"Ah! Sakit, Daddy," Vicky menjerit kaget. Ia bisa merasakan jari pria itu mengaduk di dalam tubuhnya sebelum mendesak lebih masuk.
Vicky meraih ke bawah dan mencengkeram pergelangan tangan Evander, berusaha menjauhan tangan pria itu dari bagian intinya.
Tapi satu jari Evander kini menjadi dua lalu tiga. Pria itu mulai menghujamkan tangannya ke dalam sekuat tenaga hingga Vicky merasa jemari pria itu hendak merobeknya menjadi dua.
Gadis itu mulai terengah-engah dan anehnya, merasa semakin basah oleh kekasaran yang di tunjukkan Evander.
"Kau adalah milikku, Slut," pria itu menggeram.
Ingin Vicky menjerit, ia bukan pelacur, mengapa pria itu mengatakan ia pelacur?
Tapi sekali lagi, Evander sepertinya lebih memahami Vicky daripada gadis itu sendiri. Karena kini bukannya meronta, Vicky justru menabrakkan tubuhnya sendiri melawan jemari Evander. Semakin keras, semakin cepat.
Napas Vicky semakin dangkal. Ia terus menggesek hingga semakin banyak lendir membasahi jemari Evander. Apa yang dilakukan pria itu membuat Vicky menjadi sangat basah.
"Ooohhhh, Dadddyyy....."
Vicky tidak lagi bisa manahan lenguhannya. Suaranya terasa sangat seksi, gadis itu bahkan menjadi semakin bergairah mendengar suaranya sendiri.
"Good girl," Evander memuji sementara Vicky terus memantulkan tubuhnya melawan tangan pria itu,
Evander menarik tiga jemarinya keluar sebelum menabrakkannya kembali ke dalam gadis itu hingga Vicky melenguh dengan tubuh gemetaran.
Semuanya terasa luar biasa bagi Vicky. Ia bisa merasakan dirinya hendak klimaks.
"Ohhh... tidak...tidak...tidakk!" Vicky menjerit sambil melepaskan dirinya ke tangan Evander. Cairan menyembur keluar dari celah Vicky yang berdenyut, menyemprot ke segala arah.
Vicky hampir tidak percaya bagaimana ia membiarkan dirinya sendiri klimaks di depan pria itu. Ia seharusnya menahan dirinya. Bukannya membiarkan pria itu tahu betapa ia menyukai apa yang terjadi.
Terlambat sekarang. Vicky sudah menyerahkan kekuatannya kepada pria itu dengan suka rela.
Evander menarik tangannya dari keluar dari celah Vicky dan menjejalkannya masuk ke dalam mulut gadis itu.
"Jilat," pria itu memerintah.
Vicky menurut, menjilati dan menghisap cairan yang melumuri tangan Evander sementara pria itu mendorongkan tangannya semakin dalam ke mulut Vicky.
Untung saja cairannya terasa manis, pikir Vicky. Kini ia penasaran bagaimana rasa pelepasan Evander di dalam mulutnya.
Evander akhirnya menarik tangannya keluar dan melepaskan Vicky, memberi kesempatan gadis itu untuk mengumpulkan nyawanya yang tercecer.
Napas Vicky berat dan terengah. Dada gadis itu bergerak naik dan turun.
Pandangan mata Evander kini tertuju pada ujung dada Vicky yang membengkak. Evander meraih salah satunya dan mencubit keras. Begitu Vicky menjerit, pria itu memajukan wajahnya untuk menyesap yang lain.
Vicky melenguh ketika merasakan sentilan lidah Evander. Tapi pria itu kemudian mengigit dan membuat Vicky mendengking kesakitan.
Pria itu mengulangi beberapa kali, bergantian antara satu ke yang lain. Tak lama, Vicky sadar betapa ia menyukai rasa sakit berkejar kenikmatan yang dilakukan oleh lidah Evander. Pria itu tampaknya sudah sangat berpengalaman dalam hal semacam ini. Mengaburkan kenikmatan dan rasa sakit hingga Vicky tidak lagi bisa membedakan satu dengan yang lain dan menginginkan keduanya.
Evander meremas daging kenyal Vicky sambil menggeram sebelum akhirnya melangkah mundur.
"Lihat ke laptop," pria itu berkata.
Vicky dengan patuh mengikuti Evander yang berjalan menuju meja kerja.
Pria itu membuka laptop dan mengetikkan sesuatu dalamnya. Tak lama sebuah video muncul di layar dan pria itu menekan play.
Vicky membuka bibirnya kaget. Video yang ditunjukkan Evander adalah videonya ketika sedang memuaskan diri di kamar, melenguhkan nama Evander sambil memasukkan jarinya ke dalam dan mengocok berulang kali.
"Aku melihatmu melakukannya setiap malam,Vi."
Wajah Vicky memerah sekarang. Ia tahu ia seharusnya marah. Evander sudah melanggar privasinya, tapi diakui Vicky, ia justru merasa bergairah dan panas.
"Berlutut di bawah meja," Evander memerintah.
Entah mengapa, Vicky merasa kini saat yang tepat untuk membantah.
"Tidak mau."
Pria itu menarik Vicky turun dan memaksanya untuk berlutut. Ia kemudian melepaskan resleting celananya dan mendudukan tubuhnya ke atas kursi. Sambil meraih rambut Vicky, pria itu mendekatkan wajah Vicky ke selangkangannya, kemudian...
Evander menarik keluar kejantanan paling besar yang pernah dilihat atau pun dibayangkan oleh Vicky dan mendorongkannya ke depan mulut gadis itu.
Benda panjang yang tebal itu berurat dan melengkung naik ke atas. Vicky bisa membayangkan benda itu akan menghancurkannya, tapi ia tidak bisa berpaling. Biarpun menakutkan, benda itu adalah benda paling indah yang pernah dilihatnya.
Vicky kembali menggeleng dengan mata membelalak.
"Tidak mungkin benda itu akan muat ke dalam mulutku, Daddy." Suara Vicky lirih dan gemetaran.
Tapi Evander tidak menerima kata tidak. Pria itu menarik kepala Vicky ke belakang dan mendorongkannya maju sekali lagi.
Evander mengusapkan ujung kejantanannya ke bibir Vicky. Lelehan gairah yang keluar dari ujung kejantanan Evander membasahi bibir Vicky, merembes ke dalam dan terasa asin di lidah gadis itu.
Akhirnya Vicky menyerah dan melemaskan rahangnya.
Menyadari ini, Evander langsung menurunkan kepala Vicky ke atas batangnya yang keras dan mendorongkan kepala Vicky hingga ke pangkal.
Ujungnya yang panas menabrak tenggorokan Vicky, menyebabkan gadis itu tersedak dan membuat suara hendak muntah. Tapi Evander tidak melepaskan. Pria itu mendorong keras hingga Vicky menggeliat dan mulai menangis karena tidak bisa bernapas.
Melihat air mata Vicky, Evander melonggarkan cengkeramannya dan menggiring kepala Vicky naik ke atas.
Gadis itu bisa merasakan benda di mulutnya berdenyut sepanjang lidahnya. Terasa panas dan hidup.
Baru kali ini Vicky merasakan keinginan yang kuat untuk dimiliki oleh seseorang. Untuk digunakan sepuas hati.
Vicky melekatkan bibirnya ke sekeliling batang Evander dan mulai mengisap. Lidahnya menjilat dan menyesap hingga ke ujungnya sebelum kembali menelan ke bawah.
Vicky melilitkan bibirnya mengitari kepala kejantanan Evander dan menyedot dengan kenikmatan yang membuat pria itu menggeram.
Evander menggerakkan pinggulnya naik ke atas sementara tangannya menekan kepala Vicky ke bawah, mendesakkan batangnya berkali-kali ke dalam tenggorokan gadis itu. Menggunakan mulut Vicky sebagai benda untuk memuaskan nafsunya.
Pria itu menggeram. Hisapan bibir Vicky terasa luar biasa nikmatnya. Ia bisa merasakan kejantanannya membesar dan mengeras, menuju klimaks. Evander menunggu hinga pelepasannya di ujung tanduk sebelum menarik kepala Vicky menjauh dan menyemprotkan cairah putih kentalnya ke seluruh wajah Vicky.
Evander mengarahkan semburan itu ke dalam mulut Vicky yang membuka. Sebagian mengenai pipi gadis itu sebelum menetes ke dadanya yang kencang.
Vicky melenguh, mengoleskan lendir Evander ke dadanya sendiri seakan cairan itu adalah salah satu body lotion paling mahal yang pernah dikenakannya.
"Oh yeah, Daddy. Lagi... Berikan lebih banyak," Vicky melenguh dengan rakusnya.
Evander dengan senang hati menuruti permintaan Vicky. Pria itu tidak berhenti menyemprotkan pelepasannya ke wajah Vicky, memandikan gadis itu dengan lebih banyak cairan lengket berbau khas miliknya.
Bahkan ketika pria itu akhirnya selesai, Vicky bisa melihat bahwa kejantanan Evander sepertinya tidak melemas. Benda itu masih sangat kaku dan keras. Bagaimana mungkin?
Evander meraih Vicky dan menarik gadis itu menghadap meja. Tanpa banyak bicara, Evander mendorong tubuh Vicky ke depan. Vicky bisa merasakan sisi wajahnya melawan kerasnya meja sementara pinggulnya terangkat ke atas untuk Evander.
Pria itu mengusapkan ujung kejantanannya sepanjang celah Vicky. Kemudian tengan tangan yang lain, Evander meraih tengkuk Vicky dan menekan leher gadis itu ke bawah.
"Apakah kau ingin merasakan Daddy di dalam celah tebalmu, Baby?" Evander membungkuk dan bertanya.
to be continue...





