Macet.
Seharusnya aku pergi menggunakan motor saja tadi. Aku sudah punya feeling kalau hari ini akan macet total. Sial. Tapi karena kakak perempuanku yang takut terjadi sesuatu pada adiknya terus menyuruh untuk menggunakan mobil. Dan di sinilah aku, terjebak macet yang panjang. Bakal butuh waktu dua jam ke kampus kalau seperti ini, padahal kalau menggunakan motor bisa saja tiga puluh menit.
Aku memijat pelipisku. Menyelipkan rambut di telingaku. Dan mulai mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ujung jari, mengiringi musik yang mengalun. Saat aku sedang asik mendengarkan lagu, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak. Aku menaruh perhatian pada kedua orang yang sedang berteriak tersebut, dan membuka kaca mobil sedikit agar bisa mendengar lebih jelas.
“Ada apa di depan?” tanya sopir taksi
“Ada kecelakaan. Satu pengendara motor tewas, badannya cukup hancur,” balasnya berteriak.
Aku segera menutup kaca mobil. Kecelakan. Tewas. Pilihan yang tepat Kak Risya menyuruhnya untuk menggunakan mobil saja. Mungkin mobil memang lambat, tapi cukup aman.
Untuk kedua kalinya ponselku berdering. Tidak lain dan tidak bukan, temanku yang cerewet akan mengomeliku karena terlambat. Atau aku bisa saja menghindari omelannya dengan tidak mengangkat telepon darinya. Oke, pilihan kedua menarik.
Namun dia terus-terusan meneleponku.
“Apa?”
“Ra, ada anak baru yang nanyain kamu.”
“Hah? Siapa?”
“Radeka Arkaan. Kamu kenal dia?”
“Enggak,” balasku. “Ya udah aku akan segera ke sana, tapi sekarang lagi terjebak macet. Sabar saja. Dan sungguh, aku nggak kenal sama cowok itu.” Aku mematikan telepon darinya karena mobil di depan sudah mulai berjalan. Dan mobil di belakang tidak sabaran.
---
Ternyata tidak memakan waktu dua jam untuk sampai ke kampus. Satu jam cukup, ya syukurlah karena Oki terus-terusan meneleponku. Bukan tentang cowok itu lagi, tapi karena ia bingung harus ambil Mata Kuliah apa semester ini karena ia hanya dapat 21 SKS.
“Aku datang, ada apa?” tanyaku ketika aku sampai di depan jurusan.
“Sebaiknya aku ambil Mata Kuliah apa, Ra?”
Aku memutar bola mataku. Jangankan untuk memberi saran untuknya, untuk mengisi KRS-ku saja aku harus menanyai beberapa teman yang tidak akrab denganku. Aku juga bingung.
“Tanya Kak Helmi aja, Ki. Aku beneran gak ada saran, mungkin bagus ambil pilihan atau mungkin wajib, gak tahu deh.”
Oki berdiri dan langsung masuk ke ruang jurusan yang dipenuhi oleh banyak orang. Sepatu berserakan di depan ruangan. Cowok dan cewek mondar-mandir seraya membawa kertas di tangannya. Tanya ke sana-sini dengan gesit.
Aku mengambil tempat duduk Oki tadi, dan duduk di samping Via. Teman akrabku yang satunya lagi. Hari ini ia memakai celana jin biru dengan blouse pink yang cantik, cocok dengan kulit putihnya.
Aku kembali mengedarkan pandanganku pada sekeliling. Kurasa hanya aku yang terlihat santai-santai saja hari ini. Mereka semua terlihat sangat sibuk mengurusi jadwal yang tabrakan dengan Mata Kuliah yang lain. Sedangkan aku hanya menunggu, karena menurutku untuk apa aku juga masuk ke ruang jurusan kalau tujuan kami semua sama. Biarkan mereka saja yang mengurusnya.
“Tadi ada cowok dan cewek yang nanyain kamu, Ra.” Via bersuara agak nyaring karena sekeliling kami berisik.
“Siapa?” balasku.
“Rara,” teriak seseorang.
Aku menoleh ke sumber suara. Ah, aku mengenalnya. Gadis yang kemarin. Kalau tidak salah namanya Hani. Dan aku baru memperhatikannya, ia memiliki senyum yang bagus dan rambut sebahu dengan ujungnya yang agak keriting.
Juga ada seorang cowok di sampingnya, ia juga tersenyum ke arahku.
“Aku udah lama nungguin kamu.” Ia melihatku dan masih mempertahankan senyum manis miliknya.
“Oh ya? Sori, aku terjebak macet tadi.” balasku. Via menyikutku sedikit. “Ah, dan ya ini temanku Olivia Diana Rista.”
“Hai, panggil saja Via.” Sapa Via.
“Panggil saja Hani,” balas Hani. “Dan ini temanku yang kubilang kemarin. Dia pindahan dari Bandung, dia akan satu jurusan sama kalian, namanya—”
“Aku bisa memperkenalkan diriku sendiri, Han.” potongnya yang membuat Hani mengerucutkan bibirnya. Pemuda itu tertawa geli, kemudian menaruh perhatian penuh padaku. “Radeka Arkaan, kalian bisa panggil aku apa aja. Sayang juga boleh.” Ia bercanda. Kami semua tahu.
“Deka.” Hani memelototi temannya itu.
“Jadi, ini Rara yang udah nolongin Shilla kemarin?”
Aku mengangguk pelan.
“Terima kasih,” ujarnya tersenyum dengan tulus.
Aku memperhatikan pemuda itu. Dia tinggi. Hani yang berdiri di sampingnya hanya sebatas bahunya saja, mungkin aku akan sebatas lehernya jika berdampingan dengannya. Pipinya sedikit tirus hingga memperjelas tulang pipinya sedikit. Alisnya tebal, matanya cokelat, bulu mata lentik, dan senyumnya cukup memesona. Seperti keturunan Timur Tengah, kalau bisa aku menjelaskannya dengan singkat.
Aku tersenyum. “Aku sudah menerima banyak ucapan terima kasih, tidak perlu mengatakannya lagi.”
“Tapi belum dariku.” Dia menaikkan kedua alisnya.
“Oke, terima kasih kembali,” balasku setelah reda dari tertawa.
Setelah itu mereka berdua duduk di sampingku. Deka menanyakan KRS kami berdua, karena ia ingin satu kelas saja dengan kami. Ia mengotak-atik ponselnya, sedangkan kami bertiga mengobrol layaknya sudah saling kenal sangat lama. Hani orangnya begitu supel dan ramah, mudah sekali untuk berbagi cerita dengannya.
Via menyenggolku dengan sikunya, dan melirik ke arah Oki yang berdiri di depan jurusan dengan seorang cowok. Kami semua mengenalnya, sang ketua angkatan Dito. Karena aku sudah mengenal Oki lebih dari tiga tahun, dan Via juga sudah mengenal Oki hampir dua tahun, jadi kami bisa melihat dengan jelas kalau Oki sedang gugup saat ini.
Ia menoleh ke arahku, dan berteriak. “Oh iya Ra, aku segera ke sana.” Padahal aku tidak mengatakan apapun. Ia bergegas menghampiriku dengan napas yang cukup tidak teratur. Dia satu-satunya cewek di antara kami bertiga yang lemah berhadapan dengan cowok, padahal dia cerewet setengah mati pada kami.
“Kenapa dia terus-terusan menghampiriku, sih? Apa dia sudah tahu kalau aku punya rasa padanya?” ia berbisik di antara aku dan Via.
Via dan aku hanya mengangkat bahu kami. Kemudian aku memperkenalkan dia dengan Hani dan Deka yang sedari tadi masih duduk di samping kami.
Tiba-tiba Via menepuk jidatnya dengan kuat sembari meringis karena kesakitan. Dasar bodoh. “Aku lupa! Astaga!” ujarnya melihatku dan Oki bergantian. “Hari ini aku disuruh jaga butik. Dosen pada gak masuk kan hari ini? Kalau gitu aku pulang duluan, ya.” Via melirik Oki. “Ikut gak?”
“Iya deh, aku juga mau pulang. Hemat ongkos kan sekalian.” Ia terkekeh geli dengan ucapannya sendiri. “Kalau gitu, bye Rara, Hani, dan Deka.” Ia melambaikan tangannya pada kami bertiga.
Mereka berdua meninggalkanku dengan dua orang yang baru saja aku kenal. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku juga harus pulang? Haruskah?
“Ra, main yuk.” Hani menoleh ke arahku seraya tersenyum. “Atau kamu mau ke rumahku? Ketemu sama Shilla, mau?”
Aku membuka mulutku hendak menjawab, kemudian menutupnya lagi dan menggigit bagian dalam bibir bawahku. Aku ingin menolak tapi wajahnya benar-benar tidak bisa membuatku menolaknya. Kenapa dia begitu imut?
Aku berdeham. “Oke, mau. Sekarang?”
Hani mengangguk. Ia melirik Deka, “Kamu juga mau pulang kan? Aku nebeng, oke?”
“Gak mau,” balas Deka cuek.
“Ikut sama aku aja kalau gitu,” ujarku. Mereka berdua serentak menoleh ke arahku. “Kenapa?”
“Gak kok, gak papa biar aku nebeng Deka aja. Entar ngerepotin kamu,”
“Lah, gak papa dong, kita juga mau ke rumahmu. Btw, rumahmu di mana, Han?”
“Kompleks Mutiara Indah, tahu kan Ra?”
“Eh serius? Aku juga tinggal di sana,” balasku tertawa. “Kok bisa gak kenal ya?” Aku masih mempertahankan tawaku.
“Nah, kalau begitu kita bertiga tinggal di kompleks yang sama dong. Wah asik nih bisa main kapan aja.” Ia tersenyum ke arahku.
“Aku cowok lho.” Deka membuka suara setelah cukup lama berdiam mendengarkan cewek-cewek yang menyeret-nyeretnya seakan dirinya ada dalam geng yang sama.
“Emangnya kami bilang kamu cewek? kamu kan cowok terkeren yang pernah aku kenal,” balas Hani mengedipkan sebelah matanya, dan hanya dibalas gelengan kepala dari Deka.
Juga senyum yang sedikit tersembunyi, namun terlihat dengan jelas kalau ia cukup malu.
[]





