Pagi-pagi sekali Laura sudah terlihat begitu sibuk, wanita itu menyiapkan sarapan sekaligus menyiapkan anaknya untuk persiapan sekolah di hari pertamanya.
Beruntung Brian memiliki kenalan di sekolah anaknya sehingga memudahkan Reynald untuk masuk ke dalam sekolah tersebut.
Terlihat saat ini Reynald sudah rapi di meja makan dengan sereal di hadapannya. Sedangkan Laura menyiapkan dirinya untuk mengobservasi daerah yang akan di jadikan sebagai tokonya nanti.
"Reynald, dengerin mama ya? Reynald cuma boleh pulang sama berangkat sekolah sama tante dan om yang kemarin dateng kesini. Masih ingat kan wajahnya?" ujar Laura yang sudah rapi dan mengambil alih sereal anaknya.
"Inget mama," jawab Reynald.
Laura menyuapi anaknya itu. "Ingat, jika ada orang asing yang mengaku mengenal mama. Kamu harus langsung menjauh dan mencari tempat yang ramai ya?"
Reynald kembali mengangguk. Membuat Laura mengelus rambut anaknya dan mengecup pipi laki-laki itu.
Perempuan itu memberikan pesan dan wejangan yang begitu banyak. Mengingat angka kriminal di Indonesia yang semakin tinggi, dirinya begitu khawatir. Terlebih Reynald baru saja pindah dari Eropa. Tentunya membutuhkan adaptasi yang begitu lama.
Beruntungnya meski lingkungan luar Reynald selama di Eropa menggunakan bahasa Inggris. Laura tetap mengajari anaknya bahasa Indonesia sehingga laki-laki itu mahir dalam berkomunikasi menggunakan dua bahasa tersebut.
Brian tiba-tiba masuk kedalam rumah, sudah di pastikan pak Jaka membuka kan pintu untuk sahabatnya itu.
Laura tersenyum tipis lalu memberikan roti yang berisi selai coklat untuk sahabatnya sarapan.
"Terimakasih bos," ujar Brian dengan ekspresi wajah yang menggelikan.
Laura mengangguk dan terkekeh kecil. Sifat humoris sahabatnya itu tetap melekat meski kini mereka sudah berumur 23 tahun.
Laura lalu mengunci pintu kamarnya, ia sudah siap dengan tas di tangannya. Wanita itu tinggal menunggu Ezra menjemputnya.
"Non, tadi malam saya melihat laki-laki di depan pagar sedang memperhatikan rumah ini," celetuk pak Jaka setelah menyiram tanaman.
Brian yang awalnya bermain dengan Reynald langsung menoleh ke arah Laura. Keduanya tiba-tiba mematung.
"Apakah laki-laki itu cukup lama berada disini?" Tanya Brian.
Pak Jaka menggeleng. "Saya lihat sekilas saja, waktu saya mau menghampiri dia sudah pergi terlebih dahulu."
Laura tak tahu siapa laki-laki itu, wanita itu hanya diam menatap Brian dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Laura hanya berharap laki-laki itu bukan Kendra.
Dan jika memang itu Kendra, mengapa cepat sekali laki-laki itu menemukan dirinya. Apakah memang Kendra sangat berpengaruh sampai-sampai dengan mudah menemukan dirinya.
Laura hanya diam, pikirannya berkelana ntah kemana.
Brian yang melihat hal itu langsung menghabiskan potongan roti di tangannya. Ia meneguk segelas susu yang sudah di siapkan Laura.
Laki-laki itu cepat-cepat membawa Reynald ke sekolah. Setidaknya Laura memiliki waktu untuk sendiri. Untuk saat ini ia tak ingin menanyakan lebih dalam atau membahas persoalan Kendra.
Brian akan mencari tahu terlebih dahulu, dan memastikan apakah Kendra benar benar sudah mengetahui keberadaan Laura.
"Ayo Reynald, kita berangkat," celetuk Brian memecahkan keheningan membuat Laura menatap anaknya itu.
"Lets goooo!" jawab Reynald sembari turun dari kursi membuat Laura terkekeh geli.
Reynald terlihat begitu bersemangat saat bersama dengan Brian. Sikap Brian yang begitu humoris dan mampu memecahkan suasana itu membuat Reynald dengan mudah berbaur pada Brian.
"Hati-hati Brian, aku titip Reynald," tutur Laura.
Brian mengangguk sembari menggendong bocah kecil itu.
Laura mengantarnya sampai ke gerbang rumah.
"Dadahhh mamahhh," teriak anaknya dari dalam mobil.
Laura melambaikan tangannya sampai mobil itu tidak terlihat lagi akhirnya wanita itu memutuskan masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Perkataan pak Jaka seolah mengganggu pikirannya. Wanita itu menyenderkan kepalanya dan memijat pelipisnya.
***
"200 juta sudah penawaran akhir pak," ujar pemilik toko.
Ezra mengangguk. Setelah bernegosiasi cukup lama, harga paling kecil yang di berikan adalah 200 juta.
Kini Laura dan Ezra sedang berada di salah satu toko sederhana yang rencananya akan mereka beli nanti.
Laura dan Ezra melihat lokasi yang strategis untuk berjualan, toko itu juga cukup luas untuk berjualan, hanya mungkin perlu di rombak sedikit lagi untuk mempercantik toko ini.
"Bagaimana Laura? Apa kau suka?" tanya Ezra.
Laura mengangguk, wanita itu cukup puas dengan toko ini. Namun harganya yang begitu tinggi membuat dirinya berpikir ulang.
"Hanya ini satu-satunya toko yang letaknya paling strategis, setidaknya akan menghasilkan dua kali lipat di tahun pertama jika bisnisnya dapat berkembang dengan baik," imbuh pemilik toko meyakinkan.
"Aku bisa menambahkan uangnya," bisik Ezra.
Laura terkekeh. Wanita itu menggeleng. "Deal pak, saya ambil toko ini," mutlak Laura.
Akhirnya setelah dua jam menimbang-nimbang, Laura setuju untuk merubah toko ini menjadi miliknya.
Ia menyerahkan kartunya untuk di gesek dan menandatangani beberapa surat, selanjutnya ia akan mengurus lagi surat kepemilikan itu.
Setelah pemilik toko sebelumnya pulang, Ezra dan Laura masih berada di dalamnya. Keduanya mendiskusikan bagaimana cara merombak dan merubah toko itu agar menarik banyak pelanggan.
"Mengapa menolak bantuanku?" tanya Ezra.
"Aku masih memiliki cukup uang dalam kartu itu, tenang saja." Balas Laura.
Ezra hanya mengangguk. Laki-laki itu memperhatikan wanita di depannya yang tengah menggambar desain toko yang di inginkannya.
Ezra tiba-tiba teringat oleh pernyataan Brian yang tadi menghubungi dirinya.
"Brian bilang ada laki-laki asing yang memantau rumahmu," ucap Ezra.
Laura mengangguk, tangannya tetap fokus menggambar.
"Bagaimana jika itu memang Kendra?" tanya Ezra.
Laura hanya mengedikan bahunya. Seolah tak peduli, namun matanya tak berani menatap Ezra.
Laura tahu jika Ezra begitu hafal dengan dirinya jadi Laura tidak ingin Ezra khawatir melihat keadaannya yang kini sedang bimbang.
"Jangan tolak apapun yang kamu rasain, Kamu bisa membohongi orang lain. Tapi tidak untuk perasaanmu sendiri Laura," jelas Ezra.
Ezra tak ingin memperpanjang hal ini, namun sepertinya Laura benar-benar bimbang.
Ezra tak ingin hidup Laura semakin menderita. Terlebih saat ini sahabatnya itu sudah memiliki seorang anak. Yang artinya, apapun yang terjadi pada Laura akan selalu ada kaitannya pada Reynald.
Bagi Ezra cukuplah saat ini Reynald yang tumbuh seolah di paksa dewasa mengerti keadaannya yang tumbuh tanpa figur ayah.
Meskipun Laura tak pernah memaksa anaknya untuk mengerti, atau memaksa anaknya untuk lebih dewasa. Namun Reynald seolah tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa dari seumurannya.
"Ingat Reynald, jangan sampai dia menjadi korban," peringat Ezra.
Ezra memperhatikan Laura yang seolah fokus namun olah tubuh wanita itu menunjukan bagaimana wanita itu terlihat begitu tidak nyaman. Ezra tahu kini Laura sangat tidak tenang.
Sahabat wanitanya itu terkadang tidak bisa memutuskan sesuatu dengan baik jika disaat-saat seperti ini.
Contohnya saja saat Laura mengiyakan permintaan keluarga Kendra untuk memindahkan dirinya yang sedang hamil ke Eropa.
***
Pemilik toko lama tadi kemudian menghampiri seorang laki-laki yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Jadi bagaimana pak?" tanya laki-laki itu.





