“Papa pikir, rumah tangga itu hanya sekadar dikasih uang? Papa nggak mikir sakit hatinya Mama kalau dikhianati seperti sekarang ini? Mama ini manusia, Pa. Mama punya perasaan. Mama ini bukan hewan peliharaan yang sekadar Papa kirimi uang buat makan!” Vita berteriak histeris.
Ada harga diri yang sudah terluka dan kini makin terluka. Ada rasa perih yang teramat sangat mengiris di dalam hati, meskipun tak berdarah. Ada sesak yang kini mulai menyeruak di seisi rongga dada VIta.
“Aduh, nggak usah bicara soal hati dan perasaan, deh. Hubungan kita selama ini masih baik-baik saja, kan? Nggak ada yang berubah kok, Ma. Anggap saja kamu tidak pernah tahu tentang hal ini. Sudah, sekarang kamu pulang. Nanti malam Papa pulang. Kita bicara lagi nanti di rumah,” ucap pria tampan yang tampak lebih muda dari usianya itu.
Selama ini, Harris memang sering berada di luar kota. Dia pulang ke Malang dan menginap hanya beberapa hari saja dalam satu bulan. Kesempatan untuk pria tampan itu berselingkuh memang terbuka sangat lebar. Namun, selama ini memang tidak pernah ada gelagat seperti itu dari dalam diri Harris sehingga Vita pun tak pernah curiga.
Mereka pacaran selama tiga tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Harris melamar Vita dengan cara yang sangat simpel, tidak ada kesan romantis sama sekali. Selama mengenal Harris, Vita memang tidak pernah diperlakukan dengan mesra. Harris adalah tipikal pria yang keras, tetapi penuh tanggung jawab. Mereka jarang sekali bicara, meski bekerja di satu perusahaan. Bahkan, tidak ada satu pun yang curiga kalau dua orang itu menjalin hubungan cinta, saking datarnya sikap mereka selama ini ketika bertemu di kantor.
Harris dikenal sebagai pria yang dingin terhadap wanita. Belum pernah sekali pun orang kantor melihat dia mendekati seorang perempuan, apalagi sampai pacaran. Karena itulah, siapa yang menyangka kalau tiba-tiba dia ternyata pacaran dengan Vita, bahkan dengan dadakan tahu-tahu menyebar undangan pernikahan.
Sikap Harris yang selalu dingin terhadap wanita dan baru bersikap akrab kalau bertemu dengan teman-teman sesama prianya, membuat Vita merasa aman meski mereka sering tinggal berjauhan. Vita hanya mengecek di kota mana sang suami selama ini berada. Bandung, Tangerang, Jakarta, Madura. Ya, masih seputar kota-kota itu saja. Bahkan, dari beberapa anak buah Harris di kota-kota tersebut yang sudah mengenal Vita, juga tidak pernah ada selentingan miring atau gosip buruk bahwa Harris dekat dengan wanita lain di sana. Harris selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Selebihnya, dia biasa berkumpul dengan karyawan atau rekan-rekan bisnis dia yang semuanya memang sama-sama pria. Jadi, mana mungkin Vita merasa curiga.
Di sisi lain, Janu selalu mengantarkan Harris ke mana-mana dan Vita sangat mempercayai Janu. Janu seolah menjadi mata ketiga bagi wanita tersebut. Selama ini, Janu juga tidak pernah mengatakan apa-apa. Namun, hari ini ... Janu tiba-tiba membongkar rahasia besar yang Vita rasa sudah sangat kedaluwarsa. Perselingkuhan itu pasti sudah sangat lama. Terbukti, ada rumah yang sedemikian megahnya. Rumah yang Vita yakin dibangun dari awal oleh Harris untuk wanita selingkuhan dia itu.
“Kita bicara di sini saja, Mas. Anak-anak tidak perlu tahu tentang pertengkaran kedua orang tua mereka,” jawab Vita dengan tegas.
Dia menghapus lelehan air mata di pipinya. Dia tidak sudi kalau dirinya sampai terlihat lemah di hadapan wanita sundal itu. Vita menatap tajam ke arah Marni yang duduk dengan gaya santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Perempuan yang cantiknya biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang masih kalah cantik dengan wajah Vita. Secara tubuh, mereka juga berimbang. Kalau Vita cenderung kurus dan mungil, sementara Marni sama-sama mungil, tetapi tampak lebih berisi. Bahkan, kulit Vita jauh lebih putih daripada Marni, meski keduanya sama-sama orang Jawa.
“Sudah. Aku pulang nanti malam. Nggak usah banyak ngebantah!” bentak Harris dengan nada yang sangat marah. Dia memang paling tidak suka kalau perintahnya sampai ditentang.
“Sejak kapan kalian berselingkuh di belakangku?” Vita masih saja tidak mau menyerah. Dia bertanya dengan tatapan nyalang, bergantian ke arah Harris dan Marni yang kini duduk berdampingan di sofa panjang, tepat di depan Vita.
“Nggak usah bahas yang nggak penting!” teriak Harris lagi.
“Enam tahun,” jawab Marni dengan tegas.
“Ya, kami menjalin hubungan secara resminya selama enam tahun. Hampir satu tahun yang pertama, kami lakukan sembunyi-sembunyi ... di rumah kamu. Kamu nggak tahu kan kalau kami biasa bercinta di rumahmu sendiri?” Marni melanjutkan kalimatnya sambil terkekeh pelan.
“Apa? Jadi ... kalian sudah berbuat gila sejak kamu masih kejra di rumah kami?” Vita langsung berdiri saking terkejutnya. Dia menatap marah kepada Marni yang malah memainkan kuku-kuku di jari tangannya.
“Ya. sampai akhirnya aku bosan untuk terus bersembunyi seperti itu. Terus, aku minta sama Mas Harris untuk membawa aku ke Madura. Ya, setidaknya, aku bisa hidup bebas di sana,” ucap Marni lagi, masih dengan gaya yang sangat santai.
Jadi, Harris kemudian membawa Marni ke madura dan menempatkannya di sebuah rumah kontrakan di sana. Di Madura jugalah, dua manusia itu kemudian menikah siri alias menikah di bawah tangan dengan bantuan salah satu pemuka agama di sana. Begitu rapinya Harris menutupi semua borok itu hingga Vita tidak pernah sama sekali mendengar selentingan kabar bahwa sang suami telah menikah lagi.
“Mar, sudah. Biar Vita segera pulang,” ucap Harris dengan nada lembut kepada Marni untuk menghentikan ceritanya.
“Hebat, ya. Kalau sama selingkuhan, bicaranya lembut. Giliran sama istri sendiri, bicara kasar dan membentak-bentak,” sindir Vita dengan ketus. Harris hanya menoleh dengan tatapan sinis. Vita yang selama ini dia kenal sangat penyabar dan jarang bicara, ternyata bisa juga berucap ketus seperti itu. Harris sedikit merasa terkejut dengan sikap Vita.
“Eh, jangan salah! Aku ini juga istrinya, lho. Meskipun kami hanya menikah siri. Aku nggak butuh legalitas hukum. Toh, hak kita sama saja,” celetuk Marni, masih tetap sambil memainkan kuku-kuku di jari tangannya. Dia tidak melihat ke arah Vita sama sekali ketika berbicara.
“Biar saja, Mas. Dia kan pengen tahu kisah cinta kita. Sudah, biar aku saja yang cerita. Biar dia nggak mati penasaran nanti,” tandas Marni dengan nada yang tak kalah ketus.
“Gimana, masih mau dengar kelanjutan ceritanya?” tantang Marni yang kali ini menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa berwarna hitam yang dia duduki bersama Harris.
“Aku tunggu kamu di rumah, Mas!” Vita malas mendengarkan ocehan perempuan gila di hadapannya itu lagi. Dia berniat untuk pulang dan menunggu Harris di rumah mereka.
“Tadi katanya mau dengar ceritanya. Sekarang malah pergi. Dasar, emak-emak labil!” hina Marni, tepat ketika Vita hendak melangkah pergi dari ruang tamu tersebut.





