Vicky melenguh, "Ya, Daddy."
Evander menendang kaki Vicky agar melebar ke samping. Begitu lipatan Vicky membuka, pria itu langsung menjejalkan kejantanannya masuk ke dalam celah Vicky yang basah.
"Ooohhh!" Vicky menjerit. Celahnya meregang sangat lebar. Panasnya desakan Evander membuat air mata keluar dari mata Vicky. Tapi tidak terlalu lama karena semakin dalam Evander memasukinya, semakin nikmat pula yang dirasakan oleh Vicky. Hingga tidak ada yang tersisa selain kenikmatan dari penyatuan tubuh mereka berdua.
Evander mulai menggerakkan pinggulnya. Dorongan pria itu keras dan memaksa. Dan walaupun sempit dan belum pernah dimasuki pria, tapi celah Vicky yang sudah sangat basah membuat kejantanan Evander dengan mudahnya menggesek keluar dan masuk.
Vicky melenguh. Evander menggeram dan memompa lebih cepat.
"Kau sudah lama menginginkan Daddy, bukan?" pria itu bertanya.
Vicky mengigit bibirnya. Ia tidak ingin memberi tahu Evander. Karena hal itu tidak benar dan penuh dosa.
Sinful.
Unholy.
Tapi mulut Vicky tidak bisa berbohong.
"Ya, Daddy. Aku sudah bermimpi tentang hal ini sejak lama. Aku ingin kau menggunakan dengan kasar. Aku adalah jalang kecilmu, daddy, dan aku menginginkan kejantanan besarmu di dalamku."
Vicky menekankan pinggangnya semakin ke belakang sementara pinggul Evander menabrak keras. Pria itu menggeram penuh kenikmatan sambil memberikan tamparan keras ke pantat Vicky yang padat.
Suara telapak tangan Evander melawan kulit Vicky terdengar nyaring dan sangat memuaskan.
Aroma keringat dan gaira yang kental memenuhi penciuman Vicky.
Evander membenamkan batangnya ke dalam celah Vicky dengan sangat keras yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah melenguh. Kenikmatan dari disetubuhi dengan kasar oleh Evander benar-benar terasa luar biasa.
Celahnya terasa layaknya sebuah sarung tangan untuk kejantanan daddynya. Tubuhnya meremas dengan erat dan berdenyut mengelilingi Evander.
Vicky mencengkeram pinggiran meja dengan erat untuk pegangan. Kekuatan dari tumbukan badan Evander yang kuat, membuat Vicky merasa ia hampir terbang.
Geraman Evander kian tidak terkontrol. Celah sempit putri tirinya itu terasa sungguh luar biasa. Ia merasa tidak puas. Ia ingin lebih. Lebih keras. Lebih dalam. Lebih kasar.
Ia ingin membuat gadis itu menjeritkan namanya berulang-ulang. Ia ingin melihat wajah Vicky ketika gadis itu klimaks.
Ditariknya kejantanannya keluar dan dibaliknya badan Vicky agar menghadap ke arahnya.
Kini dalam posisi telentang, Evander menidurkan Vicky ke atas meja sebelum mengangkat kaki anak tirinya itu ke pundaknya dan kembali menghantam dengan keras.
"Kau menyukainya, Baby?" Evander menggeram. Pria itu mengusapkan ibu jarinya ke ujung bundelan di cela Vicky yang membengkak.
Vicky tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengerang sambil mencari pegangan ke pinggiran meja. Gadis itu yakin bahkan tanpa menjawab, Evander bisa melihat betapa ia menyukai semua ini. Apa yang diimpikannya selama berbulan-bulan akhirnya terkabulkan.
Evander menurunkan kaki Vicky dari pundaknya dan mendorongnya tertekuk ke depan, membuka celah Vicky lebih lebar. Evander bisa melihat lipatan putrinya yang merah muda dan licin, penuh lendir gairah yang membuat kejantanannya semakin tegang.
Evander mencengkeram paha Vicky dengan penuh kekuatan, hingga gadis itu bisa merasakan kuku Evander mencakar kulitnya. Pedih dan jelas dan membuatnya merasa lebih hidup.
Semuanya terasa jelas bagi Vicky. Ini lah yang diinginkannya. Menjadi mainan dan digunakan oleh Daddynya dengan kasar. Mulai sekarang ia ingin Evander memenuhi semua celah yang dimilikinya, sesering mungkin, sedalam mungkin, selama mungkin. Fuck Mom. Wanita itu bisa mencari pria lain untuk disedot kekayaannya. Evander adalah miliknya.
Evander menenggelamkan dirinya masuk dan keluar dengan sangat cepatnya, Vicky tidak lagi bisa mengikuti apa yang dirasakannya. Pria itu terus menggesek ke dalam celah Vicky sambil menggeram pada setiap hentakannya.
Vicky bisa merasakan tepian orgasme berikutnya mulai mengintip. Hampir saja ia terjatuh, mendadak Evander berhenti dan menarik tubuhnya keluar.
"Tidak, Daddy! Jangan berhenti, please." Vicky merengek penuh frustasi. Benar-benar sebuah siksaan yang dilakukan pria itu.
Tapi Evander hanya tertawa rendah. Getaran suara pria itu membuat Vicky hampir saja klimaks tanpa sentuhan. Hampir.
Evander mendudukkan dirinya kembali ke kursi.
"Kemari, Babygirl," pria itu memerintah menjulurkan tangannya.
Vicky turun dari atas meja. Dengan kaki gemetaran, Vicky berjalan mendekati Evander yang langsung menarik pinggang Vicky dan menaikkan gadis itu ke atas pangkuannya. Vicky membuka pahanya dan kejantanan Evander yang kaku langsung menusuk kembali ke dalam celahnya yang panas.
Evander mencengkeram pinggang Vicky erat sambil mengangkat gadis itu naik ke atas sebelum kembali menabrakkan gadis itu ke bawah.
"Oh yeah... oh, Daddy...." Vicky meremas pundak Evander sambil melenguh ketika merasakan ujung kejantanan Evander menabrak rahimnya. "Enak sekali, Daddy."
Pria itu mengeratkan cengkeramannya dan menggerakkan pinggul Vicky lebih keras, membuat gadis itu kian terengah-engah.
Betapa Vicky menyukai kekuatan Evander.
Ada sesuatu yang seksi dengan cara pria itu memperlakukannya. Seakan pria itu benar-benar membutuhkannya dan bisa mati tanpanya. Setidaknya itulah yang dibayangkan Vicky saat itu. Setidaknya itulah yang dirasakan Vicky sementara dirinya menggenjot naik dan turun kejantanan tebal Daddynya.
Tangan Evander bergerak menggerayang. Jemari pria itu mencubit dan menjentik ujung dada Vicky hingga ia menggeliat dan melepaskan lenguhan tanpa jeda satu sebelum yang lain. Hingga akhirnya, tanpa bisa dicegah, gadis itu klimaks dengan kuatnya.
"Ooohhhh, Daadddyyy," Vicky menjerit sekuat tenaga. "Aku keluar lagi, Daddy!"
Vicky mendongakkan kepalanya sambil terus memanggil pria itu. Tubuh mungilnya gemetaran hebat. Cairan pelepasannya menyembur kemana-mana, membasahi tubuh Evander yang ada di bawahnya. Pria itu pasti mengerti apa yang dilakukannya karena Vicky bisa merasakan kehangatan pelepasannya muncrat keluar tanpa henti.
"Seorang squirter rupanya kau, Baby? Luar biasa," pria itu berkomentar.
Tak lama, Evander akhirnya membiarkan dirinya sendiri klimaks. Vicky melenguh ketika merasakan semburan dari kejantanan Evander di dalamnya. Cairan kental berwarna putih itu membanjiri celahnya. Satu semburan disusul semburan lain hingga lendir pria itu merembes dan meleleh keluar karena tidak lagi bisa tertampung di dalam.
Ketika Evander akhirnya berhenti, pria itu bergidik pelan dan menarik tubuh Vicky dari atas pangkuannya.
Hampir Vicky berhenti bernapas ketika melihat kekakuan Evander ketika pria itu ikut berdiri. Benda itu masih tegak berdiri. Evander sepertinya masih belum selesai!
Evander menjambak rambut Vicky dan menarik gadis itu ke lantai.
"Berlutut di atas kaki dan tanganmu," pria itu memberi perintah.
Dengan kegirangan, Vicky menurut. Tangan dan pahanya gemetaran. Celahnya lengket penuh oleh lendir. Wajahnya belepotan, tapi ia masih merasa kurang.
Evander ikut berlutut di belakang Vicky. Kemudian sekali lagi, pria itu menyelinapkan kejantanannya ke dalam celah sempit yang ada di depannya.
Kali ini Vicky bisa merasakan setiap senti benda itu di dalamnya. Kembali meregangnya hingga batas maksimal.
"Aku akan menyetubuhimu sepanjang malam hingga kau tidak bisa berdiri, Slut. Apa kau mengerti?" Evander menggeram.
"Oh yeah, Daddy," Vicky menjerit sementara pria itu menjejalkan kejantanannya lebih dalam. "Penuhi aku hingga cairanmu menetes keluar dari semua celahku, Daddy."
Vicky tidak bisa menahan rasa girangnya sekarang. Akhirnya mimpinya menjadi kenyataan.
~FuckVicky: THE END~





