Wanita Penggoda CEO Kaya

Darren memasuki restoran di mana pertemuannya dengan salah satu rekan bisnisnya berlangsung.

Ruang VIP yang terletak di lantai dua adalah pilihan dan kebetulan sudah dipesankan oleh Maya, sekretaris dari Darren sendiri.

Cukup lama Darren menunggu dan itu terlalu membosankan. Darren bisa saja pulang dan tanpa melanjutkan meeting itu seandainya sang rekan kerja tidak ia kenal baik.

Pintu ruang VIP itu terbuka, menandakan orang yang ditunggu telah datang. Darren menoleh ke sana dan menyaksikan Shawn dengan penampilan berantakan. Rambut acak-acakan serta dasi yang sudah mereng sana-sini, jas bahkan tidak lagi terlampir di tubuh melainkan dipegang oleh sang empunya.

Darren tidak heran akan itu. Kebiasaan Shawn dan itu tidak akan berubah sama sekali. Hanya saja Darren kadang kesal karena harus menunggu padahal mereka akan membahas tentang pekerjaan.

“Perempuan mana lagi yang kau tiduri kali ini?” Darren memberi Shawn pertanyaan.

Shawn mendudukkan dirinya di kursi. Merapikan rambutnya dan juga dasi yang berantakan. Shawn tertawa mengingat apa yang barusan terjadi padanya dan Darren selalu berhasil menebak apa yang ia lakukan di luar sana sebelum ke restoran.

“Dosen di salah satu kampus terbaik di kota ini. Bukan salahku, dia yang mendatangiku saat aku

sarapan tadi pagi di tempat biasa, lalu menawarkan diri untuk makan siang bersama,” jelas Shawn. “ Mana mungkin aku menolak rezeki. Awalnya aku pikir makan siang biasa, tapi ternyata makan siang di atas ranjang.” Shawn terkekeh.

“Sial, goyangannya sangat nikmat, dan aku lupa daratan sampai terlambat ke sini.”

Darren hanya menghela napas pelan. Kebiasaan Shawn yang tidak pernah berubah. Selalu menikmati kehangatan perempuan satu ke perempuan lain. Tidak akan pernah sama dan tidak akan lama. Hubungan yang terjalin hanya untuk sekali dan di atas ranjang. Shawn gila akan sentuhan perempuan-perempuan seksi. Darren tidak heran sama sekali.

“Kau menggunakan pengaman?” tanya Darren khawatir. Ia sangat tahu akibat dari gonta-ganti

pasangan tanpa pengaman. Sangat berbahaya.

Shawn mengangguk.

“Tentu saja. Selain menghindar dari penyakit berbahaya, aku juga menghindar dari yang namanya tanggung jawab, Sob.” Shawn menyahut.

“Baguslah. Tapi kau harus tetap hati-hati. Adakalanya kau akan kena sialnya,” nasihat Darren.

Shawn tersenyum.

“Kau terlalu setia pada Quina,” ejek Shawn.

Darren tidak ingin berdebat dengan Shawn sehingga ia membuka laptopnya dan memilih memulai membahas pekerjaan mereka.

“Bisa kita mulai?”

Shawn hanya mengangguk. Jika Darren sudah berkata seperti itu berarti saatnya untuk serius.  Shawn mengenal baik siapa Darren, mereka bukan hanya rekan bisnis, tapi juga sahabat  sekaligus sepupu yang lahir di hari yang sama, tahun yang sama dengan beda waktu yang tidak terlalu jauh, yaitu 5 menit.

Darren lebih dulu lahir, disusul oleh Shawn.

***

Sepulang dari meeting, Darren tidak langsung menuju ke rumahnya. Ia membelok ke arah jalan

lain yang tepatnya menuju ke rumah orang tuanya. Ibunya tadi menelepon dan menyuruh mampir ke rumah mewah di mana kenangan terindah menumpuk di sana.

Darren tidak akan menolak apa pun yang diminta ibunya, apalagi ia juga sudah rindu pada perempuan cantik itu dan tentu saja rindu pada adik manisnya, Zea.

Sebenarnya bukan hanya rindu pada dua orang itu, ayah sambungnya juga termasuk di dalamnya.

Meskipun hanya ayah sambung, tapi bagi Darren, Gunawan Raharja keturunan asli pribumi itu adalah ayah yang baik dan pengertian. Nyatanya, hingga 18 tahun pernikahan lelaki itu dengan sang ibu, pernikahan keduanya baik-baik saja dan melahirkan anak semanis Zea.

Kening Darren mengernyit ketika tiba di depan rumahnya. Ia disambut hangat Kang Hari yang

merupakan satpam di rumahnya.

“Kenapa rame sekali, Kang?” tanya Darren heran.

Kang Hari hanya menggeleng. “Entahlah, Den. Mereka sudah di sini sejak pagi dan membuat

keributan di dalam sana. Kasihan Tuan Gunawan.”

Mendengar penjelasan Hari, Darren buru-buru keluar dari mobilnya dan segera masuk ke dalam. Yang pertama ia lihat saat tiba di ruang tamu adalah Gunawan yang memegang dadanya

dan sedikit terengah-engah.

Astaga, apa yang terjadi?

Kenapa ibunya tidak mengatakan apa pun saat ditelepon tadi? Kenapa juga ibunya baru meminta ke rumah sekarang? Kenapa bukan sejak tadi pagi? Pemikiran Darren kacau balau

apalagi Zea terlihat menangis sembari menopang sang ayah.

“Mom, ada apa ini?” Darren melewat begitu saja di depan lima orang yang sudah duduk dengan

keangkuhan di sofa.

Samantha menggigit bibir dan menggeleng. Sedang Gunawan hanya bisa mengulurkan tangan dan menyuruh

Darren duduk di sisinya.

“Dad, What happend?” tanya Darren bingung. Kemudian menatap intens pada tamu asing dan penuh intimidasi.

“Kau Darren Agler?” tanya salah satu yang memakai jas biru tua.

Darren mengangguk.

“Ya. Kalian siapa?” tanya Darren balik.

Lelaki berambut pirang dengan jas hitam menyodorkan berkas ke depan Darren. “Kau baca itu, maka kau akan tahu siapa kami.”

Darren melirik pada Samantha dan juga Gunawan. Lalu ia menghela napas saat Gunawan memegang tangannya dan menggeleng agar tidak membaca berkas itu.

Darren tersenyum.

“Tidak apa, Dad.” Menenangkan ayah sambungnya itu.

Lalu membuka berkas itu dan membaca serius. Tidak ada perubahan dari ekspresi Darren sama sekali, datar dan tidak mudah ditebak. Setelah selesai membaca lalu meletakkan di atas meja kaca itu. Mengatur posisi duduknya dan menyeringai.

“Hanya itu bukti yang kalian bawa? Kenapa aku tidak yakin dengan isinya sama sekali?” Darren

berucap penuh penekanan dan mulai mengintimidasi.

“Itu bukti yang cukup kuat. Tanda tangan ayahmu ada di atas berkas yang isinya adalah meminjam uang pada perusahaan kami dan jika dalam dua bulan tidak mengembalikannya maka

rumah dan mobil yang ia miliki akan menjadi milik kami.” Yang memakai jas biru tua itu kembali berkata.

“Jumlah sebesar itu? Kalian lebih mengerikan dari pada bank.” Darren sebenarnya emosi hanya saja ia berusaha menahannya.

“Lima milyar adalah jumlah yang besar,” sahut si rambut pirang.

“Jadi, kesepakatannya apa? Kalian ingin rumah ini dan semua mobil milik ayah saya?” tanya Darren ingin tahu.

“Sesuai surat perjanjian. Kami ingin mengambil hak kami,” sahut si rambut pirang.

Darren mengangguk.

“Kalian akan mendapatkannya. Beri kami waktu hingga malam untuk beres-beres,” mohon Darren.

Samantha menangis, sedangkan Gunawan menggeleng.

“Darren, jangan biarkan ini terjadi,” pinta Gunawan.

Darren tidak ingin mendengar itu. Ia malah membantu Gunawan berdiri dan memapah membawa ke kamar.

“Kalian bisa kembali nanti malam.” Lalu memberi isyarat pada Zea untuk mengikuti langkahnya ke kamar juga.

Saat tiba di kamar, ekspresi Darren masih belum bisa dibaca. Ia bahkan masih terlihat biasa,

mendudukkan Gunawan di ranjang dengan bantal sebagai tumpuan agar tidak langsung mengenai kepala ranjang.

Samantha duduk di tepi ranjang, sedang Zea memilih duduk di atas ranjang dan menyandar pada Gunawan yang kondisinya masih belum membaik. Sepertinya penyakit jantungnya belum pergi meskipun Zea sudah memberi obat.

“Coba katakan apa yang terjadi, Dad? Untuk apa Dad meminjam uang pada perusahaan yang lebih tepat seperti rentenir? Lima milyar? Untuk apa, Dad? Kalau Dad butuh uang, bisa minta ke Darren.” Emosi Darren memuncak. Ia berucap dengan nada tinggi.

Gunawan hanya menggeleng.

“Apa gaji Dad sebagai guru tidak cukup untuk membiayai Mom dan Zea? Kalaupun tidak cukup, jangan sampai meminjam uang sebanyak itu, Dad. Dad tahu akibatnya?” Darren mengusap wajahnya kasar.

“Kak, jangan marah sama Dad.” Zea menangis. Gunawan menepuk-nepuk pelan lengan Zea agar tidak menyanggah. Ya, tepatnya gunawan membiarkan Darren mengeluarkan emosi yang

terpendam sejak tadi.

“Aku tidak habis pikir, Dad.” Helaan napas Darren terdengar. “Dari awal Dad menikah dengan Mom,  Darren sudah menerima apa pun tentang Dad. Dad itu yang terbaik untuk kami, meskipun hanya seorang guru, tapi Dad sudah membuktikan kalau Dad itu ayah sambung yang hebat. Lalu kenapa di saat beban hidup sudah berkurang, Dad malah meminjam uang? Kenapa gak bilang ke Darren, Dad?”

Gunawan mengulurkan tangannya pada Darren, menyuruh duduk di sampingnya. Bagaimana pun ia harus menjelaskan apa yang terjadi. Ia tidak akan membiarkan putranya itu salah paham

padanya.

Darren menurut. Se emosi apa pun dia, baginya saat keluarga meminta sesuatu padanya walau hal kecil ia akan menurut.

“Dad tidak meminjam uang pada perusahaan itu, Darren. Meskipun gaji dad kecil, tapi Mom kamu dan Zea tidak kekurangan apa pun, Nak.” Gunawan mencoba membuka pembicaraan, menjelaskan dengan nada pelan agar emosi Darren tidak memuncak.

“Jika bukan Dad, lalu siapa?” Darren penasaran.

“Dengarkan Dad kamu dulu, Darren,” pinta Samantha. Darren menghela napas.

“Saudara tiri Dad dan istrinya. Dad tidak tahu bagaimana mereka mendapatkan surat rumah ini padahal sertifikat di simpan oleh Mom kamu. 

Tapi saat tadi lima orang itu datang, Mom kamu mencari di tempat dia menyimpan berkas-berkas penting, tapi tidak ada,” terang Gunawan lagi.

Samantha membenarkan. “Iya, Darren.”

“Bagaimana soal tanda tangan Dad di atas perjanjian itu?” Darren masih belum paham sama sekali.

“Dad baru ingat, dua bulan lalu, Monica datang ke sini meminta tanda tangan dad di atas kertas

putih, katanya untuk kepentingan sekolah. Karena papa dan mamanya ke keluar kota dan kertas itu akan diserahkan ke guru hari itu juga makanya dad tanda tangan.” Gunawan meneteskan air mata karena terlaku percaya pada keponakannya itu. Bahkan Gunawan tidak bertanya kenapa kertasnya kosong saat itu. Ia guru, tapi ia merasa sangat bodoh. Karena kebodohannya, keluarganya dalam masalah.

Rumah mewah peninggalan almarhum suami dari Samantha menjadi milik orang lain

karena dirinya.

“Monic?” tanya Darren.

“Keponakan Dad,” sahut Gunawan.

Darren tidak begitu mengenal keluarga dari ayah sambungnya itu. Karena jujur, dari dulu keluarga

ayah sambungnya itu terlalu meremehkan Gunawan dan juga terlalu angkuh.

Darren menghela napas. “Jadi bukan Dad yang meminjam uang sebanyak itu?” tanya Darren lagi

untuk meyakini diri.

Gunawan menggeleng.

“Dad tidak seserakah itu, Darren. Gaji dad cukup untuk keluarga ini. Lagian kamu juga selalu memberi uang ke Mom kamu tiap bulan. Kurang apa lagi. Ya Tuhan, 5lima milyar itu bukan yang sedikit.” Gunawan akhirnya terisak.

Darren iba sekaligus khawatir. Ayah sambungnya itu terlihat tidak sehat,  dan jika terus menangisi apa yang terjadi, Darren takut akan semakin drop.

“Mereka sangat jahat!” Zea juga menangis sembari memeluk Gunawan.

Darren mengusap wajahnya frustrasi. Tidak ada pilihan lain selain membawa keluarganya ikut

bersamanya. Rumahnya cukup besar untuk menampung mereka semua. Hanya saja, Darren menyayangkan rumah peninggalan ayah kandungnya menjadi milik orang lain. Darren akan membuat perhitungan pada orang-orang yang menjebak ayah sambungnya itu.

“Mom, Zea.” Darren meletakan tangan kirinya di tangan sang ibu sedang tangan kanannya mengelus pipi Zea.

Samantha tidak menyahut, hanya menggigit bibirnya berusaha untuk tidak menangis sama sekali walau itu sia-sia, karena air matanya tetap jatuh berderai.

“Bereskan semua pakaian kalian. Jangan bawa apa pun selain pakaian dan barang penting. Mulai sekarang Dad, Mom dan Zea tinggal bersamaku.” Darren tersenyum saat mengucapkan kalimat itu.

Zea dan Samantha spontan memeluk Darren, sedang Gunawan hanya bisa memejam matanya tanpa kuasa menahan tangis. Darren, anak tirinya yang sejak dulu sudah ia anggap sebagai

anak, didik dengan penuh kasih sayang dan ketika telah dewasa, anak itu penuh pengertian dan perhatian serta tetap menganggapnya sebagai ayah.

Gunawan bangga pada dirinya sendiri. Ia bangga pada Darren. Anaknya itu benar-benar luar biasa

baik.

“Dad. Jangan dipikirkan lagi.” Darren memeluk Gunawan erat.

Tidak ada yang boleh menderita di keluarga. Oleh sebab itu, orang-orang jahat itu harus menerima hukuman yang setimpal.

Nyawa? Mungkin!

***

Olin tertatih menuju pintu saat mendengar suara pagar terbuka. Senyum mengembang lantaran apa yang ia nanti telah pulang. Ya, Darren. Lelaki itu berjanji hanya dua jam, tapi ternyata melebih waktu yang dijanjikan.

Awalnya Olin berpikir Darren akan mengacuhkannya dan tidak akan pulang ke rumah di mana ada orang asing di sana, tapi pemikirannya itu salah. Ini rumah Darren dan pasti lelaki tampan itu akan pulang.

Saat pintu terbuka dari luar, Olin menyambut dengan omelan panjang lebar tanpa melihat siapa yang ada di depannya.

“Kenapa kau lama sekali? Dua jam yang kau janjikan ternyata berjam-jam. Aku sangat lapar!”

“Kau siapa?” Olin menajamkan

penglihatannya saat suara milik perempuan menyapa indra pendengarannya.

“Kau pacar Kak Darren?”

Olin kebingungan. Syukur saja, Darren datang tepat waktu bersama seorang perempuan cantik dan seorang lelaki yang tangannya dipegang oleh Darren.

“Zea, jangan menghalangi jalan?” tegur Darren.

Zea menggeleng.

“Tidak bergeser sebelum Kakak menjawab pertanyaanku.” Zea melebarkan tangannya menghalangi jalan Darren serta orang tuanya.

“Zea, Dad kamu butuh istirahat,” tegur Samantha.

Zea memelas. “Mom, Kak Darren harus menjawab dulu soal perempuan yang ada di dalam rumahnya.”

Darren melotot kemudian menepuk jidatnya kuat. Astaga, ia lupa jika di rumahnya ada orang lain selain dirinya. Carolin! Kenapa ia bisa lupa dengan perempuan itu?

“Darren, siapa perempuan yang dimaksud oleh Zea?” tanya Samantha, menggeserkan Zea hanya untuk melihat siapa yang disembunyikan oleh Darren di rumah besar itu.

“Mom, i-itu,” gagap Darren.

Samantha melirik tajam pada Darren lalu beralih ke Olin yang sejak tadi mematung di depan pintu.

“Kau siapa? Pacar anakku?” Nada suara mengintimidasi.

Olin menggigit bibirnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika mengatakan ‘bukan’ maka

pertanyaan akan semakin banyak. Jika mengatakan ‘iya’ tetap juga akan mendapatkan banyak pertanyaan dan selain itu mungkin Darren akan membencinya.

“Kau sangat manis,” puji Samantha lagi, kemudian memeluk Olin erat dan mengajaknya ke sofa.

“Akh!” rintih Olin saat tapak kakinya yang luka tertekan pada lantai.

“Astaga! Kau terluka?” Samantha berteriak heboh. “Darren, apa yang kau lakukan padanya?”

Darren menghela napas panjang. Ia akan mendapatkan pertanyaan beruntun setelah ini.

Nasib!

Chapters
Customize
Next Chapter

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.