Wanita Simpanan Nakhoda

"Kamu beneran udah yakin sama Mas Amer?"

Kemuning yang tengah mewarnai kukunya sontak menoleh ke arah Nanci, saat ini mereka berada di dalam kamar dan bersiap-siap untuk merayakan hari pernikahan yang paling dinantikan.

"Yakin banget, Nan, kenapa kamu nanya begitu?" Menaruh pewarna kuku yang sejak tadi dipegangnya, Kemuning menatap wajah muram Nanci keheranan.

"Gak apa-apa, aku kepikiran aja sama kamu."

Mengambil napas panjang, dengan lelah Kemuning mengembuskannya, padahal semalam mereka sudah membicarakan hal ini, tetapi sepertinya Nanci masih berat melepaskan.

Tidakkah ia percaya dengan janji yang Kemuning berikan?

Memutuskan menikah bukan berarti memutuskan hubungan dengan teman, Kemuning sangat yakin Amer tidak akan membatasi pergaulannya pada Nanci, karena pria itu pun juga tahu jika mereka dekat.

"Gak ada yang perlu dikhawatirkan, Nan, aku akan baik-baik aja." Dengan tegas Kemuning berkata, sebentar lagi acara pernikahannya akan dimulai, dan ia tidak ingin memikirkan apapun selain kebahagiaan. "Pokoknya setelah nikah pertemanan kita gak ada yang berubah, yakinlah!"

Nanci mengangguk agak lambat, dan memilih untuk mengalah, tetapi ia berjanji akan terus menyelidikinya.

"Kemuning ..." panggil sebuah suara.

Menolehkan kepalanya Kemuning pun tersenyum saat menemukan bibi Rasita, lalu ia melangkah mendekati. "Iya, Bi, ada apa?"

"Ada kado yang ingin Bibi berikan untuk kamu, semoga kamu suka ya," katanya seraya memasangkan gelang emas di tangan Kemuning, wanita itu tersenyum hangat.

"Ya ampun, Bibi Rasita, terima kasih banyak!"

Kemuning menatap gelang berlapiskan emas itu lekat dan dalam, ia sangat tersentuh, bahkan tidak pernah menyangka jika bibinya Amer menyiapkan kado yang seistimewa ini.

"Sama-sama, Sayang, Bibi doakan semoga pernikahan kamu dengan Amer langgeng ya!"

Menganggukkan kepalanya dengan begitu Kemuning memeluk wanita itu erat, mengungkapkan betapa bahagianya ia dipertemukan dengan bibi Rasita, dan menjadi seseorang yang diistimewakan.

"Ya, sudah, ayo kita berangkat ke kapal," ajaknya.

Lagi-lagi Kemuning mengangguk, dengan wajah yang bersinar gadis cantik itu pun melangkah pergi dengan bibi Rasita, keduanya tampak sangat cocok dan akrab.

"Amer beruntung banget bisa nikah sama kamu," puji bibi Rasita untuk kesekian kalinya, sejak tadi malam wanita itu memang suka memujinya.

"Kemuning yang beruntung, Bi," sanggahnya cepat.

Kedua wanita itu pun tertawa, tanpa menyadari Nanci yang sejak tadi diam-diam memperhatikan mereka di belakang, dan menerka apa yang sebenarnya mereka direncanakan pada Kemuning.

"Itu teman kamu ya," tunjuk bibi Rasita ke arah Nanci.

"Oh, iya, kemari Nanci!" Kemuning melambai riang.

Menyunggingkan senyumnya Nanci pun mendekati Kemuning, dan bibi Rasita yang mulai tampak curiga. Tadi malam Nanci kepergok oleh wanita itu saat berbicara dengan temannya, yang Amer bilang teman baik mendiang ayahnya.

"Bibi Rasita kenalkan ini Nanci sahabatku," katanya.

"Salam kenal ya, Nanci!" Wanita itu tersenyum ramah, dan tersenyum saat Nanci menjabat tangannya.

Kini ketiga perempuan itu melangkah beriringan menuju Kapal Pesiar, di depan ternyata Amer sudah menunggu kedatangan Kemuning, dengan wajah yang semringah ia langsung menyambutnya, dan mempersilakan bibi Rasita beserta Nanci untuk masuk terlebih dulu.

"Kamu cantik sekali hari ini, Kemuning," puji Amer.

"Kamu juga sangat gagah dan tampan, Mas," balas Kemuning sambil menatap kagum, lalu ia melangkah lebih maju saat Amer menarik pinggangnya.

Tidak menahan lagi Amer langsung mengecup bibir merah Kemuning, hari ini mereka sudah resmi menjadi sepasang pengantin, bahkan di dalam Kapal Pesiar acaranya juga sudah berjalan dengan meriah.

"Aku jadi gak sabar menunggu nanti malam," bisiknya.

***

Amer Djaja Prakasa, seorang Nakhoda Kapal Pesiar, sosoknya yang tampan dan gagah disegani banyak orang, terutama oleh bawahan dan jajaran terendah yang ikut berlayar dengannya.

Orang-orang sangat mengaguminya, Amer menjadi pusat perhatian, tidak sedikit dari mereka yang ikut berbahagia atas pernikahan Sang Nakhoda, semua orang tampak menikmati acara, bahkan bersuka cita.

"Aku jadi malu," aku Kemuning seperti orang yang kehilangan arah, padahal ini acara pernikahannya sendiri.

"Malu kenapa?" Amer menatap Kemuning bingung.

"Semua orang sangat menghormatimu, sepertinya kamu benar-benar orang penting," ungkap Kemuning mulai merasa tidak nyaman, mendengar itu Amer sontak tertawa, lalu memeluk pinggangnya semakin mesra dan intim. "Mas, aku malu!"

"Aku cuma mau yakinin kamu aja, kalau sekarang tuh kamu istrinya seorang Nakhoda." Jelas Amer seraya mengecup pipi Kemuning, dan semua itu disaksikan oleh banyak orang.

"MAS!" Kedua pipi Kemuning bersemu merah.

Tidak sampai di situ Amer pun semakin berinisiatif membuat Kemuning tersipu sekaligus bahagia, dengan langkahnya yang gesit pria itu langsung menarik tangan mungilnya, dan berhenti di tengah lantai dansa.

"Aku gak bisa dansa, Mas," terang Kemuning.

"Gak apa-apa, kamu tinggal ikuti arahanku aja," pinta Amer seraya menaruh kedua tangan Kemuning melingkar di lehernya, sementara tangannya berada di pinggang gadis itu.

Semua orang yang melihat bertepuk tangan dengan meriah, bersorak dan mendukung, di tengah situasi mendebarkan itu Kemuning jelas semakin malu, tetapi Amer justru malah sebaliknya.

"Mereka sangat serasi ya," kata salah satu temannya.

"Istri Nakhoda kita juga sangat cantik dan anggun."

"Keduanya benar-benar pasangan yang sempurna."

Kemuning hanya tersenyum mendengarnya, ia sangat bahagia diterima baik oleh banyak orang, padahal dulu perasaan cemas itu sempat mempengaruhi pikirannya yang selalu merasa minder bersanding dengan Amer.

Karena bagaimanapun tidak semua Nakhoda Kapal seperti Amer, yang mau menerima gadis kampung seperti Kemuning.

"Kamu bahagia?" tanya Amer sambil terus menatap.

Menganggukkan kepalanya Kemuning semakin malu dan minder, lalu gadis itu menyembunyikan wajahnya di leher Amer. "Aku sangat bahagia, Mas."

"Aku pun begitu, rasanya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ungkap Amer seraya menghirup dalam aroma tubuh Kemuning, lalu ia tersenyum. "Kamu menjadi salah satu alasan kenapa aku masih bertahan hidup, dan tinggal di muka bumi ini."

"Entah perasaanku aja hari ini kamu terlalu banyak bicara, Mas," tukas Kemuning menahan tawanya, sikap Amer yang berlebihan membuatnya jadi geli.

"Itu karena aku terlampau bahagia," akunya lagi, lalu mereka pun tertawa bersama.

Amer dan Kemuning hanyut ke dalam kebahagiaan, keduanya masih di lantai dansa berpelukan mesra, dan bergerak seirama dengan musik romantis yang mengiringi syahdu.

Tidak jauh dari sepasang pengantin baru itu Cahyoko dan Rasita memperhatikan, keduanya tampak saling bertukar pikiran diam-diam, mengkhawatirkan dan menyayangkan pilihan Amer yang akan bermasalah.

"Menurut kamu apakah Amer benar-benar serius dengan gadis kampung itu?" tanya Rasita dengan sorot mata yang tajam, sebenarnya ia meragukan ini.

"Entahlah, aku juga gak begitu yakin," balas Cahyoko.

Bersambung ...

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.