (Kamu lahir di Sabtu Kliwon atau Rabu Pahing?) tanyanya dengan suara yang ternyata sangat lembut. Beda dengan wajahnya yang garang.

“Setu Kliwon, Ndoro.” (Sabtu Kliwon, Pak) Dengan sopan aku menjawab.

Pria itu memandang istrinya dan si istri terlihat senang.

“Wah iki, cocok. Opo sliramu karep nyambut gawe maring keluargaku?” (Bagus. Apa kamu mau kerja sama keluarga saya?)

“Inggih, Ndoro Kakung. Pramila saking menika dalem dugi.” (Ya, Pak. Oleh karena itulah saya datang)

"Nanging sliramu kudu ngerti. Nyambut gawe ning aku, kuwi dudu gawean lumrah, mula aku menehi upah 20 yuta per wulan." (Tapi kamu harus tau. Kerja sama keluarga saya bukanlah pekerjaan biasa, makanya saya memberi gaji 20 juta per bulannya)

Sampai di sini firasatku sudah tak bagus lagi. Pertama, ia hanya merekrut perempuan kelahiran Sabtu Kliwon dan Rabu Pahing. Lalu sekarang secara blak-blakan mengatakan bukan pekerjaan biasa.

Aku meremas jemariku yang bergetar dan berkeringat halus. Di antara rasa penasaran dan takut, aku bertanya pelan, “Punapa pendamelanipun, Ndoro Kakung?” (Apa pekerjaannya, Pak?)

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.