Tepat ketika Keysia sedang memutar kunci yang ada di pintu ruangan itu, tiba-tiba dia merasakan ada tangan besar dan dingin menyentuh pundaknya. Jantung Keysia seakan berhenti berdetak, aliran darahnya seakan tersumbat, matanya terbuka lebar, napasnya tertahan, begitu juga dengan gerakan tangannya yang seolah di berhentikan waktu.
Dalam benak Keysia sudah muncul berbagai macam pikiran buruk, dia bahkan sudah berpikir kalau kali ini memang benar-benar akan menjadi akhir dari hidupnya.
"Siapa ini? Jangan-jangan ini adalah hantu penunggu ruangan ini, atau orang ini adalah rampok," kata Keysia dalam hati.
Tak ada jalan lain untuk mengetahuinya selain menoleh, Keysia sudah bersiap akan teriak sekencang-kencangnya untuk memanggil sang Ayah, toh di rumah ini dia tidak sendiri, ayahnya pasti akan segera dating menolongnya.
Keysia memberanikan diri untuk menoleh, perlahan dia sedikit memutar kepalanya untuk melihat tangan siapa yang sekarang bertengger di bahunya.
Ketiak Keysia menoleh dia langsung berteriak tanpa ingin melihat orang itu.
"Aaaaa …!" Keysia berteriak sekencang-kencangnya sambil emnutup mata dengan kedua tangan.
"Hey, Key. Ini Ayah," ucap Bram sambil terkekeh karena melihat wajah putrinya yang sudah pucat pasi.
"Ayah?" tanya Keysia memastikan tapi dia belum juga berani menurunkan tangannya.
"Iya, ini Ayah, Sayang. Kamu kamu mudah sekali dijahili," jawab Bram seraya menurunkan tangan anak gadisnya.
"Ah, Ayah. Itu tidak lucu! Ayah tau, aku hampir saja terkena serangan jantung karena ketakutan." Keysia mendengus sebal sambil memasang wajah cemberut.
Alih-alih merasa bersalah justru Bram malah terkekeh sembari geleng-geleng kepala.
"Ih, kenapa Ayah malah tertawa." Keysia semakin cemberut.
"Iya, iya, Sayang. Ayah minta maaf. Ayah tidak bisa menahan tawa ketika melihat wajahmu yang lucu," ujar Bram seraya memeluk anak semata wayangnya itu.
"Tapi Ayah sejak kapan ada di sini?" Keysia bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Sudah lumayan lama, tadinya Ayah ke sini mau mengecek kamu karena kamu terlalu lama di sini, Ayah pikir takut ada sesuatu yang terjadi keoadamu, maka dari itu Ayah memastikan ke sini. Eh, tapi Ayah malah melihat kamu jalan mengendap-endap ke sini dengan menempelkan telingamu di pintu, jadilah jiwa jahil Ayah terpanggil,” jawab Bram sambil tersenyum jenaka tanpa rasa bersalah sedikit pu.
"Ayah jahil, sudah tau anaknya sedang ketakutan," gerutu Keysia.
Ketika itu datanglah Shinta dengan tergopoh-gopoh karena dia cemas mendengar suara teriakan Keysia.
“Ada apa ini?” tanya Shinta, wajahnya sangat cemas.
“Tidak ada apa-apa, Bu. Kita hanya sedang bercanda,” jawab Bram.
“Tapi Ayah bercandanya sangat keterlaluan,” sanggah Keysia.
Bram terkekeh, "Memangnya kamu sedang apa di sini? Tadi kan kamu bilang ingin ke kamar mandi, kenapa malah ke sini?" tanya Bram.
“Iya, Key. Kenapa kamu ada di sini?” Shinta ikut bertanya, namun fokusnya beralih ketika dia melihat sebuah kunci bertengger di pintu ruangan aneh itu.
“Itu kunci ...,” Shinta menunjuk ke arah kuncinya, tapi Bram segera menyambar kunci tersebut begitu Shinta menunjukkannya, lalu dia memasukkan kunci tersebut ke dalam kantong.
Wajah Bram seketika berubah, dia terlihat sangat gugup seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Bukankah kamu bilang kalau kuncinya itu hilang entah ke mana? Lalu itu apa?” tanya Shinta dengan penuh selidik.
“Oh ini ... Kunci ini memang hilang sebelumnya, tapi ... tadi malam aku baru saja menemukannya,” jawab Bram sedikit terbata-bata.
“Itu artinya kamu sudah masuk ke dalam sana?” tanya Shinta lagi, seperti layaknya seorang detektif yang sedang mengintrogasi pelaku.
“Iya, aku memang masuk ke sana untuk sekedar memeriksa dan benar dugaanku dalamnya sangat berdebu, selain itu banyak tikus sebesar kepalan tangan dan entah makhluk apalagi yang ada di dalam sana. Jadi aku pikir lebih baik kalian jangan ada yang masuk ke dalam, biarkan aku menyimpan kunci ini,” kilah Bram.
Shinta menatap Bram dengan pandangan penuh selidik, hatinya sama sekali tidak percaya pada semua yang Bram katakan barusan.
“Sepertinya aku memang harus membuktikan sendiri apa sebenarnya yang dia sembunyikan di dalam sini,” batin Shinta.
“Key, jadi apa yang membawamu ke sini?” pertanyaan Shinta beralih kepada Keysia.
Keysia tidak langsung menjawabnya, dia berpikir apakah harus menanyakan hal ini kepada ayah dan ibunya atau tidak. Tapi karena rasa penasaran yang begitu kuat akhirnya dia mengutarakan yang sebenarnya.
"Tadi ketika aku hendak masuk ke kamar mandi, aku mendengar suara perempuan menangis, menurut pendengaran aku sih asal suaranya dari dalem sini," terang Keysia.
“Apa? Suara perempuan menangis?” seru Shinta dengan wajah yang sangat terkejut.
Netra Bram juga sedikit terbuka lebih lebar, pandangannya begitu sulit diartikan oleh Keysia. Tapi gadis itu pikir mungkin ayahnya juga sama terkejutnya.
"Benarkah? Apa kamu yakin, Key?" tanya Bram.
"Iya, Ayah, Ibu. Aku yakin seratus persen suaranya itu berasal dari dalam ruangan ini," Keysia menjawab dengan keyakinan penuh.
"Jangan-janga itu …," Bram menggantungkan kalimatnya dan berhasil membuat Keysia semakin penasaran.
"Jangan-jangan apa, Yah?" tanya Keysia, bulu kunduknya semakin meremang. Dia pikir kalau ayahnya itu pasti tahu sesuatu.
"Jangan-jangan itu … han-tuu …," Bram sengaja berkata mendayu-dayu agar anaknya semakin ketakutanya
"Apa Ayah serius? Aku juga berpikir begitu. Apa Ayah pernah melihat ada hantu di sini?" tanya Keysia dengan setengah berbisik agar hantunya tidak mendengar. Wajahnya sekarang sangat serius dengan guratan-guratan penuh ketakutan.
"Pernah," jawab Bram.
“Di mana ada hantu? Selama aku hidup, tak pernah sekalipun aku melihat hantu,” sanggah Shinta. Dia yakin bahwa hantu itu mungkin memang ada, tapi rasanya aneh jika di rumah ini ada hantu. Hati kecil Shinta mengatakan bahwa apa yang didengar oleh anaknya itu bukanlah suara hantu.
Sementara Keysia dengan mudah percaya, dia semakin terbelalak, "Di mana Ayah pernah melihat hantu?”
"Itu hantunya sedang berdiri di depan Ayah sekarang," jawab Bram seenaknya sambil menunjuk ke arah Keysia dan langsung disusul oleh gelak tawanya sendiri.
"Ah, Ayah. Itu tidak lucu, aku sudah sangat serius mendengarkannya," Keysia mengomel samba mencak-mencak saking geramnya.
"Kamu itu kids zaman now tapi masih percaya pada takhayul," ledek Bram di sela-sela tawanya.
"Aku serius, Ayah!" seru Keysia.
“Key, hantu itu memang ada, tapi dia tak akan pernah menganggu jika kita juga tidak mengganggu,” Shinta menimpali.
"Kalau begitu mana sekarang suara tangisnya? Ayah rasa, sedari tadi Ayah tidak mendengar suara apapun? Kamu mungkin hanya berhalusinasi saja, Key."
"Maka dari itu Ayah diam dulu, suaranya tidak akan terdengar jika Ayah tertawa seperti itu karena suaranya kecil." Keysia masih bersikeras dengan pendapatnya.
"Oke, ini Ayah diam," Bram menuruti permintaan putrinya untuk menutup mulut.
Bram, Shinta dan juga Keysia kembali memasang telinga lebar-lebar berharap mendengar sesuatu, tapi sudah beberapa detik berlalu, tidak ada suara apa pun selain suara rintik hujan yang sudah mulai mereda. Padahal Keysia berharap kalau suara tangis itu kembali terdengar agar ayahnya bisa percaya kalau apa yang dia dengar barusan itu emmang benar, bukan halusinasi semata.
"Mana, Key? Ayah tidak mendengar apapun, iya kan, Bu?" ungkap Bram.
“Shinta mengangguk, “Iya, Ibu juga tidak mendengarnya.”
"Iya memang aku juga tidak mendengar apapun sekarang, tapi aku tidak berbohong, Ayah. Tadi sebelum ada Ayah dan Ibu, suara itu masih terdengar," tegas Keysia, berusaha meyakinkan ayahnya.
Bram hanya bisa angkat bahu, dia memang termasuk orang yang tidak terlalu pada hal-hal yang berbau mistis seperti itu.
Berbeda dengan Shinta, dia tau betul bagaimana anaknya. Keysia tak mungkin berbohong atau hanya sekedar mengarang cerita. Dari tatapan matanya, Shinta bisa tau kalau Keysia benar-benar mendengar suara tangis perempuan dari dalam sana.
"Mungkin itu suara tetangga. Jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kita lanjutkan saja makan kue, lagipula kamu bilang ingin buang air kecil, kan?" Bram sepertinya tak mau ambil pusing, dia segera mengambil kunci yang menyantel di pintu itu.
"Iya, tapi Ayah …." Ucapan Keysia segera di potong oleh Bram.
"Jangan suka menakut-nakuti diri sendiri," tegas Bram seraya berlalu.
Melihat ayahnya akan pergi, dalam hati Keysia justru seperti masih mengganjal dan banyak hal yang sangat ingin ia tanyakan mengenai ruangan itu.
“Ibu, tapi aku tidak berbohong,” Keysia meminta pembelaan.
“Ibu percaya kepadamu, tapi untuk sekarang lebih baik kita lanjutkan dulu acara tadi. Biarkan itu menjadi urusan Ibu,” jawab Shinta.
Bram menghentikan langkahnya dan sedikit menoleh, sebuah senyuman yang sangat sulit untuk diartikan pun tersungging di sudut bibir Bram, "Jangan membuat aku marah. Baik kamu maupun Keysia tidak ada yang boleh masuk ke ruangan itu. Aku udah bilang kalau kamu jangan ingin tau tentang ruangan itu, lagipula pertanyaan-pertanyaan tadi sudah aku jawab ‘kan?" kata Bram dengan penuh penekanan seraya berlalu.
“Tapi, Kenapa? Dengan sikapmu yang seperti itu justru membuat aku semakin penasaran, Mas,” bantah Shinta dalam hatinya.
Ruangan itu tidak memiliki jendela satu pun, dalamnya selalu gelap karena tidak pernah diberi penerangan, dan kunci ruangan itu pun dibawa oleh Bram. Benar-benar tidak ada celah untuk masuk ke sana.
Tapi Shinta bertekad, cepat atau lambat dia akan mengungkap misteri tentang ruangan itu.
Kemudian mereka pun kembali melanjutkan acara tersebut dengan memakan kue bersama-sama dan melupakan semua kejadian tadi.





