TWIN FLAME

“I hear them say 'Why do I miss someone I haven’t even met?' How about not missing someone because it feels like they’ve been with you all along?”

― Nicola An, 'The Universe at Heartbeat'.

***

Kanya berjalan gontai memasuki kantornya dan bergegas menuju ruang siaran, karena ia akan segera mengudara. Gara-gara mimpi aneh yang berulang, ia jadi kurang tidur. Di tambah, sakit kepalanya yang tiba-tiba datang membuatnya jadi sedikit lemah. Namun, ia tahu ia mempunyai kewajiban dalam pekerjaannya. Lagipula, ia suka bekerja di radio. Ia dapat bekerja dengan santai sambil mendengarkan lagu. Terkadang ia juga berkesempatan bertemu orang-orang hebat untuk ia wawancarai di acaranya. Sungguh, ini adalah pekerjaan yang mengasyikkan selama ia mengenal dunia kerja.

“Woii....Kanyaaaa!!!” Suara Mina si operator lagu sekaligus sahabat Kanya menggelegar ketika Kanya memasuki ruang siaran.

Kanya memegangi dadanya karena terkejut. Ia lalu mentap Mina dengan judes. “Wai...woi..wai..woi! Jantungan aku!” protes Kanya dan Mina tertawa terbahak bahak.

“Aku senang banget lihat kamu semangat kerja , Nya. Datang on time, nggak banyak protes soal lagu. Uh...gemesin!” Mina mencubit kedua pipi Kanya dengan gemas. Kanya mengusap pipinya yang terasa sakit.

“Giliran datang on time dikomentari, datang telat apalagi” Kanya manyun dan Mina sekali lagi tertawa melihat tingkah sahabatnya.

“Iya iya, sebagai permintaan maafku, nanti kita nongkrong cantip di cafe baru yang kemaren kita diskusi itu. Cafe apaan sih namanya? “ Mina berusaha mengingat nama cafe baru yang promosinya ada di mana-mana, baik di radio, dan di media sosial.

“Cafe Atlantiz?” tebak Kanya.

“Nah itu!” Mina mengiyakan. “Cafe Atlantis. Kayak nama kapal yang tenggelam aja, deh.”lanjutnya dan Kanya tertawa geli.

“Kapal yang tenggelam itu Titanic, Mina! Kalau kota yang hilang, baru namanya Atlantis.”ralat Kanya dan Mina ikut tertawa.

“Oh iya! Biasa, belum ngemil, jadi bawaan nggak fokus.” Mina berkilah, menutupi rasa malunya karena alah menyebut antara Titanic dan Atlantis.

“Tapi kamu yang traktir ya, kan udah bikin aku jantungan soalnya” rajuk Kanya dan Mina emngacungkan jempol tanda setuju.

“Eh mau lagu pembuka apa nih? Jam segini enaknya sih lagu yang syahdu melow dan romantis” saran Mina.

“Kita program coffe break kan nih? Berarti ngasih info ringan ringan aja kan?” Kanya memastikan dan Mina mengangguk.

“Informasi yang mau aku baca mana aja nih? “ Kanya membolak balik kertas di atas meja Mina.

“ Yang ini. “ Mina menyerahkan beberapa lembar kertas ke Kanya.

”Oke , sip!” Kanya langsung duduk di singasana kebesarannya, sementara Mina mulai bersiap siap dengan mixer-nya. “Hm...request lagu pembuka,dong” Tiba-tiba Kanya ingin mendengarkan sebuah lagu.

“Iya boleh, lagu apa?” tanya Mina.

“Lagu ‘Rinduku’-Ghea” jawab Kanya dan Mina tersenyum simpul.

“Duh...yang lagi kangen sama tunangan” ledek Mina.

Kanya tersenyum hambar. “Kangen Asad?” Ia menyebut nama tunangannya dalam hati.

Sayangnya, sedikit pun ia tak merasakan kerinduan pada Asad. Ia merindukan sosok pria dalam mimpinya. Sosok pria yang terasa begitu dekat dengannya. Bahkan, tanpa bertemu pun ia tahu bahwa ia mencintai pria itu jauh dari sebelum ia menjalin asmara bersama Asad. Perasaan yang aneh, namun menyenangkan. Seolah ia ditantang untuk menyelami lautan luas tanpa tepi.

Dari hari ke hari, kerinduan itu semakin menggebu-gebu. Kanya seolah-olah melihat kilasan perjalanan kisah kasih antara dirinya dan pria berlesung pipi di dalam mimpinya itu. Ketika ia melewati sungai, ia tiba tiba merasakan kehadirannya dan pria itu pada suatu masa. Ia sekilas merasakan sejuknya air saat ia dan pria tersebut merendam kaki di tepi sungai. Sewaktu ia menemani mamanya ke pinggir kota dan beristirahat di pinggir jalan, ia tahu bahwa dulu ia dan pria dalam mimpinya juga pernah melakukan hal yang sama dengannya saat itu, yaitu duduk santai dipinggir jalan sambil bercanda.

Ia juga mampu merasakan sentuhan lembut ketika pria itu menyeka keringat di dahinya, menghapus sisa mkanan di bibirnya dan membelai tangannya ketika hatinya sedang merasa gundah. Sentuhan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Asad, tidak pernah seromantis itu padanya. Kanya juga terkadang dapat merasakan kehangatan mengelilinginya, seolah pria itu mendekapnya erat. Ia merasakan dirinya dipenuhi oleh cinta, berjuta cinta yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Nyaman dan aman. Itulah yang selalu ia rasakan ketika ia teringat pada sosok yang entah siapa nama dan dimana tinggalnya atau bahkan apakah sosok itu hidup atau tidak.

Lalu, lamunannya buyar ketika matanya menatap cincin emas yang melingkar anggun dijari manisnya. Walaupun kemungkinan bertemu pria dalam mimpinya adalah nihil, namun entah mengapa perasaannya begitu dalam dan ia merasa mengkhianati Asad. “Huff” Kanya menghembuskan nafas menyembunyikan kegalauannya. Ia jadi ingin memikirkan ulang tentang pertunangannya. Iya, memikirkan ulang. Pria dalam mimpinya itu sangat berbeda jauh dengan Asad. Benar-benar pria idamannya. Lalu Kanya menggeleng cepat. “Jangan gila, Kanya.”ingatnya pada dirinya sendiri.

Namun, Kanya tahu bahwa setiap hal pasti memiliki kemungkinan.“ Bagaimana jika pria itu nyata?” gumamnya. “Jika dia nyata, apakah dia juga merasakan seperti yang aku rasakan? Aku harus bagaimana jika akhirnya bertemu dengannya? Apakah aku harus pura-pura tidak mengenalnya? Atau aku justru harus menjauhinya? Lalu asad bagaimana? Apakah ia harus melepaskanya?” dalam kegundahan hatinya, suara mendayu nan merdu Ghea mengalun indah melantunkan lagu “Rinduku”.

Rindu. Ia merasakan rindu yang berbeda. Rindu akan sesuatu yang dia sendiri tidk mengetahuinya pada siapa rindu ini akan berlabuh. Hanya dengan mengingat sekilas mimpinya saja, ia merasakan desir-desir indah dalam hatinya. Jiwanya seakan bernyanyi dan menjadikan kerinduan itu sebuah irama penuh misteri. Bukan, bukan rindu yang menyiksa hingga ia sulit bernafas. Bukan pula rindu yang membuat air matanya jatuh berderai. Ini sebuah kerinduan tentang kisah asmara yang berbalut ketulusan. Ini rindu tentang hujan yang membuat dua insan saling berpelukan. Rindu tentang gemericik air terjun yang membuat dua jiwa bebas berlari melintasi rintangan. Rindu tentang deru angin yang menhempaskan semua beban. Ini rindu yang penuh mimpi-mimpi dan harapan.

Kanya menatap jauh ke depan dengan pandangan kosong. Entah apa yang membuatnya menikmati setiap inci kerinduan yang menyelimutinya saat ini. Apakah ia berhalusinasi? Atau bahkan sudah gila? Kanya akhirnya hanya terdiam menghayati lagu dengan lirik melankolis tersebut. Sesekali ia menarik nafas mencoba mengempaskan kegundahannya. Ia bingung dengan semua kejadian yang menghampirinya dan menimbulkan banyak pertanyaan yang belum tentu dapat terjawab dengan akal sehat. “ Apakah aku punya kehidupan masa lalu yang belum usai?” tanyanya dalam hati. “Apakah ini sebuah karma?” Lanjutnya, namun tetap ia tak tahu apa jawabannya. Rasanya aneh ketika merindukan seseorang yang sama sekali belum pernah ditemui di kehidupan nyata, namun terasa sudah mengenalnya begitu lama. Keanehan yang nyaman.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.