Tiga Miliar Untuk Semalam

Selena berdiri kaku di depan pintu kamar suite mewah itu. Jantungnya berdetak terlalu keras hingga ia takut suara itu terdengar keluar. Pria tinggi itu-yang belum ia ketahui namanya-berjalan santai ke arah minibar, menuangkan segelas minuman, seolah-olah malam itu hanyalah rutinitas biasa baginya.

"Duduk," perintahnya singkat.

Suara itu tak meninggi, tapi penuh kuasa. Selena menurut, melangkah pelan menuju sofa besar di sudut ruangan. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan, berusaha menyembunyikan gemetar yang tak tertahan.

Ia bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam, berpadu dengan bau alkohol dari gelas kristal di tangan pria itu.

"Pertama kali?" tanyanya sambil meneguk minuman.

Selena menelan ludah. "I... iya."

Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Senyum tipis tersungging di bibirnya, bukan senyum hangat, melainkan semacam tatapan puas karena melihat ketakutan di wajahnya.

"Bagus," gumamnya. "Aku lebih suka yang belum berpengalaman."

Ucapan itu membuat wajah Selena memanas, bukan karena malu, tapi karena rasa terhina. Ia ingin sekali bangkit dan pergi. Tapi bayangan ibunya yang terbaring lemah di rumah kembali menahannya. Tiga miliar... ia harus kuat.

Beberapa menit pertama terasa menegangkan. Pria itu duduk di hadapannya, menatap tanpa berkedip, seolah sedang menilai sebuah barang antik. Tatapannya menusuk, membuat Selena semakin meringkuk.

"Namamu Selena, benar?"

"Iya..."

"Cantik nama itu. Sama cantiknya dengan wajahmu."

Selena hanya tersenyum kaku. Pujian itu tak terdengar manis, melainkan seperti label harga yang ditempelkan pada dirinya.

Pria itu meletakkan gelas, lalu berdiri mendekat. Langkahnya pelan tapi pasti, membuat napas Selena tercekat. Ia bisa merasakan aura dingin menyelimuti tubuhnya ketika pria itu berhenti tepat di depannya.

Tangannya yang besar menyentuh dagu Selena, mengangkat wajahnya agar menatap. "Jangan takut," katanya pelan, tapi tatapannya sama sekali tidak menenangkan.

Selena menahan air mata. "Aku... aku hanya butuh uang itu," bisiknya lirih, seolah ingin menegaskan pada dirinya sendiri mengapa ia berada di situ.

Pria itu tersenyum tipis. "Aku tahu. Dan aku sudah membayarmu dengan harga yang sangat mahal. Jadi malam ini, kau adalah milikku seutuhnya."

Ketika pria itu mulai menariknya bangkit, tubuh Selena kaku. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan tanpa bisa melawan. Setiap sentuhan terasa asing, menusuk, dan menyakitkan. Bukan sakit fisik-meski itu juga ada-tapi sakit yang menghancurkan harga dirinya.

Dalam hati, Selena berteriak.

Apa yang kau lakukan? Mengapa kau biarkan dirimu sejauh ini?

Namun pikirannya kembali pada ibunya. Ia menggenggam erat gaun hitamnya, mencoba menahan gemetar.

"Aku tidak bisa..." suaranya pecah.

Pria itu menatapnya tajam, kemudian tersenyum sinis. "Kau sudah terlalu jauh untuk berkata tidak. Ingat, Selena. Tiga miliar bukan untuk melihatmu duduk diam semalaman."

Kata-kata itu bagai palu godam yang memukul kepalanya. Ia menutup mata, mencoba mengabaikan semuanya.

Malam itu terasa panjang, lebih panjang dari hidupnya sendiri. Selena merasa dirinya bukan lagi manusia, melainkan sekadar tubuh tanpa jiwa. Setiap detik berlalu dengan perasaan ingin kabur, tapi kakinya seperti terikat rantai.

Tangisnya pecah tanpa suara, hanya air mata yang membasahi pipi. Ia berusaha menahan isak agar tidak terdengar, tapi dadanya sesak.

Pria itu tidak peduli. Baginya, tangis itu hanyalah bagian dari permainan.

"Jangan terlalu drama," katanya datar, seakan sedang berbicara pada seorang aktor yang gagal memainkan peran.

Hati Selena remuk.

Entah berapa lama waktu berlalu. Pagi akhirnya datang, sinar matahari menyelinap lewat celah gorden tebal. Selena terbaring di sisi ranjang, tubuhnya terasa berat, kepalanya pusing, dan hatinya hancur berkeping-keping.

Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Malam itu... adalah akhir dari dirinya yang dulu.

Dengan tangan gemetar, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Pria itu sudah bangun lebih dulu, berdiri di depan jendela sambil merokok.

"Kau boleh pergi sekarang," ucapnya tanpa menoleh.

Selena bangkit pelan, berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya. Ia meraih gaunnya, mengenakannya dengan tangan bergetar. Setiap gerakan terasa memalukan, seolah-olah ia sedang bersembunyi dari tatapan yang menelanjangi.

Saat ia hendak melangkah pergi, pria itu bersuara lagi.

"Jangan lupa. Aku sudah membayar tiga miliar. Itu bukan untuk satu malam saja. Kita akan bertemu lagi."

Selena berhenti di ambang pintu. Jantungnya kembali berdetak kencang. Ia menoleh, menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Tapi... kesepakatannya hanya semalam."

Pria itu menoleh, tersenyum tipis. "Kesepakatan menurut siapa? Ingat, Selena... mulai malam itu, kau milikku. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku mengambil semuanya darimu."

Selena melangkah keluar kamar dengan tubuh gemetar. Begitu pintu tertutup, air matanya pecah tanpa bisa ditahan. Ia berlari menyusuri lorong hotel, seolah ingin melarikan diri dari neraka yang baru saja ia masuki.

Namun ia tahu, neraka itu belum berakhir. Malam itu hanyalah awal.

Dan luka yang ia bawa... bukan hanya di hati, tapi juga rahasia dalam tubuhnya yang perlahan tumbuh menjadi nyawa baru.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.