Bae-Hyun menggelengkan kepalanya. "Ah tidak, tadi aku bersama orang. Tapi aku diturunkan di jalanan karena nenek lampir itu."
"Nenek lampir?"
Ga-Eun sempat ingin tertawa ketika mendengarkan ucapan Bae-Hyun barusan.
"Pftt ...."
"Kenapa tertawa hah?"
"Siapa yang tertawa coba?"
"Kau kira aku tuli?"
Mereka berhenti di halte tersebut. Tangan Ga-Eun dilepaskan di lengan pria tersebut.
"Sudah sampai, aku harus kembali."
Belum saja Ga-Eun melangkah, akan tetapi pria itu menahan lengannya. "Namamu siapa?"
Mata Ga-Eun menatap tangan pria itu yang melingkar dilengannya, sekilas ia menatap wajah tampan milik Bae-Hyun. "Ga-Eun."
Deg! Mendadak tubuh Bae-Hyun membeku. "Ga-Eun? Apa dia gadis yang akan dinikahkan denganku nanti?" batin Bae-Hyun bertanya-tanya.
Masih dengan Ga-Eun, Bae-Hyun masih terdiam, melamunkan apa yang dibicarakan Mamanya dan keluarganya tentang gadis yang akan di nikahinya nanti. Sedetik pula, akhirnya dia tersadar kembali. "Oh--okey. Sekali lagi terimakasih sudah membantuku."
Ga-Eun tersenyum lebar. "Itu sudah kewajibanku Tuan. Kalau butuh batuan bilang saja, aku akan mencatat nomorku. Wait." gadis itu menarik tangan pria tersebut, satu persatu nomor di tulis di telapak tangan Bae-Hyun dengan menggunakan pulpen yang dia bawa. Setelah itu, dia memberikan kertasnya untuk Bae-Hyun.
"Harusnya aku membawa ponsel tadi," ujar Bae-Hyun spontan, menatap gadis tersebut.
"Tidak masalah Tuan, nanti kau catat saja, aku tidak bisa lama-lama. Nanti aku bisa dimarahi, sampai jumpa Tuan!"
Ga-Eun berlalu di hadapannya tanpa berpikiran apakah pria itu akan bisa membaca tulisan tersebut, padahal pria itu buta.
Pria itu masih merasakan akan adanya gadis itu di sampingnya.
"Aku harap gadis itu kau, Ga-Eun," ujar Bae-Hyun spontan, sedetik pula terenyum tipis.
Selang beberapa menit, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju kearahnya dan mengklaksonnya dengan keras. Bae-Hyun mendengarkan itu dan tau persis mobil siapa itu.
"Pasti Bae-Jeon," desisnya dengan senyuman mirisnya.
"Ah-- saudara kembarku. Sedang menungguku ya?"
Bae-Hyun mendengkus kesal. "Buat apa kemari hah?"
"Buat menjemput saudarakulah. Apa lagi?"
"Bitch!"
Bae-Jeon membukakan pintu untuk saudara kembarnya itu. "So? Mau ikut denganku?"
Pandangannya menatap punggung seorang gadis yang sudah menghilang dari tikungan. "Kau sudah melihat gadis itu?"
Bae-Hyun mengdengkus pelan. Mau tidak mau, dirinya harus ikut dengan Bae-Jeon tanpa menjawab satu katapun. Lalu, memasuki mobil milik saudaranya itu.
Tidak lama kemudian, mobil itu melaju pergi dari halte tersebut dengan kecepatan rata-rata.
Di setiap perjalanan tidak ada gumaman sedikitpun, yang di dengarkan oleh mereka hanya hembusan napas dan juga suara mobil yang melaju.
"Ternyata sebentar lagi kau tidak sendiri lagi Bae-Hyun. Aku turut bahagia," kata Bae-Jeon mendahulu pembicaraannya dengan santainya. Sembari menatap saudara kandungnya itu dari spion.
Bae-Hyun mengulas senyumanya. Sekilas dirinya menghembuskan napasnya dengan pelan. "Terimakasih, Bae-Jeon."
Setelah itu, tidak ada pembicaraan kembali. Lagipula, Bae-Hyun sangat malas berbicara lagi dengan Bae-Jeon.
***
Ga-Eun hendak masuk ke dalam rumah kediamannya. Mendadak langkahnya terhenti ketika melihat kucing yang berjalan dengan lamban.
"Astaga, pussy?" Ga-Eun berlari mendekatinya, lalu menggendong kuncing tersebut dengan pelan. Pandangannya menuju ke kalung merah yang berbentuk bintang.
"Bintang? Bukannya ini kalung dari keluarga Bae? Apa ini kucing yang di cari Tuan Bae tadi?" ujar Ga-Eun memegang bentuk bintang yang hampir retak, sesekali memikirkan ucapan Bae-Hyun tadi.
"Meong!"
Ga-Eun menatap kucing tersebut. "Kau kenapa?"
Kucing tersebut mengusap wajahnya dengan tangannya dengan lucunya.
"Ah-- lucunya. Biar ak-- eh sebentar kakimu berdarah siapa yang melukaimu hah?"
"Astaga! Aku akan mengobatimu. Tuanmu di mana? Kenapa kau sendirian?" tanyanya pada kucing tersebut dengan nada lembut.
Ga-Eun berlari menuju ke dalam rumahnya dengan membawa kucing yang ditemukan di depan rumah.
"Ga-Eun kenapa kau membawa kucing itu ke dalam hah!" ucap seorang wanita yang berpayuh bayah itu dengan nada tinggi.
Sontak membuat gadis itu menoleh ke wanita itu. "Maaf, Ma. Kucingnya sedang sakit. Jadi, Ga-Eun mau mengobatinya," ujar Ga-Eun dengan menundukkan kepalanya.
Wanita itu sontak menggeram dengan pelan. "Pintar ya, keluar tidak izin Mama. Terus? Itu kuci--" ucapan wanita itu terhenti.
"Kenapa kau membawa kucing itu kemari hah! Cepat bawa keluar!"
Ga-Eun melindungi kucing tersebut ke dekapannya. "Ma! Dia terluka. Ga-Eun harus mengobatinya."
"Tau tidak tadi Mama sudah mati-matian membuang kucing itu keluar!" bentak Mama Ga-Eun dengan keras.
Ha-Eun, Mama Ga-Eun yang terkenal dengan keras, bahkan sangat pemaksa dengan anaknya sendiri.
Ga-Eun menghela napasnya.
"Buang sekarang juga!" bentak Ha-Eun dengan keras, matanya memerah.
Mau tidak mau, Ga-Eun keluar dari rumahnya dan meletakkan kucing tersebut di depan rumahnya. "Tunggu ya Pussy. Maaf, tidak bisa membantumu," lirihnya, lalu dirinya mengambil sapu tangan ke kaki kucing tersebut.
"Ga-Eun!"
"Iya Ma!" teriak Ga-Eun, lalu melangkah pergi masuk ke dalam rumahnya. Sampai kapan dirinya keluar dari rumah ini.
Ga-Eun menutup kamarnya, sekilas menghela napasnya dengan pelan saat mengingat ucapan Mamanya kemarin malam.
Flassback
"Ga-Eun, kau harus menikah sama keluarga Bae. Mama tidak mau tau, Mama sudah lelah hidup seperti ini, Mama butuh uang."
"Iya, Kakakmu juga ingin seperti orang lain."
"Tapi, kak kenapa harus Ga-Eun. Ga-Eun juga ingin seperti mereka. Yang masih nikmati masa remajanya."
"Ga-Eun percaya sama Mama. Kau akan bahagia dengan pilihan Mama," ujar Mamanya dengan senyuman hangat sembari menangkup kedua pipi gadis itu dengan lembut sebelum pergi dari hadapannya.
Ga-Eun hanya diam di tempat sana, menatap punggung Mama dan Kakaknya menghilang dari penglihatannya. Apa harga dirinya seperti barang yang akan dijual. Kenapa mereka tidak menganggapnya ada di sini?
"Aku akan melakukannya demi kalian, Ma, Kak." batinnya sembari menatap nanar. Jujur saja dia tidak ingin menikah dengan orang tidak dikenal. Ia ingin bebas seperti orang lain dan juga ingin melanjutkan kuliahnya.
Tapi, apa boleh buat itu semua juga keinginan orangtuanya. Kalau tidak, dia pasti akan dicap durhaka kepada orangtuanya. Sekilas ia memejamkan matanya untuk menahan air matanya yang hendak menetes. Dengan cepat ia menepis air mata yang menetes di kelopak matanya, lalu gadis itu pergi dari tempat tersebut untuk memenangkan dirinya.
Kamar, itu adalah tempat yang paling nyaman diantara tempat lainnya untuk menenangkan pikirannya dan juga hatinnya.
Ga-Eun hanya pasrah, apa yang akan terjadi nantinya. Semoga saja dia akan bahagia setelah keluar dari rumahnya sendiri, dan mendapatkan tempat ternyamannya lagi.
Tanpa berpikir panjang dia mematikan lampu utamanya dan menyisakan lampu tidurnya. Setelah itu, Ga-Eun membaringkan tubuhnya dan menutup matanya untuk tidur. Namun, dia tidak bisa tidur juga.
Ga-Eun menghempaskan tubuh kecilnya kembali di kasur miliknya karena dirinya tidak bisa tidur, sembari menatap langit-langit yang berada di dalam kamarnya sendiri. Kamarnya tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, dengan warna pich yang tidak tidak menyentrong ke matanya sendiri dan juga sangat rapih.
Sejenak ia memikirkan ucapan Mamanya kembali, dia akan dinikahkan oleh seorang pria kaya raya, bahkan dia juga tidak tau apa pekerjaan pria itu, bagaimana asal-usul pria itu. Apa dia bisa hidup bahagia dengan pria itu? Pikirnya.
Lucunya, kenapa tidak Kakaknya saja yang akan dinikahkan. Tetapi dirinya?
"Apa mereka merencanakan semuanya?" pikirnya.
"Bae, apa pria itu. Orang yang aku lihat tadi? Sepertinya iya, tapi kenapa dia buta," gumamnya.





