The Last Trace

Carlos masih mencoba mengucek matanya. Ia merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Meski netranya sendiri yang menatap tubuh Frallo.

"Allo...!" panggilnya lemah dan syok. Spontan kepalanya menengok ke atas. Cahaya rembulan memantulkan wajah Zin yang masih terus berdiri di sana. Sepertinya lelaki itu juga masih bimbang. Apa betul ini yang ia inginkan? mendorong pembunuh Eiji hingga tewas? Tiba-tiba lelaki itu merasa begitu keji. Tapi perlakuan Frallo pada Eiji pun tak bisa dimaklumi. Masih jelas di ingatannya, luka-luka yang menganga kotor terkena pasir jalanan membuat darah Eiji tersumbat paksa.

Lebam pada wajahnya yang chubby, serta teriakan terakhir Eiji sebelum bibirnya bungkam untuk selamanya.Jika istilah nyawa dibalas dengan nyawa dibenarkan, Maka apa yang dilakukan Zin saat ini adalah sebuah kebenaran.

Carlos berdiri kembali, menunjuk Zin dengan tatapan murka bagaikan beruang kutub yang siap memangsa ikan hiu sekali pun. Tak butuh waktu lama, ia mengarahkan seluruh anak buahnya untuk menangkap Zin.Tak akan ia biarkan Zin pergi begitu saja.

Zin membuka pintu apartemen pelan. Hembusan nafas lelah keluar dari sudut bibirnya. Lelaki itu belum sadar peristiwa apa yang sebentar lagi menimpanya.Zin sama sekali tak bisa berfikir dengan baik, ia masih terus melamunkan ayahnya, Daichi. Sehingga Zin hanya memencet tombol lift berniat pergi begitu saja. Sesaat papan lift menunjukkan sebentar lagi lift sampai pada lantai dua puluh tiga. Tapi Zin yang merasa bosan menunggu akhirnya memutuskan turun lewat tangga.Pintu lift terbuka mengeluarkan segerombolan pertarung jalanan dengan lengan penuh otot. Mereka tak lain adalah anak buah dari Carlos.

Brraakk!

Karena begitu tak sabar membuat Jemmie menendang paksa unit Frallo. Ia pun sama marahnya dengan Carlos.Jemmie mencari Zin di setiap sudut ruangan. Ia sudah seperti banteng yang mengamuk.

“Maaf, Bos ... gak ada siapa-siapa di sini." adu salah satu anak buahnya. Jemmie tahu, Zin pasti sudah lebih dulu kabur.

Jemmie menelpon teman lainnya untuk berjaga-jaga disetiap lantai. Mereka siap menguliti Zin hidup-hidup asal itu keinginan Carlos.Tapi nyatanya Carlos ingin hal lain. Ia ingin ikut merasakan setiap detik penderitaan Zin, hembusan nafas yang terasa bagaikan penyiksaan untuk Zin.

Yeah ... Carlos ingin membalas Zin dengan amat perlahan. Tak akan semudah itu ia membiarkan Zin mati dalam ketenangan.

Pria berhati iblis serta rasa sakit hati dan dendam yang ia pupuk mulai detik ini adalah musibah bagi Zin.

--

Zin telah sampai di lantai delapan belas. Ia memang berjalan gontai, rasanya semua energinya sudah tersedot habis. Tiba-tiba saja tiga orang menghadang jalannya. Dari jaket yang mereka gunakan Zin tahu ... mereka berniat membalaskan dendam, tapi Zin yang santai hanya bisa tertawa meremehkan“Ini dia orangnya, tunggu apa lagi kita habisin!” seru ketiga orang itu. Zin langsung membalas pukulan mereka bertubi-tubi. Bagi Zin yang juara WBC (World Boxing Champion) menghadapi ketiga orang tersebut sangat mudah.Zin menyiku wajah salah satunya dengan keras. Membuat giginya rontok begitu saja. Kepalanya yang keras ia benturkan ke lawan. Membuat suara teriakan keras yang mampu memanggil musuh lainnya.

"Aahkk. Sialan lo," pekiknya dengan wajah berdarah."Kayaknya mereka udah ketemu, ayok kita kesana!" ajak anak buah Carlos lainnya. Dalam hitungan detik sudah ada dua puluh orang yang mengepung Zin. Sepandai-pandainya ia. Zin tak akan mungkin lolos dengan mudah.Kali ini Zin memilih pura-pura pingsan, agar dirinya tak di kepung massa.

"Gimana, kita bunuh saja dia sekalian!" terdengar suara seseorang yang berharap bisa membunuh Zin saat itu juga.

"Jangan, Carlos tak suka jika kita yang membunuhnya. Ia ingin tangannya sendirilah yang menyiksa pemuda itu dengan perlahan!" seringai Jemmie ikut masuk.

"Sebaiknya, pindahkan dia ke bawah. Biar Carlos melihat siapa pembunuh anaknya" tambah Jemmie.

Tubuh Zin di gotong ke bawah, untuk diperlihatkan pada Carlos. Sesampainya disana Perutnya ditendang agar ia bangun dari pingsannya.

Zin dipukuli ... "Bangun lo!" cerca bodyguard Carlos.

Carlos yang masih berduka semakin gila, wajahnya memerah dengan sisa-sisa air mata menghiasi pipinya.

Bibirnya tersenyum devil, siap untuk menyiksa Zin.Suara tepukkan tangan memenuhi ruangan. 

"Kau yang sudah membunuh Fralloku?!" tanyanya dingin.

"Itu sepadan dengan apa yang ia lakukan pada adik dan ayahku," balas Zin tak kalah sengit.

"Hhaha ... pantas?!" ulang Carlos, berjongkok menyamai tinggi Zin yang sudah tersungkur karena tendangan-tendangan yang ia terima.

"Mari ku ajarkan arti kata pantas untukmu," ancamnya serius.

--

Zin dibawa pergi dengan mobil. Ia sendiri tidak tahu kemana tujuan mereka. Tapi Zin tahu, keadaannya saat ini sangat tidak baik. Ia telah terperangkap oleh emosinya sendiri.

Zin mencoba berfikir dengan baik. Karena panikpun hanya akan percuma. Ia berusaha mengenali keadaan meski kedua matanya ditutupi sebuah kain.

Zin memasang telinganya dengan baik, mencoba menguping pembicaraan mereka.

"Kita akan bawa dia ke Villa Carlos yang di tengah hutan. Tak akan ada yang bisa menyelamatkan lelaki itu," cerca suara lelaki meremehkan.

"Yah ... jika ia memilih kabur, itu sama saja ia ingin masuk dalam terkaman buaya. Kamu ingatkan, di samping villa itu ada sebuah rawa yang dipenuhi buaya-buaya kelaparan." tanggapan yang lainnya.

Zin menelan ludahnya kasar. Tak mampu membayangkan jika tubuhnya dilahap kawanan buaya kelaparan.

Spontan ia menghentakkan lengan sampingnya ke besi penjagaan. Sehingga menimbulkan bunyi bising.

"Berisik!" cela si pengemudi.

Zin berusaha membuat kegaduhan. ia juga ingin berteriak meski mulutnya di bekap kuat.

"Mau apa sih tuh orang?" geram bodyguard yang lainnya.

"Kayaknya kita harus periksa deh. Jangan.., bisa-bisa dia kabur saat kita berhenti!"

Lagi, ia memakai tubuhnya untuk menggebrak bagasi

"Tuh ... tapi kalau kita diem terus bakalan tambah berisik dan memancing perhatian para warga," lanjut bodyguard itu mencari alasan. Si pengemudi terlihat berfikir, sepertinya ide temannya itu ada benarnya. Ia juga geram dengan Zin yang tak bisa diatur. Tangannya ingin meminju kembali perut Zin. Apa pun asal Zin bisa bungkam.

Semua itu tak lepas dari masa lalu mereka, yaitu Carlos dan Lee Kwang Zu yang di ketahui adalah ayah Lee Zin.

Tujuh belas tahun yang lalu ... .

Suara derap langkah kaki berat memenuhi sepanjang koridor gelap itu. Penerangan dari cahaya bulan memperlihatkan seorang pria bertubuh tinggi nan besar dengan rahang yang tegas dan lugas serta sedikit rambut yang membentang dari ujung telinga bawahnya ke dagu. Kedua matanya menyipit karena sedikit penerangan cahaya. Namun, itu tak menjadi masalahnya karena ia tahu betul peta tempat ini.

Ketika jalan habis dan menyisakan sebuah pintu, tangannya yang besar dan kekar segera membukanya lalu memperlihatkan sekelompok pria tengah berdiskusi.

"Hai Lee, darimana saja kau? Kita sudah menunggumu di sini. Kita memiliki misi baru," ujar salah seorang pria di sana kepada temannya yang baru datang.

"Ah iya," balas pria yang dipanggil Lee singkat. Ia adalah seorang mafia yang terkenal dengan psychopath dan keberanian yang dimiliki. Namanya Lee Kwang Zu, seorang pria berusia 35 tahun. Meski usianya yang terbilang tidak muda lagi, tetapi perawakan yang dimiliki masih menggambarkan keperkasaan dan kekuatannya. dan karena pekerjaannya seorang Mafia membuat Kwang Zu menjadi kejam dan bengis.

Walau begitu ia juga memiliki seorang anak yang masih kecil. Dan Kwang Zu ingin hidup bahagia bersama anaknya tanpa harus memikirkan pekerjaan. Kwang Zu berniat untuk keluar dari ritinitasnya sebagai mafia.

Pekerjaan yang terkadang membuat ia merasa begitu bersalah kepada putranya. Ia tidak ingin Zin dibesarkan dalam kekerasan. Harapan Kwang Zu pada Zin sangatlah besarSuara derap langkah kaki berat memenuhi sepanjang koridor gelap itu.

Harapan Kwang Zu pada Zin sangatlah besar. Dirinya sudah tak ingin berhubungan dengan dunia yang suram dan tak terkendali. Ia ingin lebih fokus untuk membesarkan anak semata wayangnya itu.

"Kwang Zu, aku menginginkanmu untuk menjadi penyerang pertama. Aku yakin dengan kemampuanmu bisa membuat target kita tidak bisa berkutik lagi." 

Suara itu berasal dari salah satu rekan kerja, Carlos de Baule. Pemimpin dari para mafia.

Meski usianya di Bawah Kwang Zu, itu tak menjadi masalah karena ia lebih kejam dari Kwang Zu sendiri. Tak peduli targetnya adalah musuh atau teman, ia akan segera membasmi jika disuruh. Carlos percaya hanya uanglah yang berkuasa. Jika uang sudah berbicara ia siap menumpas siapapun itu. Kwang Zu terdiam,

"Aku ... aku tidak bisa," balasnya membuat semua orang yang di sana terkejut dan heran. 

"Ah iya, aku akan memberikan senjataku padamu. Kau tenang saja, aku yang akan menjadi pemasok senjata yang kau inginkan. Tinggal sebutkan saja apa dan bagaimana senjata yang kau mau Kwang Zu," ujar salah seorang pria sambil menepuk bahu Kwang Zu.

Kwang Zu menggelengkan kepala menolak, "Bukan. Aku tidak peduli senjata apa pun itu. Aku sudah tak bisa melakukan hal ini lagi," Ia menatap teman-temannya satu persatu dengan tatapan nanar. Kali ini Kwang Zu begitu serius dengan niatannya.

"Apa yang kau katakan?" tanya Yoshito, teman yang selalu mengerjakan misi bersama dengan Kwang Zu. Semua tatapan kini beralih menatap Kwang Zu meminta penjelasan apa yang ingin ia bicarakan dan alasan mengapa ia menolak misi untuknya sendiri.

"Aku sudah tidak ingin melakukan pekerjaan ini. Aku tidak mau, ada seseorang yang harus kujaga sekarang. Aku tak mau ia mendapat masalah karena pekerjaanku ini, kemarin seseorang itu memberikan aku kesadaran. Sesuatu hal yang seharusnya aku kerjakan sejak dulu. Tapi kini aku sudah sadar dan rasanya aku tidak mau mengulur-ngulur waktu lagi," tuturnya seraya mengepalkan tangan kuat.

Ia teringat ketika memandikan Zin anak itu telah menanamkan perasaan damai. Perasaan yang sudah sangat lama Kwang Zu gadaikan untuk pekerjaan haramnya itu. Tapi seiring bertambahnya usia ia seakan haus dengan hal tersebut.

Pengakuannya ini tentunya sukses membuat semua orang terkejut.

Yoshito tertawa, ia menepuk pelan bahu Kwang Zu.

"Kawan, candaanmu ini tidaklah lucu. Ada apa denganmu sampai harus bercanda seperti ini? Apakah kau sedang ingin mengerjai kami?" tanyanya kemudian melanjutkan tawa meremehkan.

Bukannya menjawab Kwang Zu malah terdiam membisu menundukan kepala dan itu berhasil membuat Yoshito membelalakkan matanya tak percaya.

"Kau serius dengan perkataanmu? Tapi mengapa?" tanyanya tak mengerti.

"Kau tahu bukan jika isteriku telah tiada ketika melahirkan anak pertama kami, aku tak mau masa depan anakku menjadi terancam karena pekerjaan ayahnya sendiri," tuturnya.

"Tapi apa kau harus keluar? Memangnya itu menjamin keselamatan anakmu?" tanya Yoshito lagi memastikan jika pendengaran ia salah.

"Ini lebih baik karena aku bisa menjaga anakku lebih tenang. Aku tak mau kebahagiaan kecilnya hancur, aku sudah berpikir dengan matang mengenai keputusan ini. Aku ... Aku akan segera keluar," balas Kwang Zu yakin.

Yoshito tersenyum sinis, kedua tangannya bertumpuk di dadanya yang bidang, lalu kedua mata Yoshito menajam menatap Kwang Zu.

"Ck, memangnya kau bisa selamat setelah ratusan target yang kau bunuh saat keluar? Apa kau tidak me ... ."

"CUKUP!" Teriakan seseorang berhasil membuat Yoshito terdiam tak melanjutkan ucapannya. Suara itu berasal dari Carlos, pemimpin mereka.

Sedari tadi Carlos hanya menyaksikan kedua anggota mafianya yang bertengkar tak jelas di depannya sendiri. Kedua matanya menatap Kwang Zu yang terdiam membisu. Melihat hal itu membuat Carlos yakin jika Kwang Zu tak main-main dengan keputusannya untuk keluar.

Yoshito hanya bisa meringis dan terdiam karena Carlos sudah berbicara, ia tak bisa memarahi Kwang Zu atas keputusannya itu.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.