Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Dibuang Suami Saat Hamil
Dibuang Suami Saat Hamil

Dibuang Suami Saat Hamil

8.5
/ 10
Dalam novel Dibuang Suami Saat Hamil, Azura harus bertahan hidup setelah diusir oleh Revan Aksara, pengusaha dingin yang semula mencintainya. Billionaire romance ini mengikuti perjuangan Azura melindungi bayinya usai dituduh tak bermoral. Baca web novel penuh konflik ini sekarang.

Ringkasan Dibuang Suami Saat Hamil

Azura Paramitha adalah yatim piatu ceria yang tumbuh besar di panti asuhan tanpa kasih sayang keluarga. Takdir mempertemukannya dengan Revan Aksara, pengusaha angkuh dan dingin yang terpikat oleh kelembutan suaranya hingga menikahinya. Awalnya, rumah tangga mereka dipenuhi cinta yang hangat. Namun, kebahagiaan itu sirna saat Azura hamil. Revan mendadak berubah kejam, menuduhnya tidak bermoral, dan mengusirnya. Azura pun terpaksa pergi membawa luka hati serta janin di kandungannya.
Selengkapnya

Dibuang Suami Saat Hamil Bab 1

Azura Paramitha, nama itu selalu terasa seperti bisikan angin di antara dedaunan. Lembut, sejuk, dan melankolis. Namun, di balik kelembutan namanya, tersimpan kekuatan yang tak banyak orang tahu. Kekuatan untuk tetap tersenyum, bahkan ketika dunia terasa enggan untuk membalas. Mata indahnya, bagai danau tenang di pagi hari, memancarkan kedamaian dan sedikit jejak kesedihan yang tersembunyi jauh di dasarnya. Ia adalah gadis yang lemah lembut, itu sudah pasti, tapi keceriaannya adalah topeng yang ia pakai dengan sangat baik, menutupi kerentanan seorang yatim piatu.

Sejak ingatan pertamanya terbentuk, Azura sudah mengenal dinding-dinding Panti Asuhan Harapan. Bukan karena orang tuanya menitipkannya di sana, melainkan karena ia tak pernah mengenal mereka sama sekali. Mereka meninggal ketika Azura masih terlalu kecil untuk mengingat sentuhan hangat ibu atau suara berat ayah. Sebuah kecelakaan tragis, itu yang ia dengar dari Ibu Asih, kepala panti yang berwajah teduh dan selalu wangi melati. Tidak ada sanak saudara, baik dari pihak ibu maupun ayah, yang pernah datang menjenguknya, apalagi mengulurkan tangan untuk mengasuhnya. Dunia terasa seperti sebuah lingkaran tertutup, di mana Azura berada di dalamnya, tanpa pintu keluar menuju sebuah keluarga. Tetangga orang tuanyalah yang akhirnya, dengan berat hati dan setelah berusaha keras mencari kerabat, menitipkan Azura di Panti Harapan. Sebuah tindakan putus asa yang berbuah kehidupan baru bagi Azura, meski kehidupan itu terasa hampa di beberapa sudut.

Panti Asuhan Harapan bukan tempat yang buruk. Jauh dari itu. Ibu Asih memimpin panti dengan hati yang tulus dan tangan yang cekatan. Anak-anak di sana tidak pernah kekurangan makan, pakaian, atau pendidikan. Namun, Azura selalu merasakan perbedaan. Ia melihat anak-anak lain sesekali dijenguk oleh paman, bibi, atau bahkan kerabat jauh. Ia melihat binar di mata mereka saat menerima hadiah atau pelukan dari dunia luar. Azura tidak pernah merasakannya. Ia hanya punya Ibu Asih, Mbak Siti sang juru masak yang galak tapi sebenarnya penyayang, dan puluhan anak-anak lain yang berbagi nasib serupa dengannya. Mereka adalah keluarganya, satu-satunya yang ia punya.

Azura tumbuh menjadi gadis remaja yang menawan. Bukan hanya karena parasnya yang cantik dengan hidung mancung dan bibir tipis yang selalu tersenyum, tapi juga karena tutur katanya yang santun dan suaranya yang lembut, selembut beludru. Suara itu adalah anugerah baginya. Setiap kali ia berbicara, ada ketenangan yang menyebar, menenangkan hati pendengarnya. Para sukarelawan yang sering berkunjung ke panti selalu memuji Azura. "Suaramu menenangkan sekali, Nak," kata mereka. Azura hanya akan tersipu malu, menundukkan kepalanya, dan mengucapkan terima kasih dengan suara yang semakin pelan.

Pendidikan formal di panti asuhan cukup memadai. Azura termasuk anak yang cerdas. Ia menyerap pelajaran dengan cepat dan selalu mendapatkan nilai terbaik di sekolah. Cita-citanya sederhana: ingin bekerja, mendapatkan uang, dan membalas budi Ibu Asih yang sudah mengasuhnya selama ini. Ia ingin membangun Panti Harapan yang lebih baik, dengan fasilitas yang lebih lengkap, agar anak-anak lain bisa merasakan kebahagiaan yang lebih sempurna. Ia ingin semua anak di panti tidak perlu merasakan hampa yang terkadang masih singgah di sudut hatinya.

Rutinitas Azura di panti cukup padat. Pagi hari ia membantu Mbak Siti menyiapkan sarapan, kemudian berangkat sekolah. Sepulang sekolah, ia akan membantu anak-anak yang lebih kecil mengerjakan pekerjaan rumah mereka, membersihkan area panti, atau sesekali membacakan cerita sebelum tidur. Malam harinya, setelah semua anak terlelap, Azura akan duduk di teras panti, di bawah cahaya rembulan yang samar, membaca buku atau sekadar memandang bintang. Pada saat-saat itulah, topeng keceriaannya sedikit longgar. Kesedihan itu akan merayap keluar, membisikkan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ia temukan jawabannya. Mengapa orang tuanya pergi begitu cepat? Mengapa tidak ada satu pun kerabat yang peduli padanya? Apa salahnya sehingga ia harus merasakan kesendirian seperti ini? Namun, ia akan segera mengusir pikiran-pikiran itu. Ia tidak ingin menjadi gadis yang mengasihani diri sendiri. Ia punya tujuan, ia punya harapan.

Suatu sore yang terik, ketika Azura sedang menyirami bunga di taman panti, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti di depan gerbang. Mobil itu terlihat begitu mencolok di antara deretan rumah sederhana di sekitar panti. Seorang pria berjas hitam keluar dari kursi penumpang depan, membuka pintu belakang, dan mempersilakan seorang pria lain keluar. Pria itu tinggi, tegap, dengan rahang tegas dan mata setajam elang. Wajahnya beku, tanpa ekspresi, memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun enggan mendekat. Itu adalah Revan Aksara.

Desas-desus tentang Revan Aksara sudah lama beredar. Ia adalah seorang pengusaha properti yang sangat sukses, namun namanya juga dihubungkan dengan berbagai bisnis gelap dan praktik kejam. Konon, ia adalah sosok yang tak kenal ampun, ambisius, dan tak segan menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Orang-orang menyebutnya "Serigala Hitam", karena mata tajam dan perilakunya yang misterius. Azura sendiri belum pernah melihatnya secara langsung, hanya mendengar cerita-cerita samar yang beredar di kalangan staf panti dan relawan.

Revan Aksara datang ke Panti Harapan bukan untuk beramal atau menjadi sukarelawan. Ia datang karena sebuah proyek pembangunan besar miliknya akan mengambil alih sebagian lahan di dekat panti. Kabar itu sudah membuat Ibu Asih pusing tujuh keliling, karena akan ada penyesuaian besar yang harus dilakukan panti. Revan, dengan caranya sendiri, "membantu" panti dengan menawarkan sumbangan besar, tentu saja dengan syarat-syarat yang menguntungkan pihaknya.

Saat Revan melangkah masuk ke halaman panti, semua mata tertuju padanya. Aura kekuasaannya begitu kuat, hingga anak-anak yang biasanya riuh mendadak terdiam. Azura, yang sedang memegang selang air, merasa jantungnya berdebar tak karuan. Ia belum pernah melihat pria semengerikan ini secara langsung. Revan melirik sekilas ke arah Azura yang berdiri mematung di samping bunga-bunga mawar. Tatapan Revan dingin, tak terbaca, namun Azura merasa seolah seluruh isi hatinya sedang dibaca. Ia buru-buru menunduk, menghindari tatapan pria itu.

Ibu Asih menyambut Revan dengan senyum ramah yang dipaksakan. Mereka berdua masuk ke ruang tamu panti untuk membicarakan masalah lahan. Azura, setelah selesai menyiram bunga, masuk ke dalam untuk membantu Mbak Siti di dapur. Ia bisa mendengar samar-samar percakapan dari ruang tamu, suara Revan yang berat dan dingin, kontras dengan suara lembut Ibu Asih.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang tamu terbuka. Revan Aksara dan Ibu Asih keluar. Revan terlihat akan segera pergi, namun pandangannya kembali tertuju pada Azura yang sedang menuangkan air ke dalam teko di dapur.

"Siapa gadis itu?" suara Revan berat, tanpa intonasi.

Ibu Asih menoleh ke arah Azura. "Oh, itu Azura, Nak. Salah satu anak asuh kami. Dia sangat rajin dan santun."

Azura, yang merasa disebut namanya, menoleh. Matanya bertabrakan sejenak dengan mata Revan yang tajam. Ia segera menunduk lagi, memegang teko air erat-erat.

"Azura, bisakah kau ambilkan saya segelas air?" perintah Revan, suaranya seperti perintah yang tak bisa dibantah.

Azura terkesiap. Ia menoleh ke arah Ibu Asih, yang mengangguk pelan. Dengan tangan sedikit gemetar, Azura menuangkan air dingin ke dalam gelas, lalu membawanya mendekat ke Revan. Ia mengulurkan gelas itu dengan sopan.

"Silakan, Tuan," ucap Azura, suaranya lembut dan lirih, seolah takut mengganggu keheningan yang mencekam.

Revan mengambil gelas itu. Jari-jemari mereka bersentuhan sesaat. Azura segera menarik tangannya, merasa seperti tersengat listrik. Revan tidak meminum air itu. Ia hanya memandang Azura, tatapannya menelusuri setiap inci wajah Azura yang menunduk malu.

"Suaramu..." Revan akhirnya membuka suara, nadanya sedikit berubah, tidak sedingin sebelumnya. "Sangat lembut."

Azura tidak tahu harus bereaksi apa. Ia hanya diam, menunduk semakin dalam. Jantungnya berdebar tak keruan. Pujian dari Revan Aksara terasa aneh, menakutkan, dan entah mengapa, sedikit mengganggu.

Revan kemudian mengucapkan terima kasih kepada Ibu Asih dan pergi tanpa menoleh lagi. Panti Asuhan Harapan kembali sunyi setelah kepergiannya, namun aura dingin yang ia tinggalkan masih terasa. Azura merasa lega, namun di saat yang sama, ada firasat aneh yang merayapi hatinya. Firasat bahwa pertemuan singkat itu bukanlah yang terakhir.

Beberapa hari kemudian, utusan Revan Aksara datang ke panti. Mereka membawa proposal bantuan yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan, lengkap dengan penawaran untuk merenovasi seluruh panti, membangun fasilitas baru, dan menjamin keberlangsungan hidup anak-anak hingga mereka dewasa. Ibu Asih terkejut, sekaligus gembira. Ini adalah sebuah mukjizat! Namun, di balik semua kebaikan itu, ada satu syarat yang membuat Ibu Asih terpaku.

"Tuan Revan Aksara tertarik pada Nona Azura Paramitha. Beliau ingin menjadikan Nona Azura istrinya," kata salah satu utusan dengan suara datar.

Ibu Asih terkejut bukan main. Ia menatap utusan itu dengan tatapan tak percaya. "Apa? Azura? Tapi... tapi Azura masih muda sekali!"

"Tuan Revan sudah memutuskan. Beliau akan menjamin kehidupan Nona Azura dan juga keberlangsungan panti asuhan ini, asalkan Nona Azura bersedia menikah dengannya."

Dunia Azura serasa runtuh saat Ibu Asih menyampaikan berita itu. Menikah dengan Revan Aksara? Pria dingin dan mengerikan itu? Ini pasti mimpi buruk. Azura menangis, menolak keras. Ia tidak mengenal pria itu, dan ia tidak mencintainya. Bagaimana mungkin ia menikah dengan seseorang hanya karena suaranya?

"Azura, Nak, Ibu tahu ini berat," Ibu Asih memeluk Azura erat, air matanya juga menetes. "Tapi pikirkanlah. Panti ini... anak-anak ini. Jika kita menolak, siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Revan Aksara bukan pria yang bisa dibantah."

Azura tahu Ibu Asih benar. Revan Aksara adalah seseorang yang tak bisa dibantah. Kekuasaannya terlalu besar, jaringannya terlalu luas. Ia bisa menghancurkan panti ini hanya dengan satu kedipan mata. Demi Ibu Asih, demi adik-adiknya di panti, ia harus berkorban. Ia tidak punya pilihan.

Dengan hati yang berat, Azura mengangguk. "Baiklah, Ibu. Aku akan melakukannya."

Keputusan itu terasa seperti menghantamkan palu godam ke hatinya sendiri. Ia akan menikah dengan seorang mafia kejam, dingin, dan arogan, hanya karena suaranya. Suara yang dulu ia anggap anugerah, kini terasa seperti kutukan. Ia membayangkan hidupnya di samping Revan, sebuah kehidupan yang pasti jauh dari impian sederhana tentang kebahagiaan. Azura tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, namun ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Senja di Panti Harapan, yang dulunya selalu memberinya kedamaian, kini terasa diselimuti awan kelabu. Sebuah babak baru, yang gelap dan penuh misteri, akan segera dimulai.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Dari Saingan Menjadi Ipar
Dari Saingan Menjadi Ipar
Dalam novel romance Dari Saingan Menjadi Ipar, Josie Watson bertekad menceraikan Laurence Andrews yang terus menghinanya demi Rosalie Harris. Di tengah konflik modern novel ini, Josie tidak menyadari bahwa kakak Rosalie diam-diam mendesaknya pergi. Temukan kisah lengkapnya di web novel ini.
Dosa Berbalut Cinta
Dosa Berbalut Cinta
Dalam novel Dosa Berbalut Cinta, Saschya terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan oleh Adnan. Di tengah siksaan fisik dan trauma, masa lalunya kembali muncul membawa harapan. Ikuti kisah romance modern ini di platform webnovel kami dan baca romance stories terbaik lainnya secara gratis.
Gadis 100 juta (fatamorgana)
Gadis 100 juta (fatamorgana)
Dalam romance novel Gadis 100 juta (fatamorgana), Daiva terpaksa menjual kehormatannya pada Keyko demi menyelamatkan adiknya. Namun, kemunculan Damian menciptakan persaingan cinta yang rumit. Baca kisah modern novel ini untuk melihat pilihan hidup Daiva di platform web novel kami.
Istri Untuk Suamiku
Istri Untuk Suamiku
Dalam romance novel Istri Untuk Suamiku, Fatma menghadapi kanker stadium 4 dan kemandulan. Ia mendesak Satria menikah lagi demi keturunan, meski harus menghadapi kenyataan pahit tentang perasaan suaminya. Temukan kisah pengorbanan ini saat Anda read books online free di platform kami.
Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
Dalam Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam, seorang pria terperangkap di hutan angker penuh fenomena gaib. Genre mystery story ini membawa pembaca mengungkap rahasia kecelakaan bus misterius. Baca horror novel ini untuk melihat pertaruhan nyawa demi sebuah kebenaran.
Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
Dalam Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan, Nadia terjebak intrik keluarga konglomerat demi pengobatan adiknya. Sebagai billionaire romance novels pilihan, kisah ini mengikuti pelarian Nadia membawa rahasia ahli waris Reza. Baca modern novel penuh pengkhianatan ini di platform web novel kami.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.