Alzam mengesah lelah. Sepertinya suasana mulai menegang. Ia hanya bisa menarik napas dalam. Mencoba tenang.
“Aruna, akan aku jelaskan semuanya. Tapi tolong jangan buat keributan!” Alzam segera bergegas menuju kamar istri mudanya.
Calista tersenyum. Kemudian matanya menilik ke arah Aruna yang begitu sinis padanya. Namun, Calista tetap tersenyum, kemudian berbalik badan kembali ke kamarnya.
“Tunggu!” panggil Aruna, membuat langkah Calista terhenti.
Aruna memperhatikan lekat-lekat wanita dihadapannya. Dari ujung kaki hingga kepala. Calista memang bukan dari kalangan keluarga ningrat atau keturunan bangsawan. Tetapi dari segi paras, Calista memang terbilang sangat cantik dan menawan. Rambutnya hitam dan ikal, ada lesung pipi ketika ia tersenyum, bulu mata yang lentik, matanya bulat dan cerah. Persis seperti dewi yunani.
Pantas Alzam tergila-gila.
Aruna pun sebetulnya tak kalah cantik dengan Calista. Memiliki paras khas asli Indonesia yang manis dan mempesona. Ia pun wanita yang cerdas dan multitalenta.
“Aku sepertinya tidak asing sama kamu?” kata Aruna. Mengingat-ingat.
“Ahh, kalau tidak salah, kamu pernah ikut audisi modeling bride di event Jakarta dua tahun lalu, ‘kan?” Aruna mulai teringat. Ia pun mengikuti audisi. Namun di acara itu, Aruna bukan sebagai talent model, melainkan sebagai salah satu sponsor terbesar serta perancang busana pengantin termewah saat acara tersebut.
Kebetulan juga saat acara itu, Calista menjadi salah satu model pengantin dan meraih juara favorit pertama. Tentu saja nama dan wajahnya pasti lebih dikenal banyak orang setelah ajang tersebut.
“I-iya betul. Kok, kamu tau acara itu?” tanya Calista terheran.
Sementara Aruna melangkah dan tatapannya begitu sulit untuk diartikan.
“Kebetulan gaun yang kamu menangkan saat audisi adalah rancanganku.” Aruna tersenyum bangga.
Calista melebarkan mata tak percaya. Ia tertegun.
“Oh ya, woah! aku aja sampe gak tau siapa perancangnya, lebih tepatnya mungkin aku lupa! ternyata kamu toh. Hebatnya ...” Calista memuji. Kemudian matanya menilik ke arah ruang tengah yang dindingnya terpampang sebuah pigura foto pernikahannya dengan Alzam.
Aruna pun melihat pigura itu. Sesaat ia sempat termangu, kemudian ada senyuman terukir diwajah. Ternyata salah satu gaun rancangannya pun dipilih oleh Calista saat pernikahannya dengan Alzam.
“Gaun itu juga aku pesan di bridal boutique yang sama dengan gaun saat aku memenangkan audisi.” Calista tersenyum hangat. “Ternyata pemiliknya adalah kamu.”
“Nggak nyangka kita ketemu di sini!” ujar Aruna dengan ekspresi datar.
“Iya, aku juga gak nyangka. Apalagi ... perancang busana pengantin termewah itu sekarang menjadi maduku.” Calista tersenyum manis. Kata-katanya terkesan menyindir, tetapi baginya itu hanyalah ungkapan yang sangat lugas. Tidak berniat menyinggung.
Namun, Aruna yang merasa tersinggung langsung melengos dan berkata, “Aku juga ga nyangka. Finalis bride model di acara bergengsi malah jadi istri simpanan!” ucapnya dengan seringaian.
“Padahal, lelaki kaya dan tampan banyak yang ngantri buat dapatin kamu, ‘kan?” sambung Aruna. Tatapannya begitu sinis.
Calista termangu. Ia tersadar bahwa ucapannya telah menyinggung.
“Maaf. Aku permisi. Selamat beristirahat.” Calista langsung beranjak meninggalkan Aruna yang tampak kesal. Tidak mau berdebat lebih jauh. Dan itu yang dipesan oleh Alzam padanya.
Aruna menatap terus sampai Calista hilang di balik pintu kamar utama. Rasanya jika mengikuti amarah, ia ingin sekali mengacak-acak seisi rumah itu. Bukan hanya kecewa setelah mengetahui ia menjadi madu, tetapi kecewa juga dengan takdir hidupnya.
“Nyonya? kamarnya di atas.” Bi Yuvi menepuk pelan bahu Aruna. Membuat wanita itu mengerjap dan menghela napas.
“Oh, iya, Bi.”
Bi Yuvi langsung mengarahkan Aruna untuk menaiki lantai dua dan menunjukkan sebuah kamar. Aruna memasuki kamar yang terbilang cukup luas dengan kasur berukuran sedang. Suasananya cukup nyaman dengan pemandangan yang langsung menyuguhkan bibir pantai.
Aruna membuka jendela kaca, menikmati hembusan angin. Sementara Bi Yuvi sudah beranjak dan kembali pada pekerjaannya.
Sejenak Aruna merenungi perjalanan hidupnya yang sangat menyedihkan. Terlahir dari keluarga terpandang, memiliki segalanya, tetapi soal percintaan ia selalu saja gagal. Apalagi dia terpaksa menikah hanya karena menebus kesalahannya pada sang nenek.
Tak lama kemudian Alzam pun memasuki kamar itu. Dengan cepat, ia pun langsung menutup dan mengunci pintu kamar.
Awalnya Aruna mengira ia sengaja dikurung di dalam kamar. Namun, saat berbalik badan rupanya sang suami masih ada di tempat yang sama.
“Di rumah ini, aku yang memiliki wewenang. Bukan karena aku laki-laki, tapi aku juga seorang suami. Yang perkataannya harus kamu turuti!” Alzam berujar tegas.
Sejenak Aruna terdiam. Ia ingat, bahwa pertanyaannya belum juga mendapatkan jawaban.
“Suami pembohong!” umpat Aruna. Ekspresinya pun sangat masam.
Alzam menelan ludah. Mungkin ini saatnya untuk ia jujur.
“Aruna, beri aku kesempatan untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi ... jangan katakan hal ini pada keluarga kita.” Alzam mendekat dengan sorot wajah penuh permohonan. Membuat Aruna semakin tak mengerti.
“Katakan, ada apa sebenarnya?” Aruna melipat tangan di dada. Tidak ingin berbasa-basi.
Alzam berdiri di sebelah Aruna yang sedang menatap pemandangan pantai. Sorot wajah wanita itu terlihat memendam amarah. Alzam sempat ragu untuk berucap, membuat waktu banyak terbuang.
“Kenapa diam? aku masih sabar menunggu penjelasanmu. Karena kalau tidak, kamu masih ingat bukan seperti apa jika aku sudah murka?” tandas Aruna.
Alzam menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba mengumpulkan keberanian. Dalam benaknya pun sudah menyusun rangkaian kata untuk di sampaikan.
“Aku dan Calista sudah menikah tiga bulan lalu. Aku ... dan dia saling mencintai. Kami terpaksa menikah diam-diam karna tidak ada restu dari orang tuaku. Calista hidup sendiri. Dia hanya punya aku. Aku pun tidak mungkin membiarkan dia hidup sendirian,” jelas Alzam.
Aruna melipat bibir yang bergetar. Ia memang membutuhkan penjelasan, walaupun mendengar setiap untaian kata dari Alzam, sungguh seperti sebuah sayatan dalam hatinya. Sangat menyakitkan.
“Lalu kenapa kamu masih tetap ingin menikahiku? kenapa saat kejadian itu kamu tidak langsung berkata jujur di hadapan semua keluarga?” tekan Aruna.
“Tidak mungkin. Ayahku sakit, Oma Mawar juga sedang sakit parah, apa jadinya jika mereka tahu hal ini, Aruna?” balas Alzam. Sejenak ia terdiam, jakunnya naik turun dengan berat.
Aruna hanya melengos.
“Ayahku dan mendiang ayahmu sudah lama menginginkan kita bersama. Keluargamu banyak berjasa dalam menolong perusahaan keluargaku. Tidak mungkin aku menyakiti hati mereka. Maafkan aku.” Alzam menunduk dalam. Meski masih banyak yang ingin ia sampaikan. Namun, rasanya masih sangat menyesakkan.
Aruna terdiam membuang pandangan. Matanya mulai berair. Susah payah ia menahan tangis. Keadaan memang sangat menghimpit Aruna dan Alzam. Mereka terpaksa menikah dua hari lalu karena mengikuti permintaan dari keluarganya.
Aruna saat itu hanya memiliki seorang nenek. Yaitu Oma Mawar. Ayahnya sudah meninggal dan menitipkan amanah pada Hamza—ayah Alzam, untuk menjaga Aruna dan menjalankan perjanjian untuk menikahi anak tunggal mereka. Sebagai pewaris perusahaan dan menyambung keturunan ningrat dan bangsawan.
“Tidakkah kamu menyadari, bahwa yang kamu lakukan ini telah menyakiti mereka?” Aruna menatap kosong dan jauh. “Ada banyak hati yang kamu lukai, Alzam.”
“Aku tau. Jauh sebelum itu aku sudah tau hal ini akan terjadi. Tapi, tolong maafkan aku, dan jangan pernah katakan kebenaran ini pada keluarga kita. Aku mohon! sebagai gantinya aku akan berikan segalanya untukmu. Apa saja, akan aku kabulkan untukmu, Aruna.”
Aruna tersenyum getir. Seolah tidak tertarik dengan imbalan apa pun. Tanpa diberikan apa pun, Aruna sudah memiliki segalanya, hanya jodoh sejati yang tak kunjung ia dapatkan.
“Tanpa hartamu, aku masih bisa hidup bahagia, Alzam. Aku hanya sedang meratapi nasib sialku. Tidak disangka, aku ternyata hanyalah madu di rumah ini. Sementara jauh di sana, keluarga kita sedang merayakan bahwa kita sepasang suami istri yang bahagia. Dan, yang mereka ketahui adalah aku ini istri pertamamu!” Aruna berbalik badan dan berjalan menuju cermin.
Ia menatap pantulan dirinya di dalam sana. Menatap kemalangan nasibnya saat ini. Dari pelupuk mata terbayang kembali kisah cintanya dengan seorang pria yang juga sempat menjadi bagian dari hidupnya.
“Andai dia masih hidup, mungkin aku gak akan pernah bertemu dengan kamu lagi, Alzam!” kata Aruna dengan nada penuh penyesalan. Sementara Alzam menautkan kedua alis dan mendekat ke arah Aruna.
“Ayahmu ... pasti sudah bahagia di sana. Jangan menangis!” Alzam meraih kedua sisi lengan Aruna, berusaha menenangkan. Ia berpikir wanita itu bersedih karena merindukan ayahnya.
Akan tetapi, tampaknya bukan itu yang membuat Aruna menangis.
“Air mata ini bukan untuk ayahku!” kata Aruna. Ia mengangkat wajah menatap Alzam yang semakin termangu.
“Apa maksudmu?” tanya Alzam terheran.
“Dia adalah Arman. Suamiku.” Aruna berujar serius.





