Celia POV:
Angel tidak lagi merasa perlu mengetuk pintu ruang kerja John.
Dia melenggang masuk begitu saja, seolah ruangan berlapis kayu ek itu adalah hak kesulungan yang dimilikinya sejak lahir.
Aku berdiri mematung di ambang pintu, nampan berisi kopi di tanganku terasa semakin berat, seakan gravitasi di ruangan ini menolak kehadiranku.
John duduk di balik meja besarnya, tenggelam dalam tumpukan dokumen.
Sementara Angel duduk di lengan kursinya.
Bukan di kursi tamu.
Tapi di lengan kursi kebesaran Don, tempat yang sakral bagi seorang pemimpin klan.
Dia sedang merokok, cerutu Cohiba milik John terselip santai di antara jari-jarinya yang lentik.
Asap tebal mengepul, memenuhi ruangan dengan bau tembakau yang maskulin, bercampur dengan parfum manisnya yang menyengat.
Dia terlihat nyaman.
Terlalu nyaman.
"John," panggilku pelan, suaraku nyaris hilang di telan ketebalan asap.
John bahkan tidak mengangkat kepalanya.
Dia hanya melambaikan tangan, sebuah isyarat pengusiran yang halus tanpa perlu mengeluarkan suara.
"Nanti saja, Celia," katanya datar, matanya tak beralih dari kertas di hadapannya. "Angel sedang membantuku meninjau laporan dari pelabuhan."
Angel menoleh padaku, menghembuskan asap rokok membentuk awan tipis ke arahku, lalu tersenyum miring.
"Maaf, Celia. Ini urusan bisnis. Kau tahu kan, hal-hal yang rumit dan membosankan bagi wanita rumahan sepertimu."
Aku meletakkan nampan itu di meja samping pintu dengan bunyi 'klak' yang sedikit terlalu keras, satu-satunya protes yang mampu kulakukan.
Mereka tidak peduli.
Malam harinya, meja makan terasa seperti medan perang dingin.
John duduk di kepala meja, sang raja di takhtanya.
Angel di kanannya.
Aku di kirinya.
Posisi istri sah, namun rasanya seperti kursi penonton di barisan paling belakang.
"Lukisanmu," Angel memulai percakapan sambil memotong steaknya dengan gerakan anggun yang dibuat-buat. "Aku rasa warnanya terlalu suram untuk galeri musim semi. Mungkin kau perlu istirahat, Celia?"
John berhenti mengunyah, menatapku sekilas.
Tatapan itu bukan kekhawatiran.
Itu adalah tatapan seorang pemilik yang menilai asetnya yang mulai rusak dan kehilangan nilai jual.
"Aku hanya sedang mencari kedalaman emosi yang baru," jawabku tenang, memotong dagingku dengan presisi bedah untuk menyembunyikan getaran di tanganku. "Seni membutuhkan kejujuran, Angel. Sesuatu yang mungkin sulit kau pahami."
Angel tertawa renyah, suara yang terdengar seperti pecahan kaca, lalu mencondongkan tubuh ke arah John.
"Ingat saat kita di Milan, John? Lukisan abstrak yang kau beli itu? Sangat hidup, tidak seperti ini."
Mereka tertawa bersama.
Suara tawa mereka menciptakan dinding kasat mata yang tidak bisa kutembus.
Malam itu, pintu kamarku terbuka.
John masuk.
Dia jarang datang ke kamarku belakangan ini.
Aroma cerutu Angel menempel di kemejanya, tajam dan menyengat, seperti tanda kepemilikan hewan liar.
Tubuhku menegang secara insting.
Ada bagian dari diriku, bagian yang bodoh dan lama, yang merindukan sentuhannya.
Tapi kemudian, rasa mual itu datang.
Bukan karena jijik mental semata, tapi fisik.
Perutku bergejolak hebat, menolak aroma pengkhianatan itu.
Kepalaku pusing.
Aku menutup mulutku dengan tangan, menahan dorongan untuk muntah.
Wajahku pasti pucat pasi.
John mengerutkan kening, melangkah maju, ada kilatan emosi asing di matanya. "Kau sakit?"
Sebelum aku bisa menjawab, ponselnya bergetar di saku celananya.
Layar menyala.
Nama 'Angel' terpampang jelas.
Ekspresi John berubah seketika.
Dari sedikit kepedulian menjadi fokus penuh pada telepon itu, seolah aku tak pernah ada.
Dia mengangkatnya dan berbalik, berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi padaku.
"Ya, aku ke sana. Tunggu aku."
Pintu tertutup.
Aku ditinggalkan sendirian dengan rasa mual yang semakin menjadi-jadi.
Sementara itu, di tempat lain di rumah besar ini, Luca, teknisi IT kepercayaan keluarga, sedang melakukan perawatan rutin pada server pribadi John.
Matanya menyipit menatap layar monitor.
Dia menemukan folder tersembunyi yang kuenkripsi dengan ceroboh di awal usahaku.
"Penjualan Seni - Cadangan".
Luca bingung, keningnya berkerut dalam, tapi dia memilih untuk diam.
Keesokan paginya saat sarapan, John menatapku tajam.
"Kau berencana membuat pameran di luar jaringan keluarga?" tanyanya tiba-tiba, suaranya membelah kesunyian pagi.
Jantungku berhenti berdetak sesaat.
Luca pasti belum melapor, atau John hanya menebak.
Aku meletakkan garpu perlahan.
"Aku hanya mencari pasar yang lebih luas, John," jawabku, menatap matanya tanpa kedip, menolak untuk tunduk. "Dunia tidak selebar wilayah kekuasaanmu."
Ketegangan di udara bisa dipotong dengan pisau.
Tepat saat John akan membuka mulut untuk membantah, Angel masuk dengan tergesa-gesa.
"John, ada masalah dengan pengiriman di dermaga 4. Polisi sedang menuju ke sana."
Fokus John beralih instan.
Dia bangkit, menyambar jasnya, dan pergi bersama Angel.
Mereka berjalan beriringan, pasangan yang sempurna dalam kejahatan.
Aku duduk diam di meja makan yang kosong, menikmati keheningan yang kini terasa seperti kemenangan.
Aku kembali ke studio, menyalakan laptopku.
Di layar, draf rencanaku terpampang.
Aku menghapus setiap kata "Keluarga" dan "John".
Aku mengetik ulang dengan jari yang gemetar namun pasti.
"Kemandirian".
"Celia".
Aku melihat kata-kata itu bersinar di layar.
Ini bukan lagi sekadar seni.
Ini adalah satu-satunya jalan keluar sebelum aku mati membusuk di rumah ini.





