“A bond between souls is ancient — older than the planet.” — Dianna Hardy
***
Kumba menatap langit senja yang berwarna jingga. Entah mengapa ia begitu menyukai suasana senja.Sisa-sisa hangat mentari yang menyapu kulit memberikan sensasi tersendiri akan sebuah kenangan masa lalunya. Ya...kenangan di kehidupannya yang lampau. Menyeramkan bukan, ketika suatu pagi dirimu terbangun dan mendapati semua kenangan masa lalumu dengan seseorang yang begitu kau cinta terlukis jelas dalam ingatanmu, hingga kau merasakan kehadirannya di setiap jalan ataupun tempat yang pernah ia datangi.
Kumba, seorang pengusaha muda yang sedang merintis usaha kuliner rumahan, sebulan yang lalu terbangun dari tidurnya karena sebuah mimpi yang membuat hari-harinya berubah total. Dalam mimpinya , ia memeluk seorang gadis mungil dengan mata indah yang mempesona. Ia bahkan sempat mencium kening gadis tersebut sambil berujar bahwa ia adalah kembaran jiwa gadis itu. Kejadian mengejutkan terjadi ketika ia bangun tidur setelahnya. Kelebatan masa lalunya bersama gadis di dalam mimpinya mulai bermunculan seperti slide film. Silih berganti dengan berbagai adegan bahagia hingga kesedihan dan kemarahan.
Ia mengingat aroma wangi tubuh gadis itu ketika bergelayut manja dilengannya. Ia merasakan kehangatan ketika gadis itu memeluknya dari belakang di sebuah pesta meriah. Ia juga merasakan nafasnya yang menderu ketika mengejarnya di kala gadis itu marah kepadanya dan memutuskan untuk pergi. Bahkan rasa sakit melihat gadis itu menangis pun terasa menyiksanya.
Semakin aneh dan menyiksa karena ia merasakan kerinduan yang begitu dalam. Kumba mampu merasakan apa yang sedang dirasakan gadis itu walaupun ia tidak tahu dimana kini gadis dalam mimpinya itu berada. Namun, di belahan bumi manapun gadis itu tinggal, ia bisa merasakan kesedihan, kegembiraan dan kemarahannya. Kumba bisa tiba tiba tersenyum sendiri, atau bahkan merasa begitu kesal dan sedih. Ia tahu makanan kesukaan gadis itu, apa yang suka ia lakukan, warna favoritnya, hewan kesayangannya dan apa yang membuatnya bahagia. Kumba tahu semua.
Ketika Kumba melangkahkan kakinya kemana pun, ia juga dapat mengetahui jika sebelumnya gadis itu pernah melewati jalan yang ia lalui. Begitu pula jika ia berkunjung ke suatu tempat. Ia merasakan kehadiran gadis itu tepat sebelum ia mendatangi tempat tersebut. Aneh bukan? Kumba merasa seolah olah ia adalah cenayang.
Namun satu kenangan yang tidak dapat ia ingat adalah kenangan tentang senja. Mengapa ia jadi begitu menyukai suasana senj?. Sesibuk apa pun, ia akan menyempatkan dirinya untuk menikmati senja di luar ruangan. Menghirup udara di waktu senja yang terkadang bercampur dengan bau tanah sehabis hujan memberikan kesan damai tersendiri untuknya. Merasakan hembusan angin yang seolah ingin menerbangkan dirinya ke suatu masa dimana ia merasakan keindahan cinta. Senja, menjadi rahasia untuk dirinya.
Sambil menikmati senja kali ini, Kumba berjalan melewati sebuah taman dengan pepohonan rindang di kanan kiri jalannya. Riuh rendah suara anak-anak yang akan pulang dari bermain tidak menghalangi Kumba untuk terus melangkah. Ia tidak tahu kemana kali ini langkahnya akan terhenti. Ia mengikuti instingnya untuk berbelok di sudut taman ke arah pertokoan. Ia mematung sebentar, menatap deretan toko seolah olah mencari sesuatu. Ia lalu tersenyum lega ketika mendapati sebuah toko perhiasan antik masih buka . ia bergegas mempercepat lajunya , khawatir toko itu akan segera tutup.
Bunyi bel berdenting ketika Kumba memasuki toko itu. “ Hai, paman” sapanya pada seorang laki laki tua dengan janggut putih. “Kumba!” lelaki yang dipanggil paman tersebut terlihat begitu gembira ketika Kumba mengunjungi tokonya. Ia lalu memeluk Kumba denga erat. “Apa kabar? Bagaimana kabar ayah ibumu?” tanyanya dengan bersemangat.
“ Baik paman. Kabarku baik, begitu pula ayah dan ibu” Jawab Kumba. “Paman dan bibi serta anak anak paman bagaimana kabarnya?” Kumba balik bertanya. “Mereka baik baik semua. Mereka sedang sibuk menyiapkan makan malam di atas. Kamu harus makan disini hari ini. Kamu kan sudah lama tidak mengunjungi paman. Padahal kata ayahmu kamu sudah tiga bulan di Kota ini, eh baru sekarang kamu datang” Oceh Paman Kumba. Kumba terkikik melihat amarah pamannya. “Paman Kala ini kalau sudah ngoceh susah berhentinya” canda Kumba.”Aman paman, aku akan makan malam disini. Jangan lupa teh rempah kesukaanku yang biasa bibi buat juga harus ada.” Lanjutnya dan lelaki tua yang bernama Kala itu tertawa senang. “Ayo kita keatas” Ajaknya sumringah.”Pasti bibimu akan terkejut melihatmu” Paman Kala menarik tangan Kumba ke arah tangga.
“Ayo, paman!” balas Kumba tak kalah bersemangat. Ia melewati etalase etalase kaca yang berisi perhiasan perhiasan antik milik pamannya. Beberapa dari perhiasan itu sudah cukup usang hingga harus di cuci terlebih dahulu agar warnanya kembali berkilau. Ketika melewati etalase sebuah kalung dengan liontin bergambar api berhiaskan permata berwarna oranye dan biru, Kumba menghentikan langkahnya. Ia teringat gadis dalam ingatan masa lalunya memakai kalung itu.
“Paman” ia memanggil pamannya yang sudah sampai di ujung tangga.Demi mendengar panggilan keponakannya, Paman Kala turun kembali. Ia mendapati Kumba memandang tak berkedip ke sebuah kalung dengan liontin unik. Ia lalu menghela nafas panjang. “Itu adalah kalung “twinflame”. Itu milik keluarga kita. Konon katanya itu milik seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya” Paman Kala menjelaskan secara singkat asal usul kalung tersebut.
“Bolehkah aku membelinya?” tanya Kumba spontan. Paman Kala membuka etalasenya dan mengambil kalung tersebut. “Ambillah. Ini pusaka keluarga. Anggap ini hadiah dari paman untuk calon istrimu kelak” ujar Paman Kala sambil tersenyum.Kumba menerimanya dengan ragu.”Apakah tidak menjadi masalah jika aku menyimpannya?” tanya Kumba sambil memandangi keindahan kalung itu. Paman Kala menepuk bahu Kumba. “Menurut cerita kuno di keluarga kita, jika seorang pria dalam keluarga kita menginginkan kalung ini, berarti sebentar lagi ia akan menemukan kembaran jiwanya. Dari sekian banyak keponakanku yang mengunjungiku, hanya kamu yang meminta kalung ini. Jadi, ambilah. Kalung ini berjodoh denganmu.”
Kumba mengucapkan terima kasih kepada pamannya. Matanya berbinar-binar melihat kalung yang kini berada di genggamannya. “Oh iya paman, tadi paman bilang tentang kembaran jiwa. Istilah apa itu?” Tanya Kumba penasaran. Paman Kala tersenyum penuh arti. “ Paman tidak bisa menjelaskannya Kumba, karena itu sebuah hubungan spiritual yang paman sendiri pun tidak mengerti bagaimana cara kerjanya. Kamu hanya harus menunggu. Itu saja” Kali ini Kumba mengangguk dan mengikuti langkah pamannya menuju lantai atas sambil bergumam dalam hati “Kembaran jiwa. Lagi-lagi istilah itu muncul. Apa sih kembaran jiwa itu?”





