Daftar Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Benih Dari Kebencianmu
Benih Dari Kebencianmu

Benih Dari Kebencianmu

8.2
/ 10
Dalam Benih Dari Kebencianmu, Lia menghadapi dendam Rizky atas tragedi masa lalu. Pertemuan di romance novel ini memaksa Lia bertahan dari kehancuran masa depan akibat kebencian yang salah sasaran. Temukan kisah modern novel ini dan baca selengkapnya di platform online novel kami.

Ringkasan Benih Dari Kebencianmu

Lima tahun pasca tragedi maut yang menewaskan Anya, Lia kembali dipertemukan dengan Rizky. Sebagai sepupu mendiang sekaligus penyintas, Lia justru menjadi sasaran kemarahan Rizky yang belum padam. Rizky menganggap Lia sebagai penyebab utama hilangnya nyawa sang kekasih. Kebencian yang membara memuncak pada satu malam kelam saat Rizky melampiaskan dendamnya hingga menghancurkan masa depan Lia. Kini, Lia harus menanggung beban luka di tengah kebencian orang-orang di sekitarnya.
Selengkapnya

Benih Dari Kebencianmu Bab 1

Udara Jakarta di suatu sore bulan Maret selalu terasa berat, sarat dengan kelembaban yang memeluk dan polusi yang menyesakkan paru-paru. Bagi Lia, lima tahun terakhir, udara itu terasa lebih berat lagi. Setiap napas yang diambil adalah pengingat akan hari kelabu itu, hari di mana hidupnya terbagi menjadi "sebelum" dan "sesudah". Hari di mana Anya, sepupu sekaligus sahabat terbaiknya, direnggut paksa oleh takdir yang kejam.

Lia duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Kemang, menyesap latte dingin yang mulai kehilangan esnya. Jendela kafe yang besar menampilkan hiruk pikuk jalanan Jakarta, namun pandangannya kosong, menembus keramaian itu, kembali pada memori lima tahun silam. Seharusnya ia tidak berada di sini. Seharusnya ia ada di rumah, membenamkan diri dalam buku-buku kuliahnya, melarikan diri dari dunia yang terus-menerus menghakiminya. Namun, janji pertemuan dengan seorang teman lama, yang tanpa sepengetahuannya membawa serta bayangan masa lalu, telah menyeretnya kembali ke pusaran luka.

Pintu kafe terbuka, denting bel kecil di atasnya mengumumkan kedatangan seseorang. Lia tidak menoleh. Ia terlalu sibuk dengan hantu-hantu di benaknya. Namun, getaran di udara, perubahan kecil dalam atmosfer ruangan, membuat hatinya mencelos. Aroma maskulin yang familier, yang dulu selalu ia kaitkan dengan kebahagiaan Anya, kini menusuknya seperti belati berkarat.

"Lia?"

Suara itu. Dingin, berjarak, namun memiliki resonansi yang familiar, sebuah gema dari tawa riang yang pernah ia kenal. Lia mendongak. Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi dengan rahang tegas dan mata setajam elang. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menambah kesan karismatik yang dulu begitu memikat banyak orang. Namun, kini, mata itu tidak memancarkan kehangatan yang dulu ia kenal. Mata itu dipenuhi kegelapan, sebuah jurang kebencian yang dalam.

Rizky.

Jantung Lia berpacu. Napasnya tercekat. Nama itu, dulu sering terucap dengan nada ceria dari bibir Anya, kini hanya membangkitkan rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya. Lima tahun. Lima tahun ia berhasil menghindari pertemuan ini. Lima tahun ia hidup dalam bayangan, berharap tidak pernah lagi berhadapan dengan pria di hadapannya.

Rizky tidak tersenyum. Bibirnya membentuk garis tipis, ekspresi yang Lia kenal sebagai pertanda kemarahan yang tertahan. Ia melangkah mendekat, setiap langkahnya terasa seperti palu godam yang menghantam dada Lia. Teman Lia, seorang gadis bernama Maya yang memperkenalkan mereka, tampak canggung di antara aura tegang yang tiba-tiba menyelimuti meja mereka.

"Apa kabar, Lia?" Suara Rizky rendah, nyaris berbisik, namun setiap kata mengandung beban ribuan ton.

Lia mencoba menelan ludah, tenggorokannya kering kerontang. "Baik, Rizky. Kamu?"

"Baik?" Rizky mendengus, tawa sinis keluar dari bibirnya. "Tentu saja. Mengapa tidak? Hidup berjalan terus, bukan? Untuk sebagian orang." Tatapannya menajam, menembus hingga ke dasar jiwa Lia. "Terutama untuk mereka yang selamat."

Maya, menyadari suasana yang tidak nyaman, mencoba mencairkan ketegangan. "Uhm, aku ke toilet sebentar, ya. Kalian ngobrol saja dulu." Ia beranjak pergi, meninggalkan Lia sendirian di hadapan badai yang siap menerjang.

Keheningan kembali melingkupi mereka, hanya diisi oleh suara bising kafe yang tiba-tiba terasa jauh. Lia memilin-milin tepi serbetnya. Ia ingin lari, namun kakinya terasa terpaku di lantai.

"Bagaimana kuliahmu?" tanya Rizky, suaranya kini lebih keras, nyaris mengejek. "Senang bisa melanjutkan hidup, membangun masa depan, ya?"

Lia mengangkat kepalanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Aku... aku tidak pernah melupakan apa yang terjadi, Rizky."

"Melupakan?" Rizky tertawa, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Tentu saja tidak. Mana bisa melupakan sesuatu yang kau sebabkan, bukan?"

Kata-kata itu menghantam Lia seperti pukulan keras. Ia tahu akan datang. Ia sudah bersiap. Namun, tetap saja, rasa sakitnya tidak berkurang sedikit pun. "Aku tidak... aku tidak menyebabkannya."

"Oh, ya?" Rizky mendekat, membungkuk sedikit di atas meja, membuat Lia harus mendongak untuk menatapnya. Matanya yang gelap memancarkan amarah yang membara. "Kalau begitu, jelaskan padaku, Lia. Jelaskan bagaimana kau bisa selamat dari mobil yang ringsek itu, sementara Anya..." Suaranya tercekat. Ia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menguasai emosinya. "Sementara Anya tidak."

Lia menutup matanya sejenak, kenangan pahit itu kembali menyeruak.

Malam Nahas Lima Tahun Lalu

Malam itu, lima tahun yang lalu, adalah malam Jumat yang cerah. Langit Jakarta dipenuhi bintang, dan udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Anya dan Lia baru saja pulang dari pesta ulang tahun teman mereka. Anya, yang baru mendapatkan SIM dan mobil baru, mengemudi dengan semangat. Lia duduk di kursi penumpang, sesekali memutar musik dan ikut bernyanyi. Suasana di dalam mobil ceria, penuh tawa dan obrolan remaja.

"Aduh, seru banget pestanya!" seru Anya, memukul setir dengan gembira. "Aku suka vibe-nya."

"Iya, tapi capek juga, Ny," balas Lia, menguap. "Besok kuliah pagi."

"Santai aja kali, besok kan Sabtu," Anya terkikik. "Kita mampir dulu deh ke Indomaret, mau beli snack."

"Ide bagus!" Lia setuju.

Mereka berdua memang tidak terpisahkan. Sepupu yang dibesarkan seperti saudara kandung, Anya dan Lia memiliki ikatan yang luar biasa kuat. Anya yang selalu ceria dan penuh semangat, seringkali menjadi pendorong Lia yang lebih pendiam dan hati-hati. Mereka berbagi mimpi, rahasia, dan setiap momen penting dalam hidup mereka.

Mobil melaju di jalanan yang agak lengang. Anya mengemudi dengan hati-hati, mengikuti batas kecepatan. Lia mengamati jalanan di luar, sesekali membalas pesan di ponselnya. Tiba-tiba, sebuah cahaya terang menyorot dari arah berlawanan. Lia mendongak, merasakan firasat buruk. Sebuah truk besar, melaju kencang, menyalip kendaraan lain di depannya dengan sembrono. Lampunya menyilaukan mata, dan klaksonnya berbunyi memekakkan telinga.

"Anya, awas!" seru Lia panik.

Anya membanting setir ke kanan, mencoba menghindari tabrakan. Rem berdecit nyaring, memekakkan telinga. Tubuh mereka terlempar ke depan saat mobil oleng. Lia menjerit, mencengkeram dasbor erat-erat. Dalam sepersekian detik yang terasa seperti keabadian, Lia melihat wajah Anya. Wajah sepupunya itu memucat pasi, matanya membelalak ketakutan.

BRAAKKKK!

Suara benturan logam yang mengerikan membelah keheningan malam. Mobil Anya berputar beberapa kali, menghantam pembatas jalan, lalu terlempar ke sisi lain. Kaca-kaca pecah berhamburan, dan bau bensin memenuhi udara. Gelap. Hening. Hanya suara dengungan di telinga Lia, dan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuhnya.

Lia membuka matanya perlahan. Pandangannya buram. Kepalanya pusing, dan darah mengalir di pelipisnya. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa remuk. Yang pertama kali ia rasakan adalah hawa dingin yang menusuk dari sisi sebelahnya. Lia menoleh, dan dunianya runtuh.

Anya.

Tubuh Anya tergeletak tak berdaya, terjepit di antara reruntuhan mobil. Kepalanya terkulai dengan posisi yang tidak wajar. Matanya terpejam, dan wajahnya pucat pasi, tanpa sedikit pun warna. Tidak ada gerakan. Tidak ada napas. Hanya keheningan yang mematikan.

"Anya... Anya!" Lia meronta, mencoba meraih sepupunya. Namun, sabuk pengaman dan puing-puing mobil menahannya. Air mata membanjiri wajahnya, bercampur dengan darah. "Anya, bangun! Anya!"

Suara klakson mobil dan teriakan orang-orang mulai terdengar dari kejauhan. Warga berdatangan, panik. Beberapa orang mencoba membantu, sementara yang lain menelepon polisi dan ambulans. Lia terus berteriak memanggil nama Anya, suaranya serak dan putus asa.

Petugas medis tiba tak lama kemudian. Mereka bergerak cepat, mengeluarkan Lia dari mobil yang ringsek. Lia menolak untuk pergi, meronta, terus-menerus menunjuk ke arah Anya.

"Sepupuku! Dia di dalam! Tolong dia!" Lia menjerit, namun suaranya tenggelam dalam kebisingan.

Seorang petugas medis memeriksa Anya. Raut wajahnya berubah. Ia menggelengkan kepala perlahan, sorot matanya menyampaikan kabar terburuk yang bisa Lia bayangkan.

"Maaf, Nak," katanya pelan. "Kami sudah berusaha, tapi... dia sudah tiada."

Dunia Lia runtuh total. Kabar itu menghancurkan setiap sel dalam tubuhnya. Anya sudah tiada. Sepupunya. Sahabatnya. Sumber kebahagiaannya. Meninggalkannya sendiri di dunia yang tiba-tiba terasa begitu dingin dan kejam.

Kembali ke kafe, Lia membuka matanya. Air mata telah membentuk jejak di pipinya. "Aku... aku tidak ingat banyak, Rizky," ucapnya lirih. "Yang aku ingat hanyalah... Anya mencoba menghindar. Dan truk itu... truk itu datang begitu cepat."

Rizky mendengus lagi. "Tentu saja. Mengapa kau tidak ingat? Mungkin karena kau terlalu sibuk dengan ponselmu, bukan? Atau kau mengganggu konsentrasinya?"

Kata-kata Rizky menusuk telak. Tuduhan itu, yang selama ini bergaung di kepalanya sendiri, kini keluar dari bibir Rizky, menghancurkan sisa-sisa pertahanan Lia. Ia tahu, sejak hari itu, banyak yang berpikir demikian. Bahwa ia, Lia, yang seharusnya mati, bukan Anya. Bahwa ia adalah penyebabnya.

"Aku tidak... aku tidak mengganggu Anya," Lia membela diri, suaranya bergetar. "Aku sedang membalas pesan. Anya yang mengemudi."

"Dan kau tidak melihat truk itu lebih dulu?" Rizky mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyala-nyala. "Kau di kursi penumpang, Lia! Kau seharusnya melihatnya! Kau seharusnya mengingatkannya lebih awal!"

"Aku sudah memperingatkan dia!" Lia meninggikan suaranya, emosinya memuncak. "Aku sudah bilang 'Anya, awas!' Tapi semuanya terjadi begitu cepat! Anya sudah mencoba menghindar!"

"Cukup cepat untuk menyelamatkanmu, tapi tidak cukup cepat untuk Anya?" Rizky menyeringai pahit. "Ironis sekali, bukan?"

Lia merasa mual. Kata-kata Rizky adalah cerminan dari suara hati banyak orang yang menyayangi Anya. Ibu Anya, ayah Anya, teman-teman Anya... mereka semua menatapnya dengan pandangan yang sama, pandangan penuh tuduhan, penyesalan, dan rasa kehilangan yang tak terukur. Ia menjadi pengingat yang menyakitkan akan apa yang telah mereka hilangkan.

"Aku juga terluka, Rizky!" Lia membalas, air mata membanjiri wajahnya lagi. "Aku juga kehilangan Anya! Kau pikir bagaimana perasaanku hidup dengan semua ini? Dengan tahu bahwa aku selamat dan dia tidak? Aku hidup setiap hari dengan rasa bersalah ini!"

"Rasa bersalah?" Rizky tertawa hampa. "Rasa bersalahmu tidak sebanding dengan rasa sakit kami. Kau masih bisa bernapas. Kau masih bisa tertawa. Kau masih bisa melanjutkan hidup." Matanya kembali dipenuhi kebencian yang mendalam. "Sementara Anya... Anya sudah tiada. Dan kau, Lia, kau adalah satu-satunya orang yang bersamanya saat itu. Kau adalah penyebabnya."

"Aku bukan penyebabnya!" Lia berteriak, menarik perhatian beberapa pelanggan kafe lainnya. "Itu kecelakaan! Kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi truk gila itu!"

"Pengemudi truk itu sudah dihukum, Lia," Rizky berkata, suaranya datar, tanpa emosi. "Tapi itu tidak mengembalikan Anya. Dan bagiku, kau adalah bagian dari tragedi itu. Kau ada di sana. Dan kau selamat."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kali ini, Lia tidak berusaha memecahkannya. Ia merasa lelah, lelah dengan semua tuduhan, lelah dengan rasa bersalah yang tidak pernah hilang. Rizky menatapnya untuk beberapa saat, tatapannya membakar Lia hingga ke tulang sumsum.

Akhirnya, Rizky berdiri. "Aku datang kemari bukan untuk berdebat denganmu, Lia," katanya, suaranya kini dingin seperti es. "Aku hanya ingin kau tahu. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi. Dan aku tidak akan pernah memaafkanmu."

Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Lia sendirian di meja kafe itu, dengan bayangan masa lalu yang menghantuinya. Air mata Lia tumpah ruah, membasahi pipinya. Kata-kata Rizky menancap di hatinya, mengkonfirmasi ketakutan terbesarnya: ia akan selalu menjadi Lia, sang "penyebab," sang "yang selamat," sang "luka" bagi orang-orang yang menyayangi Anya. Dan ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Pilih Bab

CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua

Baca Novel Selengkapnya di

moboreader
Kini Tersedia Gratis
Dosa Berbalut Cinta
Dosa Berbalut Cinta
Dalam novel Dosa Berbalut Cinta, Saschya terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan oleh Adnan. Di tengah siksaan fisik dan trauma, masa lalunya kembali muncul membawa harapan. Ikuti kisah romance modern ini di platform webnovel kami dan baca romance stories terbaik lainnya secara gratis.
DOSEN ITU SUAMIKU
DOSEN ITU SUAMIKU
Dalam novel modern DOSEN ITU SUAMIKU, Bunga harus menghadapi realita saat Ezza, suaminya, tiba-tiba mengajar di kampusnya. Temukan rahasia di balik kehadirannya dalam romance novel ini. Baca kisah lengkapnya di platform web novel kami sekarang.
Gadis 100 juta (fatamorgana)
Gadis 100 juta (fatamorgana)
Dalam romance novel Gadis 100 juta (fatamorgana), Daiva terpaksa menjual kehormatannya pada Keyko demi menyelamatkan adiknya. Namun, kemunculan Damian menciptakan persaingan cinta yang rumit. Baca kisah modern novel ini untuk melihat pilihan hidup Daiva di platform web novel kami.
Godaan Liar Sang Ustazah
Godaan Liar Sang Ustazah
Dalam romance modern berjudul Godaan Liar Sang Ustazah, seorang wanita menghadapi dilema moral dan rindu yang rumit. Kisah ini mengeksplorasi sisi gelap kehidupan dan pencarian jati diri. Temukan realita tersembunyi dalam web novel ini sebagai pilihan fiction books dewasa yang reflektif.
I Fall Endlessly
I Fall Endlessly
Dalam novel I Fall Endlessly, Neva Zetrix berjuang mempertahankan bayinya di hadapan Brian Anderson. Kisah romance novel ini mengikuti pengorbanan Neva menghadapi sang konglomerat dalam balutan billionaire romance books yang penuh tekanan hidup dan pilihan sulit di dunia modern.
Kurang dari tiga
Kurang dari tiga
Dalam novel Kurang dari tiga, Raka berjuang mempertahankan posisinya sebagai kekasih Cherry yang lebih memprioritaskan Nadia. Hubungan modern ini penuh konflik kecemburuan yang membawa mereka pada situasi tak terduga. Baca romance novel ini untuk melihat pilihan sulit dalam kisah lgbt book ini.
Logo
Panduan Anda untuk drama pendek online terbaik. Pratinjau episode gratis, info pemeran lengkap, dan tautan ke platform resmi — semua dalam satu tempat.
©2026 PinesDramas. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.