Desa Pandan Sari geger.
Tubuh Aisyah ditemukan di antara rerimbunan pohon bambu yang gelap, dan anehnya Aisyah meringkuk di tengah rerimbunan pohon bambu itu, seakan dia melompat dari atas dan jatuh di tengah rumpun bambu yang lebat itu.
Tubuh Aisyah penuh luka lecet. Kaki dan tangannya tergores serat bambu yang tajam. Dan bibirnya ... oh, bibirnya yang sumbing sobek terkena duri dan sumbing itu menghilang, membuat bibir Aisyah kembali normal, walaupun sobekan itu membuat wajah Aisyah tertutupi oleh darah kering yang cukup banyak.
Posisi tubuh Aisyah cukup aneh, dengan kaki yang tertekuk ke dalam, dan ketika orang-orang mengangkat tubuh Aisyah yang kurus dan kecil itu, terdengar bunyi gemeretak tulang dari kaki Aisyah.
"Patah?" tanya seseorang. Mereka berpandangan dan saling mengangguk.
"Iya, patah! Lihat, Pak, panjang kakinya sekarang sama. Bukankah kalau berjalan kaki Aisyah selalu kelihatan lebih panjang sebelah," bisik orang lainnya.
Mereka berpandangan lagi, dan terlihat agak takut, sehingga mereka buru-buru membawa Aisyah ke dalam ambulans yang membawanya ke rumah sakit. Kepergian Aisyah membuat kampungnya sepi dan hening. Hening dan mencekam.
"Tadi orang-orang mengira Aisyah jadi tumbal," bisik Tarno, yang waktu itu menunggu rumah Aisyah bersama dengan teman-temannya.
"Halah, ngawur kamu, No!"
"Iya, Tarno itu kalau belum ngrokok, ngomongnya suka ngarang!"
Teman-teman Tarno mengejek Tarno yang memang suka bercanda dan bicara tidak jelas.
"Ya, itu, kan cuma katanya saja. Yang sebenarnya aku juga nggak tahu," kata Tarno sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka semua tertawa.
"Nah, benar, kan? Tarno, tuh suka ngawur."
"Ckck, tak kirain beneran, No!"
"Eh, No, bagaimana orang-orang tahu kalau Aisyah itu jadi tumbal dan bukan bunuh diri atau dibunuh orang?"
"Nah, bener itu. Lagipula siapa yang ngomong kalau Aisyah itu tumbal?"
Tarno mengangguk dengan sombong.
"Yang pertama, Aisyah terlihat berlari dengan ceria keluar rumah pada hari kematiannya. Bukankah Aisyah tidak pernah terlihat keluar rumah? Apalagi terlihat ceria. Dua hal yang sangat jarang dilalukan Aisyah itu sangat mencurigakan. Yang kedua Aisyah pasti melompat dari tempat yang tinggi, sehingga dia mendapat luka separah itu, bahkan sampai meninggal. Dan tempat melompatnya itu dari mana, kok dia bisa jatuh di tengah rumpun pohon bambu? Apa mungkin dia bisa naik pohon bambu dan menjatuhkan diri dari pucuk pohon bambu, padahal kaki Aisyah, kan cacat, berjalan saja sulit, apalagi naik pohon bambu. Ataupun kalau memang Aisyah diculik, apa mungkin penculiknya membawa Aisyah ke pucuk pohon bambu dan menjatuhkan Aisyah ke tengah rumpun bambu?"
Mereka terdiam dan berpandangan. Sebagian berpikir perkataan Tarno tadi benar juga, sebagian yang lain berpikir dari mana Tarno bisa berpikir secerdas itu. Bukankah biasanya Tarno itu lelaki kebanyakan, yang hanya memikirkan masalah makan dan uang?
"Kamu diberitahu siapa, No?" tanya Pak Supri, sambil mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Tarno tersenyum.
"Panjenengan kira saya bodoh nopo, Pak?" tanya Tarno dengan mencibir. Pak Supri tertawa.
"Nggak, No. Aku sama sekali nggak mengira kamu bodoh. Aku hanya nanya, lo tadi. Kamu bisa tahu informasi itu dari mana?" tanya Pak Supri dengan tenang.
Tarno mendengus. Dia berusaha menahan diri untuk tidak memberitahukan nama orang yang meminta Tarno mengatakan hal itu kepada teman-temannya. Tarno mengangkat bahu.
"Saya melihat-lihat, Pak. Saya mempelajari keadaan dan fakta. Lalu saya simpulkan sendiri," jawab Tarno sambil tersenyum dan mencoba tenang, mencoba terlihat cerdas dan meyakinkan.
"Wih! Mantep bener kamu sekarang, No. Kamu sudah pintar sekarang, ya?" seru seseorang.
"Kalau dipikir, ya, bener juga perkataan Tarno. Pastilah ada hal gaib atau mungkin ada mahluk halus yang membawa Aisyah ke dalam rumpun bambu itu."
"Wah, sekarang Tarno sudah pintar, nih!"
Mereka ribut membicarakan Tarno dan kasus Aisyah, sehingga tidak memperhatikan ada beberapa orang wanita yang keluar dari dapur sambil membawa makanan ringan dan minuman untuk mereka.
"Monggo, Pak, sambil diicip untuk obat ngantuk," kata salah seorang di antara para wanita itu.
"Nggih, matur nuwun, Bu," jawab Tarno dan teman-temannya, mereka segera menghabiskan makanan dan minuman yang ada di depan mereka. Mereka sangat bersyukur karena ternyata tetangga mereka masih memperhatikan mereka yang sudah menunggu lama di rumah Aisyah ini.
Menjelang malam, beberapa orang mendatangi rumah Aisyah.
"Pak, kopi, Pak?" seru seorang tetangga kepada Tarno dan teman-temannya.
"Mboten, Bu. Sampun wau, (Nggak usah, Bu. Sudah tadi,)" jawab Pak Supri.
"Ah, nggak usah malu, Pak. Ini kami bawakan ketela dan kacang rebus juga," kata salah seorang di antara tetangga-tetangga mereka yang baru datang.
"Masih kenyang, Bu. Tadi sudah makan lontong sayur. Nih, piringnya saja masih belum dibawa ke dapur."
"Hih! La beli di mana?"
"Kok beli? Tadi, kan ada yang masak di dapur, to, Bu? Semua makanan dan minuman ini, kan dibawa dari dapur semua," kata Pak Supri.
Ibu-ibu yang baru datang berpandangan gugup.
"Astaghfirullah, bener, Pak?"
Sekarang giliran bapak-bapak yang berpandangan gugup.
"Maksudnya apa, Bu?"
"Maksudnya itu, kami diminta ke sini besok pagi, karena Aisyah akan dibawa pulang besok pagi. Jadi waktu kami lihat masih ada bapak-bapak di sini, kami berinisiatif untuk membuat camilan di rumah saya, Pak. Bukan di sini," kata salah seorang ibu yang datang.
Sekarang mereka semua berpandangan panik. Mereka berpikir kalut. Kalau memang bukan dari dapur, mungkin makanan dan minuman yang sudah mereka makan tadi, dibawa dari rumah warga, tetapi nalarnya kalau makanan itu dibawa dari rumah warga, maka kenapa makanan itu dibawa dari dapur rumah Aisyah.
Beberapa orang beristighfar. Tarno buru-buru menuju ke dapur, diikuti oleh orang-orang yang lain yang juga penasaran, dan perkataan ibu-ibu tadi terbukti benar. Tungku dapur di rumah Aisyah bersih dan dingin. Tidak ada terlihat bekas memasak sama sekali, lagipula panci, cerek dan perlengkapan dapur lainnya juga terlihat bersih dan tidak terlihat bekas hitam jelaga karena telah dipakai.
"Astaghfirullah! Lalu ibu-ibu yang membawakan makanan untuk kita tadi siapa?"
"Ibu-ibu? Orangnya banyak?"
Wajah bapak-bapak terlihat panik dan mengangguk bersamaan.
"Lalu tadi makanan yang kita makanan itu apa, Pak? Apa makanan manusia betulan?"
****
Ratih menangis di sebuah ruang rawat kecil di lereng Gunung Arun. Dia dan dua puluh tiga temannya terpaksa harus diungsikan ke tempat terpencil ini agar tidak menimbulkan kehebohan dan berita hoax, yang akan merugikan semua pihak. Ratih termasuk ke dalam kelompok dua puluh empat wanita yang hamil bersamaan, dari kota kecil bernama Pajang. Padahal Ratih belum menikah dan belum pernah dekat dengan pria mana pun. Dan itulah yang membuat Ratih sangat sedih, takut dan bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
Sejak pertama sampai di sebuah lembaga sosial yang menampung dua puluh empat wanita hamil itu, Ratih sudah menangis tanpa henti. Dia takut orang tuanya tahu apa yang terjadi pada dirinya, dan mereka akan sangat terkejut dan mungkin pingsan atau bahkan sakit.
"Ya, kalau orang tuamu tahu tentang kehamilanmu, bilang saja kamu punya pacar dan melakukan suatu hal hingga melampaui batas," kata Wati teman Ratih dengan ringan.
"Hush! Kamu, kan sudah punya suami. Gampang bilang seperti itu!" seru seseorang mengingatkan Wati. Wati mencebik.
"Maksudku, ya jangan nangis terus, dong, Mbak. Kita, kan semua sama di sini dengan nasib yang sana. Kenapa mesti nangis terus? Nangis sekali dua kali boleh, dong, tetapi habis itu udah, gitu, lo maksudku. Habis itu kita mikir solusinya gimana," kata Wati dengan nada marah dan wajah mencebik.
Ratih hanya bisa menangis lagi. Dia memang cengeng dan khusus untuk masalah ini, dia selalu menangis setiap malam. Membuatnya selalu sembab dan terlihat kuyu.
****
Setiap pagi mereka diambil darahnya, di cek kesehatan tubuhnya secara umum dan menyeluruh.
"Buat apa, sih, Pak?" tanya Nita pada petugas kesehatan yang bertugas mengambil darah pagi itu. Sang bapak tertawa.
"Entahlah, Bu. Kami hanya diminta mengambil sampel darah dan membawanya ke laboratorium, Mbak. Selebihnya kami tidak tahu."
"Pak, kalau pengen ke luar dari sini, bilang sama siapa, Pak?" tanya Wati.
"Wah, apalagi itu. Saya tambah nggak tahu, Mbak," jawab sang bapak dan buru-buru pergi dari situ.
Mereka berpadangan gelisah dan mengembuskan napas panjang. Ya, mereka harus menghabiskan waktu satu hari lagi di dalam rumah ini lagi. Sebenarnya rumah yang mereka tinggali sangat bagus. Rumah modern semacam villa berlantai yang sangat luas, lengkap dengan kolam renang dan halaman yang juga sangat luas, tetapi sayangnya pagarnya rapat dan tinggi mengelilingi mereka. Dan walaupun fasilitas di rumah mewah itu sangat lengkap, tetap saja mereka bosan dan sangat ingin keluar dari rumah itu.
"Bagaimana kalau kita melarikan diri saja?" tanya Ika dengan wajah penuh semangat.
Mereka berpandangan.
"Kamu tahu ini di mana?"
Ika mencebik dan mengangguk.
"Iya, Mbak. Gunung Arun," jawab Ika dengan sebal. Wati nampak mengembuskan napas panjang. Di tahu Gunung Arun terletak sangat jauh dari Pajang, tempat tinggal mereka.
"Aku juga kadang ingin melarikan diri dari sini. Rasa bosan dan rindu pada keluargaku rasanya tak tertahan lagi ...." Wati menitikkan air mata yang buru-buru diusapnya. Ika merangkul Wati.
"Aku juga, Mbak. Makanya aku ingin keluar dari rumah ini dan pulang ke rumah. Aku lelah di sini," bisik Ika.
Mereka berdua saling tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi wajah mereka.
"Ah, sedihnya di sini terus. Tidak bisa di rumah, tidak ke kantor. Oh, ya, siapa saja yang tidak ikut dengan kita di sini? Sepertinya hanya ibu-ibu yang kerja di dapur dan bagian kebersihan, ya? Mereka sepertinya sudah terlalu tua untuk hamil ...."
"Nala juga. Dia, kan baru melahirkan," potong Ika. Wati agak terkejut. Dia merasa agak kurang nyaman.
"Oh, ya, Nala, ya?" kata Wati dengan agak pelan.
Ah, Nala. Seorang wanita yang selalu nyinyir dan mengomentari temannya, sehingga membuat Nala dibenci oleh semua orang, termasuk Wati. Dan tiba-tiba saja Allah membalik semua keadaan. Tiba-tiba saja Nala hamil di luar nikah dan buru-buru menikah dengan seorang lelaki entah siapa, dan sejak saat itu Nala selalu menjadi bahan pergunjingan semua orang di kantor. Nala menjadi bahan perbincangan semua orang.
Ika dan Wati berpandangan. Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang ganjil dengan Nala.
"Apa karena Nala?" bisik Ika, tetapi kemudian terdengar teriakan-teriakan histeris dari ruang tengah, tempat mereka menonton televisi, mereka berdua segera berlari menghampiri keributan itu.
"Itu Nala!" kata seseorang sambil menunjuk ke arah televisi. Semua melihat ke arah televisi dan melihat Nala sedang dilantik menjadi kepala cabang bank tempat mereka bekerja.
Ika dan Wati berpandangan tajam. Berarti benar dugaan mereka, kasus aneh ini pasti karena Nala. Tetapi ketika Ika hendak berbicara, seorang wanita menuruni tangga dengan tergesa. Wajahnya nampak berbinar.
"Aku tahu caranya, agar kehamilan ini menghilang! Aku tahu caranya!" teriak wanita bernama Juwita itu. Semua memandang ke arah Juwita dengan takjub, heran dan sebagian besar tak percaya.
Tiba-tiba pintu dapur terbuka dengan sangat elegan. Membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita setengah baya yang terlihat sangat anggun, membuka pintu dapur lebar-lebar dan kemudian muncul wanita-wanita muda berseragam dari dalam dapur dengan membawa troli makanan.
Wanita sepuh itu tersenyum hormat.
"Tea break," kata wanita sepuh itu dengan anggun.
Wanita-wanita di dalam ruang tengah saling berpandangan heran. Tea break? Sejak kapan ada tea break? Biasanya mereka diminta sarapan, makan siang dan makan siang malam begitu saja, tanpa pernah ada pelayan seanggun wanita itu, apalagi tea break. Belum pernah mereka ditawari tea break seperti itu.
Tiba-tiba seseorang maju mendekati wanita sepuh itu.
"Dari mana ibu masuk?" tanya Rani dengan suara tegas.
"Dari belakang, Bu," jawab wanita itu dengan wajah tetap tenang dan terlihat profesional.
"Ibu berarti punya kunci pintu belakang, ya? Karena saya diberi tugas membawa kunci pintu belakang. Lagipula saya dan teman-teman dari tadi di halaman samping dan halaman belakang, sepertinya tidak ada orang yang lewat di halaman samping ataupun halaman belakang."
****





