Tiga Miliar Untuk Semalam

Langkah kaki Selena terdengar pelan ketika ia menuruni angkutan kota terakhir yang membawanya pulang. Matahari pagi sudah tinggi, panasnya menembus kulit meski angin masih lembap sisa hujan semalam. Tangannya menggenggam erat tas kecil yang kini berisi amplop tebal-bayaran untuk malam yang baru saja menghancurkan hidupnya.

Ia berjalan cepat melewati gang sempit menuju rumah. Setiap orang yang ia lewati terasa seperti menatapnya, seolah mereka tahu apa yang baru saja ia lakukan. Padahal tak seorang pun tahu. Itu hanya ketakutan yang menempel di hatinya, membuatnya ingin bersembunyi dari dunia.

Ketika akhirnya tiba di depan pintu rumah, Selena berhenti sejenak. Rumah itu tampak lusuh, catnya terkelupas, gentengnya bocor di beberapa sisi. Namun di balik segala kekurangannya, rumah itu adalah satu-satunya tempat yang masih ia punya-dan yang harus ia selamatkan dengan cara apapun.

Ia menarik napas panjang, berusaha menghapus jejak air mata di pipinya sebelum mengetuk pintu.

"Len?" suara ibunya dari dalam terdengar pelan.

Selena buru-buru masuk, tersenyum paksa sambil berkata, "Iya, Bu. Aku baru pulang."

Di ranjang kecil di ruang tengah, ibunya tengah duduk bersandar dengan bantal. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak lebih kurus dari kemarin. Meski begitu, senyumnya tetap ada, meski samar.

"Dari mana semalaman? Ibu sempat khawatir," tanya ibunya, suaranya lemah.

Selena menunduk, berusaha tidak memperlihatkan kegelisahan yang menguasai dirinya. "Maaf, Bu. Aku... semalam ada kerjaan tambahan. Aku nggak sempat kasih kabar."

Ibunya mengangguk pelan. "Kerjaan tambahan? Apa kamu nggak terlalu capek? Kamu kan baru saja berhenti dari supermarket itu."

Selena tersenyum hambar. "Nggak apa-apa, Bu. Justru ini kerjaan yang bisa bantu kita." Ia menepuk-nepuk tas kecil di tangannya. "Aku dapat uang. Lumayan banyak."

Mata ibunya sedikit membesar, ada kilatan harap di sana. "Banyak? Dari mana, Nak?"

Selena tercekat. Lidahnya kelu. Bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan itu? Apakah ia harus mengatakan kebenaran? Bahwa ia menjual kehormatannya demi amplop itu?

Tidak. Ia tidak boleh.

Ia mengalihkan pandangan, lalu tersenyum tipis. "Ada orang baik yang mau bantu. Katanya aku bisa kerja serabutan beberapa kali, dan... ini uang muka."

Ibunya menatap Selena lama, seolah mencoba membaca wajah anaknya. Selena merasa jantungnya berdetak semakin cepat, takut rahasia itu terbongkar. Namun akhirnya, ibunya hanya mengangguk pelan.

"Alhamdulillah... setidaknya bebanmu agak ringan. Ibu selalu khawatir kamu terlalu banyak mikir soal uang."

Selena segera duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ibunya erat-erat. "Jangan khawatir, Bu. Semua akan baik-baik saja."

Namun dalam hatinya, ia tahu itu bohong.

Siang hari, setelah ibunya kembali tertidur karena lelah, Selena duduk di meja kayu tua di dapur. Ia membuka amplop berisi uang itu. Jumlahnya benar-benar banyak-sebuah tumpukan yang bisa membayar semua tagihan dan masih menyisakan cukup untuk berbulan-bulan.

Tangannya gemetar saat menyentuh lembaran-lembaran itu. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya ia bisa tersenyum karena masalahnya teratasi.

Tapi yang ia rasakan hanyalah perasaan kotor, jijik pada dirinya sendiri.

Air matanya jatuh mengenai permukaan meja. "Tiga miliar... harga dari semua ini."

Ia teringat pada malam itu-tatapan dingin pria asing itu, sentuhan yang memaksa, rasa sakit yang masih tertinggal di tubuhnya. Ia merasa ingin muntah.

Namun ia tahu, uang itu harus dipakai. Ia tidak punya pilihan.

Sore menjelang, Selena pergi ke bank untuk segera membayar sebagian hutang. Petugas bank memandangnya heran ketika ia menyerahkan uang tunai dalam jumlah besar, tapi ia tak peduli.

Begitu keluar dari bank, ia menatap langit yang mulai berwarna jingga. Untuk sesaat, ia merasa bebas. Ancaman penyitaan rumah bisa ditunda, dan ibunya bisa tetap tinggal di tempat yang mereka cintai.

Namun rasa lega itu tak bertahan lama. Di tengah keramaian jalan, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Langkah kakinya dipercepat, matanya menoleh ke belakang, tapi ia tak melihat siapa pun secara jelas. Hanya perasaan aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Apakah dia? pikir Selena, jantungnya berdegup keras. Apakah pria itu mengawasiku?

Ia buru-buru berlari menuju angkutan kota, duduk di pojok sambil memeluk tasnya erat-erat.

Malam itu, Selena menyiapkan bubur sederhana untuk ibunya. Saat mereka makan bersama, ibunya tersenyum, tampak lebih tenang setelah tahu ada sedikit uang untuk bertahan.

"Len, ibu selalu percaya kamu anak yang kuat. Ayahmu pasti bangga melihatmu berjuang sejauh ini," ucap ibunya pelan.

Kata-kata itu menusuk hati Selena. Air matanya hampir jatuh, tapi ia buru-buru menunduk agar tak terlihat.

Ia ingin berteriak. Ia ingin berkata bahwa ia tidak kuat, bahwa ia sudah hancur. Tapi ia memilih diam.

Karena jika ibunya tahu, itu hanya akan melukai hatinya.

Beberapa hari berlalu. Selena mencoba menjalani hidup seperti biasa. Ia membersihkan rumah, memasak untuk ibunya, dan bahkan mulai mencari pekerjaan kecil di sekitar lingkungan. Namun tubuhnya sering lemas, kepalanya pusing, dan perutnya terasa mual setiap pagi.

Awalnya ia mengira itu karena stres dan kurang makan. Tapi ketika mual itu datang lagi dan lagi, rasa takut menyelusup ke dalam pikirannya.

Ia menatap wajahnya di cermin kamar mandi-pucat, matanya sembab, bibirnya kering. Tangannya menyentuh perutnya sendiri.

Tidak mungkin... kan? bisiknya dalam hati.

Namun bayangan malam itu kembali menghantuinya. Bayangan pria asing yang mengambil segalanya darinya.

Dan ketakutan baru mulai tumbuh-ketakutan bahwa ia membawa rahasia yang lebih besar daripada yang bisa ia sembunyikan.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.