Setelah pertemuan pertama yang canggung itu, Rafael tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang Elara. Meskipun ia bersikeras bahwa pernikahan itu hanyalah formalitas dan bukan bagian dari keinginannya, ada sesuatu dalam diri Elara yang membuatnya terpengaruh. Tidak, bukan karena pesonanya atau penampilannya yang memikat-tetapi karena cara dia berani menghadapinya tanpa rasa takut.
Hari itu, Rafael memutuskan untuk mengajak Elara makan siang di sebuah restoran mewah. Ia tahu ini bukan pertemuan yang biasa, namun entah kenapa ia merasa perlu menjaga jarak emosionalnya.
Di sebuah meja makan di sudut yang tenang, Elara duduk dengan santai, mengenakan gaun krem yang sederhana, dan matanya memancarkan antusiasme yang tampak kontras dengan sikap dingin Rafael. Seperti biasa, ia tidak bisa menunjukkan perasaan apa pun, namun ia bisa merasakan bahwa Elara berusaha menembus lapisan dinding yang ia bangun di sekeliling hatinya.
"Mengapa kamu begitu yakin bisa membuatku menikah?" tanya Rafael dengan nada sinis. Ia mengaduk minumannya, mencoba untuk menahan rasa frustrasi yang tiba-tiba muncul.
Elara tersenyum dengan penuh percaya diri. "Karena, meskipun kamu tidak menginginkannya, kamu tetap harus memenuhi wasiat itu. Jadi kenapa tidak menjadikan pernikahan ini sesuatu yang lebih... menyenangkan?"
Rafael menyeringai, mengangkat alis. "Menyenangkan? Sepertinya kamu punya cara berpikir yang sangat berbeda dari kebanyakan orang."
"Setiap orang punya cara mereka sendiri untuk melihat dunia, bukan?" Elara membalas dengan senyum lebar. "Aku percaya kita bisa menemukan kesepakatan, Rafael. Lagipula, aku tidak akan menikah denganmu jika aku tidak merasa nyaman."
Rafael mengamati Elara dengan seksama, merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang ia ucapkan. Mungkin Elara bukan sekadar wanita yang dipilih untuk menenangkan hati dinginnya, tetapi seseorang yang bisa membuatnya mempertanyakan banyak hal.
Sementara itu, di sisi lain kota, Caspian dan Lucian sedang merencanakan langkah selanjutnya. Mereka merasa bahwa pernikahan antara Rafael dan Elara tidak bisa hanya menjadi soal formalitas. Mereka harus memastikan pernikahan itu menjadi nyata, dengan segala macam cara.
"Rafael tidak akan mudah luluh," kata Caspian, memijat pelipisnya. "Aku tahu dia. Dia lebih keras kepala daripada yang kita duga."
Lucian mengangguk, senyuman tipis terlukis di wajahnya. "Tapi itulah yang membuat semuanya menarik, bukan? Kita lihat saja seberapa jauh Elara bisa bertahan."
"Kita tidak bisa membiarkan ini gagal," Caspian berkata dengan serius. "Jika pernikahan ini gagal, kita semua akan kehilangan segalanya."
"Tenang saja," jawab Lucian dengan ketenangan yang khas. "Semua ini akan berjalan sesuai rencana. Kita hanya perlu sedikit dorongan."
-
Beberapa minggu berlalu, dan pertemuan demi pertemuan antara Rafael dan Elara berlangsung dengan cukup lancar. Meskipun Rafael tidak mengakui perasaan apa pun terhadap Elara, ada suatu ketegangan yang tak bisa diabaikan di antara mereka. Mereka berbicara tentang banyak hal-tentang bisnis, tentang kehidupan, tentang mimpi-mimpi mereka-tetapi selalu ada ruang kosong di antara kata-kata mereka, seolah ada hal yang belum terucap.
Pada suatu malam, Elara memutuskan untuk mengunjungi Rafael di kantor. Ia tahu pria itu akan sibuk, tetapi ia merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk mendorong pernikahan ini lebih jauh. Saat ia masuk ke ruang kerjanya, Rafael tampak tidak terkejut. Hanya sekilas menoleh sebelum kembali sibuk dengan dokumennya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rafael, suaranya datar.
Elara menyandarkan dirinya pada pintu, senyumnya kembali merekah. "Aku pikir kita perlu berbicara lebih banyak tentang pernikahan kita."
Rafael mengangkat alis, masih tidak mengerti. "Kamu tidak lelah berbicara tentang itu?"
"Tidak," jawab Elara dengan tegas, mendekat dan duduk di kursi yang ada di depan meja Rafael. "Ini bukan hanya tentang wasiat kakekmu, Rafael. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu pikirkan."
Rafael menatap Elara dengan tatapan tajam, berusaha mencari tahu maksudnya. "Kamu tahu apa yang aku pikirkan. Aku tidak mau terjebak dalam permainan ini."
"Tapi kita sudah terjebak, kan?" Elara membalas, tanpa rasa takut. "Aku tahu kamu tidak ingin menikah. Tapi aku juga tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari itu."
Rafael terdiam. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dirinya bisa mengendalikan semua hal, namun Elara sepertinya mampu menembus pertahanan yang ia bangun.
"Jangan berpikir bahwa aku akan mudah luluh, Elara," kata Rafael akhirnya, dengan nada yang lebih rendah. "Aku bukan pria yang mudah jatuh cinta."
"Siapa yang bilang kita harus jatuh cinta?" Elara menjawab dengan tenang. "Kadang, kita hanya perlu belajar untuk membuka hati."
Rafael merasa kalimat itu menggetarkan jiwanya. Sesuatu di dalam dirinya bergolak, dan ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menahan diri.
"Jadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan dari aku, Elara?" tanya Rafael, suara terkejut meluncur keluar tanpa sengaja.
"Kejujuran," jawab Elara dengan sederhana. "Dan kesediaan untuk memberi kesempatan pada perasaan yang mungkin belum kamu sadari."
Rafael hanya bisa diam, terdiam oleh kata-kata Elara yang penuh makna. Mungkin, hanya mungkin, ada lebih banyak yang bisa ia pelajari dari pernikahan ini daripada yang ia kira.





