Terpaksa Menikah Dengan Pria Buta

"Apa karna alasan itu juga, Kakak tidak mau menikah dengan pria itu? Lagipula, dia sangat tampan juga?" tanyanya pada dirinya sendiri, banyak sekali yang ingin dipertanyakan kepada mereka. Tetapi itu semua hanya angan belaka, dia tidak berani menanyakan hal itu semua.

Ga-Eun beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka ponsel dan melihat gambar Bae-Jeon yang terpampang di layar ponselnya. Memang tidak ada perbedaannya, tapi dia belum yakin kalau Bae yang di temui tadi adalah Bae-Jeon.

"Apa dia Bae yang aku maksud?" gumamnya, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

Ga-Eun menghela napasnya, kadang dirinya juga merasa bingung karena Mamanya bersikap seperti bunglon. Kadang manis, kadang sebaliknya.

Jujur saja dia mengingikan orangtua yang selalu memberi perhatian dan kasih sayang padanya, bukan Mama yang selalu memanfaatkan anaknya hanya untuk uang.

"Ma, Mama kenapa tidak mengerti Ga-Eun," lirihnya, matanya terpejam. Tidak lama kemudian gadis itu masuk ke dalam alam yang berbeda.

****

Tidak terasa pagi hari ini adalah hari pernikahan Bae-Hyun dengan gadis yang dimaksud keluarganya, yaitu Ga-Eun.

Memang perjodohan sudah turun menurun dari dulu, tapi sebenarnya Bae-Hyun tidak menginginkan perjodohan tanpa rasa cinta, dilain sisi dirinya juga harus melakukan ini karena paksaan orangtuannya.

Soal dekor dan prasmanan sudah di urus oleh keluargannya sendiri. Bahkan semua pembayarannya.

"Tuan, kita turun sekarang juga. Acaranya akan segera di mulai," ujar salah satu Bibi yang berada di sana.

Bae-Hyun membenarkan toxedo miliknya, dan juga rambut yang sudah ditata rapih. Lalu menoleh ke sumber suara, sekilas dirinya mengangguk kecil dan tersenyum lembut pada Bibi itu.

"Sebentar, aku segera keluar," ujar Bae-Hyun dengan sopan. Meskipun posisi dirinya di atas mereka, tapi dia juga harus sopan dengan orang yang lebih tua.

Tidak bisa disangka kalau dirinya akan melepaskan status lajang demi keluarganya. Tidak masalah.

Dan seharusnya dia bersikap dewasa setelah ini, tanpa memperlihatkan emosinya di depan istrinya nanti. Dia harus siap.

Setelah bersiap-siap Bae-Hyun segera keluar dari kamarnya untuk melakukan akad yang harus di lakukan. Sembari menunggu pengantin wanita yang belum juga keluar dari kamar sebelah.

"Bae-- kau sangat tampan hari ini," puji Bae-Jeon. Mendengar perkataan itu, sekilas Bae-Hyun menyunggingkan senyumannya. Sebenarnya ia sangat mual dengan ucapan saudaranya itu.

"Pasti gadis itu sangat cantik, sampai kau menyerahkan dia kepadaku, Bae-Jeon," desisnya sembari tersenyum devil.

Tatapan Bae-Jeon seketika mendatar ketika mendapatkan perlakuan Bae-Hyun yang menurutnya tak pantas. Sedetik pula dia pergi dari hadapan Bae-Hyun tanpa berbicara sedikitpun.

Bae-Hyun tersenyum puas ketika saudaranya tidak membalasnya dengan ucapan panasnya.

"Tuan Bae, pengantin wanitanya sudah datang. Kita tunggu di depan ya?" seorang salah satu seorang perias membantu memapah pria tersebut keluar.

Tentunya Bae-Hyun mengikutinya. "Biar saya berjalan sendiri, terima kasih Bi," ujar Bae-Hyun dengan sopan.

"Iya tidak apa Tuan. Itu sudah kewajiban saya. Saya duluan ya Tuan," ucapnya sembari menunduk 90 derajat dengan sopan, sebelum dirinya pergi dari tempat tersebut.

Bae-Hyun hanya mengulas senyumannya. Terdengar alunan musik yang merdu di sana, dan tentunya membuat suasana hati semakin damai dan juga suara tamu yang mengisi kediaman rumah Bae-Hyun. Ya, pernikahannya berlangsung di tempat tertutup yaitu di rumah kediaman Bae-Hyun sendiri. Akan tetapi dekornya sangatlah bagus, sehingga membuat orang-orang yang berada di sana menginginkan pernikahan mewah seperti yang dilakukan oleh keluarga Bae-Hyun.

"Silahkan pengantin wanita, memasuki tempatnya," ujar salah satu pembawa acara yang berada di sana.

Ga-Eun masih terdiam di tempat melihat pria yang sudah di tempat yang sudah di sediakan di atas sana. Dia tidak salah kalau pria kemarin adalah pria yang akan di nikahinnya.

"Ayo Sayang, suamimu sudah menunggumu di atas," suruh Mamanya dengan nada lembut. Tentunya membuat lamunan Ga-Eun buyar. Dengan perasaan gugup, jantung berdegup dengan kencang, dirinya melangkah ke red karpet yang sudah disediakan menuju ke panggungnya. Beberapa dayang membantu dirinya untuk memapah ke tempat tersebut.

Tidak butuh waktu lama, dirinya sudah di hadapan calon suaminya. Pandangannya seperti kemarin, dan dia tidak melihatnya.

"Pria kemarin bukan?Apa aku menikah dengan orang buta seperti dia? Terus bagaimana kalau dia tidak kenal aku waktu dia sudah bisa melihat?" batinnya sembari menatap Bae-Hyun iba.

"Apa kau menatapku? Kau berpikir kalau kau akan pergi setelah ini kan? Because I'm blind?"

Mata Ga-Eun membulat. "Apa dia bisa mendengar suara hatiku?" batinnya, gadis itu sangat tidak percaya.

Bae-Hyun menyunggingkan senyuman devilnya, dia salah paham dengan gadis itu. Ya, meskipun dia tidak bisa melihat, tapi dia bisa merasakan apa yang orang itu rasakan.

Ga-Eun menggeleng dengan cepat. "Ti-tidak---"

Pernikahan mereka berlangsung dalam satu hari itu, dan acara terakhir adalah acara pemasangan cincin di jari manis dua orang mempelai.

"Pinjam tanganmu," ucap Bae-Hyun dengan lembut, sembari menarik lembut tangan milik gadis tersebut dan memakaikan cincin tersebut tepat dijari manisnya. Ga-Eun membiarkan pria tersebut memeakaikan cincin tersebut, jujur saja tangan pria itu sangat lembut.

Setelah memasangkan cincinnya, Bae-Hyun mencium punggung tangannya dengan lembut, lalu mencium kening gadis itu.

"Aku akan menjagaku, kau tidak perlu khawatir," ujar Bae-Hyun dengan pelan. Entah kenapa hati gadis itu terhanyut dengan perkataannya. Entah benar atau tidak, dia sekarang hanya menginginkan pria di hadapannya.

Begitu sebaliknya, Ga-Eun memakaikan cincin pernikahannya ke jari manis Bae-Hyun. Semua bersorak gembira dan bertepuk tangan meriah ketika keduanya sudah resmi menjadi sepasang suami istri.

"Berbahagialah denganku," ucap Bae-Hyun dengan tulus. Pipi Ga-Eun memerah, bibirnya di kulum pelan untuk menahan rasa gugupnya.

Bae-Hyun menarik dagu Ga-Eun. "Entah kau akan mencintaiku atau tidak, atau kau hanya memanfaatkan kekayaanku. Aku tidak peduli, di sini tugasku hanya menjagamu, melindungimu, dan menafkahimu. So? Thanks for being my wife," ucapnya dengan lirih, sembari menatap ke gadis itu dengan tatapan kosong.

"Tidak, seharusnya aku berterimakasih padamu," gumamnya sembari menangis haru menatap pria tersebut.

Bae-Hyun berharap kalau Ga-Eun mengerti ucapannya barusan.

Sebenarnya pria tersebut mengerti apa yang dilakukan keluarganya padanya, gadis itu pasti dipaksa menikah seperti dirinya. Hanya saja dia berpura-pura tidak tau supaya tidak mempengkeruh masalah.

Tugas dia sekarang hanya menjaga Ga-Eun dan memperlakukan gadis itu seperti Tuan Putri.

Bae-Hyun manarik pinggangnya mendekat. Lalu menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.

Ga-Eun menatap Bae-Hyun dari samping, tidak sadar senyumannya semakin melebar. Tangan Bae-Hyun mengusap lembut pipi Ga-Eun, wajahnya di dekatkan ke wajah Ga-Eun. Sehingga tidak ada jarak diantara mereka.

Satu kecupan mengenai bibir Ga-Eun dengan lembut, tentunya membuat jantung Ga-Eun berdetak lebih kencang dari sebelumnya.

Tidak lama, Ga-Eun membalas lumatannya. Walaupun terlihat sangat kaku, tapi setidaknya dia menerima ciuman dari suaminya itu.

"Astaga, mereka sangat cocok!" ucap salah satu tamu yang berrada di sana.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.