WETON (Santet Tiga Generasi)

Bab 3

“Yayuk, gaweane dudu neng omah iki (Yayuk, ketahuilah pekerjaannya bukan di rumah ini)," jawab istrinya mengambil alih pembicaraan. Sementara sang suami mengangguk membenarkan.

“Sliramu bakal diajak maring vila pribadi kita sing ning puncak. Ningkono gaweanmu mung rewangi Nyi Ratni. Dheweke kuwi wong pintar sing wis suwe mbentengi keluwargaku. Kayo ngendikane bojoku, niki dudu gawean lumrah. Ono pantangane!” (Kamu akan dibawa ke vila pribadi kami di puncak. Di sana tugasmu hanya membantu Nyi Ratni. Dia adalah orang pintar yang sudah lama melindungi keluarga saya. Seperti yang suami saya katakan, ini bukanlah pekerjaan biasa. Ada pantangannya!)

“Sanjang mawon, punapa pantanganipun, Ndoro Ibu, Supados kula siap.” (Omong aja apa pantangannya, Bu. Biar saya siap)

Tatapanku tertuju pada si wanita, lantas berganti memandang Bi Zaenab.

Di sampingku, Bi Zaenab mengangguk setuju.

"Sliramu di penging metu seko kerjaan sak durunge gaweanmu rampung. Mbok menowo setuju, upahmu kanggo rongulan tak paringke wanci iki ugo." (Kamu dilarang mengundurkan diri sebelum pekerjaan itu selesai. Kalau setuju, gaji kamu untuk dua bulan saya bayarkan saat ini juga)

Wanita ini berucap tenang. Seakan sudah tahu bahwa tawarannya akan aku terima mentah-mentah.

Mengingat akan hutang yang harus segera dilunaskan, aku pun menyanggupi persyaratan itu.

Selanjutnya, pasangan suami istri ini memperkenalkan diri. Namanya Pak Waluyo (bukan nama sebenarnya) dan si istri bernama Bu Agni (juga bukan nama sebenarnya).

Mereka memberiku uang sejumlah 40 juta dan berjanji akan membayar tuntas jika aku mampu bertahan hidup sampai selesainya pekerjaan yang dimaksud.

Hatiku mencelos menerima uang sebanyak itu. Bebanku terasa ringan seketika.

Segera kutitipkan uang melalui Bi Zaenab, agar diserahkan pada Ibu di dusun. Jika dikali bagikan dengan bunga hutang, masih tersisa empat jutaan sebagai uang belanja untuk Ibu.

***

Sepuluh menit setelahnya, Bi Zaenab berpamitan pulang. Tinggalah aku sendiri dalam ruang ini. Pak Waluyo dan Bu Agni menghilang entah ke mana.

Lama menunggu, tanpa sadar aku setengah tertidur pada sandaran kursi.

Baru saja terbangun saat suami istri itu kembali. Bunyi berdecit dari kaki kursi yang beradu dengan lantai, mungkin sengaja mereka lakukan agar aku tahu diri.

"Eh, klambine kok ireng-ireng to?" (Eh, pakaiannya kok serba hitam to?) Aku yang masih mengantuk, spontan bertanya demikian.

Di depanku, suami istri ini ternyata baru selesai dari berganti pakaian. Pakaian serba hitam yang mereka kenakan, sedikit memantik rasa curigaku.

"Yuk, awak dewe mangkat saiki. Selak kesuwen dienteni Nyi Ratni," (Yuk, kita berangkat sekarang. Nanti kelamaan ditunggu Nyi Ratni) ucap Bu Agni mengalihkan pembicaraan. Sementara suaminya melangkah duluan dengan kunci mobil dimainkan di tangannya.

Aku dan Bu Agni bersisian menuruni tangga hingga kami tiba di area lantai satu dan segera menuju halaman untuk akhirnya menaiki mobil.

***

Perjalanan sangat melelahkan. Bayangkan aku datang dari dusun ke Jakarta dan sekarang langsung diantar lagi ke tempat yang belum kuketahui seberapa jauhnya.

Nahasnya lagi, masih tengah malam saat mobil bergerak meninggalkan kediaman Waluyo.

Aku yang hendak menatap penampakan terakhir rumah megah itu, dibuat kaget oleh sesuatu yang tiba-tiba hinggap di kaca mobil. Tepat di sampingku.

Ia melekat seperti tokek. Aku pikir mungkin sejenis binatang malam. Namun ternyata wujudnya sangatlah mengerikan.

Mirip malaikat iblis. Wajahnya hancur, kepala gundul dipenuhi urat dan sepasang sayap tumbuh di balik punggungnya.

Aku hampir bertanya pada Bu Agni, tapi urung karena makhluk itu segera terbang menghilang.

Beberapa saat kemudian, mobil telah meninggalkan kota Jakarta. Tak ada lagi bangunan tinggi dan benderang lampu-lampu. Kami memasuki kawasan yang gelap dengan rimbun pepohonan mengisi sisi kanan dan kiri jalanan.

“Lho, estu kados mekaten radosanipun, Pak?” (Lho, emang seperti ini jalannya, Pak?) Aku tak tahan untuk tidak bertanya.

Perasaanku makin tak nyaman karena Pak Waluyo maupun Bu Agni tak menjawab. Hanya dua pasang mata mereka yang sesekali menengok ke luar. Seolah daerah ini sangatlah berbahaya.

Batinku menjadi lebih tenang saat mobil telah melewati kawasan hutan yang gelap. Berganti mengarungi tanjakan perbukitan atau semacam dataran tinggi.

“Bu, niki teng pundi? Napa nami telatahipun?” (Bu, ini ke mana? Apa nama tempatnya?) Aku terpaksa bertanya lagi.

Ada sedikit kemajuan. Yang sedari tadi tak menjawab, kini Bu Agni tersenyum kecut sembari menggeleng.

Aku berusaha menenangkan diri dan beranggapan semuanya akan baik-baik saja.

Setelah melewati jalanan yang bergelombang naik turun, tibalah kami di vila yang dituju. Cahaya mobil menyoroti situasi vila itu.

Kumuh. Jauh dari kesan mewah. Walau ukurannya lumayan besar, tapi hampir seluruh dindingnya mengelupas. Menyisakan pemandangan batu bata merah yang seharusnya tertutup campuran semen.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.