Seperti biasa Leddy tiba di rumah sakit pukul 8 pagi untuk memeriksa kondisi pasien yang dioperasinya.
“Leddy.” Suara itu menggema di lorong rumah sakit yang terlihat sepi
Leddy kemudian menoleh ke belakang. “Metha,” teriaknya ketika mendapati sahabatnya berdiri tak jauh di belakangnya.
“Lo apa kabar, Led?” tanyanya setelah menghampiri leddy
“Lo kapan balik, kok nggak beritahu gue, sih,” dengusnya kesal
Gadis itu memeluk sahabat kecilnya sekaligus rekan kerja di rumah sakit itu. Sejak ditinggal pergi ayahnya, Leddy sering bermain dengan Metha untuk menghilang rasa sakit yang sempat ditorehkan ayahnya.
“Kemarin gue balik. Led, gue punya berita bagus buat lo,” ujar Metha melepaskan pelukan Leddy
“Berita apa?” tanya Leddy penasaran
“Tadi gue ketemu sama Pimpinan, dan Beliau bilang hari ini akan kedatangan mahasiswa magang. Lo dan gue diminta untuk membimbing mereka.”
Leddy mendengar itu meninggalkan Metha yang kebingungan melihat sikap Leddy yang dingin. Gadis itu pun mengikutinya hingga ke ruang kerja Leddy.
“Led, lo nggak apa-apa, kan?”
“Gue nggak apa-apa kok, Tha,” jawabnya singkat
“Lo habis nangis, Led?” tanya Metha yang baru menyadari mata Leddy yang sembap
“Nggak, siapa juga yang nangis,” balasnya cuek tanpa menoleh sedikit pun ke arah Metha
“Jangan bohong, Led. Gue tahu siapa lo, apa lo bertengkar dengan Mahe?”
Leddy melemparkan tatapan tajam ke arah Metha, yang membuat gadis itu tak berkutik sedikitpun.
***
Tepat pukul 10 pagi, Mahasiswa magang dari Fakultas kedokteran itu tiba di rumah sakit tempat Leddy bekerja. Jumlah mereka ada lima orang, tiga perempuan dan dua lelaki. Mereka tersenyum menatap rumah sakit terkenal itu saat turun dari mobil kampus.
“Nggak nyangka kita bisa magang di sini, guys,” ucap perempuan berambut lurus sebahu itu kegirangan
“Iya, rasanya seperti mimpi bisa menginjakkan kaki untuk bertemu dengan dokter senior!” seru teman lelakinya
Pagi itu, cuaca sangat cerah sekali, matahari dengan senang hati menyinari bumi yang sempat diguyur hujan semalam. Kelima mahasiswa itu berjalan menuju meja receptionist untuk menanyakan dokter senior yang akan membimbing mereka di sini.
“Pagi suster cantik, kenalin namaku Albert Fahrozi. Aku keturunan Jawa dan Madura, nama suster, siapa?” tanya pria itu dengan penuh percaya diri.
Keempat temannya melongo dan saling menatap keheranan satu sama lain. Kebiasaan Albert dari dulu hingga sekarang belum berubah juga, kepercayaan diri yang tinggi dan sok kenal dengan orang yang baru bertemu dengannya.
“Yang nanya namamu, siapa?” Suster Mira menatap Albert dengan sorotan tajam
“Nggak ada, sih. Hanya memberitahu suster kalau aku ini keturunan Jawa dan Madura. Siapa tahu kita jodoh,” sahutnya asal
“Cuma keturunan Jawa, namanya sok kebaratan.” Suster Mira memalingkan wajahnya ke jas putih yang dipakainya saat itu.
“Memang barat, sus. Jawa Barat.” Pria itu menyengir menampilkan sederetan gigi putihnya
“Maaf, Sus. Kedatangan kami ke sini untuk pratik lapangan. Kami dari Fakultas kedokteran, kami sudah ada janji dengan dokter senior.” Celetuk pria berkulit putih, memiliki badan yang tegap, berambut gelap sembari menggeser tubuh Albert ke samping kanannya.
“Bilang dong, jangan bertele-tele gitu,” sindir Suter Mira menatap Albert di sudut matanya
Suster Mira tampak menelepon seseorang dan kemudian gagang telepon itu kembali diletakkan ke tempat semula. “Langsung saja ke ruangan Dokter Metha. Dari sini kalian lurus, kemudian belok ke kiri, nanti ada ruang pemeriksaan anak dan dari situ lurus lagi, nah ruang Dokter Metha berpapasan dengan bangsal itu.”
“Baik, Sus. Terima kasih, ya,” ucap mereka serempak
Mereka pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit sesuai arahan dari suster Mira. Tempat itu tampak ramai karena pasien mulai berdatangan untuk berobat. Ada ke poli bedah, poli THT, poli anak, poli jantung dan poli lainnya yang tak lepas dari pasien. Vera, salah satu mahasiswa magang menghentikan langkahnya ketika melihat salah satu pasien yang duduk di kursi roda, tengah menunggu antriannya.
Gadis itu tampak memperhatikan pasien dari atas hingga ke bawah. Banyak pertanyaan terlintas dibenaknya ketika melihat gadis kecil itu tanpa sehelai rambut. Vera teringat akan ibunya yang juga mengalami hal serupa.
“Apakah dia menderita penyakit yang sama dengan Bunda?” batinnya
Vera berniat untuk mendekati gadis kecil itu, namun, niatnya dihalangi oleh Ruli, teman sekampusnya.
“Jangan sekarang.” Ruli menggeleng menahan tangan Vera yang hendak menyentuh gadis itu.
Vera mengangguk paham dan mengikuti langkah Ruli hingga mereka tiba di depan ruang kerja Dokter Metha.
“Permisi, dokter.” Ruli mengetuk pintu itu dengan sopan.
“Masuk,” sahutnya dari dalam.
“Kami mahasiswa magang dari Fakultas kedokteran, dokter.” Ruli menunduk hormat ketika berada dalam ruang kerja Dokter Metha, yang diikuti oleh keempat temannya.
Metha tersenyum, “Selamat datang di rumah sakit kami. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik, dan kalian akan dibimbing oleh dokter terbaik di sini dan juga saya akan mengambil bagian dalam bimbingan itu.”
“Terimakasih, Dokter,” balas Ruli dengan senyuman
Tok!Tok!Tok!
Seketika pandangan mereka teralih ke pintu ruang kerja dokter Metha yang terbuka
“Tha, sorry. Gue langsung masuk saja, lo sih kelamaan bukanya.”
Kelima mahasiswa itu terpana melihat seorang gadis cantik yang baru saja memasuki ruang itu. Pandangan mereka tak sedikit pun lepas dari paras cantik dokter Leddy. Memang, selain berbakat, Dokter Leddy juga sangat cantik. Banyak dokter dan suster perempuan yang iri padanya, banyak juga dari mereka yang berusaha memusuhi dokter Leddy agar dia berhenti dari rumah sakit itu.
“Nggak apa-apa, Led. Mahasiswa magang juga baru datang ke sini.” Dokter Metha tersenyum dan kembali menatap mereka satu-persatu.
“Mereka hanya berlima?” tanya dokter Leddy
“Iya, Dokter. Kami hanya berlima, saya Vera dan ini teman saya Kaffa, Albert, Ruli dan Monika.” Vera memperkenalkan temannya satu-persatu yang diikuti salam hormat dari mereka berempat.
“Baiklah, mulai hari ini kalian ikut saya dan Metha untuk memeriksa beberapa pasien yang kami tangani. Jangan membuat kesalahan apapun, apalagi melakukan kecerobohan yang bisa membahayakan nyawa pasien. Paham!” dokter Leddy menatap mahasiswa magang lekat-lekat.
“Paham, dokter.”
***
Mahe mendaratkan diri di kursi tamu ruang kerjanya, setelah mengalami perjalanan yang penuh kemacetan. Akibatnya, pria itu telat datang ke kantor dan dimarahi oleh Direktur tempat dia bekerja. Hari ini, pria itu enggan untuk bekerja, dikarenakan bayangan calon istrinya yang terus menerus melintas dalam pikirannya. Seketika Mahe beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja kerjanya. Pria itu kemudian membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah frane foto mini yang biasa dia letatkkan di atas meja sebagai penyemangat dalam melakukan pekerjaan.
“Kenapa ... kenapa kamu meninggalkanku di saat seperti ini?” Mahe menatap foto itu sembari mengusap lembut wajah wanita itu.
“Jika kamu masih hidup, tolong kembali padaku meski sesaat. Jika tidak, jangan buat aku menderita karena memikirkan dirimu.
Pria itu mencium dan memeluk frane foto itu, tanpa disadarinya butiran air hangat meluncur begitu saja dari matanya. Segera dihapusnya ketika mendengar suara ketukan.
“Masuk.” Sahutnya singkat dan menaruh frane tadi ke tempat semula.
“Permisi, Pak. Ini data-data yang Bapak minta semalam.” Sekretaris kantor menyodorkan beberapa lembar kertas yang dimintanya.
“Terimakasih, Yana.”
“Apa Bapak masih ingin mencarinya di saat ada dokter Leddy di sisi pak Mahe?”
“Dia cinta pertama saya, Yana. Bagaimana mungkin saya melupakannya sementara hati ini masih menjadi miliknya.” Mahe memandang Yana dengan mata berkaca-kaca sembari menunjuk hatinya yang masih mencintai perempuan itu, calon istri yang sangat dia cintai. Yana terdiam, gadis itu masih penasaran dengan wajah wanita yang membuat atasannya gagal move on.





