Keesokan harinya, Rafael duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh rak-rak buku dan layar monitor yang menyala. Angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela besar hanya memberi sedikit kesegaran di tengah ketegangan yang meliputi dirinya. Di meja, tersusun dokumen-dokumen yang berhubungan dengan bisnis, namun matanya tidak fokus pada apa yang tertera. Pikiran Rafael terperangkap pada satu hal-wasiat sang kakek.
Caspian masuk tanpa mengetuk, seperti biasa. Ia duduk di kursi sebelah Rafael, menyeret kursinya dengan suara kasar. "Kau tahu, aku rasa kau terlalu serius menghadapi masalah ini." Caspian melirik layar di meja Rafael, menyandarkan kaki di meja dengan santai. "Kau harus nikah. Dan kami akan menemukannya untukmu."
Rafael mendengus, melemparkan pena ke atas meja dengan kasar. "Aku tidak butuh pernikahan. Kau tahu betul itu."
Lucian muncul di pintu, wajahnya memancarkan rasa ingin tahu. "Bagaimana hasilnya?" ia bertanya, sementara matanya tertuju pada adiknya, menunggu respons.
"Aku sudah bicara," jawab Caspian, "Dia tetap kekeh tidak ingin menikah."
Lucian menyeringai, mendekati meja dan duduk di kursi yang berseberangan dengan Caspian. "Tak masalah. Kami akan membuatmu menikah, kak. Kau tidak punya pilihan lain."
Rafael menggertakkan gigi, marah. "Dan jika aku menolaknya? Apa yang akan terjadi pada kalian berdua? Kalian juga akan kehilangan semuanya."
Lucian melambaikan tangan dengan santai. "Kami tidak takut kehilangan. Lagipula, kau tahu kami hanya mengikuti rencana keluarga ini. Satu-satunya yang bisa menyelamatkanmu adalah pernikahan itu."
Caspian menyeringai, menghadap Rafael dengan ekspresi serius. "Kami sudah memilihkan seseorang untukmu. Dan dia sangat... berbeda."
Rafael memutar kursinya, memandang kedua adiknya dengan kecurigaan. "Siapa?"
"Elara Vienne," jawab Caspian.
Nama itu terdengar asing di telinga Rafael. Elara siapa? Namun, satu hal yang ia ketahui dengan pasti-pernikahan bukanlah sesuatu yang ia inginkan.
-
Sementara itu, di sebuah kafe kecil yang terletak tak jauh dari pusat kota, Elara sedang berbicara dengan sahabatnya, Adira, tentang rencana yang baru saja didengar dari Caspian dan Lucian.
"Apa maksudnya, kamu harus menikah dengan seseorang yang bahkan tidak kamu kenal?" tanya Adira, masih tidak percaya dengan permintaan dari dua pria itu.
Elara tertawa kecil, menanggapi dengan santai. "Kehidupan memang penuh kejutan, kan? Aku memang tidak tahu banyak tentang pria itu, tapi mereka bilang aku bisa mengubah hidupnya."
"Rafael Valdevar, kan? Pemilik Valdevar Group yang terkenal itu?"
"Ya," jawab Elara, mengangkat gelas kopi, "Dan dia sangat tidak tertarik pada pernikahan. Tapi aku rasa aku bisa membuatnya berubah pikiran."
Adira memandangnya dengan kekhawatiran. "Tapi, kamu serius? Ini bukan hal main-main. Kau tahu keluarga itu punya banyak rahasia."
"Yah, semuanya sudah terjadi. Tak ada lagi jalan mundur." Elara menatap keluar jendela, memikirkan langkah besar yang akan diambilnya. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku rasa ini akan menjadi petualangan yang menarik."
-
Beberapa hari kemudian, pertemuan pertama antara Rafael dan Elara berlangsung. Rafael menunggu di ruang tamu keluarga Valdevar, suaranya tajam dan penuh ketegangan. Ia tidak tahu apa yang diharapkan dari pertemuan ini, tetapi satu hal yang jelas-ia tidak ingin menikah.
Elara datang dengan langkah ringan, mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua yang menonjolkan kecantikannya yang alami. Rambut panjangnya tergerai bebas, menciptakan kesan yang tidak berlebihan, namun memikat.
Dia tersenyum begitu memasuki ruangan, dan Rafael, yang sudah duduk dengan sikap acuh tak acuh, menatapnya dengan tatapan dingin. "Jadi, kamu orang yang dimaksud?"
Elara mengangguk, tanpa terintimidasi oleh sikap Rafael. "Tepat. Nama saya Elara Vienne. Saya rasa kita harus mulai dari sini-apa yang membuatmu tidak tertarik pada pernikahan?"
Rafael mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Itu bukan urusanmu."
"Tapi itu urusan kita sekarang, bukan?" Elara menatapnya dengan percaya diri, tidak gentar oleh ketidakpedulian Rafael. "Kita harus bekerja sama untuk menjalani ini. Jadi, bisakah kita mulai dengan jujur?"
Rafael tidak mengatakan apa-apa, hanya terdiam, merasakan ketegangan yang menyelimuti udara antara mereka. Tetapi di dalam hatinya, ada perasaan yang mulai muncul-sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, sebuah keraguan akan keputusan yang ia buat.
Elara menatapnya dengan penuh teka-teki, seperti mengetahui sesuatu yang belum bisa dimengerti oleh Rafael.
"Jangan khawatir," katanya sambil tersenyum, "Aku tahu bagaimana membuatmu berubah pikiran."
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Rafael merasakan sebuah rasa penasaran yang tak bisa ia hindari.





