Wanita Simpanan Nakhoda

"Kalau udah nikah nanti, kamu jangan ngelupain aku ya, Ning!"

Kemuning mengangkat wajahnya, saat ini ia tengah dihias oleh Nanci yang kebetulan menguasai bidang itu, dengan sendu ditatapnya wajah Nanci, lalu tidak lama ia tersenyum.

"Gak bakal, Nan, kamu kan sahabat aku," jawabnya.

Hampir 18 tahun hidup berdampingan dengan Nanci, bagi Kemuning wanita itu segalanya, mereka sudah berteman sejak kecil dan menjalin ikatan yang hebat.

"Kalau kamu pindah ke kota, kita gak ketemu lagi." Nanci mengeluh untuk kesekian kali, rasanya berat melepaskan Kemuning menikah, tetapi ia juga tidak bisa mengubah apapun.

"Tenang aja, kita bakal sering ketemu kok," hibur Kemuning diiringi tawa, meskipun sebenarnya ia juga sedih meninggalkan Nanci.

Tetapi yang namanya seorang istri, ke mana pun sang suami pergi ia akan tetap harus ikut.

"Ya, sudah, gak apa-apa. Yang penting kamu senang." Membubuhkan bedak di wajah Kemuning, dengan ahli Nanci mengubahnya menjadi sangat cantik.

Kemuning yang sudah cantik jadi semakin menawan di saat menggunakan make up, Nanci berharap teman kecilnya ini akan hidup bahagia, dan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik setelah dinikahi Amer.

"Calon suami kamu pasti akan pangling," goda Nanci.

Mengerlingkan matanya Kemuning jadi salah tingkah, sejak satu jam terakhir mereka memang belum ada bertemu, padahal Amer dan keluarganya sudah tiba di rumah. Kata Nanci pria itu menggunakan kemeja putih dan terlihat sangat tampan.

"Kamu tunggu di sini dulu ya," kata Nanci.

"Aduh, jadi makin deg-degan nih!"

Kemuning sangat gugup, jantungnya berdebar keras menantikan detik-detik pertemuan mereka lagi, ada banyak sekali cerita yang ingin ia sampaikan kepada Amer, harapannya setelah menikah mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan bercerita.

"Udah boleh, Ning, ayok ke luar!" Nanci heboh sendiri memanggil Kemuning, wanita itu pun menggiringnya ke luar untuk bertemu Amer.

Kedua perempuan itu melangkah beriringan, Nanci mengiringinya dengan sebaik mungkin, senyuman Kemuning sontak melebar saat melihat Amer yang saat ini tengah tersenyum.

Keduanya tampak sangat serasi dengan balutan pakaian bewarna putih gading.

"Mas Amer," lirih Kemuning.

"Kemuning," sahutnya begitu khas.

Tanpa membuang waktu lagi Amer dan Kemuning pun langsung berpelukan, kedua anak manusia itu tampak saling melepas rindu, bahkan tidak mempedulikan semua orang yang saat ini menatap ke arah mereka.

"Aku minta maaf agak terlambat datang," kata Amer.

Gadis cantik itu mengangguk, bahkan Kemuning tidak sedikitpun mengecilkan senyumannya. "Gak apa-apa, Mas, yang penting sekarang kamu udah di sini."

Menatap ke arah ibu dan bapaknya Kemuning seakan terharu, ia tidak pernah menyangka akhirnya mendapatkan restu dari orangtua, begitu juga dengan Amer yang berhasil mengajak keluarganya untuk datang ke sini.

"Kemuning, ini adik dari ibu kandungku, dan bapak itu teman dekatnya mendiang ayahku," jelas Amer seraya mengajak Kemuning mendekati keluarganya, yang diangguki oleh ibu dan bapak.

Membungkukkan setengah badannya Kemuning pun mencium punggung tangan kedua orangtua itu, tidak lupa ia juga memberikan senyuman terbaik, dan kesan pertama yang manis.

"Cantik ya," puji wanita yang biasa Amer panggil bibi.

Kemuning hanya tersipu malu, apalagi saat wanita itu menyentuh lembut punggungnya seakan mendukung pilihan sang keponakan, lalu mereka tersenyum lebar.

"Amer orangnya pekerja keras, dan bijaksana," lanjut pria yang berada di sampingnya wanita itu, Kemuning mengerjapkan mata, dan menoleh ke arah Amer yang tertunduk malu.

***

Angin pantai berembus kencang, Amer dan Kemuning berjalan menyusuri pesisir pantai dengan tangan yang bertaut, keduanya tampak menikmati momen-momen yang tidak terlupakan ini.

Menyelipkan anak rambut Kemuning di balik telinga Amer menatap gadis di depannya penuh arti, terlalu naif jika tidak pernah menginginkannya, bahkan pria itu selalu bermimpi dan membayangkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan.

"Besok kita akan menikah," kata Amer begitu dalam.

Kedua matanya menatap wajah Kemuning, sejak awal bertemu Amer memang tidak pernah berdusta jika ia sangat ingin memilikinya, menjadi seorang pria yang paling beruntung karena telah memperistri gadis secantik Kemuning.

"Uhm, ya, aku tahu," balas Kemuning.

Meraih kedua tangan Kemuning yang mungil, dengan penuh perasaan Amer menggenggamnya, lalu berkata lirih. "Aku gak pernah menyangka bisa jatuh cinta hingga sedalam ini, Ning."

"Begitupun denganku, Mas, aku juga gak nyangka bisa jatuh cinta padamu," sahutnya lagi begitu jujur.

Kemuning tersenyum saat Amer mencium punggung tangannya, hal yang selalu ia dapatkan setiap kali mereka bertemu, sepertinya momen seperti ini akan semakin sering ia rasakan.

"Aku berjanji akan selalu mencintaimu," ungkap Amer.

"Ya, aku pun juga begitu, Mas," jawab Kemuning.

Keduanya pun berpelukan lagi, Amer memeluk tubuh ramping Kemuning dengan sangat erat, memberikan jawaban atas prasangkanya selama ini, dan ia berjanji mulai dari sekarang akan lebih mengutamakan dirinya.

"Jangan pernah berhenti mencintaiku ya," bisiknya.

"Aku gak akan melakukan itu, Mas." Dengan tatapan sendunya Kemuning berusaha meyakinkan, ia terlalu besar mencintai Amer, dan berusaha menjaga hati. "Yang aku takutkan itu kamu, mungkin aja saat di kota atau berlayar nanti kamu mengkhianatiku."

"Gak akan pernah terjadi," tukas Amer langsung.

Mengerjapkan matanya Kemuning sangat tersentuh, sikap dan perkataan Amer selalu membuatnya lebih percaya diri, apalagi setelah hari ini, orang-orang yang tadinya melihat sebelah mata, kini tampak berbeda. Hubungan yang tidak pernah dilihat itu, sekarang telah memberikan bukti, dan kebahagiaan untuk bersama.

"Boleh peluk lagi?" tanya Amer menggoda Kemuning.

Tanpa berpikir panjang Kemuning pun mengangguk.

"Kalau cium boleh?" Kini tatapan Amer mengarah ke bibir Kemuning, dan menunggu jawaban.

Tangan Amer yang kasar menyentuh pipi Kemuning, membelainya penuh perasaan, dengan senyuman yang lebar pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis polos itu, lalu ia pun terkekeh dan melangkah mundur.

"Aku tidak akan melakukannya sebelum kita nikah," kata Amer diiringi tawa, ia sangat terhibur saat melihat Kemuning salah tingkah, bahkan sampai memerah.

Di tempatnya Amer hanya memperhatikan Kemuning yang berlari-larian sambil menyembunyikan perasaan gugupnya, gadis itu tampak lucu dan menggemaskan sekali di saat tengah tersipu.

Amer tidak menyesal telah jatuh hati pada Kemuning, bahkan ia merasa sangatlah beruntung dipertemukan dengan gadis secantik dirinya.

"Ombak pantai, dengarkanlah, sebentar lagi kita akan menikaaah!" Kemuning berteriak di bibir pantai, gadis itu melakukan hal yang konyol untuk menutupi gugup.

Sore ini sepertinya akan menjadi hari yang paling baik dan sempurna, Kemuning merasa sangat bahagia, ia berjanji tidak akan mengeluh lagi setelah ini, tentunya setelah dinikahi oleh Amer.

"Berhentilah bertingkah konyol, Kemuning!" tegurnya.

Kemuning menoleh, dengan begitu Amer langsung menyambar tubuh mungilnya, dan mengangkatnya tinggi untuk dibawa berlari-larian di sepanjang pantai.

"Mas Ameer!"

Bersambung ...

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.