The hidden truth

Terlahir sebagai anak dari orang tua yang hidup susah membuat Alicia harus menahan keinginan untuk kuliah. Meski sebenarnya ia bisa kuliah dengan beasiswa tapi, ia sadar dengan kebiasaan bermain judi sang ayah yang mengharuskannya untuk ikut mencari uang.

Selain bermain judi, ayahnya juga suka meminjam uang pada orang lain untuk ikut bermain lagi dan hal itu terus berlangsung hingga saat ini.

Alicia harus bekerja di dua tempat yang berbeda, malam hari di Kelap dan di siang hari di kafe, agar hutang-hutang itu cepat di lunas.

Ia juga berusaha menyisihkan sedikit gajinya untuk menggaji ayahnya yang sudah merawat Max dengan baik.

“Kenapa kau malah diam? Aku menunggu uang yang biasa kau berikan padaku setiap bulannya.”

Saat ini ibunya sedang bekerja maka dari itu ayahnya berani meminta uang. Kalau saja wanita yang sudah melahirkannya itu tahu, sudah pasti Sarah akan marah dan orang tuanya akan bertengkar.

Walau sangat membenci pria yang sedang menatapnya penuh amarah tapi, jauh di dalam lubuk hatinya, Alicia sangat menyayanginya.

Ia berharap kalau ayahnya berubah menjadi pria yang bertanggung jawab dan baik seperti dulu.

“Kau memiliki telinga atau tidak?”

Alicia tersentak dan kembali, menatap sang ayah. “Aku.. uang itu sudah habis.”

“Jangan bohong, aku tahu kalau kau masih menyimpan uangnya!” Tuntutnya membuat Alicia menghela nafas kasar.

“Aku memberikan uang itu untuk memenuhi kebutuhan ayah selama tidak bekerja bukan untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna.”

“Bermain judi adalah kebutuhanku ! Dan asal kau tahu, jika aku menang, maka uangnya akan sangat besar.”

Diam-diam Alicia mendengus mendengar ucapan sombong dari Anton, ayahnya. Ia sudah bosan mendengar perkataan sombong itu karna nyatanya pria itu tidak pernah menang.

Anton selalu kalah dalam main judi namun anehnya, ayahnya bukan menyerah malah terus bermain.

Pria itu juga tidak peduli dengan banyaknya uang yang harus di habiskan saat bermain karna kemenangannya akan mengembalikan semua uangnya.

Setiap kalah, Anton merasa tertantang untuk memenangkan permainan maka dari itu, ia terus bermain dengan membayangkan uang ada di depan matanya.

“Aku tidak bohong! Uang itu..” Alicia memejamkan mata kala menyaksikan adegan di mana ayahnya melempar pot bunga hias di atas meja.

“Apa kau pikir aku bercanda? Sekarang, cepat mana uangnya? Oh, atau kau mau aku menjual anjingmu itu?”

Dengan cepat Alicia menggelengkan kepala mendengar ancaman dari ayahnya. “Jangan jual Max!”

“Kalau kau tidak mau anjing itu aku jual maka mana uangnya? Asal kau tahu, aku paling tidak suka dengan pembohong! Kau pikir merawat anjing itu mudah? Tidak! Sekarang mana bayarannya!”

Alicia meneguk ludah kasar lalu, menatap ayahnya dengan takut. “Sebenarnya uang itu ada tapi–“

“Tapi apa? Cepat katakan dan jangan berbelit-belit!”

“Uangnya sudah aku pakai sebagian untuk membeli obat ibu.”

“Apa? Astaga!” Anton berkata sambil berjalan dengan sesekali mengacak rambutnya di depan Alicia yang menggigit bibirnya pelan.

Tiba-tiba ayahnya berhenti melangkah lalu, menatap Alicia penuh amarah. “Kau..” Anton memejamkan mata dan kembali membukanya. “Kau bilang hanya sebagian jadi, mana sisanya?”

“T-tunggu sebentar, akan aku ambilkan.” Sahut Alicia sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar.

Ia sadar kalau apa yang di lakukannya salah tapi, saat melihat sang ibu berpura-pura baik-baik saja di depannya padahal sebenarnya sedang menahan sakit membuatnya tidak tega.

Alicia juga sadar tanggung jawabnya yang memiliki peliharaan maka ia harus merawatnya dengan baik dan menjaganya seperti anak sendiri. Kalau tidak, hewan kesayangan itu akan mati atau mungkin bisa menjadi liar dengan menggigit orang.

Sekitar pukul enam pagi, Alicia bangun dari tidurnya. Padahal ia baru benar-benar bisa tidur saat jarum jam menunjukkan angka empat subuh tapi, ia akan selalu terbangun beberapa jam setelahnya.

Lalu ia akan mendengar Sarah, ibunya, mengeluh perih di tangan serta sakit pada kakinya dan hal itu, sukses membuatnya merasa tidak berguna sebagai seorang anak.

Seharusnya di usia dua puluh tiga tahu, ia sudah bisa membahagiakan ibunya dengan uang hasil kerja kerasnya.

Tapi alih-alih melakukan itu, ia malah membiarkan sang ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Terkadang, apa yang di katakan oleh ayahnya benar. Ia memang harus membalas jasa orang tua dengan memberi mereka uang tanpa membiarkan mereka bekerja.

“Alicia, ada seseorang yang memanggilmu.”

Alicia sedang memikirkan ibunya tersentak dan menatap seseorang yang bicara. “Kau bilang apa?”

“Kau lihat pria yang duduknya membelakangi kita?”

Ia mengarahkan pandangan pada seseorang yang di katakan Vio, rekan kerja sekaligus sahabatnya di kafe. Saat menemukannya ia menganggukkan kepala. “Aku melihatnya tapi.. kenapa?”

“Pria itu cukup tampan..” Vio tersenyum tanpa dosa saat Alicia menatapnya tajam. “Maksudku, dia mencarimu.”

“Mencariku?”

Vio mengangguk. “Iya dan saat ini, dia sedang menunggumu.”

Alicia langsung menatap Vio tidak suka dan menggelengkan kepala. “Mana mungkin? Kau pasti salah dengar.”

“Aku tidak salah dengar! Asal kau tahu saja, telingaku masih berfungsi dengan baik untuk membedakan nama Vio dan Alicia!”

Ia mendengus lalu kembali menatap punggung kokoh milik pria itu kemudian, mengalihkan pandangan pada Vio. “Kau yakin?”

Vio mengangguk. “Iya, sebaiknya kau temui saja pria itu dan aku akan memberikan alasan pada bos.”

“Vio!”

Alicia ikut menoleh ke asal suara saat mendengar ada seseorang yang memanggil nama Vio. Kemudian, ia menolehkan untuk menatap sahabatnya.

“Aku harus kerja lagi dan kalau kau penasaran, maka temui saja pria tampan itu!”

Alicia mendengus dan Vio tertawa kecil sambil berjalan meninggalkannya sendirian.

Setelah mempertimbangkan semuanya, ia meletakkan nampan di atas meja dan mendekati pria itu.

“Apa ada yang bisa saya bantu?” Alicia bertanya saat sudah berdiri di depan meja pria itu lalu, mengangkat kepala. “Kau?”

“Duduklah!”

Sebenarnya Alicia ingin menolak tapi, ia tidak ingin menimbulkan keributan jadi memilih untuk duduk di kursi kosong.

“Ada apa?”

“Kau tidak ingin pesan sesuatu?”

Alicia menggelengkan kepala. “Tidak usah berbasa-basi, cepat katakan apa yang ingin kau katakan padaku lalu, aku akan pergi.”

“Kasar sekali. “Axel berucap sambil meminum kopinya dan meletakkan di atas meja. Ia kembali menatap Alicia dengan senyum yang akan membuat setiap wanita terpikat tapi sayang sekali, Alicia bukan salah satunya.

“Ini tentang isi buku Diarimu–“

“Kau sangat tidak sopan membuka buku yang menjadi rahasia seseorang!” potongnya dengan cepat sambil menatap pria di depannya kesal.

“Mana aku tahu kalau buku itu berisi rahasiamu! Saat itu, aku Cuma ingin melihat identitasmu tapi–“

“Cukup! Sekarang katakan! Apa yang ingin kau katakan?”

Axel hanya tersenyum melihat wanita di depannya lalu, ia mengedarkan pandangan pada pengunjung kafe. Setelah di rasa aman, ia memajukan wajah lebih dekat dengan Alicia.

“Dari buku yang aku baca kalau hidupmu benar-benar susah. Maksudku–“

“Jangan meralatnya karena.. memang benar.” Selanya sambil menghembuskan nafas kasar. “Aku tidak punya banyak waktu, jadi cepat katakan tujuanmu!”

“Maaf, tapi aku di sini hanya ingin menawarimu sebuah kesepakatan. Ini mungkin terlalu cepat tapi aku rasa kau adalah orang yang tepat.”

Axel menunggu beberapa menit tapi tidak ada tanda-tanda Alicia ingin bicara. Lalu, ia menghela nafas dan kembali bicara. “Saya akan memberikan kau uang tapi.. kau harus menuruti permintaanku.”

Alicia mengerutkan alis bingung sekaligus tertarik dengan tawaran dari pria di depannya. Apapun risikonya, itu bisa di urus nanti yang lebih penting, ia harus tahu pekerjaannya dulu.

“Kau mau atau tidak, Alicia?” Axel memastikan kembali, membuat wanita di depannya sedikit kaget.

Lalu, perlahan ekspresi itu hilang karna Alicia menyadari kalau pria di depanya tahu namanya dari diari miliknya.

“Katakan pekerjaannya dulu dan setelah itu.. aku baru bisa memutuskan langkah selanjutnya.”

“Pekerjaannya sangat mudah.. menjadi istri dari–“

“Menjadi istri orang? Apa kau sudah gila!”

Axel mendengus. “Makanya jangan menyela perkataanku!”

Alicia terdiam beberapa menit lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak ingin menjadi istri dari seseorang yang tidak aku kenal!”

“Kau akan menyesal menolak tawaranku karna.. pria yang menjadi suamimu bukan orang sembarangan. Dia orang yang baik juga.. kaya.” Axel masih menatap wajah Alicia yang mulai terlihat tertarik kemudian, ia membulatkan mata melihat wanita itu berdiri dari duduknya.

“Dengar ya pria yang tidak aku tahu namanya! Dia boleh saja kaya dan baik tapi itu bukan menurutku tapi kau ! Lagian, aku tidak tertarik menikah apa lagi karna uang.” Alicia menghembuskan nafas kasar dengan masih menatap pria yang duduk di kursi.

“Selamat menikmati hidangannya, Tuan.” Setelah mengatakan itu Alicia berbalik dan berjalan menjauhi Axel yang menatap Alicia tidak percaya.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.