“Mom, hentikan. Olin bukan pacar Darren.” Darren menghela napas kesal lantaran ibunya sejak tadi terus mengatakan kalau Olin adalah pacarnya. Padahal Darren dan Olin sudah menjelaskan bahwa keduanya hanya sang penolong dan yang ditolong.
Namun, Samantha bersikeras mengatakan kalau hubungan keduanya adalah pacaran. Bukan hanya Samantha, Zea juga ikut mendukung sang ibu, hanya Gunawan saja yang tidak berpihak, tapi tetap saja membuat Darren kesal lantaran ayah sambungnya itu tertawa melihat kesulitan Darren.
“Jangan berbohong, Darren. Mom tahu kalau kalian punya hubungan khusus.” Samantha masih terus membahas soal hubungan keduanya.
Darren tidak menyerah untuk mendebat ibunya, tapi jika tidak mendebat maka ibunya akan terus
mengatakan yang tidak-tidak.
“Mom. Hentikan. Mom tahu sendiri kalau aku sudah memiliki Quin.” Darren akhirnya membela diri dengan menyebut nama kekasihnya yang berada di luar negeri karena urusan karier
model.
Samantha menampilkan ekspresi tidak senang saat nama Quin disebut oleh Darren.
“Ya ... ya ...,” tukas Samantha kesal. Lalu menatap Olin yang hanya diam. “Kau akan tinggal di sini, kan?” tanya Samantha meyakinkan diri. Padahal tadi Darren sudah mengatakan kalau Olin akan tinggal bersama mereka karena tidak punya tempat tinggal. Oleh karena itu pula, Samantha yakin kalau Darren punya hubungan dengan Olin.
“Iya, Tan. Olin akan tinggal di sini sampai mendapatkan tempat tinggal,” sahut Olin pelan.
“Ya, sudah. Kamu bilang tadi kalau mau membereskan kamar yang mau ditempati, kan? Ayo, tante bantuin.” Samantha memapah Olin menuju kamar diuang tidak jauh dari ruang makan.
Rumah Darren terdapat lima kamar. Dua kamar di atas dan tiga kamar di bawah. Kamar utama di
atas menjadi milik Darren, dan kamar satu lagi disulap Darren menjadi ruang kerja sekaligus perpustakaan pribadi. Sedang di bawah menjadi milik orang tuanya, Zea dan tentu saja Olin.
“Ini akan jadi kamar kamu, Lin.” Samantha mulai membereskan kamar itu mulai dari mengganti seprei lama dengan seprei baru yang baru diambil dalam lemari.
“Kamar ini masih sama aja, ya, Mom,” seru Zea saat menyaksikan kamar yang dekorasinya tidak
berubah sama sekali.
Olin mengernyitkan kening. “Ini kamar siapa dulunya?” tanya Olin penasaran.
Zea tersenyum manis.
“Ini kamar sempat ditempati oleh Mbak Maya, sekretaris Kak Darren.”
Olin mengangguk.
Ternyata Darren pernah membawa orang asing tinggal di sini selain dirinya.
“Tapi setelah Mbak Maya menikah, ia akhirnya ikut dengan suaminya, deh,” lanjut Zea lagi.
“Tante kira dulu mereka punya hubungan, tapi saat Maya menerima lamaran teman bisnis Darren, tante kecewa.” Samantha menghela napas saat mengingat betapa senangnya dulu
saat Maya berada di rumah itu.
Olin menatap
Samantha dalam. Ia baru menyadari jika ibu dari Darren itu terlihat cantik di usia yang tidak muda lagi.
“Dan sekarang Mom berharap kalau Kak Olin adalah pacarnya Kak Darren.” Zea memeluk lengan Samantha sembari menyandarkan kepalanya di bahu.
Samantha mengangguk.
“Mom hanya berharap Darren mendapatkan yang terbaik, Zea. Apa kau mau kalau dia mendapatkan seseorang yang tidak memedulikan keluarga kita?” Samantha melirik
Zea.
Zea menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak mau, Mom. Zea tidak ingin memiliki calon kakak
ipar yang jahat kayak nenek lampir. Big no!” Zea menolak mentah-mentah.
Interaksi ibu dan anak itu tidak luput dari fokus Olin. Ia mengulum senyum dan entah kenapa bulir air matanya jatuh merembes hingga ke pipi. Zea dan ibunya sangat manis dan terlihat akrab. Membicarakan hal kecil walau sebenarnya tidak terlalu penting.
Tertawa sampai rasanya mereka berdua adalah pemilik dunia ini.
Olin iri, sungguh. Ia tidak pernah merasakan kebersamaan yang seperti itu pada keluarganya
sendiri. Ayahnya terlalu sibuk mengatainya anak durhaka, sedangkan ibunya terlalu peduli pada Elana dan Elana sendiri terlalu sibuk menggoda lelaki yang sebenarnya adalah kekasih Olin.
Keluarga yang mengerikan.
Mungkin diusir dari rumah adalah jalan terbaik. Setidaknya ia bertemu dengan Darren yang peduli padanya tanpa menyudutkannya meskipun berat badannya melebih batas normal.
Keluarga Darren yang juga terlihat welcome padanya padahal ini pertama kali mereka bertemu.
“Olin.” Samantha mengelus pipi Olin saat menyadari jika tamu mereka itu sedang melamun dengan tatapan kosong.
Spontan Olin tersadar. Berkedip beberapa kali untuk menetralkan ekspresinya dan itu membuat
Samantha serta Zea gemas sendiri.
“Kau memikirkan apa, ha?” tanya Samantha. Ia membawa Olin ke pinggir tempat tidur dan mendudukkannya di sana.
Olin menggeleng.
“Tidak apa-apa, Tante. Hanya ... em ... aku senang melihat keakraban Tante dan Zea.” Olin melengkapi pernyataannya dengan senyum merekah.
Samantha mengangguk.
“Itu hal yang wajar antara ibu dan anak. Dengan begitu, kita bisa saling memberi pengertian dan kasih sayang satu sama lain.” Samantha menjelaskan.
Tidak ada sahutan dari Olin.
“Istirahatlah. Ini sudah terlalu larut.” Samantha menyuruh Olin untuk segera istirahat.
“Terima kasih karena Tante dan Zea sudah membantu merapikan kamar ini,” ucap Olin sungguh-sungguh.
Zea mengedipkan matanya sebagai jawaban bersamaan dengan senyum manis. Sedang Samantha mengecup kening Olin dengan lembut.
“Tidur yang nyenyak,” ucap Samantha. Ia lantas menarik pelan tangan Zea agar keluar dari
kamar Olin.
“Selamat tidur, Kak Olin.” Zea tidak mau ketinggalan untuk mengucapkan selamat tidur pada Olin.
“Selamat tidur juga buat Zea,” balas Olin sembari melambai.
Setelah Samantha dan Zea keluar dari kamar, Olin membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Menarik selimut sebatas perut. Ingatannya melayang pada keluarganya yang sama sekali tidak menghargai keberadaannya. Dibenci, dikucilkan dan diabaikan!
Hingga sampai detik ini, Olin masih bingung alasan di balik keluarganya membencinya sedemikian dalam. Jika ia adalah petaka sekaligus musibah, kenapa dia dibiarkan hidup?
Bukankah akan lebih baik jika ia dicekik sejak lahir? Pemikiran macam apa itu? Olin menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan hal negatif dari otaknya. Bagaimanapun, ia harus bersyukur, karena kejadian yang menimpanya itu ia bisa bertemu dengan Darren dan keluarga lelaki itu. Tuhan itu adil.
Sekarang ia tinggal berbuat baik dan tidak mengecewakan keluarga Darren. Ia harus membantu berberes dan mencari pekerjaan agar bisa membiayai hidupnya kelak.
“Selamat malam dunia.” Olin memejamkan mata setelah bermonolog ria. Kebisaan yang selalu ia
lakukan ketika akan tidur.
Belum sempat terlelap, pintu kamar diketuk oleh seseorang.
“Boleh aku masuk?” tanya Darren dari luar.
Olin bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk, bersandar pada kepala ranjang lalu berkata,
“Masuklah.”
Tidak lama pintu terbuka. Darren terlihat di sana dengan pakaian santai dan siap tidur. Celana
training hitam dan kaos oblong warna putih. Di tangan lelaki itu ada kotak P3K.
“Ada apa?” tanya Olin. Ia penasaran kenapa Darren ke kamarnya di saat malam semakin larut.
Darren duduk di pinggir ranjang, menyingkap selimut hingga menampakkan kaki Olin. “Perbannya belum diganti, kan?” tanya Darren.
Olin menggeleng.
“Aku tidak bisa melakukannya. Terlalu menakutkan. Ditambah lagi, aku tidak tahu di mana kotak obat kau simpan,” kata Olin.
Darren melepas perban lama yang membalut tapak kaki Olin. Dengan hati-hati ia mengelap menggunakan kapas yang sudah ia basahi dengan alkohol.
“Akh,” pekik Olin tertahan.
“Maaf,” kata Darren dengan mimik khawatir. Ia tidak sengaja menekan luka itu hingga membuat Olin memekik.
Olin tersenyum masam. “Bukan salahmu, Darren. Aku aja yang terlalu takut pada luka itu.”
Darren kembali melanjutkan kegiatannya membersihkan luka itu dan setelahnya menutup dengan perban. “Besok kita ke dokter, ya,” ajak Darren. Olin menggelengkan
kepala. “Tidak perlu, Darren. Kau sudah melakukan yang terbaik jadi tidak usah ke dokter lagi,” tolak Olin. Alasan lainnya karena ia tidak ingin terus berhutang budi pada Darren.
“Kau yakin?” tanya Darren memastikan.
“Tentu saja. Aku yakin, dalam dua hari, luka itu akan sembuh.” Olin meyakinkan Darren.
“Baiklah.” Darren membereskan kotak P3K dan bangkit dari duduknya. “Tidurlah. Jika kau butuh
sesuatu saat tengah malam, kau bisa menghubungiku.” Meletakkan ponsel mewah
berwarna merah marun di atas nakas. “Nomorku sudah tersimpan di sana.”
Olin menganga. Ia tahu bahwasanya harga ponsel itu bukan sesuatu yang murah. Sangat mewah dan juga keluaran terbaru. Bagaimana Darren meninggalkan kepadanya? Apa Darren se
percaya itu padanya? Olin pernah melihat di televisi jika harga ponsel pintar itu sampai puluhan juta.
Astaga!
“Aku akan kembali ke kamarku. Jangan tidur terlalu malam.” Darren tersenyum sebelum meninggalkan kamar Olin.
Olin meraih benda pipih itu dan memperhatikan desain yang luar biasa membuatnya terpesona. Untuk pertama kalinya ia menyentuh ponsel yang harganya fantastis.
Bolehkah ia berharap untuk memiliki ponsel itu selamanya?
Olin tersenyum lalu kembali meletakkan ponsel itu ke atas nakas. Ia sudah sangat mengantuk dana sebaiknya ia tidur sebelum malam semakin larut.





