WANITA TERNODA

Dharma menggenggam erat tangan Nala meninggalkan perkebunan. Wajahnya tidak tertebak, hatinya merasa hancur berkeping ketika mendengar wanita yang teramat dia sayangi tidak lagi suci. Ketika kesucian yang tidak dapat dipertahankan dan kepercayaan Dharma saat itu juga menghilang perlahan.

Tangisan Nala tidak terbendung, langkahnya gontai dan hatinya bergemuruh merasakan sesak dan tidak dapat dibayangkan betapa malu kedua orangtuanya nanti setelah mengetahui anak gadis mereka agungkan telah ternodai.

Mata yang perih akibat terlalu banyak air mata keluar seolah tidak berguna dibandingkan hatinya yang saat ini lebih perih lagi.

"Mas Dharma, maafkan aku, maaf kalau aku mengecewakanmu. Aku minta maaf," ucap Nala sepanjang mereka berjalan cukup cepat.

Di dalam hati, Nala bertanya apakah Dharma mau memaafkannya dan menerimanya walau sudah tidak lagi suci?

Mereka pun sampai.

Rumah Nala yang berdindingkan tepas, semakin melukai hati karena ia tidak pernah mampu menjaga kehormatan. Wanita yang telah terenggut kehormatannya itu melemas dan rasanya tidak memiliki arti hidup.

Napas Dharma yang terlihat berat, guratan halus ditangannya beradu dengan sentuhan tangan Nala. Ia melepaskan genggaman erat setelah memasuki rumah. Sontak, Marini dan Retno saling bertukar pandang hingga pada akhirnya menatap Nala dan Dharma kembali.

"Nala dan Nak Dharma?"

Nala kembali menahan lirihan tangisnya, ia menyentuh pergelangan tangannya yang sakit. Dihadapan kedua orangtua ia merasa seorang anak yang tidak perna diajarkan dan gadis nakal.

"Aku pikir, pernikahan kami nggak dapat diteruskan Ibu dan Bapak," ucap Dharma tanpa basa basi.

Nala memejamkan matanya, ia merasakan hatinya kembali perih.

"Ada apa ini?" Retno langsung berdiri.

Dharma menatap Nala sekilas, "Putrimu, nggak bisa mengendalikan dirinya dan dia memberikan kehormatan yang paling berharga dari seorang wanita."

Marini melemas, ia menggeleng dan ikut berdiri, "Maksudnya apa ndok?" tanyanya menatap Nala.

"Ibu, Bapak, maafkan Nala ... maaf," ucapnya lirih.

"Jelaskan kenapa!" Retno mulai membuncah.

Nala merasa marah jika mengulang kejadian itu. Ia hancur, tapi bukankah ia harus mengatakan yang terjadi sebenarnya? Ia takut menatap kedua orangtua telah menyekolahkan hingga ia tamat, gelengan kepala yang terusan ia lakukan seolah tidak berguna.

"Nala ...," ucapannya terhenti.

Marini menatap putrinya dengan tatapan sayup dan mulai merasa jika ini sedang tidak baik-baik saja. Kegelisahan akhir-akhir ini memberikan jawaban pada akhirnya. Walau, hati kecilnya masih berusaha kalau semua ini akan baik saja.

"Nala diperkosa," ucapnya sambil menangis.

Mulut Marini terbuka lebar, Retno yang semula membuncah ikut tersontak kaget. Spontan, Nala berlari ke arah ayahnya dan memeluk kaki sang ayah sambil menangis.

"Maafkan Nala, Aya, maaf."

Isakan tangis pecah dari Nala begitu menyayat hati kecilnya.

Dharma sebenarnya merasa kasihan, tapi ... ia tidak bisa menerima kalau calon istrinya sudah tidak lagi perawan. Ketika keperawanan adalah suatu hal penting untuk seorang pria yang selalu menjaga dan tidak merusak sebelum waktunya.

"Maafkkan Nala, Ibu ... Bapak," Nala memecahkan tangisannya.

"Aku akan menuntut kalian!" Bentak Dharma marah.

Nala menatap Dharma, pria yang ia anggap jodoh terbaiknya malah berkata seperti itu. Tidak menyangka, musibah yang dialaminya justru semakin membuat Dharma marah dn tidak mau memaafkan.

"Kalian harus membayar sakit hatiku. Nala, aku tidak menyangka kalau kau adalah wanita murahan yang sama seperti teman-temanmu itu. Aku memercayakan semua, memberikan cinta, mencurahkan hidupku dan kau tega melakukan hal ini denganku." Dharma marah dan nadanya meninggi.

"Nala minta maaf, Mas," isak Nala.

"Aku nggak bisa meneruskan pernikahan ini, aku akan menuntutmu."

Retno mengepalkan tangannya, menatap Dharma dengan kedua netra mulai membasah. "Bisakah, kau pergi? Kami akan membayar segala kerugian yang telah dilakukan putriku."

Marini menangis, ia memeluk putrinya yang masih terduduk di hapan Retno. Adik perempuan Nala, ikut menangis ketika mendengar kakak keduanya telah ternodai.

Setitik air mata membasahi ujung ekor mata Dharma, ia terluka dan ia usap dengan kasar. Tidak banyak kata ia ungkapkan, ia pun pergi meninggalkan rumah Nala selamanya. Ia sudah menekankan hati kecil, tidak bisa menerima Nala.

"Kenapa bisa terjadi, Nala?" Retno sangat marah.

"Ayah, maafkan aku."

"Siapa yang melakukannya?"

"Aku tidak mengenal mereka," jawab Nala.

"Kenapa bisa mereka memerkosamu?"

"Aku yang salah, Ayah, aku pergi ke bukit."

"Harusnya, kau di rumah. Kau seorang putri petani dan martabat keluarga kita yang rendah semakin lebih rendah karena perbuatanmu ini. Kau tahu? Kau sudah mempermalukan keluargamu, wanita yang sudah ternodai sama halnya dengan wanita malam yang menjajakan dirinya!"

Seperti tersambar petir, bukan mendapat perlindungan ia malah merasakan kesakitannya berkali lipat sakit dan terasa nyeri di dada.

"Bagaimana mungkin, kau tidak mengenali pria yang memerkosamu?"

Nala masih menangis sesunggukkan, "Mereka berjumlah lima orang, Ayah," jawabnya serak.

"Masyaallah," Marini syok dan menangis hancur.

Plak!

Retno menampar Nala karena ikut merasakan hancur, ketika seorang ayah mendengar putrinya ternodai dan ia tidak mampu menyelamatkan ketika sang putri membutuhkannya disitulah ia semakin hancur berkeping.

Nala menyentuh pipinya, ia pun rasanya ingin mati saja. Apalagi arti hidup jika salah satu harta berharganya telah direnggut oleh pria yang bukan suaminya?

"Kau sudah membuat aib dalam keluarga kita, jika kau mencintai keluargamu maka pergilah dari rumah ini."

Bagai tersambar petir, Nala tidak salah dengarkan? Ayah yang teramat ia cintai mengatakan perkataan menyakitkan itu.

"A-ayah?"

"Jangan sebut aku Ayah, kalau kau sudah membuatku malu."

"Ayah!" Marini ikut kaget.

"Pergi, angkat kakimu dari rumah ini! Kau nggak pantas tinggal di rumah ini!" Retno marah.

"Nggak Ayah, aku nggak mau pergi."

"Pergi! Atau kau memilih dipasung?"

Keadaan semakin berat. Nala menggeleng, ia peluk kembali kaki sang ayah dan memohon ampun. Dengan kasar, Retno melepaskan jemari putrinya dan ia meninggalkan Nala yang terluka.

"Ayah!"

Marini memeluk Nala, mereka memuaskan dalam tangisan pecah.

***

Seusai pernyataan itu, Nala duduk di tepi ranjangnya dan masih mengeluarkan air mata. Bibirnya terasa keluh, tenggorokan mengering, napasnya berat.

"Nala," Marini memanggil lembut.

"Ibu?" Nala mengusap air matanya.

"Ibu tahu ... ini berat, tapi demi keluarga kita. Pergilah. Pergi ke mana pun kamu mau, sejauh mungkin."

Nala amenatap ibunya, "Ibu, nggak sedang serius kan?"

"Iya, Ibu serius, Nak, pergilah. Ibu yakin, suatu saat Allah akan menunjukkan jalan terbaik buatmu dan keluarga kita."

"Nggak Bu, Nala harus ke mana?"

"Pergilah ke kota, carilah kehidupan barumu di sana."

Tidak ada seorang pun yang mampu menyembuhkan hatinya, keluarga yang ia anggap tempat perlindungan paling berharga juga tidak memberikannya ruang kenyamanan.

"Pergilah, sebelum matahari kembali terbit dan biarkan Ibu yang menjawab pembatalan pernikahanmu."

Mereka kembali saling menangis, adik perempuan Nala ikut menangis dan tidak merelakan kakak yang ia sayangi pergi untuk selamanya meninggalkan rumah. Ini seperti mimpi.

Dengan segala pemutusan berat, Nala membawa tas yang cukup besar berisi pakaiannya. Marini dan adik perempuannya, masih menangis pilu. Nala berdiri di pintu kamar Retno yang masih betah di kamar.

"Ayah, maafkan putrimu ini. Aku tahu ... perbuatanmu membuat malu keluarga, aku akan pergi dan aku masih tetap berharap ada kata maaf dari Ayah untukku. Kalau saja, aku memiliki kemampuan untuk menolak aku sudah melakukannya. Aku mencintaimu, Ayah. Aku sudah pernah bilang Ayah adalah cinta pertamaku dn selamanya akan menjadi cinta pertamaku, walau Ayah tidak bisa menerimaku lagi dalam hidup Ayah."

Di dalam kamar, Retno menitikkan air mata. Kali pertama, ia menangis mendengar kata-kata putrinya yang teramat ia cintai. Ia ingin melarang, tapi inilah akibat yang harus mereka terima. Merelakan Nala pergi menjauh.

"Aku akan kembali, ketika Allah memberikan aku jalan terbaik. Aku akan tetap mencintaimu, Ayah. Aku pergi," Nala tersenyum perih dan mempercepat langkahnya meninggalkan rumah.

Retno menangis, menahan diri untuk tidak keluar. Marini, juga adiknya menangis melihat kepergian Nala.

"Kakak, tolong menjadi Kakakku yang kuat. Minta petunjuk Allah," ucap adiknya lirih.

Di malam yang sunyi, mencekam, Nala meninggalkan rumah untuk selamanya. Ia tidak tahu arah dan tujuan hidupnya. Ia hanya berharap, Allah akan tetap membantunya di mana pun ia berada.

Tapi, pria mana yang bisa menerima ketika ia tidak lagi wanita yang perawan?

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.