The hidden truth

“Aku sudah menemukan wanita yang tepat, Tuan.”

Dominic Rutherford seorang CEO dari perusahaan yang bernama Ford mengalihkan pandangan pada seseorang yang bicara. “Apa kau yakin?”

“Sangat yakin. Kali ini, aku yakin kalau Anda tidak akan di permalukan lagi.” Axel, pria yang bekerja sebagai asisten Dominic itu, bicara dengan penuh kesungguhan padanya dan dengan perlahan, ia mulai percaya dan menganggukkan kepalanya.

“Aku percaya dan aku harap kalau wanita itu datang ke rumah ini besok!”

Mendadak tubuh Axel berubah kaku lalu menundukkan kepala. “Begini, Tuan..”

Dominic mengerutkan kening tak suka akan tetapi, ia tidak mengatakan apa-apa dan menunggu kelanjutan cerita Axel.

“Wanita itu bukan berasal dari keluarga kaya dan.. aku, belum berhasil mendekatinya untuk bicara hal ini.” Lanjut Axel dengan masih menundukkan kepala. “Tapi, Anda tenang saja. Dengan perlahan, aku akan mendekati wanita itu dan mengatakan–“

“Bukan berasal dari keluarga kaya? Lalu wanita seperti apa dia? Kau harus ingat, meski aku sudah percaya padamu tapi, kau tidak bisa sembarangan mencarikanku seorang istri!”

Axel sudah berani mengangkat kepala dan mengangguk. “Dia wanita yang baik dan cocok dengan kriteria Anda.”

Dominic menghela nafas kasar dan mengalihkan pandangan pada koran tadi di bacanya. “Kau bisa keluar dan cari cara untuk menjadikan wanita itu sebagai istriku.”

“Baik, Tuan.” Axel masih menatap Dominic dengan ragu lalu, menatap tuannya dengan yakin. “Apa Anda yakin tidak ingin melihat foto wanita itu? Aku takutnya kalau wanita itu tidak sesuai dengan kriteria atau mungkin saja sama seperti –“

“Tidak, perlu! Aku akan putuskan suka atau tidak saat bertemu wanita itu nanti.”

Axel menganggukkan kepala mengerti. “Kalau begitu aku permisi pergi dulu.” Ucapnya lalu berjalan keluar dari ruang kerja.

Saat akan membuka pintu, gerakan tangannya terhenti dan kembali menatap Dominic. “Wanita itu bernama Alicia.”

Dominic diam dengan terus membaca koran saat pintu ruangannya benar-benar tertutup dari luar, ia merogoh sakunya dan menghubungi seseorang.

“Ikuti Axel dan cari tahu wanita bernama Alicia.” Setelah mengatakan itu Dominic memutuskan sambungan dan menghela nafas.

Pada dasarnya Dominic tidak percaya pada siapa pun termasuk pada Axel atau pada orang suruhannya. Tapi, ia tak bodoh dengan mengatakan itu pada orang-orang itu karna ia masih membutuhkan mereka.

Masalah mencari istri itu di lakukannya agar para investor percaya dan memberikan investasi itu pada perusahaannya.

Kalau bisa memilih, ia tidak ingin menikah tapi jika itu untuk kelangsungan perusahaan maka ia akan melakukan apapun. Termasuk mengingat dirinya dengan hubungan sakral yaitu pernikahan.

Setelah mengantarkan minuman pada tamu di ruangan privasi, ia berjalan keluar. Alicia mengabaikan panggilan dari beberapa pria yang memintanya untuk bergabung dengan mereka.

Setelah menutup pintu ruangan yang berisi lima orang pria dan tujuh wanita, ia baru bisa menghela nafas lega.

Lantas ia terus berjalan melewati pintu demi pintu untuk sampai pada ujung jalan lalu menuruni tangga.

“Astaga, aku bisa gila lama-lama bekerja di sini.” Rutuknya tak bisa menahan kesal karna mengingat salah satu pria kurang ajar yang telah menyentuh tubuhnya.

“Kau tahu apa yang aku katakan? Aku bilang mana mungkin bisa punya anak sementara dia tidak mampu untuk berjalan.”

Alicia menghentikan langkah lalu sedikit mengintip di sela dinding.

“Kau kasar sekali padahal dia berasal dari keluarga Rutherford.”

“Retherford?” gumam Alicia sembari bersembunyi di balik dinding lalu, merogoh saku untuk mengambil ponsel dan mengetik nama itu di notes.

“Aku tidak peduli. Dia salah, punya kekurangan tapi dengan beraninya melamarku. Ya, aku tahu dia kaya tapi ayolah, tidak ada orang yang mau menikah dengan pria tidak sempurna.”

“Kau benar.. tapi, aku penasaran bagaimana ekspresi di wajahnya setelah kau tolak?”

“Biasa saja.”

“Apa? Kau serius? Hmm, Aku jadi curiga kalau dia melakukan itu bukan karena tertarik tapi–“

“Aku tidak peduli. Karena aku sudah memiliki pacar yang sempurna dan tak kalah kaya dari dia.”

Sombong sekali ucap Alicia dalam hati dan tersentak ketika melihat salah satu wanita berdiri di depannya dengan tatapan penuh curiga.

“Kenapa kau berdiri di situ?”

Oke, tenang Alicia ucapnya dalam hati. “Aku..”

Alicia mencari jawaban dengan gugup sesekali ia akan menatap wanita yang menunggu alasannya. Saat merasa tidak menemukan alasan yang tepat, ia buru-buru pergi meninggalkan wanita itu.

Saat menuruni tangga tanpa sengaja matanya bertemu dengan wanita satunya lagi dan menunduk sambil terus menuruni tangga.

“Benar-benar tidak sopan!”

“Sudahlah, biarkan saja. Mungkin dia baru berdiri di sana!”

Alicia menghela nafas lega setelah jaraknya sudah cukup jauh. Kemudian, ia menuruni anak tangga dengan santai.

Beberapa langkah menuju anak tangga terakhir, ia mulai mendengar suara musik yang cukup keras. Lalu, tangannya terulur untuk memastikan wig pendeknya terpasang dengan benar agar tidak ada yang curigai kalau rambutnya kini bukan rambut asli.

Di kelap malam tempatnya bekerja memiliki cukup banyak peraturan agar pekerja wanita merasa nyaman. Salah satunya adalah melarang tamu pria untuk menyentuh mereka. Jika ada yang melanggar maka pria itu akan di usir dengan tidak terhormat.

Namun, selama bekerja di sini, Alicia belum pernah melihat hal seperti itu. Ia hanya mendengar rumor yang tidak dapat di buktikan tapi tetap membuatnya takut.

“Wah, aku tidak percaya kalau kita akan bertemu lagi sini. Tapi, aku merasa kau sedikit berbeda. Ah, warna rambutmu!”

Alicia menolehkan kepala ke asal suara dengan nada sedikit keras karna bunyi musik di kelap lalu, ia mendengus. Pria tidak sopan karna sudah membaca diariku ucapnya dalam hati.

Lalu Alicia menuruni tangga dan berjalan meninggalkan pria itu seorang diri.

“Sudah berapa lama kau bekerja di sini?”

Alicia memejamkan mata untuk menahan rasa tidak sukanya lalu, ia melirik pria itu. “Kenapa aku harus mengatakannya padamu?”

“Aku hanya ingin tahu, itu saja.”

“Cia!”

Mendengar namanya dengan suara keras, Cia, nama panggilannya di kelap, berjalan mendekati asal suara. “Ada apa?”

“Antarkan ini ke.. ruangan nomor tiga puluh dua.”

“Kenapa mereka tidak minum di sini saja?” Alicia bertanya dengan tatapan lurus ke gelas yang harus diantarkan ke ruangan privasi. Ia tidak yakin akan bisa sampai di sana karna harus melewati tangga dan beberapa orang iseng.

“Sebagai pekerja, kalian tidak bisa memilih kemauan pelanggan.”

Alicia mengalihkan pandangan pada si pemilik suara lalu, menggelengkan kepala tidak percaya karna menyadari kalau pria itu mengikutinya.

Axel, pria itu, menyadari tatapan wanita di depannya menaikkan satu alis. “Kenapa? Apa aku salah bicara?”

“Tidak, apa yang Anda katakan benar.” Bartender setuju dengan pendapat Axel yang tersenyum tanpa dosa.

Lalu ia melirik Alicia yang masih menatapnya tidak suka membuatnya menaikkan salah satu alis. “Kenapa kau masih berdiri di sini? Bukannya kau mengantarkan minuman?”

Alicia tergagap lalu, mengambil nampan ada di atas meja dan berjalan meninggalkan pria aneh itu.

Selama berjalan, ia berharap kalau tidak bertemu dengan orang iseng yang di tangga.

Daftar Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.