Mendengar hinaan Marni, Vita langsung berdiri mematung, tidak jadi melanjutkan langkahnya. Dia kembali berdiri di hadapan Marni sambil menatap perempuan itu dengan tajam.
“Sudah, pulang saja sana!” teriak Harris lagi kepada Vita.
“Dasar, perempuan nggak tahu malu! Sudah merebut suami orang, masih saja banyak tingkah!” Vita balas memaki perempuan dengan tank top putih dan celana bahan katun super pendek yang membalut tubuh sintalnya itu.
“Eh, aku nggak ngerebut lho, ya. Kan, kamu nggak ditinggal. Jadi, kita ini hanya berbagi. Udah, nggak usah pelit-pelit jadi orang. Masih hidup enak ini ...,” jawab Marni dengan tidak tahu malu.
Tak ingin terus sakit hati, Vita memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Percuma saja kalau dia terus meladeni wanita yang tidak punya harga diri sama sekali itu. Dia sepertinya sengaja untuk terus menyakiti hati Vita.
Vita melangkah dengan langkah tergesa menuju ke mobil hitamnya. Harris yang mengikuti langkah sang istri, kini sedang menatap tajam ke arah Janu yang duduk di atas tanah, tepat di samping mobil hitam milik Vita.
“Janu!” teriak Harris dengan keras. Janu yang sudah berdiri dan bersiap untuk masuk ke dalam mobil, langsung menoleh ke arah Harris yang kini melangkah untuk mendekati dirinya.
“Kamu berengsek, ya! Ini balasan kamu yang selama ini sudah aku kasih banyak uang? Ternyata, kamu malah nusuk aku dari belakang!” Harris menggeram penuh amarah.
“Kamu juga sama, Mas! Kamu juga berengsek, pengkhianat, dan menusuk dari belakang!” teriak Vita.
Beberapa tetangga langsung keluar mendengar teriakan keras dari mulut Vita. Mereka terlihat kasak-kusuk dan beberapa langsung bergerombol, membentuk kelompok-kelompok kecil. Emak-emak di kampung memang sangat kompak kalau ada kejadian yang menarik. Mereka bisa langsung saling menempel seperti magnet-magnet sekutub yang akan mendekat secara otomatis, tanpa perlu diberi komando lagi.
“Sudah, kalian pulang sana! Kita bicara di rumah. Habis ini aku nyusul.” Harris langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkan Vita dan Janu di sana.
Harris merasa malu kalau sampai tetangga banyak yang keluar dan menonton pertengkaran mereka. Bagaimanapun, dia masih tetap ingin menjaga citra baik dirinya di mata masyarakat sana. Pria baik dan sempurna.
Mobil segera melaju pelan, meninggalkan halaman depan rumah Harris dan Marni. Vita masih menangis sesenggukan di sepanjang perjalanan.
“Kenapa kamu baru membongkarnya sekarang, Mas? Kenapa tidak dari dulu. Mungkin, keadaan masih bisa diperbaiki kalau dari awal kamu sudah memberi tahu aku,” ucap Vita ketika dia merasa bahwa dirinya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Bapak meyakinkan saya bahwa tidak akan ada masalah apa-apa, Bu. Jujur saja, saya tahu tentang perselingkuhan mereka juga setelah Mbak Marni dibawa ke Madura sama Bapak, kok. Jadi, bisa dibilang kalau sudah sangat terlambat juga. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah perselingkuhan mereka, selain terus mengingatkan Bapak bahwa yang dia lakukan itu salah.
Kemudian, saya berpikir ... kalau memang Mbak Marni terus ada di Madura, ya sudahlah. Tidak masalah juga. Mungkin, itu akan jadi rahasia selamanya. Toh, Ibu kan juga tidak pernah berkunjung ke sana. Jadi, saya pikir semuanya akan baik-baik saja.” Janu mulai menceritakan semuanya.
Vita memang tidak pernah mau ikut campur urusan pekerjaan sang suami. Selain dia menganggap bahwa itu bukan wilayah teritorial dia, Vita juga tidak paham apa-apa. SD saja dia tidak lulus. Vita berasal dari keluarga miskin. Rumah dia pun masih bambu saat itu. Dia lantas bekerja di sebuah pabrik permen dan kebetulan, Harris adalah salah satu kepala pabrik di sana.
Pabrik itu masih milik salah satu famili Harris. Mereka adalah orang-orang dari China yang kemudian bermigrasi ke Indonesia dengan membawa sejumlah dana untuk mulai membuka usaha di Indonesia. Merupakan sebuah keberuntungan besar ketika orang kaya dan berpendidikan tinggi seperti Harris, lantas jatuh cinta, bahkan melamar gadis kampung yang tak punya apa-apa seperti Vita. Harris sampai harus menentang seluruh keluarganya demi bisa menikahi Vita kala itu.
Perjuangan keras dan semua pengorbanan lelaki itu akhirnya mampu untuk meruntuhkan semua pertahanan serta kewaspadaan Vita terhadap tingkah laku suaminya. Dia menganggap kalau Harris terlalu cinta mati kepada dirinya dan tidak akan mungkin bisa berselingkuh dengan perempuan yang lain. Mungkin, dalam kasus ini Vita terlalu percaya diri.
Sikap Harris sebagai suami, bahkan ayah untuk anak-anak mereka pun memang bisa dibilang sangat sempurna. Dia selalu bersikap baik dan lembut, terutama kepada anak-anak mereka, meski Harris bukanlah tipikal suami yang bisa bersikap romantis kepada istrinya. Dia cenderung berkata dengan lugas dan bersikap dengan tegas. Jadi, siapa yang bisa menyangka? Bahkan, semua orang yang mengenal keluarga kecil Vita pun selalu merasa kagum dan mengelu-elukan Harris sebagai pria idola semua wanita. Dia adalah sosok suami dan ayah yang teramat sempurna.
“Baru beberapa bulan tinggal di Madura, Mbak Marni sudah mengeluh sepi dan tidak krasan, Bu. Selain itu, dia juga terus menggerutu karena status rumah yang dia tempati sekarang cuma ngontrak. Bukan rumah milik sendiri.” Janu melanjutkan ceritanya soal kehidupan Marni.
“Dia lantas memaksa Bapak untuk minta dipindahkan ke kota Malang. Ya, tentu saja Bapak tidak setuju, Bu. Kalau sama-sama di Malang, pasti akan sangat beresiko untuk ketahuan. Tapi, Mbak Marni terus saja mengeluh. Dia bilang di Madura sepi, tidak ada mal. Dia juga tidak bisa jalan-jalan dengan nyaman. Cuacanya terlalu panas, seolah punya dua matahari di sana. Pokoknya, hampir setiap hari, Mbak Marni itu mengeluh terus, Bu. Bapak sampai pusing karena terus mendengar keluhan si Marni.
Nah, suatu saat, Bapak menawarkan kepada Marni untuk tinggal di Tangerang saja. Di sana, tidak banyak yang kenal sama Ibu, kan. Jadi, Bapak merasa aman kalau Mbak Marni tinggal di sana. Akhirnya, Mbak Marni diajaklah sama Bapak ke Tangerang. Ya, untuk lihat-lihat dulu kondisi di sana. Kalau Mbak Marni merasa cocok, Bapak akan memindahkan Mbak Marni ke sana.” Janu terdiam.
Lelaki hitam manis dengan tahi lalat di dagu sebelah kanan itu sepertinya merasa ragu untuk melanjutkan ceritanya.
“Terus? Ayo, Mas. Lanjutkan ceritamu.” Vita merasa sangat penasaran dengan apa yang kemudian terjadi, terutama hingga Janu akhirnya memutuskan untuk membongkar semua kisah kelam ini setelah beberapa tahun lamanya.
Pasti ada satu alasan mendasar yang membuat Janu akhirnya berputar haluan dan berbalik untuk menyerang Harris. Tidak mungkin kalau hanya sekadar dikejar oleh rasa bersalah, lantas membuat pria beranak satu itu tiba-tiba berubah. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Selama hampir enam tahun, Janu bisa menutupi semua borok Harris. Tentu saja Vita merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara Harris dan Janu selama ini.





