Tawa riang seolah memenuhi rumah minimalis milik Laura. Sejak ia mengirimkan pesan pada sahabatnya, ke empat sahabatnya langsung datang menyerbu rumahnya. Mereka bersamaan membawa makanan ringan yang begitu banyak sekaligus mainan untuk Reynald.
Reynald terlihat berbaur di pelukan teman-temannya. Laki-laki itu seperti sudah terbiasa pada mereka.
Laura memiliki banyak teman, namun sosok yang mengetahui tentang bagaimana tragedi malam itu dan bagaimana Laura berjuang hanya ke empat sahabatnya.
Bahkan saat Laura melahirkan di Eropa, teman-temannya rela mengambil cuti untuk menemaninya beberapa minggu. Wanita itu tersenyum tipis ia bangkit menuju kulkas ingin meneguk segelas air putih dingin.
"Bagaimana kabarmu Laura? Apa baik-baik saja sejauh ini?" celetuk Ezra-teman laki-laki yang paling dekat dengan dirinya.
Laura tersenyum lalu mengangguk. "Kenapa tidak?"
Ezra terkekeh. Laki-laki itu memilih duduk di meja makan mengisyaratkan Laura untuk ikut duduk, artinya ada hal yang ingin Ezra katakan jika seperti ini.
"Kenapa kau kembali ke Indonesia?" tanya Ezra.
"Aku memang merencanakan ini, jika Reynald sudah cukup besar maka aku akan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan hidup. Tidak mungkin aku akan terus bergantung pada uang yang di berikan keluarga itu," jelas Laura.
Ezra berdehem kecil, laki-laki itu mengerti.
"Bagaimana jika dia menemukan kalian?" tanya Ezra.
"Tidak mungkin," potong Laura.
"Kau tahu, dia begitu sukses. Bahkan beberapa perusahaan di kota ini bekerja sama dengan perusahaannya. Semua perusahaan berada di bawah kuasanya. Dia pasti begitu mudah menemukanmu," balas Ezra.
Laura diam mematung membuat Ezra menatap sahabatnya khawatir. Ia tahu sebenernya Laura tidak ingin bertemu karna perasaan gadis itu tidak akan hilang pada cinta pertamanya.
Ezra hanya khawatir, Laura kembali bertemu dengan laki-laki itu dan kembali membuat hatinya hancur, atau bahkan kembali melewati kehidupan yang sulit.
"Kau tahu, sampai kini dia masih mencari mu. Aku yakin jauh dari itu dia masih mencintai mu Laura," celetuk Ezra.
Laura hanya diam, menatap meja makan itu tanpa berkutik. Ia belum siap jika harus menemui laki-laki itu.
"Apa kau masih mencintai Kendra?" tanya Ezra.
***
Kendra semakin di buat pening oleh pesan itu. Mengapa Laura menggandeng seorang anak. Apakah wanita itu sudah menikah?
Adrian terkekeh melihat Kendra yang uring-uringan. "Tidak mungkin bertahun-tahun ini kau masih jatuh cinta pada wanita itu kan?" tanya Adrian yang di balas tatapan sinis.
"Cari segala informasi tentang Laura. Aku butuh hari ini juga," telak Kendra.
Laki-laki itu langsung mengambil jas miliknya dan kunci motornya. Ia harus menenangkan pikirannya saat ini.
Ia tak ingin pusing sendirian, sehingga mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari informasi tentang Laura.
Kendra mengendarai mobilnya, membelah kemacetan ibu kota. Pikiran laki-laki itu berkelana ke berbagai memori hingga ia tak sadar meremas setir mobil miliknya.
"Arghhhhh!" Teriaknya frustasi sembari membelokkan mobilnya. Kini ia berada di pantai di mana biasanya ia dan Laura kunjungi. Ntah untuk bermain air atau sekedar singgah sembari menenangkan pikirannya.
Laki-laki itu turun dari mobil, melangkah mendekat ke arah pantai. Suasana pantai kini sangat sepi karna bersamaan dengan hari yang hampir gelap.
Kendra melangkahkan kakinya hingga telapaknya menyentuh air pantai karna dorongan ombak kecil. Ia menatap ke arah matahari yang hampir tenggelam.
Matanya memejam, ia menghirup nafas panjang. Indra penciumannya menghirup bau air yang bercampur dengan pasir, pendengarannya menangkap beberapa suara burung yang berkicau kecil dengan dengan suara ombak yang bertabrakan dengan batu pantai.
Flashback on
"Kennn!! Lihat sunsetnya begitu indahh bukan?" ujar gadis itu dengan semangat.
Ekspresi wajah yang menggemaskan, rambut panjang yang beterbangan karna angin dan mata indah yang menatap senja itu membuat Kendra sangat gemas.
Bahkan saat ini Kendra bingung, yang indah adalah sunsetnya atau gadis tercinta di depannya.
Laki-laki itu mendekat dan merapikan rambut kekasihnya. Iya mengangguk setuju sembari tersenyum simpul.
Gadis itu melangkahkan kakinya hingga menyentuh air pantai. Melebarkan kedua tangannya membiarkan angin-angin sore memeluk tubuhnya.
"Bagaimana jika kita ke pantai setiap hari, aku suka pantai," tutur gadis itu.
"Iyah sayang," jawab Kendra seadanya sembari tersenyum.
"Janji ya Kendra?"
"Iyah Laura,"
Flashback off
Mata Kendra seolah memanas mengingat kenangan itu, terlebih senyum tulus kekasihnya sebelum ia membuat wanita itu menangis lalu menghilang selama bertahun-tahun dan sampai kini ia belum bisa menemukan informasi lengkap tentang Laura.
***
Laura masih berdiskusi dengan ke empat sahabatnya bagaimana ia akan mencari uang, sedangkan perusahaan di kota ini hampir di bawah kuasa Kendra.
Sedangkan Reynald sudah tertidur sedari tadi setelah kelelahan bermain bersama Brian- sahabatnya.
"Bagaimana jika membuka toko kue? Bukankah kau pintar memasak?" putus Anaya selaku sahabatnya.
"Ide bagus!! Buka saja toko bakery," imbuh Janu yang juga merupakan sahabatnya.
Laura terdiam, sebenarnya ide itu tidak buruk. Namun membuka toko itu tidaklah mudah, ia harus membutuhkan modal yang begitu besar untuk membeli toko di tempat strategis. Belum lagi peralatan memasak dan bahan-bahannya.
Disisi lain ia juga harus menyekolahkan Reynald. Untuk sekolah Reynald. Ia sudah sepakat bersama sahabatnya akan menyekolahkan Reynald di sekolah taman kanak-kanak yang lokasinya hampir dekat dengan rumah Anaya. Jadi begitu mudah mengantar jemput bocah itu.
"Tenang saja, untuk biaya aku bisa investasi di toko mu," sambung Ezra seolah mengerti keadaan sahabatnya.
"Ada kita, kita akan membantumu," tutur Janu menambahkan di setujui semua sahabatnya.
Laura lalu menatap sahabatnya, ia tersenyum tulus. Dalam hatinya wanita itu mengucapkan berkali-kali rasa syukur di berikan sahabat seperti mereka.
"Thank you guys," jawab Laura di beri anggukan oleh keempat sahabatnya.
***
Keempat sahabatnya memilih pulang dikarenakan jam menunjukkan bahwa hari sudah larut malam.
Laura mengantar keempat sahabatnya sampai depan pagar. Tawa Laura masih menghiasi perpisahan mereka, hingga mobil-mobil sahabatnya sudah tak terlihat. Wanita itu menghela nafas berat.
Ia menutup gerbangnya dan melangkahkan kakinya masuk.
Laura menuju kamar miliknya dan anaknya. Ia menatap ke arah Reynald yang tertidur pulas.
"Andai malam itu tidak terjadi, mungkin kau bisa memilih kehidupan yang lebih baik di banding memilih hidup bersama mama," gumam Laura pelan.
Perkataan Ezra yang seolah melekat dalam pikirannya membuat Laura kembali mengingat kenangan pahit dalam hidupnya. Wanita itu duduk di depan kaca sembari memejamkan matanya. Menahan agar air matanya tidak jatuh mengalir.
Ia kembali bertanya-tanya, apakah memang selama ini perasaannya sudah hilang pada laki-laki itu.
Atau selama ini dirinya hanya denial dan berusaha menghindari perasaan itu.
Wanita itu menghela nafas berat, ia melangkah dan mematikan lampunya.
Disisi lain, Kendra yang masih menggunakan kemeja kerjanya saat ini berada di luar pagar, memantau rumah minimalis itu. Matanya menatap pergerakan Laura sedari awal. Mulai dari berpisah bersama temannya hingga wanita itu mematikan lampu kamarnya
"Kenapa harus pergi tanpa memberikan sebuah kepastian Laura?" tanya Kendra sebelum memilih pergi.





