“Pria yang mengajakmu kawin lari itu?” tanya Alzam.
Aruna mengangguk pelan. Kemudian ia mulai menceritakan kisahnya.
“Aku pernah menikah tepatnya 4 bulan yang lalu. Sama sepertimu, aku kawin lari. Tapi beberapa jam setelah akad nikah, Arman di ringkus polisi karena tuduhan pembobolan bank senilai 100 M. Dia di tahan, demi menikah dan hidup bersamaku dia rela melakukan aksi bodohnya. Kamu pasti dengar beritanya bukan?”
Alzam melebarkan mata. Ternyata kasus terhangat beberapa bulan yang lalu tentang seorang lelaki melakukan pembobolan bank itu adalah Arman, suaminya Aruna. Kalau tadi Aruna yang nyaris ingin pingsan, lalu sekarang Alzam tampaknya juga seperti itu.
Pasalnya lelaki bernama Arman itu pun dikabarkan bunuh diri di dalam sel tahanan sekitar dua minggu yang lalu. Itu artinya, tepat saat hari di mana Alzam melamar Aruna. Mungkin pria itu patah hati.
“Saat aku tahu Arman melakukan itu, aku marah besar dan menuntut untuk bercerai. Jadilah, dia tak punya pilihan selain melepaskan ikatan yang baru saja kami mulai.” Aruna mengesah lelah.
“Oh Tuhan ... apa ini semua benar?” Alzam menganga tak percaya.
Aruna menatap lurus pemandangan. Seolah menerawang ingatan. “Aku dan Arman berpacaran selama 3 tahun, sebelum ayah meninggal, dia sempat berniat melamarku. Tapi ayah menolak mentah-mentah. Katanya, Arman bukan kriteria yang pantas untuk keluargaku. Saat itu, ayah juga bilang kalau aku akan dijodohkan denganmu. Sebab itu, aku pun bekerja keras untuk mengumpulkan banyak uang.
Tujuanku ingin membuktikan pada keluarga, bahwa aku bisa hidup mandiri tanpa menikmati harta orang tua. Begitu juga dengan Arman. Dia tidak punya pekerjaan tetap. Mungkin karena persoalan ini dia terpaksa melakukan tindakan kriminal hanya demi mendapatkan banyak uang. Lalu menikahiku.”
Alzam memandang Aruna dengan simpati. Merasa iba mendengar kisah pilu dari istri mudanya.
“Kamu pasti merasa berat sekali menjalani semua ini, Aruna. Mengetahui bahwa suamimu adalah pelaku kejahatan besar dan akhirnya meninggal di dalam penjara.” Alzam mengusap lembut bahu wanita itu.
Aruna melipat bibir menahan tangis. Sekuat apa ia menahan, tetap saja kepedihan atas musibah itu mungkin akan lekat selama-lamanya.
“Ya, Rasanya sangat berat, Alzam. Aku mencintainya, tapi aku juga tidak bisa menyetujui perbuatannya. Arman adalah orang yang baik, dia rela berkorban demi aku. Tapi mungkin, persoalan ekonomi dan penolakan dari keluargaku yang membuatnya melangkah pada jalur yang salah.” Aruna menghela napas dalam-dalam.
“Itu pasti berat untuk kamu lupakan, bukan? Aku turut prihatin dengan keadaanmu.” Alzam mengusap lembut punggung Aruna. Seolah mentransfer kekuatan.
Aruna menggeleng pelan.
“Aku tidak berusaha melupakan kejadian itu. Tapi, aku hanya berusaha untuk lebih ikhlas menerima takdir. Yang sulit terkadang bukan tentang melupakan, tetapi berusaha berdamai dengan keadaan.” Aruna tersenyum tipis.
“Maafkan aku, Run.” Alzam menunduk lemah, seolah berasa bersalah karena persoalan lain. “Karena hadirnya aku dalam hidupmu, kamu harus kembali merasakan kesedihan. Tapi percayalah, aku akan berusaha adil untukmu. Meski cintaku masih utuh milik Calista, aku akan tetap belajar untuk menyayangimu.”
Aruna menyeka pipi dan tersenyum getir. “Bukan salahmu, dan bukan salahku atas pernikahan ini. Tapi takdir saja yang sepertinya senang bermain-main.”
“Aku tau, sampai kapan pun cintamu akan selalu menjadi milik Calista. Faktanya aku telah menjadi orang ketiga dalam rumah ini. Zam, gak mudah buatku untuk menerima ini! bukan karena aku cemburu. Tapi ... rasanya sulit lah buat dijelaskan.” Aruna menatap dalam manik mata suaminya. Perasaannya benar-benar sedang tak karuan saat ini.
“Aku mengerti, Run. Sebab itu, izinkan aku membantumu menghapus luka itu. Walaupun ... aku sendiri telah menjadi luka untukmu.” Alzam meraih jemari lentik Aruna. Menggenggamnya penuh kasih sayang.
Ada desiran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Aruna saat merasakan kembali sentuhan dari Alzam. Tidak bisa dipungkiri, rasa dari cinta pertama memang selalu memiliki tempat berbeda dalam jiwanya. Meskipun ia telah berkomitmen pada dirinya sendiri agar tak melibatkan perasaan dalam pernikahan ini.
Aruna langsung berhambur ke dalam dekapan Alzam. Melupakan sejenak kenyataan bahwa dirinya hanya seorang madu di rumah itu. Melupakan bahwa ada benih yang sudah di tanam Alzam dalam rahim wanita lain. Apa salahnya? Aruna juga adalah istri sah-nya.
Dalam benak, langsung berkelabatan gambaran saat mereka masih berusia 15 tahun. Saling jatuh cinta. Dulu pernikahan adalah tujuan akhir keduanya. Membayangkan mahligai cinta setelah menikah sungguh seperti surga dunia.
Akan tetapi seketika juga langsung teringat saat tadi Alzam begitu hangat pada Calista, mengecup kening, bibir dan tatapan penuh cinta pada istri pertamanya itu, membuat Aruna perlahan melonggarkan dekapannya. Apalagi saat respon Alzam hanya mendekap sewajarnya saja.
“Maaf.” Hanya itu yang terucap. Aruna berbalik badan.
“Jangan sungkan, Aruna. Kamu istriku. Kamu berhak atas diriku, begitu juga sebaliknya.” Alzam melangkah mendekat. Sampai posisinya hanya beberapa inci saja dari punggung Aruna. Ia menghirup aroma harum dari rambut sang istri. Membelainya dengan perlahan.
Saat hembusan napas itu menyeruak di telinga, Aruna hanya bergidik. Desiran penuh gairah itu tiba-tiba seperti meruntuhkan tameng hatinya. Ia pun menginginkan kisah cinta itu, tetapi keadaannya sudah berbeda saat ini.
“Tidak, Alzam. Aku gak bisa sekarang!” Aruna menarik napas dalam. Ia menolak.
Alzam hanya terdiam menatap wajah wanita dihadapannya. Wanita yang dulu menjadi teman kecil bahkan menjadi kisah pertama dari percintaannya.
Sebagai seorang lelaki, Alzam tentu masih sangat normal berada di dalam kamar berdua dengan seorang wanita apalagi itu adalah istri sah-nya sendiri. Aruna cukup menarik, tak ada batasan lagi yang menghalangi keduanya untuk bersatu di peraduan.
“Zam, kamu paham apa yang aku maksud bukan?” Aruna kembali berujar. Sementara Alzam masih bergeming dan berpikir.
Ia tersadar, mungkin saja terlalu egois jika menginginkan hal itu saat ini. Mengingat ia pun baru mengatakan seperti apa statusnya dengan wanita lain saat ini pada Aruna.
“Lantas, apa yang kamu inginkan saat ini, Aruna?” tanya Alzam.
Hening beberapa saat. Aruna sebetulnya masih sangat kecewa dengan sikap Alzam.
“Sebagai pria beristri dua, harusnya kamu bisa memisahkan aku dari istri pertamamu, bukan? harusnya kamu bisa memberikanku tempat yang lain!” ujar Aruna tegas. Ia sudah bisa mengendalikan dirinya.
Alzam membuang napas pelan. Mengerti dengan maksud Aruna.
“Sebenarnya, aku sudah menyiapkan tempat untukmu, tapi tidak sekarang. Beberapa waktu ke depan, kamu harus tinggal di rumah ini bersama kami!” seru Alzam.
Aruna terdiam. “Kalau begitu, biarkan aku beristirahat.”
“Malam ini dan selama 1 minggu ke depan, ini menjadi kamar kita. Jadwalku bersamamu. Jangan khawatir, Calista sudah mengizinkan kita.” Alzam kembali mendekat.
Sementara Aruna mundur perlahan.
“Jangan, Zam. Jujur saja aku ... belum siap. I’m sorry! biarlah aku berdosa malam ini.” Aruna menunduk lemah. Hatinya benar-benar gelisah dan sangat gusar saat ini.
Ia menolak keinginan sang suami. Bahkan, agak sedikit merasa jijik. Membayangkan ia harus berbagi raga.





