Terlambat Menyesal: Mantan Istriku Bersinar Terang

Celia POV:

Undangan itu datang seperti sekoci penyelamat di tengah badai-melalui email terenkripsi.

Sebuah lembaga seni anonim di Eropa menawarkan residensi.

Tempat tinggal.

Studio.

Dan yang paling mahal dari semuanya: Kebebasan.

Aku menerimanya tanpa berpikir dua kali. Jari-jariku gemetar saat menekan tombol 'kirim', takut tawaran itu akan lenyap jika aku berkedip.

Selama seminggu terakhir, aku mulai melucuti hidupku, selapis demi selapis.

Bukan ke dalam koper perjalanan mewah, tapi ke dalam kotak-kotak sumbangan kardus yang kusam.

Gaun-gaun malam sutra yang John belikan agar aku terlihat cantik-agar aku menjadi ornamen yang sempurna-di pestanya.

Perhiasan berkilau yang dia lemparkan padaku sebagai permintaan maaf setiap kali parfum wanita lain tercium di kemejanya.

Semuanya masuk ke dalam kotak.

Aku mengambil bros berlian yang dia berikan di hari pernikahan kami. Benda itu berkilau dingin di telapak tanganku, seperti mata yang menuduh.

Empat puluh tahun yang lalu, aku pikir ini adalah janji keabadian.

Sekarang aku tahu, ini hanyalah borgol bertahtakan berlian.

Dengan gerakan tenang yang mengejutkan diriku sendiri, aku melemparkannya ke dalam perapian yang menyala.

Logam itu tidak meleleh, tentu saja. Tapi melihatnya tergeletak tak berdaya di antara abu hitam dan bara api memberiku kepuasan yang gelap.

"Aku sudah selesai menjadi figuran," bisikku pada pantulanku di cermin.

Wajah di cermin itu terlihat lelah, dimakan usia, tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, matanya menyala hidup.

BAM! BAM! BAM!

Ketukan keras di pintu studioku menghancurkan momen itu. Itu sopir John.

"Nyonya!" serunya dari balik pintu. "Don John meminta Anda ke rumah utama. Segera. Ada rapat keluarga penting."

Perintah.

Selalu perintah.

Aku meletakkan kuasku dengan perlahan. Ini akan menjadi kali terakhir aku mematuhi titahnya.

"Baik," jawabku singkat, suaraku datar.

Di dalam mobil mewah yang membawaku menuju rumah utama, aku memejamkan mata, mencoba mengatur napas.

Namun tiba-tiba, rasa mual itu datang. Bukan sekadar kegugupan, tapi gelombang fisik yang menghantam ulu hati.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Mobil berbelok tajam di tikungan, dan pertahananku runtuh.

"Berhenti!" teriakku, tanganku membekap mulut.

Sopir itu menepi dengan panik. Sebelum mobil benar-benar berhenti, aku sudah membuka pintu dan memuntahkan isi perutku di pinggir jalan.

Hanya cairan bening dan rasa pahit empedu yang membakar tenggorokan.

Sopir itu, setia pada protokol keluarga, membawaku ke klinik pribadi keluarga, bukan ke rumah sakit umum. Rahasia harus tetap menjadi rahasia.

Dokter tua kepercayaan keluarga memeriksa dengan wajah yang sulit dibaca. Ruangan itu hening, hanya terdengar detak jam dinding yang menyiksa.

Dia menatapku, lalu menatap hasil tes di tangannya, lalu kembali menatapku seolah aku adalah hantu.

"Nyonya..." suaranya bergetar, kehilangan ketenangan profesionalnya. "Anda hamil."

Dunia berhenti berputar.

Oksigen seolah tersedot keluar dari ruangan.

Hamil?

Di usiaku?

Setelah empat puluh tahun rahimku kosong dan dingin?

Ini tidak mungkin. Ini absurd.

Ini adalah lelucon Tuhan yang paling kejam.

Aku keluar dari klinik dengan langkah limbung, seolah-olah tanah di bawah kakiku telah berubah menjadi rawa.

Pikiranku kacau balau, bertabrakan satu sama lain. Anak ini... janin ini bisa menjadi penjara baruku, atau alasan terkuatku untuk menghilang selamanya.

Aku berjalan tanpa tujuan, membiarkan kakiku membawaku, sampai aku menyadari aku berdiri di depan restoran Italia favorit John.

Takdir, tampaknya, belum selesai mempermainkanku.

Di balik jendela kaca besar yang memisahkan kehangatan di dalam dan dinginnya malam, aku melihat mereka.

John dan Angel.

Mereka duduk di meja sudut yang romantis, diterangi cahaya lilin.

Angel sedang menyuapkan sepotong tiramisu ke mulut John. John tertawa-tawa yang jarang ia berikan padaku-dan memegang tangan Angel dengan lembut.

Aku berdiri mematung di trotoar yang dingin. Penonton bisu dari tragedi hidupku sendiri.

Dua pelayan restoran keluar melalui pintu samping untuk merokok di dekatku. Mereka tidak menyadari siapa wanita tua yang berdiri dalam bayangan itu.

"Kasihan wanita itu," gumam salah satu pelayan, menghembuskan asap rokok ke udara malam. "Nyonya Angel itu."

"Kenapa?" temannya bertanya.

"Aku dengar dia baru saja menjalani perawatan kesuburan lagi. Sangat menyakitkan, katanya. Tapi rahimnya rusak. Dokter bilang dia tidak akan pernah bisa memberi Don keturunan."

Darahku membeku seketika.

Angel mandul.

Dan aku...

Aku membawa satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli oleh uang John: Pewaris darah dagingnya.

Teror dingin merambat naik ke tulang punggungku. Jika John tahu... jika dia tahu aku mengandung, dia tidak akan pernah membiarkanku pergi.

Perceraian tidak akan pernah terjadi. Kebebasan akan menjadi mimpi mustahil.

Aku akan dikurung di menara gading, dipaksa menjadi inkubator hidup bagi penerus kerajaannya, sementara Angel tetap menjadi ratu di hatinya.

Di dalam restoran, John tiba-tiba menoleh ke arah jendela.

Matanya menyipit, mencari-cari sesuatu di kegelapan, seolah insting predatornya merasakan kehadiranku.

Aku mundur cepat ke dalam bayangan pilar.

Angel menarik wajah John kembali padanya, mencium pipinya, mengalihkan perhatiannya sepenuhnya.

John tersenyum padanya, melupakan gangguan sesaat itu.

Cukup.

Aku memegang perutku yang masih rata. Ada kehidupan di sana. Sebuah nyawa yang tidak berdosa, namun berbahaya.

Angin malam yang dingin menusuk kulitku, tapi hatiku jauh lebih dingin dan keras.

Tiket pesawat di tasku terasa berat, seolah-olah terbuat dari timah.

Rencana awalku hancur lebur.

Sekarang taruhannya bukan lagi sekadar kebebasanku.

Tapi nyawa anak ini.

Aku berbalik, meninggalkan pemandangan "keluarga bahagia" yang palsu itu di belakangku.

Aku menghilang ke dalam kegelapan malam, sendirian, ketakutan, namun dengan kenekatan seorang ibu yang baru lahir.

Lanjutkan Membaca
Baca Novel Selengkapnya di Moboreader
UBuka Semua Bab
Buka Situs Resmi
Daftar Bab
Sesuaikan

Kamu Mungkin Juga Suka

Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.