Hati Aruna bergemuruh, saat kembali melihat Jones, namun satu patah kata pun tidak lolos dari bibirnya, mulutnya seketika membeku seiring dengan hatinya yang bergejolak. Satu tahun sudah dia tidak lagi melihat pria itu.
“Kak Aruna!”
Karin langsung berhamburan memeluk kakaknya itu, meski banyak pertanyaan yang mengusik hati Aruna saat ini, dia masih bisa bersikap tenang dan membalas pelukan adiknya, saat berpelukan dia menatap lekat Jones, yang terlihat sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Aku kangen banget Kak, kita sudah lama tidak ketemu,” ucap Karin terdengar senang, wanita itu melepaskan pelukannya kemudian menatap kakaknya yang mempunyai tubuh tinggi bak model.
“Kakak semakin cantik saja.”
Aruna tersenyum kecil, mencoba menetralkan hatinya yang bergemuruh kemudian menatap tubuh Karin dari atas sampai bawah, dalam hatinya dia tidak menyangka adiknya begitu cantik setelah lima tahun lamanya dia tidak melihat.
“Kakak juga tidak menyangka jika kamu ternyata sudah dewasa dan sudah menikah, maaf kakak tidak sempat ke Jakarta, saat itu William sibuk dan tidak bisa meninggalkan kantor,” kata Aruna beralasan. Padahal William suaminya melarangnya, untuk tidak usah menghadiri pesta itu. Karena dia tidak ingin Aruna bersedih.
“Oya Kak aku hampir lupa, ini Jones suamiku,” kata Karin memperkenalkan Jones pada kakaknya. Padahal jauh sebelum Karin mengenal Jones, Aruna lebih dulu mengenal pria itu.
Aruna memaksakan senyumnya, dan membalas jabatan tangan Jones, karena pria itu mengulurkan tangannya.
“Aruna,” ucap Aruna singkat.
Aruna langsung membawa tamunya masuk ke dalam rumahnya, Karin sampai takjub melihat rumah Aruna dan isinya dia pun penasaran dengan suaminya Aruna yang bernama William tersebut.
“Wah...Kak Aruna rumahnya unik banget sih, aku kayanya betah di sini dari pada di hotel nanti,” ucap Karin berdecak kagum melihat seluruh ruangan rumahnya.
“Semua yang design William, kakak tidak begitu paham,” kata Aruna mempersilahkan keduanya duduk di sofa empuk yang menghadap langsung ke kolam renang dengan pemandangan pepohonan hijau. Sementara Aruna sendiri langsung mengambil minuman dan kue untuk mereka ke dapur. Aruna menghela napas sambil sedikit melirik sebentar pada Jones yang terlihat sedang berdiri mengamati pemandangan dan menaruh tangannya di dada.
Aruna membuat orange juice segar untuk keduanya, namun saat dia hendak menaruh batu es ke dalam gelas satu persatu dia terkejut dengan pria yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya.
“Aku jadi penasaran suamimu, pria yang sudah mampu meluluhkan hatimu.”
“Dia pria baik, tidak sepertimu pengecut,”ucap Aruna dingin. Dia sudah selesai membuat juice hendak membawa minuman dan kue tersebut namun Jones mencekal tangannya.
“Jones! Please jangan buat aku marah!”
Jones tersenyum tipis kemudian Mendekati Aruna. “Aku memang sudah lama merindukan itu Aruna, dua tahun aku tidak lagi melihat kamu marah bahkan merajuk padaku.”
“Kamu gila!”
Aruna langsung meninggalkan Jones di dapur kemudian menemui adiknya, entah misi apa yang Jones akan rencanakan kenapa dia bisa menikahi adiknya Karin.
“Minumlah Karin, kakak tadi sempatkan bikin kue.”
“Wah kakak istri hebat! Pintar dalam segala hal, suami Kakak beruntung bisa mendapatkan Kak Aruna."
“Suamimu mana?”tanya Aruna, sengaja dia bertanya demikian karena takut apa yang keduanya katakan tadi terdengar.
“Dia katanya ke toilet, kebelet pipis.” Aruna manggut-manggut, entah dia juga bingung apa lagi yang harus dia tanyakan apalagi saat Jones sudah duduk kembali di hadapannya.
Dengan rasa tidak malu, Karin memeluk Jones dan sedikit merajuk pada suaminya.
“Jones, aku betah tinggal di Bali, sepertinya akan menyenangkan dari pada tinggal di Jakarta.”
“Memang kamu ingin tinggal di sini, aku bisa saja mewujudkannya Karin. Itu hal kecil bagiku.” Jones langsung mengedipkan sebelah matanya pada Aruna membuat hati Aruna menciut.
Gila! Ide gila Aruna pikir jika Jones dan Karin malah ingin tinggal di Bali.
Aruna membiarkan keduanya beristirahat, sementara dirinya menyiapkan makan siang untuk mereka berempat nanti, tadi William sudah mengabarkan jika pekerjaannya sudah selesai dan dirinya akan segera pulang.
Tiga puluh menit berlalu, saat Aruna selesai menyiapkan makanan untuk makan siang bersama Karin, terdengar bunyi klakson mobil yang Aruna yakini itu mobil suaminya, Aruna langsung tersenyum, dia keluar menemui suaminya, seperti biasa menyambut kepulangannya.
“Bagaimana sayang sudah selesai?”kata Aruna sambil mengambil tas kerja William kemudian mengecupnya lama, entah kenapa rasanya ingin sekali dirinya terlihat mesra dengan suaminya di hadapan Jones.
“Sudah, hanya tanda tangan lalu mengobrol sebentar dengan Nicolas, setelah itu pulang. Bagaimana adikmu mereka sudah sampai?”tanya William sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah, dari dalam ruangan dua pasang mata mengamati keduanya, terutama Jones, pria itu bergemuruh saat melihat Aruna dan suaminya terlihat mesra dan harmonis.
“Sudah Will, mereka sudah ada di dalam,” kata Aruna memaksakan senyumnya. Padahal entah kenapa dirinya merasa tidak karuan karena menyadari jika Jones adalah tamunya.
“Aku juga sudah membeli kado untuk mereka.”
“Mana?”tanya Aruna karena dia tidak melihat suaminya itu membawa kotak atau paperbag.
“Nanti kita kasih ke mereka.”
William masuk, kemudian tersenyum saat melihat Karin dan Jones dia langsung menjabat tangannya pada Jones dan adik Aruna. William tidak menyangka jika ternyata Aruna memiliki adik yang begitu cantik walau keduanya William pikir jauh berbeda, Aruna tinggi bak model namun Karin terlihat kecil mungil memiliki tubuh ramping. Dari raut wajahnya keduanya tampak tidak mirip seperti bukan kakak adik.
“Pasti suami Kak Aruna,” ucap Karin terlihat antusias saat bertemu dengan suami Aruna. Dia sudah membayangkan sedari tadi jika suami Aruna sekeren ini, namun nyatanya lebih keren dari yang dia bayangkan. William langsung mengangguk kemudian duduk di hadapan keduanya, Aruna pun ikut duduk di samping suaminya.
Jones dari tadi hanya diam, entah kenapa tatapannya terpaku pada Aruna, sesekali matanya mengamati William yang sedang membicarakan aktivitasnya hari ini. Dia cemburu dengan kenyataan melihat Aruna ternyata lebih bahagia setelah menjauh darinya.
“Aku hampir lupa sesuatu, Aruna tadi pagi memesan untuk dibelikan kado, dan saya pun tidak begitu paham kado apa yang pantas untuk kalian."
William mengambil dompetnya, kemudian memberikan selembar kertas Check in hotel untuk keduanya.
Karin langsung melotot dan mengambil kertas tersebut dengan sangat antusias.
“Bulgari Hotel?” William mengangguk.
“Jones kamu tahu kan ini tempat yang pernah aku perlihatkan Padamu. Tempat ini tidak murah loh Kak Aruna,”Karin merasa senang mendapatkan hadiah spesial dari Kakak iparnya tersebut. sepertinya impiannya terwujud pergi dan menikmati tempat yang menarik di Bali dengan suaminya.
“Ya cocok lah untuk kalian bulan madu,” timpal Aruna, dia melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya, agar kemesraan keduanya terlihat.
“Tapi tidak seru juga jika kalian tidak ikut gabung,” ucap Jones tiba-tiba.
“Aku pikir bagaimana, jika nanti malam kita having fun di sana,” ajak Jones pada keduanya.
“Tapi kami ada dinner berdua malam ini, apa kalian juga mau ikut, kita mau ke klub malam paling terkenal di Bali,” ucap William terlihat lebih antusias.
Aruna langsung melongo, dia jelas tidak setuju jika kedua makhluk ini ikut bersamanya. Rasanya dia ingin secepatnya keduanya enyah dari rumahnya.
“Aku setuju, sudah lama aku tidak minum,” kata Karin tiba-tiba. William pun langsung mendapat jawaban jika Karin suka minum alkohol.
“Oke siapa takut!” Jawab Jones, membuat Aruna mendesah pelan. Jika William tahu siapa Jones, mungkin pria itu akan membunuhnya saat itu juga.
Setelah obrolan mereka selesai, mereka langsung makan siang, dan merencanakan untuk nanti malam, entah kenapa Jones jadi terlihat lebih bersemangat dengan William, sementara Aruna hanya menikmati makanannya saja tanpa berkomentar sedikit pun. Saat selesai makan Aruna masuk ke dalam kamarnya sambil memeijit pelipisnya dia duduk di tepi ranjang.
“Hai kenapa sayang kok kelihatan bengong sih,” tanya William saat pria itu masuk ke dalam kamarnya, William langsung mendekati Aruna kemudian menegcup pelan bibirnya.
“Aku sedikit lelah,” kata Aruna berdusta. William tersenyum langsung duduk di samping istrinya.
“Kamu tahu, aku selalu bilang lelahku dan lelahmu akan berkurang jika kita melakukannya.”
“Will! Ada tamu, kamu jangan gila!”
“Dia adikmu, mereka juga sama sedang beristirahat mungkin mereka pun melakukan hal yang sama seperti kita, tidak biasanya kamu menolak suamimu sendiri Aruna.” William memang benar, entah kenapa hanya ada Jones datang kembali, dia bersikap begini pada suaminya sendiri. Padahal dia belum pernah menolak William meskipun tubuhnya merasa letih. Tidak ingin membuat suaminya curiga saat itu juga Aruna mengalungkan tangannya pada leher suaminya, lalu menariknya dalam Ranjang King size miliknya, saat keduanya bercumbu, bayangan masa lalu Aruna tiba-tiba muncul begitu saja dalam benaknya hingga Aruna menjerit membuat karin juga Jones yang sedang di dalam kamar sebelah terkejut.
Apa yang terjadi pada masa lalu Aruna ?





