Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
THE MAFIA: MARIJUANA
THE MAFIA: MARIJUANA

THE MAFIA: MARIJUANA

8.4
/ 10
Dalam THE MAFIA: MARIJUANA, Daphne Madison menjadi agen ganda demi membalas dendam pada pembunuh saudarinya. Ia menawarkan diri kepada Casillas Rodriguez, sang musuh bebuyutan. Mafia novel penuh intrik dan action ini menyajikan kisah pengkhianatan yang bisa Anda nikmati saat read novels online.

THE MAFIA: MARIJUANA Bab 1

***

Las Vegas, Nevada, 19.41 PDT

Dor! Dor!

Telinga Daphne berdenging saat mendengar dua buah peluru terlepas dan menembus jantung seorang wanita berambut cokelat kemerahan yang langsung tersungkur bersimbah darah. Suasana di ruangan itu langsung sepi, tanpa suara.

“Daphne,” panggil seorang pria berambut hitam sembari menyerahkan pistol jenis Desert Eagle. Dia Edgar David Ruthen. Salah satu mafia dari dua mafia berpengaruh di Las Vegas, bahkan namanya telah terkenal di dunia mafia yang gelap.

“Ya, Tuan.” Gadis yang dipanggil namanya itu langsung melangkah dan mengambil pistol yang dipakai untuk menembak saudari kembarnya itu.

“Fabian,” panggil Edgar lagi.

“Ya, Tuan.” Pria berusia empat puluh satu tahun yang berada satu langkah di belakang Edgar itu pun mengangguk.

“Bereskan dia. Terserah kau mau membuang atau menguburnya. Pastikan dia benar-benar mati. Well, pasti sudah mati, karena aku menembaknya tepat di jantung,” ujar Edgar dengan seringai lebar, membuat orang-orang yang ada di sana bergidik ngeri, kecuali satu orang yang tampak tak tergoyahkan. “Daphne,” panggil Edgar dengan suara lembut.

“Ya, Tuan.” Daphne mengangguk kecil.

“Aku telah menembak saudari kembar mu. Dia merepotkan, tak sepertimu.”

“... ya, Tuan. Maaf dan terima kasih,” ucap Daphne hampir tanpa emosi. Bagi orang normal, ini bukan saat yang tepat untuk mengucapkan maaf dan terima kasih. Namun, inilah Daphne Madison.

Edgar menatapnya dengan rinci. “Kau tidak menangis?”

“Tidak, Tuan.” Daphne balas menatap Edgar dengan berani. “Tidak ada alasan bagi saya untuk menangis,” tambahnya membuat pria berambut cokelat itu tertawa terbahak-bahak, merasa puas dengannya.

Edgar menepuk bahu Daphne dengan bangga dan tak lupa, seringainya.

“Kau luar biasa, Daphne. Kau tak gentar bahkan setelah aku menembak mati saudari kembar mu,” ujar Edgar masih dengan sisa-sisa tawanya, lalu dia berdeham singkat. “Karena aku baik hati, ku izinkan kau mengantar jalang itu untuk terakhir kalinya.”

Daphne terdiam. Memandang tubuh bersimbah darah itu tanpa berkedip. Sejujurnya, dia sedang berusaha sangat keras untuk tak menunjukkan kesedihan ataupun kemarahannya di hadapan Edgar. Dan itu cukup sulit, mengingat Edgar telah membunuh satu-satunya keluarga yang dia punya tepat di depan matanya. Gadis itu menatap Edgar yang memegang dagunya.

“Jawab aku, Daphne.” Edgar mengintimidasi.

“Ya, Tuan. Terima kasih,” ujar Daphne mengangguk pelan.

Sudah cukup dengan jawaban Daphne yang memuaskannya, Edgar melepaskan dagu Daphne dan berjalan melewati gadis itu, namun Daphne sama sekali tak menoleh. Suara sepatu yang bergesekan dengan lantai pun terdengar menyayat hati. Satu per satu orang di sana pergi dengan perasaan takut dan segan pada Edgar yang bisa membunuh anak buahnya kapanpun dan di mana pun ketika dirasanya salah dan mengganggu.

Daphne memandang mayat saudari kembarnya di depan sana, kemudian menghela napas panjang ketika pintu besi ditutup, menyisakan dirinya dan Fabian di ruangan berbau anyir itu.

“Daphne,” panggil Fabian pelan.

“Aku tahu, Fabian. Aku sudah tahu kalau ini akan terjadi karena Stephanie mengharapkan hal yang bodoh. Aku sudah memperingatinya berulang kali.” Daphne menghampiri saudari kembarnya dan berjongkok di sana. “Bagaimana bisa dia dengan bodohnya berharap pada Edgar? Dia hanya melakukan hal yang sia-sia. Dia dan bayi di perutnya, mati begitu saja. Bahkan sampai detik akhir pun, dia masih bodoh.”

‘Dan lebih bodohnya lagi, aku tak bisa menyelamatkan kalian,’ batin Daphne melanjutkan.

Fabian mengerutkan alis. Di matanya, Daphne terlihat seperti seorang gadis yang tak berperasaan, tetapi mempesona di saat bersamaan. Dia menggeram gusar menahan hasrat ingin mencabuli tubuh seksi yang keras kepala itu, setidaknya sekali.

“Kau ingin menguburnya?” tanya Fabian menghampiri.

“Tidak.” Daphne membalikkan tubuh Stephanie yang tersungkur. Dia menyentuh dada kanan saudarinya yang memiliki dua buah peluru dan bersimbah darah dengan tatapan membara. “Danau Powell akan menjadi tempat yang indah untuk Stephanie dan bayinya.”

***

Tidak ada kata merepotkan untuk membuang mayat di Danau Powell bagian hulu untuk Daphne dan Fabian. Itu sudah menjadi salah satu tugas mereka karena kebiasaan Edgar yang brutal.

“Bantu aku memasukkan Stephanie ke dalam tong, Fabian,” ujar Daphne membuka pintu penumpang, mengeluarkan saudari kembarnya yang tak lagi bernapas dari dalam sana. Sementara Fabian pergi ke mobilnya lebih dahulu dan mengambil tong yang telah disiapkan olehnya dan Daphne sebelum berangkat ke Danau Powell.

“Kau serius, Daphne?” tanya Fabian sembari membawa tong berukuran besar.

“Serius.” Daphne menarik Stephanie yang cukup berat. “Cepat bantu aku. Kita tak punya banyak waktu,” tambahnya.

“Baiklah.” Fabian membantu Daphne memasukkan Stephanie ke dalam tong yang ditutup rapat setelahnya. “Ku pikir kau akan mengubur atau mengkremasinya. Bukankah itu lebih baik untuk Stephanie?”

“Kau tahu dengan pasti, Fabian. Hasilnya akan sama.” Daphne bersandar pada tong yang sudah dalam posisi berdiri. “Kalau aku menguburnya, Edgar bisa saja akan memintamu atau orang lain untuk menggali kuburan dan membuang mayat Stephanie, atau yang lebih parah, tubuhnya akan dicincang untuk makanan anjing kesayangannya. Kalau dikremasi, hanya akan menarik perhatian orang-orang di sekitar. Selain itu, bau dari tubuh yang terbakar pasti akan tercium. Jadi, untuk apa bekerja dua kali?”

“Er, baiklah.” Sudut bibir Fabian berkedut. Daphne mengatakannya dengan sangat mudah. “Terima kasih?” ujarnya ragu-ragu.

Daphne merotasikan mata. “Tidak sepertimu,” ujarnya. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung mendorong tong tersebut ke danau dan menatapnya dengan sayu. “Beristirahatlah dengan tenang, Stephanie, Baby.”

“Hanya seperti itu?” tanya Fabian mengerutkan kening. “Seingatku, kau dekat dengan Stephanie. Tidak ada ucapan perpisahan yang hangat?”

“Mengharap apa kau dariku?” celetuk Daphne mendengus kasar. “Kalau kau mau, lakukan saja sendiri,” sambungnya berjalan menyusuri tepi danau.

“Daphne, kau mau ke mana?” tanya Fabian sedikit berteriak.

“Jalan-jalan,” jawab Daphne.

“Dengan pakaian seperti itu?” tanya Fabian mengkhawatirkan Daphne. Gadis cantik itu hanya menggunakan kemeja berwarna putih yang telah bersimbah darah dan celana pendek hitam dengan rambut yang diikat tinggi.

“Tidak usah mengkhawatirkanku. Kalau sudah selesai mengucapkan perpisahan hangat dengan Stephanie, pulanglah ke markas. Sampaikan pada Edgar kalau aku sedang memata-matai pergerakan Rodriguez.”

“Rodriguez bergerak lagi?” tanya Fabian tak jadi mendoakan ketenangan Stephanie. Dia lebih tertarik pada pergerakan Rodriguez yang dikatakan Daphne.

“Memangnya kapan dia pernah berhenti?” Daphne berbalik menghadap pria yang masih lajang itu. “Tidak jadi?”

“Apanya?” tanya Fabian dengan sudut alis yang terangkat sebelah.

“Perpisahan hangat yang kau katakan itu,” jawab Daphne segera.

Fabian menoleh ke arah danau yang permukaannya tak tenang karena tertiup oleh angin. “Dia sudah cukup mendapatkannya darimu.”

“Lalu, pulanglah,” ujar Daphne menunjuk mobil Fabian dengan dagunya. “Aku tak butuh kau, Fabian.”

Pria itu mendengus kasar dengan tangan yang berkacak di pinggang menunjukkan rasa congkaknya. Namun, itu tidak cukup karena seluruh mafia di Las Vegas pun tahu kalau Daphne lebih congkak daripadanya. “Kau memang luar biasa, Daphne.”

“Aku tahu. Pergilah! Wajahmu memuakkan,” ketus Daphne berdecak kecil. “Tuhan pun malas melihatnya.”

“Bicara apa kau? Tuhan sudah tak melihat kita lagi. Terlalu banyak pekerjaan buruk yang kita lakukan,” sahut Fabian tertawa miris.

“Banyak omong. Ku bilang, pergi!” seru Daphne mendelik tajam.

“Suasana hatimu sangat buruk, Daphne. Inikah sisi aslimu?” tanya Fabian melangkah maju. Membelai helaian rambut Daphne yang tak ikut terikat.

Daphne seketika merinding. Dia melirik tangan yang memegang helaian rambutnya itu dengan dingin.

“Mau ku patahkan tanganmu, Fabian? Aku lebih daripada mampu,” ujar Daphne sangat tak bersahabat.

“Astaga ... baiklah,” putus Fabian menyerah, lalu mundur beberapa langkah. Pria itu masih sayang pada dirinya dan dia tersenyum lebar. “Aku akan melaporkannya pada Edgar sesuai dengan yang kau katakan.”

Daphne menjawab dengan anggukan singkat. Dia menarik napas panjang dan menatap lurus pada Fabian.

“Jangan berjalan-jalan terlalu lama. Kau bisa sakit.”

“Bukan urusanmu, Fabian.”

Pria itu tertawa masam. Dia melihat ke danau sekali lagi. “Semoga Stephanie tenang di sana,” ujarnya pada akhirnya.

Napas Daphne tercekat. Rasa panas menggelitik tenggorokannya. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Kalau begitu, aku pergi,” ujar Fabian melangkah ke mobil yang terparkir tepat di depan mobil Daphne.

Dan Daphne memperhatikan kepergian Fabian, hingga hanya tersisa dirinya di tepi Danau Powell.

Tubuh Daphne langsung meluruh di tepi danau. Dia meringkuk, memeluk dirinya yang kesepian dan dilingkupi emosi buruk dalam dinginnya malam.

“Stephanie bodoh! Sudah ku katakan, jangan pernah memberikan hatimu pada Edgar! Kau berbohong! Kau ingkar janji! Kau meninggalkanku sendirian di dunia ini!” seru Daphne melampiaskan semua kekecewaannya. Namun, di balik itu, dia lebih kecewa dan marah pada dirinya sendiri karena gagal melindungi satu-satunya keluarga yang dia miliki.

Daphne menelungkupkan wajah dan menangis terisak-isak. “Kalau kau mendengarkan ku untuk kabur, kau takkan berakhir seperti ini, Stephanie ... kau membuatku menjadi kakak dan bibi yang sangat buruk,” ujarnya sendu, penuh penyesalan di tepi danau.

———

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku adalah novel Modern、Romansa、Remaja yang sangat adiktif. Baca Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku dan temukan cerita penuh emosi, cinta, konflik, dan twist tak terduga. Cocok untuk penggemar Modern dengan update bab terbaru.
Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa adalah romance novel tentang Nalula yang dikhianati kekasihnya saat terpuruk. Dengan dukungan keluarga billionaire kandungnya, ia memulai misi balas dendam. Simak kisah serunya di web novel ini untuk melihat takdir akhir sang pengkhianat.
IPARKU, CANDU SUAMIKU
IPARKU, CANDU SUAMIKU
Dalam romance novel IPARKU, CANDU SUAMIKU, Nadia harus menghadapi hinaan mertua demi cintanya pada Askara. Namun, sebuah mystery muncul saat sikap suaminya berubah drastis. Nadia pun berjuang mengungkap rahasia gelap perselingkuhan suaminya dengan adik iparnya sendiri dalam modern novel ini.
Istri Untuk Tuan Alex
Istri Untuk Tuan Alex
Dalam Istri Untuk Tuan Alex, Gadis terpaksa menjadi pengantin pengganti demi ibunya. Alex yang membencinya tak menyadari rahasia besar jati diri Gadis. Ikuti konflik penuh misteri dalam romance novel ini di Bakisah, salah satu fiction books yang menyajikan intrik modern mendalam.
Mafia In The Night
Mafia In The Night
Dalam Mafia In The Night, William memburu pelaku pengkhianatan yang menewaskan ayahnya. Di tengah aksi balas dendam dan misteri fitnah keluarga, ia harus menghadapi polisi wanita yang menghalangi misinya. Baca mafia novel penuh petualangan ini di webnovel untuk mengungkap kebenaran.
Menyusui Bayi Mafia
Menyusui Bayi Mafia
Dalam Menyusui Bayi Mafia, Lea terjebak tuntutan El Zibrano yang memaksanya merawat sang putra demi imbalan besar. Novel romance ini mengisahkan perjuangan Lea menghadapi obsesi sang mafia. Simak kisah seru mereka dalam mafia romance books ini hanya di platform web novel terpopuler.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.