Raka tidak bisa melepaskan lirikan matanya dari rok Aluna yang terangkat ke atas saat ia duduk di samping Raka. Raka bahkan tidak bisa fokus menyetir karena paha mulus Aluna yang terekspos itu.
"Apa sekolahmu tidak mempermasalahkan rok dan bajumu yang ketat ini?" tanya Raka memberanikan diri. Ia terus berpikir mengapa tubuh Aluna lebih subur daripada gadis-gadis seusianya.
"Ini sudah ukuran besar. Dan tidak ada baju yang lebih besar dari ini lagi," kata Aluna membela dirinya.
Raka membelalakkan matanya. Ia menatap ke arah buah dada Aluna yang tercetak dengan jelas di balik seragamnya itu. Ia menenguk salivanya saat tiba-tiba saja ia bergairah dan menginginkan tangannya berada di dada gadis itu.
"Tubuhmu sangat molek sekali. Sampai seragam sekolahmu tidak bisa menutupi aset berhargamu dengan baik," celetuk Raka tanpa malu sedikitpun.
"Apa saat ini aku sedang mengalami pelecehan oleh kakakku sendiri?" Aluna mengangkat alisnya ke atas. "Aku juga tidak tahu mengapa tubuhku berbeda dengan gadis-gadis seusiaku. Tapi apapun itu, aku harus tetap bersyukur atas itu."
Raka tidak menjawab ucapan Aluna itu lagi. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan pagar sekolah adik barunya itu dan mengalihkan pandangannya. Ia selalu tersipu saat melihat bentuk tubuh Aluna.
Raka mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya dan memberikannya kepada Aluna. "Tuliskan nomor ponselmu disini."
"Untuk apa?" tanya Aluna.
"Agar aku bisa menghubungimu kapan saja. Dan aku yang akan menjemputmu nanti siang di sekolah," kata Raka tiba-tiba. Mungkin saja dengan selalu berada di samping Aluna, ia bisa mencuri kesempatan dengan menikmati tubuh gadis itu yang sangat menggodanya.
"Sepertinya tidak perlu, kak. Karena aku sudah memiliki kekasih. Dan kekasihku yang akan mengantarku pulang," kata Aluna dengan senyum manisnya. Ia pun keluar dari mobil Raka tanpa mengatakan apapun lagi kepada kakaknya itu.
Raka menatap kepergian Aluna dengan pandangan yang sulit di artikan. Tangannya mencengkram kemudi mobil dengan erat. Penolakan Aluna itu membuat Raka merasa kesal. Dan apalagi Aluna mengatakan jika ia sudah memiliki kekasih, itu semakin membuat Raka kesal. Ia pun mulai memikirkan cara yang tepat agar ia lebih dekat dan menikmati tubuh Aluna seperti apa yang ada di mimpinya tadi malam.
Sementara itu, Aluna menghampiri Daren, kekasihnya. Ia sudah lama menjalin hubungan dengan Daren. Dan selama ini hubungannya dengan Daren selalu baik-baik saja dan jauh dari masalah. Daren sangat pandai memperlakukannya dengan baik.
Daren merangkul pundak Aluna saat gadis itu mendekat ke arahnya. "Siapa yang mengantarmu tadi?"
"Kak Raka. Kakak baruku," kata Aluna dengan singkat.
Daren mengernyitkan keningnya. "Anak dari Papa barumu?"
"Iya. Dia sekitar lima tahun lebih tua dariku," kata Aluna berkata jujur.
Tiba-tiba saja rahang Daren mengeras mendengar ucapan Aluna itu. Ia baru mengetahui jika Aluna akan memiliki saudara tiri laki-laki. Ia takut jika Raka akan tertarik kepada Aluna dan berusaha untuk mendekatinya. Lagipula siapa yang tidak menyukai Aluna. Daren juga mengetahui jika banyak lelaki di sekolahnya ini yang menaruh hati dan menjadikan Aluna sebagai sumber fantasinya. Bahkan tidak jarang ada yang mengajak Daren untuk melakukan taruhan. Dan taruhannya adalah tidur bersama Aluna.
Daren mendorong tubuh Aluna untuk masuk ke dalam gudang yang sudah tidak di pakai lagi. Ia mengurung pergerakan Aluna dengan kedua tangannya. Aluna mengernyitkan keningnya saat Daren melakukan hal seperti ini kepadanya.
"Apa yang ingin kau lakukan, Daren?" tanya Aluna. "Kelas akan di mulai beberapa menit lagi. Dan kita harus segera sampai di kelas."
"Apa Raka mendekatimu?" tanya Daren. Matanya sudah penuh dengan amarah dan nafsu. Ia tidak suka jika kekasihnya ini dekat dengan orang lain selain dirinya.
Aluna memutar bola matanya dan mencoba untuk mendorong tubuh Daren. Tetapi Daren menolak dengan tetap mendorong tubuh Aluna. Sudah sejak lama Daren menginginkan tubuh Aluna, tetapi ia tidak pernah bisa mendapatkannya.
"Apa yang ingin kamu lakukan, Daren. Menjauh-lah," kata Aluna.
Daren tidak memedulikan ucapan Aluna itu. Ia memiringkan wajahnya dan mencium bibir tebal Aluna dengan ganas. Emosinya langsung membara saat Aluna mengatakan jika ia di antar oleh Raka, lelaki yang pasti akan mencuri-curi pandang ke arah Aluna.
Aluna membelalakkan matanya saat Daren mencium bibirnya. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan ciuman. Dan ini adalah ciuman pertamanya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong tubuh Daren untuk melepaskan ciumannya. Ciuman Daren ini sangat ganas sekali dan membuat ia merasa kesakitan.
"Jangan kurang ajar, Daren. Kau tahu jika aku tidak suka dengan apa yang kau lakukan. Apalagi ini di sekolah," kata Aluna dengan marah.
Daren mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa amarahnya. Bagaimana pun ia tidak boleh bertindak kurang ajar kepada Aluna. Ia harus tetap berhati-hati dan bermain rapi sampai ia bisa mendapatkan dan menikmati tubuh molek Aluna ini.
"Aku minta maaf," kata Daren sembari mengusap pipi Aluna. "Aku tidak sengaja, Aluna. Aku minta maaf."
Aluna tidak mendengarkan ucapan Daren itu, ia melangkahkan kakinya keluar dari gudang dan masuk ke dalam kelas. Apa yang sudah Daren lakukan itu sudah sangat kurang ajar. Dan Aluna masih merasa kesal dengan apa yang Daren lakukan itu.
Sementara itu, Daren mengepalkan tangannya. Sudah cukup semua kesabarannya selama ini. Ia selalu merasa tersiksa saat berdekatan dengan Aluna tanpa bisa menyentuhnya sedikitpun. Dan setelah ini, ia akan mencari cara untuk bisa menyentuh setiap inti tubuh Aluna yang begitu menggiurkan. Ia juga akan membuat Aluna tidak berdaya di bawahnya.
***
Aluna mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dan memikirkan Raka. Ia tidak tahu mengapa ia memikirkan lelaki itu sekarang. Ia bahkan tidak memedulikan guru yang menjelaskan di depannya. Ia menyesal mengapa tidak memberikan nomor ponselnya kepada lelaki itu tadi. Saat ini ia sedang kesal dengan apa yang Daren lakukan kepadanya, dan ia juga tidak mungkin mau jika Daren yang mengantarnya pulang.
"Apa kakak tirimu tampan?" tanya Siska, sahabat Aluna yang berada di sebelahnya.
Aluna tersadar dari lamunannya dan mengalihkan pandangannya menatap Siska. "Biasa saja."
"Ah, aku tidak yakin," kata Siska. "Pasti dia sangat tampan sekali, bukan. Kau pasti tertarik kepadanya."
Aluna terdiam beberapa saat. Ia kembali memikirkan Raka dengan tubuh atletisnya dan wajah yang terbilang cukup tampan. Ah ralat, sangat tampan sekali. Aluna harus mengakui jika Raka memang sangat tampan, lebih dari Daren. Aluna menggelengkan kepala saat tidak sadar ia memuji Raka. Tidak, ia tidak boleh memuji Raka berlebihan seperti itu. Raka adalah kakak tirinya. Dan ia juga merasa jika Raka tidak menyukai kehadirannya dan Mamanya di dalam rumah ini.
Siska mencolek tubuh Aluna dan tersenyum menggoda. "Apa kau baru saja memikirkan kakak tirimu itu?"
"Diam dan dengarkan penjelasan guru di depan. Aku tidak ingin membahas apapun tentang Raka," bisik Aluna pelan.





